Berangkat Menuju Bontang | Via Balikpapan

Langit masih pekat ketika saya harus meninggalkan rumah menuju Bandara Halim Perdana Kusumah.  Sesuai jadwal, pesawat akan take-off menuju Bandara Sepinggan Balikpapan sekitar pkl. 06:00 wib, jadi sesuai aturan administrasi, kami (saya, Mbak Yayuk, dan Dewi) harus sudah check-in pkl. 05:00wib.

Saya selalu berusaha dan memilih untuk terbang melalui Halim dan first flight karena selain jaraknya yang lebih dekat dari rumah ketimbang harus ke Soetta yang ada di Tangerang, menggunakan penerbangan pertama sangat jarang dari kemungkinan delay.  Di saat saya harus berangkat ini, akhir November 2017, tol Cikampek yang menjadi jalan utama dari dan ke rumah saya di Lippo Cikarang, sedang super kusut dan (sering) macet total karena pembangunan LRT.  Jadi, walaupun tidak terlalu jauh (sekitar 32km dari rumah), saya memutuskan untuk berangkat 2 jam dari waktu temu yang sudah kami sepakati bersama.

Tiba selepas subuh dan menyempatkan diri menghangatkan perut dengan segelas teh tawar hangat, Halim sepagian itu sudah dipenuhi oleh calon penumpang.  Penerbangan pagi ternyata full peminat.  Seperti dugaan saya, semua flight berangkat on time, termasuk Batik Air yang kami tumpangi.  Tanpa hambatan berarti kamipun terbang menuju Balikpapan sesuai jadwal yang sudah diatur.  Transit selama 5 jam di Bandara Sepinggan.  Kemudian menyambung penerbangan menggunakan pesawat ATR milik BADAK NGL menuju Bontang hanya dalam 30menit waktu jelajah.

 

Tiba di Bontang | Penyambutan Hangat dari Keluarga Besar PWP Badak

Selama 30menit berada di pesawat, saya banyak berbincang dengan Ibu Hertaty, Ketua PWP Badak dan istri dari Direktur dan COO Badak NGL, Bpk. Yendha Permana.  Bincang-bincang hangatpun mengalir diantara kami.  Mulai dari hal-hal serius, candaan, sampai bergossip soal “tamu khusus” PT. BADAK yang kebetulan satu pesawat dengan kami dan sama-sama duduk di bangku VIP.

Berada tidak jauh dari kilang gas, bandara ini dibuat hanya seukuran kemampuan mendarat dan terbang pesawat bolang baling.  Selain PT. BADAK, hanya ada 1 pesawat dengan tipe yang sama milik PT. Pupuk Kalimantan Timur (PKT).  Keduanya terbang dengan jadwal-jadwal yang sangat terbatas dan diprioritaskan untuk pegawai, keluarga pegawai, dan tamu-tamu seperti kami.  Umum juga bisa menaiki pesawat ini, tapi tentu saja dengan rate tertentu, yang menurut saya cukup mahal untuk penerbangan singkat.

Alhamdulillah, seperti mimpi rasanya ketika menyadari bahwa pada akhirnya, atas ijin Allah SWT, saya bisa menginjakkan kaki di sisi paling timur pulau terbesar di Indonesia.  Walaupun bukan jarak terjauh dari sekian banyak kontrak mengajar, mengetahui bahwa saya akan berpartisipasi atau menjadi bagian dari kegiatan CSR (Corporate Social Responsibility) perusahaan pengelola gas ini, perjalanan hampir seharian ini sudah saya tunggu-tunggu ketika perjanjian kerjasama disepakati.

Hanya beberapa langkah dari tangga pesawat yang membawa kami, wajah-wajah bersahabat, ramah, dan sumringah, dari para pengurus PWP BADAK menyambut di ruang kedatangan.  Tak ingin melepaskan saat-saat yang berharga seperti ini, kamipun berpose bersama para penari yang sebelumnya menyambut tamu dari Timor Leste.

Berpose bersama Pengurus PWP BADAK dan para penari. Dari kiri ke kanan: Mbak Christiana Ishak, Mbak Yayuk, 2 penari, saya, Ibu Hertaty Yendha, 3 penari, Dewi, dan Mbak Wiwin Winarti

 

Apartemen Sawo Kecik | Tempat Tinggal Kami Selama di Bontang

Selepas kehebohan saling berkenalan satu sama lain, saya bergegas melangkah bersama Mbak Chris, Person In Charge yang mengurus kedatangan kami dan pelatihan yang akan diadakan.  Perjalanan yang saya perkirakan akan memakan waktu, ternyata tidak sampe hitungan 10menit.  Itupun dengan kecepatan kendaraan dibawah 40km/jam.  Aturan yang belakangan saya ketahui sebagai protab baku selama berkendara di dalam kompleks PT. BADAK.

Apartemen yang cukup besar dengan 2 lantai ini tampak hommy dengan ukuran kamar yang cukup luas.  Berada di lantai bawah benar-benar memberikan keleluasaan mondar mandir yang begitu menyenangkan.  Di depan kamar kami, tersedia juga sebuah teras dengan meja dan kursi yang lebih dari nyaman untuk ngobrol-ngobrol sambil menghabiskan waktu atau berdiskusi.  Dari teras ini jugalah, pagi-pagi sekali, setiap hari kami melihat geliat aktifitas masuk kantor yang dilakukan oleh para pegawai atau tamu-tamu engineer yang juga tinggal di apartemen.  Beberapa dari mereka malah sering menyapa ketika melihat kami duduk-duduk mengamati mereka yang begitu semangat menyambut pagi.

Tampak depan kamar kami yang berada di lantai bawah
Tempat tidur twin bed di dalam kamar kami. Ini sebelum diacak-acak dan tambahan tempat tidur yg digotong dari kamar sebelah

Awalnya kami mendapatkan 2 kamar yang saling berdampingan.  Tetapi karena hanya dengan 1 kamar cukup untuk kami bertiga, plus gak ada yang mau mengalah tidur sendiri, akhirnya duo dayang-dayang pun bergotong-royong memindahkan kasur dari kamar sebelah.  Kamar tetangga akhirnya kami manfaatkan untuk menaruh barang-barang dan alternatif jitu untuk mengatasi panggilan buang hajat yang gak harus rebutan.

Selama tinggal di apartemen ini kami tidak pernah mengalami kesulitan yang berarti.  Kamar setiap hari dibersihkan dan dirapihkan.  Supply air minum botol selalu ada.  Fasilitas tambahan seperti kulkas kecil untuk menyimpan minuman dingin yang berasa banget fungsinya ketika panas terik melanda.  Cerek pemanas air yang cukup besar, benar-benar pas mengakomodir kebutuhan air mendidih untuk rutinitas kami ngopi setiap pagi dan sore.

Kenyamanan lain yang kami dapat adalah jasa cuci gosok pakaian yang gratis dan cepat.  Pagi-pagi sekali diambil, sore sekitar pkl. 17:00 wita sudah sampai di kamar kami.

Makan 3x sehari dengan menu 4 sehat 5 sempurna selalu rutin kami terima tepat waktu.  Nah urusan makan yang satu ini menjadi tumpang tindih di hari-hari kami mengajar.  Jadi selama mengajar, catering siang hari seringkali harus diantar ke Badak Knowledge House (tempat kami mengajar).  Sementara di saat yang sama kami juga mendapatkan jatah ransum selama penyelenggaraan pelatihan.  Bener-bener gembul kenyang pokoknya hahahaha.

Untuk urusan transport, perusahaan benar-benar memanjakan kami.  Adalah Bapak Naharuddin, yang selalu siap mengantarkan kami kemana-mana, pendengar yang baik,  teman ngobrol yang seru, dan tentu saja tempat bertanya serta bala bantuan yang tak pernah henti.  Karena berasal dari Bugis, kami lebih sering memanggil beliau dengan Daeng yang berarti kakak lelaki.

Area Receptionist dan ruang tamu yang berada di dekat kamar kami. Ada tangga, akses menuju kamar-kamar yang berada di lantai 2

 

Keliling Kompleks | Menyaksikan Fasilitas Lengkap | Bagai Sebuah Kota Mandiri

Apartemen kami berada hanya beberapa langkah dari kantor Corporate Communication Division.  Salah satu divisi yang ikut memberikan sumbangsih untuk pelaksanaan workshop yang kami bimbing.  Berikut adalah foto saya di jalan perantara antara gedung apartemen dan gedung kantor untuk tim komunikasi.  Perempatan lampu merah yang ada di belakang saya adalah jalan menuju Bandara dan Rumah Sakit milik PT. BADAK.  Sebelum mencapai pintu masuk Bandara, jika kita belok ke kanan, kita akan bertemu dengan pintu keluar masuk kompleks yang langsung terhubung dengan jalanan umum.

Jalanan yang lapang dan luas antara apartemen dan gedung kantor Corporate Communication Division

Semua jalanan yang menghubungkan setiap akses dibuat sangat lebar.  Mungkin sekitar 12-15m lebarnya.  Dan seperti yang saya sampaikan di awal, selama berkendara di dalam kompleks, kecepatan kendaraan adalah maximum 40km/jam.  Cukup cepat untuk kendaraan roda dua, tapi skala lansia untuk kendaraan roda empat.  Di beberapa titik (kalau tidak salah jumlahnya 11) dipasang alat pengukur kecepatan kendaraan digital lengkap dengan cctv nya.  Jadi kalau ketangkap basah meluncur lebih dari aturan, pihak Security akan mengirimkan surat teguran.  Dengar-dengar dari ibu-ibu PWP, teguran seringkali diiringi dengan pengumuman yang disebarkan sejagat raya.  Tegurannya sih bisa dimaklumi, malunya itu loh hahahaha.  Secara yaaa warga sekompleks jadi tau semuanya

Alat pengukur kecepatan digital. Satu dari sekian banyak alat yang dipasang di hampir seluruh penjuru kompleks. Yang satu ini dipasang di depan kolam renang

Menyusur jalanan utama yang lebarnya cukup untuk mendaratkan pesawat, bangunan pertama yang menarik perhatian kami adalah gedung kantor putih yang adalah Kantor Utama atau pusat manajemen.  Gedung ini sering dipanggil sebagai Gedung Putih dan menjadi pusat dari segala keputusan yang menyangkut hajat hidup perusahaan.  Di bagian depan gedung terlihat taman yang begitu luas dan berbukit.  Sementara di bagian belakang adalah parkir kendaraan yang jalannya terhubung dengan akses menuju apartemen kami.

Tampak depan Kantor Utama PT. BADAK NGL yang sering disebut sebagai Gedung Putih

Di seberang jalan Kantor Utama ini, kita akan ketemu dengan Town Centre atau Gedung Serbaguna yang pada satu waktu kami berada di sana dipakai untuk resepsi pernikahan.  Gedung ini berdampingan dengan salah satu dari 3 kolam renang yang dimiliki oleh PT. BADAK.  Kolam renang 1 lagi berada di dekat jejeran rumah para petinggi perusahaan, sementara yang 1 lagi berada mendekati perumahan pegawai yang berkolaborasi dengan Gedung Olah Raga  Bowling dan juga Gedung Serbaguna lainnya.

Gedung Pertemuan atau Town Centre yang berada persis di seberang Kantor Utama

Masih berada di jalan utama, sekitar 500 meter dari Gedung Putih, kita akan melihat sebuah taman luas dan tanaman anggrek yang berderet rapih.  Tiap hari melewati tempat ini, terutama pada saat berangkat mengajar, saya melihat pohon-pohon tinggi besar yang sering menjadi tempat bermain monyet-monyet.  Binatang yang paling sering berkeliaran di dalam kompleks dan hidup bebas di dalam hutan yang masih dan dibiarkan tumbuh subur.  Sekali waktu kami menyaksikan segerombolan monyet (dalam jumlah belasan) yang asyik bermain di jalanan depan perumahan.  Mereka tampak bebas mengambil buah-buahan yang ditanaman di sepanjang jalan atau di depan rumah warga.  Pengennya sih bisa turun dan ngasih pakaian buat mereka.  Bukan apa-apa.  Kan malu lalu lalang telanjang begitu.  Iiiihhh gak sopan ya.  Pergi bermain kok gak pake baju.

 

Taman besar dengan aneka tanaman yang tumbuh subur, termasuk area khusus untuk bunga anggrek

Kembali ke jalan utama.  Berada 1 garis lurus dengan Town Centre, kita akan bertemu Guest House khusus untuk tamu VIP.  Berada di salah satu sudut jalan dan dibangun di atas kontur tanah yang berbukit, Guest House VIP ini mengingatkan saya akan bangunan mewah khas tahun 1970an.  Dengan konsep 1 gedung utama berukuran besar dengan beberapa unit hunian yang dibangun berjarak dengan taman-taman kecil di jalur antar gedung.  Kita bisa bertemu beberapa ukiran dan kerajinan tangan khas Kalimatan di dalam ruangan inti.  Sofa-sofa besar untuk duduk-duduk santai disediakan lengkap dengan beberapa area dan pelayanan refreshment plus tentu saja ruangan khusus untuk pertemuan atau meeting.

Guest House VIP. Difoto dari arah bawah bukit
Suasana di dalam gedung inti Guest House VIP. Tampak beberapa sofa besar dan ruang pertemuan yang cukup besar

Tak jauh dari tempat ini, kita akan melihat Masjid Al-Kautsar.  Sebuah masjid yang megah dan sangat besar.  Dengan taman membukit rendah lengkap dengan air terjun kecil dan kolam buatan, kita dapat mendengarkan suara aliran air yang membawa rasa damai.  Satu kekurangan yang tidak saya lakukan adalah melewatkan waktu sholat di masjid ini.  Semoga jika ada umur panjang dan kesempatan kembali ke Bontang, saya ingin bersujud syukur di rumah Allah ini.

Persis di belakang masjid, kita akan bertemu berderet-deret gedung sekolahan yang disediakan oleh perusahaan.  Mulai dari PAUD sampai SMA semua ada di sini.  Lengkap dan tidak perlu keluar kompleks.  Bis antar jemput anak berukuran besar pun siap mengantar ke sana kemari.  Menurut informasi dari salah seorang peserta workshop saya mendapatkan info bahwa SD VIDATRA yang didiirikan oleh Yayasan Pendidikan Vidya Dahana Patra adalah salah satu sekolah dasar terbaik di Bontang.

Ngelencer ke sisi berbeda dari Guest House VIP, kami menemukan public services area seperti mini market yang disebut Tojasera, warung atau tenda jajanan dengan panggilan Pujasera, salon, dan Butik Melati yang dikelola oleh PWP Badak.  Beberapa kali kami mencoba mampir ke pusat jajanan ini, tapi seringkali kurang beruntung.  Karena berbagai keterbatasan akses untuk umum yang tidak gampang, pelanggan juga menjadi sangat terbatas, sehingga yang berjualanpun tidak selalu ada.

Suasana di dalam Butik yang dikelola oleh PWP Badak
Pusat jajanan di dalam kompleks PT BADAK

Selain Pujasera dan Tojasera, perusahaan menyediakan beberapa lagi tempat yang lapang, yang bisa digunakan oleh para penghuni untuk berekreasi.  Di salah satu tempat terbuka, terdapat sebuah danau pemancingan dengan beberapa sarana permainan anak-anak dan rumah semen tanpa dinding yang digunakan untuk berkumpul.

Puas melihat berbagai fasilitas umum dan menghabiskan segelas besar teh manis dingin hingga tetes terakhir di pusat jajanan, Daeng Naharuddin mengantarkan kami berkeliling melihat hunian para pegawai yang dikelompokkan berdasarkan jabatan atau kedudukan dari pegawai tersebut.  Pengelompokkan ini disingkat dengan PC (Personal Community).  Semakin besar angka/seri PC nya, berarti semakin rendah golongan/status kepangkatan yang bersangkutan.

Sejauh pengamatan saya, PC dirinci mulai dari PC 6 hingga ke PC 3.  Sementara angka yang lebih kecil digunakan untuk Decision Maker dan pejabat-pejabat di hirarki tertinggi.  PC 6 untuk Non-staff.  PC 5 untuk Staff.  PC 4 untuk Supervisor, PC 3 setara Section Head (PC 3A untuk Division Manager, PC 3B untuk Department Manager).

Tapi meskipun ada perbedaan ukuran rumah karena pengelompokkan ini, kami tetap melihat sebuah lingkungan yang bersih dan tertata apik di semua cluster.  Satu info yang menjadi keistimewaan jika pegawai tinggal di dalam kompleks adalah bahwa mereka tidak perlu pusing untuk menanggung biaya perawatan rumah, listrik, dan air.  Karena semua sudah ditanggung sepenuhnya oleh perusahaan.

 

 

Salah satu fasilitas kolam renang yang berada di dalam kompleks

Tapi jika pegawai memilih untuk tidak tinggal di dalam area perusahaan, beberapa tahun yang lalu, PT BADAK menawarkan para pegawai untuk membeli beberapa area hunian yang berada tidak jauh dari kompleks, dengan harga yang sangat bersahabat dan dapat dicicil.  Tempat tinggal ini diberi nama HOP (House Ownership Program)  dengan ukuran tanah dan rumah yang cukup besar-besar.  Hampir setiap hari, terutama pada hari-hari mengajar, kami selalu melewati area ini dan bisa menikmati lingkungan perumahan dengan beberapa unit, terutama yang berada di pinggir jalan, yang sudah dialihfungsikan sebagai tempat bisnis, seperti warung kelontong, rumah makan, toko, dll.

Untuk mengenang sejarah awal pembangunan hunian, hingga saat ini, pihak perusahaan masih mempertahankan beberapa rumah asli yang dulu digunakan sebagai tempat tinggal para pekerja.  Mengingat bahwa pada awal-awal pembangunan kilang lingkungan sekitar masih berupa hutan belantara, negara memutuskan untuk membangun rumah-rumah semi-panggung dengan jendela dan pintu yang tampak minim.  Strategi ini diambil agar terjaga dari binatang-binatang liar yang dulu masih banyak berkeliaran di dalam hutan.

Rumah Lama yang dibangun pada awal kilang beroperasi

Berfoto Bersama Kilang Pengolah Gas Alam Cair (Liquid Natural Gas) Terbesar di Indonesia 

Last but Not Least.  Bagian terpenting dari seluruh cerita perjalanan kami di Bontang adalah berfoto dengan latar belakang kilang yang menjadi salah satu kebanggaan negara.  PT. BADAK NGL hingga saat ini masih diperhitungkan sebagai penyumbang devisa terbesar di Bontang dan tentu saja salah satu dari beberapa usaha milik negara yang secara konsisten menjadi sumber pendapatan kas negara.  Semoga sebesar apapun hasil yang diberikan oleh PT BADAK bisa dimanfaatkan maksimal oleh rakyat Indonesia, stakeholder utama dan sesungguhnya dari sumber kekayaan apapun yang ada di langit, tanah, dan air Indonesia.

Dengan komposisi saham 55% dipegang oleh Pertamina, yang juga adalah BUMN tangguh milik negara, mendapatkan kesempatan tinggal, mengamati, dan merasakan menjadi bagian dari PT. BADAK, walau hanya 12 hari, adalah satu kebanggaan yang luar biasa bagi diri saya pribadi.  Tak ada apapun yang dapat mengingkari bahwa berada di satu tempat dengan kekayaan fasilitas, menjadikan diri kita berharga dan bermakna.  Perasaan itu semakin melekat ketika kami bertiga harus meninggalkan Bontang.  Lambaian tangan dan peluk cium dari beberapa saudara-saudara baru kami di sana, sangat menyentuh hati saya.  Waktu yang lama terasa sebentar.  Tapi sebentar itu menjadi tidak terlalu lama ketika kita meninggalkan kenangan yang bakal tidak akan terlupakan.

Bersama beberapa pengurus PWP BADAK NGL sesaat sebelum terbang menuju Balikpapan dan kembali ke Jakarta

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here