Maghrib baru saja berkumandang ketika Andi melangkahkan kaki ke dalam penginapan Matahari.  Rumah berukuran kurang lebih 800m2, yang berada di salah satu kota kecil di timur Indonesia ini dibagi menjadi 5 kamar untuk disewakan plus beberapa yang dipakai oleh pemilik.  Berbagai fasilitas layaknya sebuah rumah inap pun tersedia di sini.  Bahkan sebuah function roomterapung berukuran sedang dengan pemandangan laut terbentang siap melayani para tetamu yang datang ke kota ini untuk urusan bisnis atau mengadakan acara-acara tertentu dengan layanan cateringyang lebih dari cukup.

Boleh dibilang, untuk sebuah kota kecil, Matahari terlihat begitu istimewa dan mencolok dibandingkan dengan rumah-rumah biasa yang ada di sekitarnya.  Tapi menjadi biasa saja untuk mereka yang sering menikmati nyamannya bertandang di hotel bintang 3 apalagi 4 atau 5.  Pendapat yang sama juga akan muncul jika jarang banget mengunjungi sebuah kota kecil yang jauh dari hiruk pikuk dan selalu terasa sepi ketika maghrib berlalu.

Sudah 3 hari Andi tinggal di sini untuk tugas kantor.  Berarti sudah 3 hari juga Andi diliputi kegelisahan dan tidak dapat menikmati tidur dengan baik.  Setiap malam nyaris hanya dilalui dengan tidur-tidur ayam sambil mendengarkan deru-deru halus air laut mengayun lembut menghantam pinggir pantai yang berada persis di belakang penginapan.

2 hari pertama semua tampak biasa dan tidak ada perkara krusial yang mendera Andi.  Hanya masalah perbedaan waktu 2 jam antara WIB dan WIT yang sedikit mengganggu jam biologisnya.  Tapi semua mendadak berubah ketika di awal malam hari ke-3 dan hingga saat ini.  Suara sekelompok orang berbicara kencang dengan bahasa daerah berintonasi tinggi terdengar hampir setiap malam.  Anehnya itu hanya terjadi menjelang tengah malam, di saat Andi merasakan kantuk dan siap merebahkan diri untuk beristirahat.  Ajibnya obrolan pun berlangsung tidak kurang dari 2 sampai 3 jam, dan saking kerasnya Andi merasakan seolah-olah mereka berada di kamar yang sama.

Yang lebih menyiksa adalah Andi tidak bisa menemukan sumber suara.  Maksud hati ingin menegur tapi justru terjebak dalam pekatnya malam yang dingin menusuk dan tidak menemukan seorang pun di dalam, di teras, maupun di belakang penginapan.

Perasaan kesal pun memuncak pada hari ke-4.  Apalagi akibat dari kejadian ini, Andi terpaksa melewatkan sholat subuh karena terjebak kantuk akibat tidak bisa tidur semalaman.  Diliputi oleh rasa penasaran yang tak tertahankan, Andi sempat bertanya kepada pelayan penginapan setelah menghabiskan sepiring nasi kuning dan abon ikan yang dihidangkan pagi itu.  

“Ada tamu lain yang menginap di sini selain saya?”

“Ada sih Pak.  3 kamar lain dihuni oleh Ibu-ibu yang datang dari Halmahera,” pelayan pun mendadak menghentikan kegiatan bersih-bersihnya,  “Apa mereka mengganggu Bapak?”

Hhhhmmm nampaknya pelayan ini ngerti kalau emak-emak sudah ngumpul pasti gak bisa berhenti berkicau sampai malam.  Tapi suara yang Andi dengar itu jelas suara pria.  Kalaupun berasal dari kerongkongan perempuan, kok rasanya gak mungkin ya.  Masih diliputi penasaran, Andi pun menyahut, “Enggak sih.  Tapi bener cuma mereka dan saya yang menginap di sini? Gak ada tamu laki-laki?” 

“Setau saya sih tamu laki-laki eeehhh ya cuma Bapak”

“Pegawai laki-laki mungkin? Atau ada yang ronda di dekat sini kalau lewat sholat Isya?”

“Gak ada Pak.  Satpam pun trada (baca: tidak ada) di sini Pak”

Andi pun mengangguk mantab. Iya sih, selama di sini, di dalam penginapan maksudnya, ketemu laki-laki itu bisa dihitung dengan jari.  Ada mas-mas pengantar keperluan sehari-hari seperti air galon, gas, cucian baju.  Tapi itupun hanya mampir dan hanya kata “terimakasih” yang sempat didengar Andi. Ada juga seorang laki-laki muda, cucu nenek pemilik penginapan.  Dia hanya mampir pagi hari.  Menanyakan kabar nenek, sebelumnya akhirnya berlalu dan melanjutkan perjalanannya menuju kantor.  Itu saja. Lalu siapa “gerombolan” laki-laki yang kerap ngobrol itu?  

Dan malam ke-4 pun berlalu dengan kejadian yang sama.  Tak ingin larut dalam emosi yang tak jelas juntrungannya, Andi memutuskan untuk menyalakan TV dengan volume suara yang bikin pekak telinga.  Biarlah.  “Kalau mereka bisa mengganggu saya, lalu kenapa saya tidak bisa melakukan hal sebaliknya,” batin Andi di dalam hati.  Walaupun kalau mau jujur, untuk apalah menonton TV yang tidak jelas gambarnya dengan suara kresek-kresek yang dikuatkan.  Tapi kali ini Andi tidak peduli.

5 menit kemudian mendadak tak terdengar suara obrolan itu.  Penasaran, Andi pun mendekatkan telinganya ke pinggir pintu. “Aaaahh…berhasil juga ternyata,” sahut Andi sambil tersenyum.  Dia pun bersegera mengecilkan volume TV dan berbaring lega.  

Tapi ternyata kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.  Selang beberapa menit kemudian, suara ngobrol pun malah jadi semakin kencang. Dahsyatnya, suara-suara ini terdengar semakin dekat.  Lebih mendekat.  Bahkan mungkin orang yang sedang ngobrol seakan-akan berada persis di depan pintu. Kemarahan dan kejengkelan pun semakin memuncak.  “Cukup sudah!!” teriak Andi sembari membetulkan celana pendeknya dan berjalan tegap menuju pintu.

Membuka pintu selebar mungkin, mendadak Andi terdiam dengan mata nanar dan kaki seperti tak berpijak di tanah.  Di hadapannya berdiri 3 orang pria besar tinggi, berbaju dan bersorban putih, berdiri berjejer tepat di hadapan Andi dengan tatapan tajam.  Hanya dalam hitungan detik, Andi pun kehilangan kesadarannya dan jatuh tersungkur.

Tepukan di muka berkali-kali kemudian terasa seperti tamparan panas membangunkan Andi.  Wajah khawatir terlihat jelas dari raut muka Nenek Ima, pemilik penginapan, yang membangunkannya.

“Ada apa nak?” sapa beliau ketika melihat Andi mulai membuka matanya

Sekejab kemudian Andi mengusap mata, duduk, dan beristighfar

“Ada apa nak?” Nenek Ima mengulangi pertanyaannya.  “Kalau merasa tidak sehat, janganlah bekerja terlalu keras.  Istirahatlah”

Andi hanya mampu mengangguk.

“Mau diantar ke dokter? Kok bisa pingsan di depan pintu?”  lanjut Nenek

Merasa belum waktunya bercerita terus terang, Andi pun menjawab pertanyaan Nenek dengan kebohongan

“Tidak ada apa-apa Nek. Saya tadi ..eehh…merasakan pusing yang luar biasa pas mau keluar kamar.  Terimakasih. Saya lanjutkan istirahat di dalam” 

Nenek pun hanya mengangguk dan menepuk pundak Andi.  “Istirahatlah”

Andi pun limbung berdiri dan melangkah masuk tanpa berani membantah.  

Wangi kamboja semerbak kencang sesaat pintu ditutup.  Dengan tertatih menahan diri yang sudah renta, Nenek Ima ikut berdiri sambil berkata, “Tolong.  Janganlah ganggu dia lagi,”   Ketiga laki-laki gagah berbaju putih dan berdiri tidak jauh pun tampak mengedipkan mata kemudian merapatkan kedua telapak tangan seraya memberikan salam “Assalamualaikum Nenek Ima,” 

“Waalaikumsallam,” balas Nenek tanpa menoleh dan memutuskan untuk duduk di sofa sambil berdzikir.

Hari ke-5.  Waktu sudah menunjukkan pukul 10:00 WIT ketika Andi tergagap bangun.  Mendadak teringat kejadian semalam, Andi memutuskan untuk menemui Nenek Ima. “Hari ini semua harus terjawab,” begitu bathinnya bersuara.  “Dan Nenek Ima pasti menyimpan semua jawaban”

Berjalan kesana kemari, penginapan tampak sepi tanpa suara.  Tak terdengar suara gemercik air atau desisan penggorengan di dapur. Bahkan suara ombak pun melengkapi semua keheningan di pagi itu.  Aneh. Lelah setelah 30 menit tidak bertemu dengan siapapun, laki-laki gagah ini memutuskan untuk duduk di teras depan dan berusaha mengulang kembali ingatannya.  Masih jelas terekam 3 orang laki-laki yang berdiri persis di depan pintu dengan tatapan tajam.  Lalu wajah Nenek Ima yang menyambut kesadarannya sambil berjongkok persis di hadapan.  Kening Andi pun tetiba berkerut, “Bukannya Nenek hanya bisa duduk dan berdiri dengan bantuan orang lain? Kok mampu berjongkok?”  “Semalam itu, di tengah malam, kok Nenek bisa menemukan saya ya?” “Dengan berat tubuh yang nyaris kurus, apa bisa terdengar sampai ke kamar Nenek yang berada jauh dari kamar saya,”  Rentetan pertanyaan yang terus berputar di otak Andi.  Pertanyaan tanpa bisa dijawab hingga hari ke-5 berakhir tanpa gangguan apapun.

Hari ke-6.  Terkaget bangun di tengah kegaduhan, Andi mendengar ketukan pintu yang cukup keras.  Bergegas melangkah ke arah pintu, Andi bisa mengenali suara salah seorang pelayan penginapan.

“Pak Andi, assalamualaikum. Paaakkk….”

Tanpa menjawab salam, dengan langkah tergesa-gesa membuka pintu, Andi dikagetkan dengan suasana berbeda di luar kamar.  Tampak sekian banyak orang berkumpul membersihkan rumah.  Beberapa anak muda terlihat menggotong sofa, meja, dan kursi ke luar rumah.  Kemudian beberapa lagi memasang tikar di sana sini.  Di salah satu sudut cucuk Nenek Ima, berkerudung dan mengenakan gamis hitam, menangis tersedu-sedu.

“Ada apa ini Mbak?”

“Nenek Ima meninggal Pak. Subuh tadi.  Jenazah sedang dimandikan.”

Tanpa bisa berkata-kata, Andi merasakan lemas seluruh tubuhnya.  Ingatannya akan wajah Nenek dengan sorot mata nanar mendadak muncul tanpa bisa dihalangi.  

“Nenek sakit apa? Tengah malam kemarin Nenek masih bertemu saya”

Andi mendadak tercekat dengan omongannya sendiri.  Tapi memutuskan untuk tidak menceritakan kepada siapapun atas kejadian yang menimpanya 2 hari yang lalu.

“Seingat saya, Nenek tidak keluar kamar berhari-hari.  Yaahh kira-kira 2 hari belakangan inilah” si Mbak berkata sambil mengernyitkan dahi. “Tidak ada yang bertemu Nenek sampai tiba-tiba kami menemukan beliau sudah tidak bernyawa subuh tadi Pak”

Andi terdiam seribu bahasa.

“Sudah ya Pak.  Mohon siap-siap saja karena sebentar lagi jenazah akan disholatkan di mushola depan dan akan langsung dimakamkan”

Andi tetap terdiam, lalu memutuskan untuk membersihkan diri, dan mengenakan pakaian sopan, kemudian duduk bersama warga lain yang takafur membaca Yassin di ruang tengah. Mengamati dan bersalaman dengan satu persatu tamu, matanya nanar menatap 3 laki-laki berjubah putih dan bersorban, duduk membaca ayat suci Alqur’an persis di atas jenazah Nenek Ima yang sudah terbujur kaku.

Andi tak ingin mempermasalahkan, tidak berminat untuk bertanya ataupun mencari tahu.  Bahkan ketika ketiganya mengangguk ke arah Andi di pemakaman dan menghilang tanpa jejak.  Keinginannya untuk mencari tahu siapa ke-3 lelaki itupun mendadak lenyap.

Andi memutuskan untuk segera meninggalkan kota kecil ini keesokan harinya, di hari ke-7, hari terakhir penugasannya dengan serangkaian pertanyaan yang tidak terjawab. Innalilahi wa’ innailahi rojiuun. Semoga Nenek Ima khusnul hotimah dan menjadi ahli surgaNya.