Memenuhi janji dengan salah seorang teman Penulis asal Surabaya yang tinggal di Bali, Dwi Setijo Widodo, saya dan Mbak Yayuk semangat 45 pagi-pagi meninggalkan rumah di Denpasar.  Hari itu, seperti yang diarahkan Dwi, kami perlu mempersiapkan tenaga dan waktu ekstra untuk menjelajah air terjun di daerah Bangli.  Kisi-kisi persiapan fisik pun dibuat untuk kami (saya dan Mbak Yayuk) yang tidak biasa trekking dan bergelut dengan alam hutan.  Maklum.  Mamak-mamak jelita yang bisanya cuma ngukur panjang x lebar di mall  ((koprol))

Pagi itu lalu lintas ke arah Bangli terlihat senyap.  Tidak tampak kesibukan seperti layaknya daerah tujuan wisata.  Kami melewati beberapa titik pengungsian yang tampak ramai oleh masyarakat yang berpindah sementara karena “batuknya” Gunung Agung.  Sementara orang-orang menjauh dari lingkungan pegunungan, kami malah tak gentar mendekati gunung.  Beberapa jalur jalan sempat ditutup demi keamanan, tapi driver kami hari itu, Pak Romy, tampaknya memang sudah khatam jalan-jalan strategis di Bali.  Mantab dah.

Dari Denpasar, setelah menjemput Dwi di daerah Celuk, kami membutuhkan waktu sekitar 1.5jam untuk mencapai Desa/Dusun Penida Kelod, tempat dimana Cepung berada.  Melewati sebuah pura banjar yang cukup besar menuju jalan masuk, langkah kami sempat terhenti karena ada ritual Ngaben yang diadakan oleh masyarakat setempat.  Langit yang biru terang benderang tampak kontras dengan beberapa kain merah, kuning, kotak-kotak dan aneka warna bunga di dalam besek yang tersebar di sana sini.  Kekhusukan mereka dilengkapi dengan bacaan doa dan dentingan lonceng tangan untuk sembahyang yang dipegang oleh seorang bapak bertutup kepala dan baju putih.

Sebuah pohon tua yang berada di samping Pura milik Banjar Penida Kelod | Tampak gagah dan unik | Cantik dibingkai kamera seiring dengan birunya langit dan putihnya awan

Melangkah turun dari tempat masyarakat banjar ini berkumpul, tampak sebuah lahan parkir khusus untuk kendaraan wisatawan Cepung.  Selain dilengkapi oleh toilet, ada juga sebuah pura kecil sebelum kita berjalan menuju pintu masuk.  Disamping pura ada sebuah loket bambu beratapkan rumbia untuk pembayaran tiket masuk (kalo gak salah sekitar 10.000-15.000).  Jalan semen cor selebar kira-kira 1 meter dilengkapi beberapa tanaman (bunga dan pohon-pohon kelapa yang tinggi) di sisi kanan dan kiri menyambut kesegaran mata yang rindu akan suasana alam perbukitan.

Pura kecil di sisi kanan foto dan jalan masuk plus loket tiket berdinding bambu dan beratapkan rumbia

 

Menapaki jalanan menurun sekitar 300meter, saya melotot melihat tangga semen cor yang lumayan curam melambai di depan mata.  “Ayo semangat.  Ini baru tahap pertama loh,”  Terdengar suara Dwi menggelitik di telinga.  Makjang.  Inilah saatnya saya (kembali) menghadapi ketakutan ke-3 dalam hidup.  Tangga jahanam.  Mendadak teringat ratusan anak tangga curam di tempat wisata Ake Celeng di Tidore.  Ternyata saudaranya ada di Bangli.

Mendadak keringat sebesar biji mentimun mengucur di dahi.  Nafas mulai naik turun.  Tampak Mbak Yayuk, nenek-nenek berumur 6 tahun lebih tua dari saya, sudah ngacir duluan.  Eett daahh.  Masak gw kalah sih.  Gengsi pun melambai-lambai mengalahkan dengkul yang mulai gemetar.

Pemberhentian pertama

Di kepotan pertama ini, untungnya ada warung kecil tapi seperti kantung Dora Emon.  Biar kecil tapi isinya segala macam.  Cooler berukuran sedang berwarna merah bertuliskan Coca Cola serasa membelai leher.  Keinginan nangkring di sini kami tunda sementara.  Semangat untuk melihat air terjun lebih mendominasi dibanding sebotol minuman dingin.  Lanjutkan!!

Mengikuti jalan yang terus menurun dan lagi-lagi bertemu anak-anaknya tangga, kami bertemu titik pemberhentian kedua.  Di sini selain ada warung, juga ada rumah kecil dengan 2 toilet, yang maaf, seperti tidak diurus, plus sebuah tanah berukuran kecil yang dibiarkan kosong.  Beberapa pejalan bule tampak duduk, dan ngobrol ngalur ngidul.  Basa basi ber-hai hai padahal nafas sedang ngos-ngosan.  Godaan berhenti datang.  Tapi lagi-lagi rasa penasaran lebih dominan.  Yak kemon!!

Setelah kurang lebih 15menit terjebak tangga, kami akhirnya menyentuh hutan kecil dengan sungai bening berarus deras.  Menyusuri sungai ini, saya sempat menyentuh air yang dingin menggigit.  Duuhh segernya.  Serasa menggenggam air kulkas.

 

Tak jauh dari kulkas eh sungai berair dingin ini, hutan kecil pun masih menemani perjalanan kami.  Sebuah jembatan kayu yang tampak tua dan rapuh memanjang sekitar 50an meter kami temukan kemudian.  Sempat ragu melangkah karena suara derit kayunya menjerit cukup kencang.  Tapi gak ada pilihan.  Jembatan ini satu-satunya moda perantara jalan yang aman daripada harus melangkah di atas tanah berlumpur.

15 menit kemudian, lagi-lagi tangga curam menyambut tanpa bisa dihindari. Kali ini malah lebih yahud.  Berada persis di pinggir tebing, tangga ini masih dalam proses renovasi.  Dari yang berupa pijakan batu-batu koral besar diganti dengan semen cor.  “Dulu lumayan ngeri loh lewat sini.  Licin banget dan sudah berlumut.  Untung direnovasi,”  Lagi-lagi Dwi membesarkan hati kami.  Wew, begini aja dada deg-deg plas.  Apalagi cuma tumpukan batu koral.  Bisa merembet kek cicak kali ya.  Belum lagi proses naik/kembalinya.  Kek mana itu.  Aaaiihh.  Jangankan mencoba.  Ngebayanginnya aja, dengkul dah lemes duluan.

Menapaki 2 pengkolan tangga berurut di sini, udara lembab pun mulai menyerang.  Gemercik air mulai terdengar.  “Sebentar lagi sampe nih,”  Kalimat pamungkas yang melegakan hati.

“Oia, di sisi kiri, tebing kiri itu, ada pura kecil buat sembahyang,” lanjut Dwi.  Sayapun mendadak menoleh sambil tetap berpegangan pada besi kecil.  Tampak sebuah kotak batu lengkap dengan sajen ditaruh di situ.  Hanya ada lobang kecil dan pinggiran batu berlumut yang menandakan bahwa area sembahyang ini sudah puluhan tahun ada di tempat ini.

 

Beristirahat sebentar mengatur nafas, kami melewati lorong sempit diantara 2 batu/tebing yang indah.  Batu-batu berlumut hadir menjadi pijakan.  Di saat ini saya meraih uluran tangan Dwi.  Buat new comer, keknya memang lebih baik mencari seseorang untuk saling berpegangan supaya gak tunggang langgang.  Saya mencoba menoleh ke Mbak Yayuk, tapi tampaknya traveling partner saya yang satu ini lagi sibuk nggulung celana dan memetakan pijakan hahahahaha.

Perjuangan pun mulai berbuah manis.  Disambut oleh tebing-tebing indah bak pahatan, sungai air es lagi-lagi merendam kaki-kaki kami.  Tidak dalam dan deras.  Tapi cukup bisa membuat tapak kaki keriput jika bertahan menjelajah sekurangnya 1 jam.  Dengan kepala mendongak, saya tercekat dengan keindahan alam di hadapan saya.  MasyaAllah.  Tebing-tebing cantik ini tampak terbentuk sempurna.  Gradasi warnanya bak kapur mengeras bercampur dengan noda-noda hitam menua di beberapa sisi.  Ada beberapa spot di bagian atas yang masih ditumbuhi tanaman.  Lengkap sudah warna di seputaran tempat ini.

Berjalan menjauh, air pun mulai dalam dan membenam kaki kami.  Kali ini tingginya sudah 1/2 betis orang dewasa. Percikan air tampias dari air terjun pun mulai berasa hinggap di muka.  Gemuruh air jatuh pun semakin membahana.  Tapi kami tak bisa langsung bergegas karena semakin mendekat ke air terjun, arus air pun semakin dalam dan menyedot ketahanan melangkah.  Tak ingin jatuh terjerembab dan membenamkan handphone, kamera, dan peralatan lenong di ransel, saya memilih untuk pelan-pelan berjalan dan menikmati hujan kecil yang menerpa muka.  Untungnya topi pita coklat saya manis bertengger di kepala.  Kalo enggak, lumayan nih bikin rambut lepek kecipratan air.

Selanjutnya?? Cuma foto-foto berikut yang bisa berbicara.  Untuk saya, yang jarang banget dan udah lama sekali gak rekreasi ke air terjun, hanya decak kagum yang keluar dari mulut dan mewakili rasa syukur yang tak bisa saya bendung.  Akhirnya, setelah melihat beberapa foto istagenic dari berbagai wisatawan mancanegara lewat internet dan beberapa tautan wisata Bali, saya akhirnya bisa menyaksikan sendiri cantiknya Cepung Waterfall.

 

 

Udara dingin pun mulai menyeruak.  Kaki yang terendam air kulkas bening pun mulai tidak betah.  Puas dipotret berkali-kali, kami akhirnya memutuskan untuk kembali.  Baru beberapa langkah, tiba-tiba kepikiran sama warung-warung yang ada di atas tadi.  Kayaknya kalo dibuat di sini, atau setidaknya ada abang-abang jualan kopi (kopi sachet sambil bawak termos), pasti laku berat dah hahahaha.  Keindahan yang langka seperti ini, bagusnya dinikmati dalam diam sambil duduk nyaman menyeruput kopi hangat/panas.  Indahnya piknik.

Tak ingin memikirkan lintasan menanjak yang akan kami lewati, saya menanamkan pikiran bahagia dan kemanjaan kuliner yang akan saya nikmati di warung paling atas.  Desiran dan suara percikan bakwan yang sedang digoreng, pop mie hangat, teh tawar hangat, kopi hangat, sambil berkicau tentang segala topik dengan Dwi dan Mbak Yayuk pun, langsung berlayar-layar di benak.  Dan itu benar-benar terjadi.  Apalagi ketika meraih titik pemberhentian pertama, waktu menunjukkan jam makan siang.  Klop sudah.  Segala macam gorengan lolos masuk lambung plus bergelas-gelas minuman hangat dan dingin.  Tenaga dan kalori yang terkuras akibat trekking keknya langsung KO dengan lahapnya kami memamahbiak siang itu yang menutup kunjungan kami ke Cepung Waterfall.

 

 

 

 

 

2 COMMENTS

  1. Hahaha!!! Mengingat perjalanan itu, aku selalu bisa ketawa sendiri. Dan tulisanmu sungguh menghidupkan pengalaman itu.
    Btw, sekarang jalanan menuju tangga itu sudah dibuat lebih baik. Rapi. Buatku, sampai saat ini, air terjun di Tukad Cepung ini yang pengelolaannya cukup baik. Kontribusinya, masih 15ribu per orang, bisa dianggap fair. Jadi, kapan mencoba turun-naik tangga lagi? Sekumpul yuuukkk selanjutnya? 😉

    • Wuaàhh. Dah semakin nyaman kalo begitu. Yg masih bikin penasaran itu adalah wsktu foto yg tepat di air terjun Dwi. Gw adaliat bule foto di sana dengan pecahayaan alam yg pas.

      Sekumpul? Kemonlah. Kita bawak ransum ya. Secara kata lo bisa seharian explore sana

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here