Wisata air terjun selalu memberikan kesan tersendiri buat saya.  Bukan hanya karena sangat menyukai wisata bahari, tapi mendapatkan rangkaian pengalaman di tengah perjalanan menuju tempat yang dimaksud menjadikan kunjungan ke sebuah air terjun menggoreskan rangkaian kenangan tersendiri buat saya.  Apalagi jika sebelum berangkat, mendapatkan briefing yang begitu menantang dari orang lain yang sudah pernah ke sana.  Wah, rasa penasaran pun makin membuncah di kepala.

Kali ini, atas undangan Dispar Way Kanan, Lampung dan dikawal oleh K@wan (Komunitas Wisata Way Kanan), di akhir April 2017, saya berkesempatan mengunjungi salah satu obyek andalan pariwisata mereka yaitu Air Terjun Putri Malu yang berada di Desa JUKUH BATU, Kecamatan BANJIT, Kabupaten WAY KANAN, Provinsi LAMPUNG.

 

Menuju Desa Jukuh Batu

Setelah sempat 2 malam menginap di Gedung Batin, pagi itu backpack kami pun kembali penuh sesak dengan peralatan lenong khas perempuan.  Bukan karena diusir atau tereleminasi kalah voting via SMS, tapi nyatanya kami (saya, Rien, Dian, dan Ika) akan diboyong ke rumah lain di pusat kota, milik salah seorang Fans kami.  Maap, bukan Fans tapi pengawal kami.  Eh salah.  Tepatnya salah seorang anggota K@wan, yang juga adalah salah seorang staff Dinas Perhubungan Way Kanan, Lampung  (((Ayu, I love you))).

Baca juga: Gedung Batin | Kampung Wisata Lestari | Way Kanan

Tapi sebelum kami berpindah tidur dari rumah kayu ratusan tahun ke rumah berdinding batu, dua petualangan asyik sudah menanti kami.  Pertama, berkunjung ke Desa Bali Sadhar, tempat berkumpulnya warga Way Kanan keturunan Bali (tulisannya akan saya buat terpisah). Kedua, menikmati perjuangan menjadi seorang Trail Biker untuk bertemu dengan air terjun cantik di Desa Jukuh Batu.

Jadi ketika kami berkendara dari Gedung Batin menuju Desa Jukuh Batu, saya kembali merefresh ingatan akan cerita-cerita mengenai air terjun Putri Malu dari Katerina yang sudah lebih dulu ke sana di tahun 2016 bersama rekan-rekan blogger lainnya.  Satu yang selalu terngiang-ngiang adalah naik motor trail hampir 1jam, melewati kebon kopi, hutan, dan medan jalanan yang menantang.  Ya iyalah, wong naik motor trail.  Kalo jalannya mulus, mending naik skateboard aja (((ngarang))).

Saya, terus terang, sempat gentar memikirkan harus naik motor tinggi menjulang yang cerewet dan rajin merepet itu (baca: berisik).  Naik kendaraan jenis ini kan setali tiga uang dengan naik mobil four-wheels-drive, off-road.  Dengan bobot sarat lemak dan usia jelita (cari sendiri kepanjangannya), kesimpulan terakhir setelah beberapa kali off-road adalah encok.  Dan sembuhnya si encok itu harus dengan jeritan selama 2jam karena diurut mbak-mbak langganan.

Gak usah menunggu lama membayangkan encok, latihan melalui jalanan kaya lubang pun, saya rasakan ketika menuju Desa Jukuh Batu.  Meliuk kesana kemari, mobil kami terpaksa menghindari kawah kecil khas jalanan di Lampung. Setidaknya perjuangan menuju TKP pertama menjadi try-out  ke fakta yang sebenarnya.  Persis seperti anak-anak yang mau Ujian Nasional, kan kudu try-out dulu tuh (((apa hubungannya ya?))).

Hampir 1 jam kedepan, kami pun tiba di rumah Pak Daruni, mantan Kepala Kampung Desa Jukuh Batu, titik dimana semua kontingen Putri Malu berkumpul.  Terlihat beberapa bikers dari klub motor trail Way Kanan Tribal Chapter lengkap dengan kostum khas biker  telah menunggu kami.  Beberapa ojek yang siap dengan motor bebek modifikasi dan roda yang dirantai.  Apa?? rantai??  Saya mendadak melonjak kaget.  Kalo sampai harus siap-siap dengan rantai, berarti medan tempuhnya berat banget nih.  Rantai yang dipasang di roda biasanya untuk menghindari motor terpeleset karena licinnya jalan dan tidak adanya titik cengkram roda terutama pada saat turun hujan atau jalanan becek.  Sekali lagi mental saya serasa diadu.

Tapi demi melihat si Putri Malu yang katanya cantik bak khayangan, apalah artinya mental tempe yang gak perlu itu.  Malu dong sama kelakuan.  Katanya jagoan.  Yok aahh mari kita kemon.

Bersiap menuju Putri Malu. Kontingen kami terdiri dari para blogger, team dari Dispar Way Kanan, Ibu Henny (anggota DPRD Way Kanan) dan adiknya

 

Menuju Putri Malu | Adventure yang sesungguhnya

Memilih motor trail tinggi, roda yang bergerigi sempurna dan Mamas yang tinggi kekar, setidaknya secara outlook saya sudah aman.  Kenapa kudu tinggi? Ya iyalah.  Dengan postur motor setinggi itu, saya memperhitungkan bahwa dengan kaki jenjang, si pengendara tidak akan mengalami kesulitan ketika motor tidak stabil.  Paling enggak kakinya gak celamitan mencari titik pijakan saat motor oleng.  Teknik ini ternyata ampuh karena saya termasuk sebagian kecil dari manusia yang gak mengalami jatuh dari motor.  Kebayang, betapa repotnya orang-orang jika saya jatuh berdentum dari motor dengan tulang belulang dalam usia maghrib (((amit-amit aaahh))).

Cerita legenda dari mulut Katerina mengenai perjuangan menuju TKP langsung terbukti 5 menit setelah kami berangkat.  Belum juga 10 menit mengarungi bahtera rumah tangga, maaf, jalanan yang penuh nista ini, saya sudah sibuk ingin menitipkan nomor telepon suami dan alamat rumah kepada Budi, biker yang membonceng saya saat itu.  Budi pun mendadak ngakak terpingkal-pingkal dengan bahu bergetar-getar.

“Oi, yang bener bae Buk.  Baru jugo lewat rute naik turun, Ibuk la ketakutan.  Di depan gek jalanannya lebih saro dari yang ini”

Dan saya pun jadi tambah merana.  Niat meninggalkan surat wasiat bermaterai pun tetiba terlintas di depan mata.  Tapi dimana bisa menemukan kertas bersegel dan materai 6.000 di tempat seperti ini?

“Dem lah Buk.  Diem-diem bae di belakang.  Aku ni la ratusan kali bolak balik Putri Malu tuh.  La kenal baek samo jalanannyo.  Ibuk bedoa bae”.  Suara Budi dengan logat Semendo, suku dominan di Desa Dukuh Batu ini, membuat saya terkekeh-kekeh.

Etdaaahh.  Bener juga yak.  Kalaupun saya mundur teratur, apa kata dunia.  Terutama sama Katerina yang terlihat bagai anak SMP dan berbodi ringan.  Anak kecil itu aja berani, kok saya cemen  (((piiisss Katerina))).

Akhirnya dengan membaca Alfatiha berulang-ulang, acara boncengan pun berlanjut hingga mencapai Putri Malu.  Itupun setelah sempat hampir tergelincir karena turun dari motor yang tingginya, sumpah, nauzubillahminzalik.  Entah seberapa kuat cengkraman tangan saya ke lengan Budi sampe akhirnya saya sadar itu laki orang meringis kesakitan.  Sayapun kembali terkekeh-kekeh karena dendam dibonceng gonjang ganjing tanpa ampun.

Mau tau bagaimana medan jalur yang kami lewati untuk mencapai Putri Malu? Yok liat foto-foto dari Katerina berikut ini.  Saya?? Boro-boro mau motret.  Dua tangan kekar saya aja gak pernah lepas dari bahu Budi.  Yang kata Budi, seperti dihantam godam dari angkasa  (((maksud??)))

Turun dari motor karena terjalnya jalur yang akan dilewati motor, serta mulai rapuhnya kayu-kayu yang menjadi pijakan jembatan

Yang pasti sebagian besar rute yang kami lewati adalah hutan-hutan kecil, beberapa sungai tanpa air yang deras, tanjakan maupun turunan dengan batu-batu koral, dan beberapa kali bertemu dengan jalan becek tanah liat yang tampak melambai-lambai berharap ada orang yang jatuh.  Bener-bener wisata yang pas untuk mereka yang mencintai dunia petualangan.

Dalam beberapa area jangkauan, mata juga dimanjakan dengan pemandangan kebun kopi dan teh yang membentang indah.  Walau diliputi kekhawatiran jatuh berkali-kali, kebun-kebun ini mendadak melahirkan ide-ide liar yang terus berputar di kepala.  Pemikiran yang tercatat baik di dalam otak saya, sampai saatnya punya waktu yang tepat untuk menyampaikannya kepada Wan Yazed, Sekretaris Dispar Way Kanan, dan Ibu Henny, putri daerah Banjit, tuan rumah kami saat itu.

 

Tiba di Putri Malu | Air terjun indah yang masih perawan

Disambut dengan hujan rintik-rintik yang mulai berisik diantara goyangan daun dan pohon, saya pun turun dari motor dengan perjuangan melawan pinggang yang mulai tegang.  Beberapa menit saya berusaha mengatur nafas, meluruskan badan, tapi mata terpaku melihat sebuah keindahan alam di depan mata.  MasyaAllah.

Terkepung hutan dan lembah yang cukup dalam, bertemu Putri Malu, menjawab kerinduan saya akan wisata air terjun yang masih belum tercemar tangan-tangan nakal dan polesan disana-sini.  Terakhir ketika saya terlibat dalam perencanaan, diskusi estafet, dan pembangunan sebuah tempat wisata di Bali dan Pacitan beberapa tahun yang lalu, mendadak semua konsep yang pernah tergambar baik di atas kertas, muncul kembali dan berlari kencang di atas kepala.

Bahkan sebelum berjuang turun mencapai dasar air terjun pun, saya sampai tidak konsen melangkah hingga hampir ndelongsor jatuh di atas tanah liat dan batu-batu yang mulai licin terhantam rintik hujan, gegara ide yang tak terbendung.  Syukurnya banyak anak-anak muda dari Komunitas Wisata Way Kanan yang begitu aware atas keselamatan saya hari itu  (((I love you Ajie))).  Makasih untuk setiap gandengan dan pegangan yang kuat dan kokoh sehingga saya tidak sekalipun terjerembab.  Repot bener ya Jie ngurusin emak-emak.

Berjalan dalam keadaan pijakan berair itu memang harus diniatkan ya.  Melihat tanah benyek dan batu-batu besar dengan pinggiran lancip seperti pensil yang baru diserut, benar-benar, sekali lagi, menguji mental saya.  Jurang kecil diantara batu menuju pijakan berikutnya pun cukup tinggi untuk sekedar (hanya) diloncati.  Tangga bambu dengan pijakan yang jauh satu sama lain pun, disediakan untuk mengakomodir pengunjung yang ingin turun dan menikmati spot ini dari dekat.

Melihat terjalnya posisi tangga bambu, saya memutuskan untuk turun dengan cara mundur ketimbang memiringkan badan dengan tentu saja kebutuhan keseimbangan yang lebih mumpuni.

Tiba di bawah dan menyentuh air, arus deras pun menyambut kedatangan saya di sini.  Sebuah batang pohon besar tampak telentang menghubungkan kedua sisi lembah. Gemuruh air terjun dari ketinggian, sekitar 80an meter, menembus gendang telinga.  Cipratan airnya pun menyentuh muka dan sekujur tubuh.  Basah kuyup pun tak terhindarkan.  Hujan semakin deras tapi tidak melunturkan semangat kami untuk tetap berada di sini dan menikmati kebersamaan.

 

Menikmati beberapa menit sapuan mata ke segala penjuru diantara kedip mata dan kacamata yang harus dikeringkan berulang kali, satu kelebihan nyata yang dimiliki oleh Putri Malu adalah potongan-potongan batu yang tampak bertumpuk satu sama lain di bagian puncaknya.  Untuk air terjunnya sendiri sih tidak terlalu lebar.  Air jatuh langsung tanpa hambatan dan tidak terhalang oleh batu maupun tanaman di bagian belakarangnya.

Warna batu yang berlapis-lapis itu juga jadi salah satu kelebihan Putri Malu.  Tampak seperti granit yang dibungkus oleh tanaman atau mungkin rumput yang menempel dan tumbuh di sana sini.  Sayang jarak dan kemampuan pandangan mata terhalangi oleh air hujan.  Apalagi dengan ketinggian yang luar biasa, tanpa menggunakan teropong, keliatannya nyaris tidak mungkin mengamati lapisan atas yang tampak indah tak terhingga.  Mendadak terbayang drone.  Seandainya saat itu ada yang punya dan bawa.  Pasti keren nih memotret batu-batu dan rimbunnya tanaman di atas.

“Harusnya datang lebih pagi Buk.  Kalo la waktu dzuhur memang sering hujan di sini.  Jadi idak pacak nian jingok bagian pucuknya”  tiba-tiba seorang biker yang duduk di samping saya berteduh memecah lamunan.  Waahh musti paranormal nih orang.  Tauk aja apa sedang tak pikirin.  Saya membalas dengan anggukkan yang entah untuk apa  (((gak konsen)))

Selesai mengagumi postur tinggi menjulang si Putri Malu, mendadak saya mendengar bunyi gemuruh dalam jarak dekat.  Tadinya tak pikir ada batu besar menggelundung.  Tapi ternyata bunyi perut saya.  Beberapa biker  yang berada di dekat saya pun terkekeh-kekeh.  Ya ampun, dolby-stereo gendang perut saya keras bener yak.  Makjang, sudah jam 2 siang ternyata.  Dan naga-naga di lambung memang belum dikasih makan.

Melirik sekitar, saya melihat tim Wisata Way Kanan sibuk mengedarkan nasi terbungkus daun pisang, dan lauk ikan mas bumbu kuning yang dimasak/dibakar di dalam sebuah bambu.  Nasinya dikenal dengan nama Nasi Ibat.  Sementara lauk ikan yang meluncur dari dalam bambu itu disebut Gulai Dalam Buloh.  Tak menghiraukan bonus air hujan yang meramaikan nasi yang sudah ngumpul di piring plastik, kami makan dengan lahapnya.  Jarang-jarang loh bisa makan begini.

Nasi Ibat dan Gulai Dalam Buloh

 

Saya dan Wan Yazed yang tampak khusyuk menikmati makan siang. Foto iseng dari Katerina

Selesai menyantap sepiring penuh nasi dengan gulai kepala ikan mas yang enaknya badai (apa sih yang gak enak untuk saya?), teman-teman mengulurkan kopi yang juga dibuat di dalam bambu.  Episode penutup yang menyempurnakan perut yang mendadak kekenyangan.

Ketiga kekayaan kuliner khas Banjit, yang diolah secara tradisional ini, benar-benar sudah meninggalkan satu catatan lagi yang wajib ditawarkan kepada para wisatawan yang berkunjung ke Putri Malu.  Paket petualangan bukan hanya muncul dari menaiki motor trail, tapi juga dari keunikan sajian kuliner yang tidak sama dengan daerah lain.  Inipun bisa banget dikombinasikan dengan jelajah kebun kopi dan kebun teh, serta kesempatan untuk melihat langsung pengelolaan kopi di desa ini.  Wisata petualangan dilengkapi dengan wisata edukasi, dan tentu saja wisata alam.

 

Meninggalkan Putri Malu

Menyadari hujan yang semakin deras dan debut air yang meninggi, kami memutuskan untuk menyudahi kunjungan siang itu.  Arus yang deras menimbulkan kesulitan tersendiri untuk menyebrangi sungai dari sisi dalam ke pinggir jurang kecil dimana tangga bambu berada.

Menyebrangi sungai dengan arus yang mulai deras. Berpegangan pada tali yang kokoh adalah salah satu bentuk kepedulian akan keselamatan. Dari titik ini juga terlihat tangga bambu yang bersender pada dinding batu yang tinggi. Foto dari Katerina
Melihat foto ini saya jadi tersadar bahwa tangga bambu ini ternyata tinggi sekali. Tampak Ajie yang terus berada di samping saya

 

Tim segera memasang tali untuk kami berpegangan satu sama lain dan tidak terseret arus.  Bersambung ke tangga bambu.  Hingga satu demi satu kami mencapai pijakan teratas dimana semua kendaraan roda dua siap terparkir, menghadap ke jalan pulang.  Saya sempat tidak mengenali Budi karena kacamata saya penuh dengan air hujan.  Tapi nyatanya Budi tidak sedikitpun melupakan saya (((taela))).

Melewati jalur yang sama ketika datang, saya sempat, lagi-lagi, mengutarakan kekhawatiran akan pijakan yang licin.  Jawaban Budi yang menjelaskan bahwa roda motor yang dia bawa sudah dicengkram rantai pun, ternyata tidak mengurangi rasa gentar yang mendadak muncul kembali.  Kekhawatiran itu justru berkurang ketika hujan berhenti.  Senyum manispun berkembang di ujung bibir sampe akhirnya tiba kembali di rumah Pak Daruni.

Perjalanan panjang hari itu ditutup dengan geliat diskusi antara kami (para undangan) dengan Komunitas Wisata Way Kanan dan Ibu Heny.  Beberapa ide yang tadi sempat terbungkus rapi di dalam otak, saya utarakan dalam pembicaraan penuh keterbukaan.  Dari percakapan ini, saya menandai bahwa rencana-rencana pengembangan wisata Putri Malu sudah bergerak satu persatu.

Melibatkan seluruh komponen yang ada pun tampak menyempurnakan rencana yang sudah disusun.  Komponen ini bukan hanya Dinas Pariwisata Way Kanan, Komunitas Wisata Way Kanan, dan masyarakat setempat, tapi juga kelestarian alam, konsep real dengan kesadaran tinggi akan ukuran kemampuan domestik, serta pertimbangan keselamatan untuk setiap pengunjung yang datang.  Janji untuk mengadakan studi banding, berkunjung ke tempat dengan karakter alam yang sama terangkat dalam pembicaraan kami.

Saya pun meninggalkan Desa Jukuh Batu dengan serbuan harapan yang besar akan destinasi wisata yang satu ini.  Saya punya janji dan itu harus ditepati.  Bismillah ….

Untuk para pembaca yang ingin merasakan serunya berpetualang ke air terjun Putri Malu, silahkan menghubungi Komunitas Wisata Way Kanan dengan alamat dan no penghubung berikut ini: Jl. Jend. Sudirman | Km. 1 Blambangan Umpu No. 126 | Blambangan Umpu | Way Kanan | Lampung 34764 | PIC: Deva Ratnasari | T. +62-821-8208-4068

Facebook Comment