Tulisan ini diikutsertakan dalam SAYEMBARA PENULISAN BAHAN BACAAN 2017 dalam rangka GERAKAN NASIONAL LITERASI 2017 yang diadakan oleh BALAI PENGEMBANGAN DAN PEMBINAAN BAHASA – Balai Bahasa Jawa Barat | Terpilih sebagai 1 dari 50 tulisan favorit juri

ANGKLUNG dan SEJARAHNYA

Angklung adalah salah satu jenis alat musik tradisional di Indonesia, khas Jawa Barat, yang terbuat dari bambu, berbentuk tabung, bernada ganda, dan dibunyikan dengan cara digoyangkan.  Jenis bambu yang digunakan adalah bambu hitam (awi wulung) atau bambu ater (awi temen) yang jika mengering akan berwarna kuning keputihan.  Alat musik ini terdaftar sebagai KARYA AGUNG WARISAN BUDAYA LISAN DAN NON BENDAWI MANUSIA dari UNESCO sejak November 2010.

Angklung di Jawa Barat, berdasarkan sejarahnya, berasal dari masyarakat Baduy, yang adalah sisa-sisa masyarakat Sunda asli.  Pada waktu itu masyarakat Baduy menjadikan angklung sebagai bagian dari ritual dalam mengawali penanaman padi.  Alat musik ini diciptakan dan dimainkan untuk memikat Dewi Sri (Dewi Pertanian, Dewi Padi, dan Dewi Sawah) turun ke bumi agar tanaman padi rakyat tumbuh subur.

Seiring dengan perkembangan jaman, terutama dunia seni musik, angklung akhirnya banyak diperdengarkan kepada khalayak ramai dalam sebuah pertunjukkan.  Karena setiap angklung hanya memiliki 1 nada, permainan angklung sering kali dalam bentuk ensembel (dimainkan oleh banyak orang).  Bahkan untuk melengkapi kekayaan iramanya, aklung juga sering disandingkan dengan alat musik modern seperti dalam sebuah pertunjukan konser.

Dari foto di atas dapat kita lihat bahwa sebuah angklung, bentuk fisiknya terdiri dari 3 buah ukuran tabung (besar, sedang, dan kecil), 3 buah tabung Sora, 1 buah Tabung Dasar, Jejeran (tihang), dan sebuah palang gantung.  Setiap bagian tergabung menjadi satu dan serentak digoyangkan untuk mengeluarkan bunyinya.

 

JENIS JENIS ANGKLUNG di INDONESIA

Berikut adalah beberapa jenis angklung yang ada di Indonesia

Angklung Kanekes

Angklung Kanekes berasal dari daerah Kanekes. Angklung ini biasa juga disebut sebagai Angklung Baduy.  Angklung ini dibunyikan sebagai bagian dari ritual ketika suku Baduy menanam padi.  Dalam sajian hiburan, angklung jenis ini dimainkan pada saat terang bulan dan tidak hujan di halaman pedesaan.  Lagu-lagu tradisional, khas Jawa Barat, dimainkan dengan beberapa gerakan sederhana dalam posisi melingkar.  Mengiringi angklung ini biasanya juga ada alat musik bedug.

Angklung Reyog

Biasa digunakan untuk mengiringi tarian Reyog Ponorogo di Jawa Timur.  Memiliki suara yang sangat keras dengan 2 nada, dengan bentuk lengkungan rotan dan dihias oleh benang warna warni berumbai-rumbai

Angklung Banyuwangi

Sesuai dengan namanya, angklung ini berasal dari Banyuwangi, Jawa Timur.  Bentuknya seperti calung dengan nada budaya khas Banyuwangi

Angklung Bali

 

Melihat foto angklung ini, kita langsung dapat melihat ciri khas budaya Bali.  Dikenal juga dengan nama Angklung Klentungan.  Angklung jenis ini terbuat dari 4 kepingan logam yang menghasilkan 4 nada.  Selain digunakan untuk mengiringi upacara adat tanpa tari-tarian (Angklung Klasik), angklung dari Bali juga dipakai untuk mengiringi pageralan tari/drama (Angklung Kebyar).

Angklung Dogdog Lojor

Angklung Dogdog Lojor berasal dari Banten dan berbentuk seperti angklung bedug kecil panjang.  Biasa digunakan untuk mengiringi berbagai acara seperti ruwatan, dan lain lain.  Dinamakan Dogdog karena apabila ditabuh akan berbunyi “dog..dog..dog”.  Sementara Lojor dalam bahasa Sunda berarti panjang.

Angklung Gubrag

Angklung jenis ini secara umum terbuat dari bambu hitam.  Bagian atasnya diberi hiasan kembang wiru yang akan bergoyang ketika angklung dimainkan.  Selain digunakan untuk mengiringi acara tanam padi (nandur), Angklung Gubrak juga dimainkan untuk acara-cara lain seperti penyambutan tamu, pernikahan adat, dan lain-lain.

 

SAUNG ANGKLUNG UDJO (SAU)

Profil Saung Angklung Udjo

Untuk menjaga kelestarian seni dan budaya Sunda, khususnya alat musik angklung, Bpk. Udjo Ngalagena (yang lebih dikenal sebagai Mang Udjo) dan istrinya Ibu Uum Sumiati, mendirikan Saung Angklung Udjo (SAU) pada tahun 1996.  Berlokasi di Jl. Padasuka No. 118, Bandung Timur, Jawa Barat, SAUD didirikan dengan nuansa serba bambu di tanah seluas sekitar 7.000m2.  Udara Bandung Timur yang segar dikelilingi oleh hutan bambu, pernak pernik bambu, sampai alat musik bambu, akan menyambut kalian jika berkunjung ke sini.  Bahkan di halaman depan kompleks SAU, terdapat sebuah rumah makan milik Mang Udjo yang juga dilengkapi dengan aneka hiasan dari bambu.

Tempat ini sering disebut sebagai LABORATORIUM BAMBU karena disinilah kalian bisa belajar bagaimana melestarikan bambu yang adalah bahan utama angklung, belajar memainkan angklung, melihat dan belajar membuat aneka kerajinan tangan dari bambu.  Semua kegiatan ini akan dibimbing oleh para ahlinya.  Ingin belajar serius mengenai seni musik angklung dan merasakan tinggal di lingkungan saung? SAU menyediakan penginapan untuk kalian tinggali.  Kalian bisa mengajak Ayah, Ibu, Kakak, dan Adik untuk menginap di sini dan ikut mencoba memainkan angklung bersama dengan tamu lainnya.

Tertarik untuk menonton pertunjukan permainan angklung di SAU? Selain melakukan pertunjukkan rutin setiap sore hari pada jam-jam tertentu, SAU juga dapat tampil untuk acara-acara khusus, baik yang diadakan di dalam lingkungan SAU maupun atas undangan dari pihak luar.  Seperti di tahun 2000, SAU tampil berkolaborasi dengan penyanyi cilik (pada waktu itu), Sherina Munaf, di Sasana Budaya Ganesha ITB di Bandung.

 

Profil Mang Udjo

Bpk. Udjo Ngalagena atau yang biasa dipanggil Mang Udjo adalah seorang seniman dan budayawan asal Sunda yang lahir pada 5 Maret 1929.  Beliau adalah anak ke-6 dari Bpk. Wiranta dan Ibu Imi.  Sedari kecil, ketika berumur 4-5 tahun,  Mang Udjo sudah memperlihatkan ketertarikannya akan seni angklung dengan serius belajar ke beberapa guru untuk mendalami seni bermain angklung.

Kecintaannya akan seni angklung, membawa beliau mendirikan Saung Angklung Udjo dan menjadikan tempat ini sebagai sentra seni dan pusat pariwisata bagi mereka yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut tentang angklung.

Setelah wafat di usia 72 (3 Maret 2001), seluruh kegiatan SAU dijalankan oleh anak-anak beliau.  Hingga kini SAU tetap secara rutin melakukan pertunjukkan angklung dan selalu dibanjiri oleh para wisatawan baik dalam maupun luar negri.  SAU berkembang dengan sangat baik dan menjadi andalan wisata kebudayaan dan seni khas Sunda dengan berbagai prestasi yang membanggakan.

 

Prestasi Saung Angklung Udjo

Banyak sekali prestasi yang sudah dicatat oleh SAU.  Baik itu penghargaan sebagai pemenang lomba maupun penghargaan yang diberikan oleh pemerintah maupun organisasi dunia yang terlibat dengan seni dan budaya.

Beberapa dari penghargaan tersebut yang dapat kalian catat adalah sebagai berikut:

Best Asean Cultural Preservation Effort.  Penghargaan atas pelestarian budaya dalam rangka ASEANTA AWARDS 2016 yang diadakan di Manila, Filipina pada 22 Januari 2016;

Pemecahan Rekor permainan angklung kolosal dengan jumlah peserta 20.000 orang.  Acara ini adalah bagian dari keseluruhan penyelenggaraan peringatan ke-60 Konfrensi Asia Afrika.  Dengan tema Angklung For The World, pertunjukkan angklung secara kolosal ini tampil di Stadion Siliwangi – Bandung pada 23 April 2015;

Satyalancana Kebudayaan untuk Bpk. Udjo Ngalagena yang diberikan oleh Presiden Republik Indonesia, Bpk. Susilo Bambang Yudhoyono, di tahun 2009.  Penghargaan ini diberikan atas peran aktif SAU dalam melestarikan dan mengembangkan jenis musik tradisional khas tanah Pasundan;

Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma untuk Bpk. Udjo Ngalagena atas  jasanya yang besar serta pengabdian dan pengorbanannya dalam memajukan kebudayaan tradisional dengan kearifan lokal yang bermanfaat.  Penghargaan ini diberikan oleh Presiden Republik Indonesia, Bpk. Susilo Bambang Yudhoyono, di tahun 2010.

Masih banyak lagi catatan-catatan prestasi yang membanggakan dari SAU yang bisa kalian cari dari berbagai sumber.  Tapi catatan penting dari semua ini adalah bahwa jika kalian mencintai dunia seni dan ingin sehebat Bpk. Udjo Ngalagena, belajarlah seni dengan serius dan buktikan kemampuan kalian dalam setiap kegiatan seni yang kalian kuasai.

Atau kalian berminat untuk mengikuti jejak Mang Udjo? Setiap tahun SAU menerima peserta didik/murid sebanyak 100orang.  Dengan menjadi murid di sana, kalian akan rutin berlatih dan tampil dalam pertunjukan-pertunjukan yang diadakan oleh SAU.

 

Sumber Referensi, Informasi dan Foto: Wikipedia (http://id.wikipedia.org/wiki/angklung | www.sentratradisionalbali.blogspot.co.id | www.negerikuindonesia.com | www.travel.kompas.com | www.a-research.upi.edu

 

 

 

 

 

 

Facebook Comment