Ketika dihubungi Katerina untuk menampilkan profile saya di Xpress Air In Flight Magazine edisi September 2017, saya surprise luar biasa.  Karena tidak biasanya, 1 dari 10 orang Travel Blogger Terpopuler di Indonesia ini, mau meluangkan waktu untuk menuliskan secuil biography seseorang.  Apalagi ini, menurut Rina, panggilan saya untuk si kecil mungil ini, dia sudah mendapatkan persetujuan dari Editor in Chief majalah khusus ini sebelum dia mendapatkan lampu hijau dari saya.  Benar-benar suatu penghormatan tersendiri yang luar biasa.

Mengetahui bahwa profile saya akan berada di sesi Enterpreneur, kegalauan mulai muncul dari diri saya pribadi.  Terus terang dari sudut pengembangan bisnis secara personal, saya masih HANYA bermodalkan niat baik dan ijin Allah semata.  Sama sekali tidak memiliki asset berlimpah, kekayaan pribadi melebihi 12 digit, atau apapun itu namanya, yang layak dan disetarakan dengan para pengusaha lainnya.  Bahkan sampai saat ini, saya tidak berani menerima kredit UKM dengan investasi besar-besaran dari berbagai pihak, yang hampir tiap hari selalu menghubungi saya dan menjamin bahwa seperti itulah dan dengan kredit itulah bisnis saya akan berkembang.

Kekayaan yang saya miliki sekarang adalah network dengan banyak pihak, sebuah ruangan kecil di dalam rumah yang sering saya sebut sebagai ruang kerja atau studio, peralatan lenong pameran, bahan mentah pembuatan perhiasan kawat dan yang paling penting adalah dukungan dari beberapa teman yang 90% diantaranya pernah mengenyam latihan-latihan yang pernah saya berikan.  Mereka-mereka inilah yang konsisten menggerakkan brand saya, FIBI JEWELRY, yang alhamdulillah sampai sekarang terus menapak maju selangkah demi selangkah.

Sedangkan saya sendiri, sampai setahap ini, malah lebih banyak berkonsentrasi pada dunia pengajaran wire jewelry (private maupun berkelompok) ketimbang produksi.  Dengan 50% waktu dan kemampuan berfikir yang harus terbagi rata dengan kegiatan menulis, mengajar, dan menjadi konsultan bidang pariwisata, nguwer (kegiatan membuat wire jewelry) adalah saat-saat langka yang bisa saya nikmati ketika mood tampak bersahabat.

Sekali lagi, tidaklah salah jika saya justru ingin mendedikasikan liputan ini pertama kali kepada seluruh keluarga besar FIBI JEWELRY yang tak pernah putus mendoakan dan mendukung saya, kepada (tentu saja) suami dan anak-anak tercinta yang sering saya tinggalkan melanglang buana entah itu untuk urusan kawat ataupun untuk urusan tulis menulis, dan teristimewa kepada Katerina, sahabat sekaligus adik, yang selalu tampak tabah dan tekun mendengarkan ocehan Sabang sampe Merauke saya, yang sering tidak mengenal waktu.  Tanpa mereka-mereka inilah, seorang Annie Nugraha bukan siapa-siapa, dan bukan apa-apa.

Saya dengan ini minta didoakan agar impian saya untuk tinggal dan menghabiskan masa pensiun bersama suami di Bali.  Kota yang sudah saya cintai sedari kecil dan menjadi rumah ke-2 saya.  Saya bermimpi, di Bali lah, saya lebih bisa menyelami dunia perhiasan handmade dan menjadi penulis dengan kualitas yang lebih baik dari sekarang.  Semoga Allah SWT meng-ijabah doa yang menjadi omongan dari hari ke hari ini.

Cikarang, 3 September 2017

Facebook Comment