Nonton konser musik sepertinya sudah jadi salah satu agenda hidup untuk menghibur diri sendiri.  Perasaan riang gembira (baca: heboh sendiri) biasanya saya rasakan sebelum dan sesudah konser berlangsung.  Apalagi kalo perginya rame-rame.  Acara nonton jadi topik bahasan yang gak habis-habis.  Bener-bener jadi bahan obrolan, bahan ketawa, dan bahan diskusi ala pengamat musik yang ada habisnya.

Dulu, waktu SMA, pernah nonton Krakatau (masih formasi awal) di aula Universitas Brawijaya Malang.  Tiketnya sih 50rb/orang.  Murah ya? Ya iyalah kalo diukur dengan nilai rupiah saat ini.  Tapi tahun segitu, tahun 80an, duit segitu lumayan gede loh.  Wong duit 500perak aja masih kenyang buat jajan.  1.000 rupiah juga sudah makan sampe gumoh pake daging.  Apalagi buat anak rantau seperti saya (((curcol))).  Tapi karena kepengen banget nonton band berkualitas dengan anggota yang semuanya punya nama, jadilah bela-belain melakukan diet ketat mendadak, ngurangin jajan, biar bisa nonton.

Pernah juga nonton Bon Jovi di Ancol.  Salah satu grup rock favorit saya.  Jaman itu, Bon Jovi dan semua anggota band nya masih muda, semua berambut panjang ikal dan dibiarkan tegerai.  HTM nya 75rb untuk kelas Festival.  Selain pas di kantong, nonton konser rock mana asyik kalo cuma duduk.  Udah bayar mahal eeehh akhirnya berdiri dan loncat-loncat juga.  Sayang kan?  Tapi gak selamanya kuat dan mampu tegak berjam-jam di area festival.  Buktinya ketika Bon Jovi kembali manggung di Jakarta, kira-kira setahun yang lalu, saya harus berbesar hati duduk di tribun.  Secara ya, usia jelita, bisa rontok dan ngerepotin orang sejagad raya kalau maksain diri ngejongkrok di depan panggung.  Gak bisa jingkrak-jingkrak dong kalo di tribun? Iiihhh siapa bilang.  Biar sekeliling pada jaim, saya tetap aja berjoget gak tau malu.

Lain waktu, pernah juga nonton konser David Foster.  Jika sebelum-sebelumnya, di jaman jahiliyah, saya menempatkan kocek di atas segalanya, untuk kali ini saya harus “berdamai” dengan diri sendiri.  Harga tiket yang bikin sesek dada nyatanya kalah dengan keinginan kuat untuk menyaksikan seorang arranger bertangan dingin, yang terkenal mampu mengorbitkan puluhan penyanyi.  “Ngapain sih ngabisin duit jutaan cuma buat 2 jam?”.  Taaahh, susah dah ah ngejawabnya.  Tapi buat saya, saat itu, nonton babang David plus penyanyi-penyanyi berkaliber dunia, setara dengan fulus yang dibelanjakan.  Walaupun rada tersiksa dengan baju formal, bermake-up, dan harus rada “jinak” selama konser berlangsung, nyatanya pengalaman menonton babang David jadi salah satu kenangan yang berkesan.

Above all, setelah berkali-kali menjadi “penyanyi pinggiran” di berbagai konser, nyatanya saya menempatkan poin “siapa yang saya tonton” menjadi hal terpenting apakah saya mau nonton apa enggak?  Jadi walaupun si Mas atau si Mbak penyanyi ngetopnya sampai ke ujung langit, dikasih tiket gratis, kalau penyanyinya bukan idola, saya tetap ogah nontonnya.

 

Ari Lasso Di Mata Saya

Siapa sih yang gak kenal mantan vokalis berkarakter ini? Apalagi jejak karirnya sudah menapak di angka 25 plus bejibun lagu ngehits.  Dengan sejarah hidup yang naik turun dan masih tetap bertahan konsisten di dunia yang sama selama 1/4 abad itu, menurut saya, sudah luar biasa.

Setelah sempat berada di puncak kepopuleran bersama Dewa 19, sudah menjadi rahasia umum, bahwa akhirnya Ari Bernardus Lasso, harus didepak di tahun 2001 karena ketergantungannya pada narkoba dan ketidakdisiplinan Ari pada grup.  Saya tidak sempat menonton konser Dewa 19 karena di masa-masa itu saya banyak berada/tinggal di daerah.  Sementara mereka lebih banyak konser di Jakarta, Surabaya dan beberapa kota besar lainnya.  Tapi nama besar Dewa 19 sudah bergaung kencang dimana-mana.  Kaset mereka pun sempat saya beli dan sering banget nemenin waktu-waktu belajar.  Gak ada remaja seumuran saya waktu itu yang kenal dengan Dewa pokoknya.

Kasus didepaknya Ari waktu itu cuma bisa dibaca di koran dan terbatas ditonton di siaran berita TV.  Jaman itu, infotainment masih jarang banget.  Atau memang belum ada ya? Medsos juga belum seperti sekarang.  Jadi gak sempat jadi bahan bully-an.  Saya cuma sempat liat fotonya dengan wajah tirus, kusut, dan badan yang kerempeng.  Tampilan khas para junkies.

Penyanyi kelahiran Madiun ini kemudian mulai saya kenali lagi ketika sukses berduet dengan Melly Goeslow membawakan single yang berjudul JIKA.  Lagu yang booming banget waktu itu.  Walaupun penampilan fisik masih terlihat “sengsara”, tapi kesuksesan duet ini menjadi titik balik Ari ke tangga popularitas.  Apalagi kemudian nongol beberapa lagu yang terus membawa Ari kembali berjaya di dunia tarik suara.  Diantara sekian banyak lagu yang populer dan tetap long-lasting untuk diperdengarkan (bahkan saat konser berlangsung), ada beberapa yang jadi favorit saya yaitu: Perbedaan, Hampa, Arti Cinta, dan Mengejar Matahari.  Jadi jangan kaget ya, kalau naik mobil saya, ke-empat lagu ini sering saya setel kenceng-kenceng buat ngalahin bosan ngadepin macet.

 

Konser “Sepenuh Hati” di Mata Saya

Mondar-mandir ngeliat iklan konser 25 Tahun Berkarya nya Ari Lasso di Trans7, saya langsung gelagapan cari info untuk bisa nonton langsung.  Bertanya kepada beberapa tiket box nyatanya tiketnya tidak dijual.  Ah, ternyata konser memang diadakan/diorganisir eksklusif oleh Trans7.  Otakpun berfikir keras.  Tapi dasarnya rejeki, ada aja jalan untuk mencapai cita-cita (((aahhaaa))).  Dewi, seorang sahabat, nyatanya punya anak dan menantu yang bekerja untuk Trans7.  Maka, merengeklah saya pada ibu 6 anak ini hanya beberapa hari menjelang konser berlangsung.  Daaannn tepat 1 hari sebelum hari H, tiket berwarna hitam bergambar Ari lagi melengos pun sampai di tangan.  Duuhh senengnya hati.  Akhirnya kebagian juga rejeki nonton vokalis favorit manggung (((cieee))), gratis, dan live disiarkan Trans7.  Bakal jadi pengalaman pertama nih.

Sepakat berangkat lebih awal dari Cikarang, kami memutuskan memamah biak sebelum berjam-jam terperangkap di dalam Balai Sarbini, tempat konser berlangsung.  Sekitar pkl. 19:00 wib, antrian masuk pun mulai terlihat.  Sempat terjadi kehebohan karena tempat duduk tidak bisa barengan untuk yang datang berombongan. Tapi kami berdua (saya dan Dewi) beruntung bisa duduk sebelahan setelah sebelumnya juga sempat protes karena “dipisahkan”.  Aaeehh, next time keknya gak perlulah begitu, untuk konser tipe begini sepertinya yang penting tamu duduk sesuai dengan jenis tiketnya aja.  Jadi petugas yang screening tiket di depan gak kewalahan.

Selesai mendapatkan nomor tempat duduk dan sticker scanning untuk mobile light glow, kami sempat berpose di backdrop dengan foto Ari yang tampak jauh lebih tinggi dari aslinya.  Foto tampak dibuat 3D dengan gradasi warna yang bisa menimbulkan efek bokeh pada hasil foto.  Keren aaahh!!

Puas jeprat jeprit di lantai bawah, kami segera memasuki area konser yang pelan-pelan mulai dipenuhi oleh penonton.  Tempat duduk kami persis di bawah panggung sayap kiri.  Di bagian theater, tengah ditempati oleh tamu-tamu VIP, sementara sebelah kiri (persis di belakang kami) diisi oleh teman-teman SMA Ari di Surabaya dan beberapa anggota Fellas (Fans Ari Lasso).  Tampak juga beberapa gadis cantik dan jejaka ganteng yang duduk di area strategis.  Mereka-mereka inilah yang sering disorot dan tampak di layar kaca.  Kita jadi sirik deh (((ngakak))).

30 menit sebelum acara dimulai, Mas Baim, Floor Director konser ini, memberikan arahan kepada seluruh hadirin.  Kalo boleh jujur, bujangan yang satu ini boleh juga ikut Stand Up Comedy.  Pesan-pesan apa yang boleh dan tidak boleh selama shooting berlangsung, sering bikin ngakak dan senyum-senyum.  Waaahh ternyata yah, ngikut nonton acara Live itu juga banyak aturannya loh biar acaranya sukses.  Contoh: hanya boleh diperkenankan ke toilet pas jeda iklan berlangsung.  Jadilah ketika kebelet pipis dua kali, saya kabur terbirit-birit bersama beberapa perempuan beser lainnya yang harus ngantri toilet.

Mas Baim, the Floor Director, yang tampak orasi memberikan pengarahan kepada para penonton. Makasih loh Mas, ngocehnya seru dan bikin kita-kita gak bosen nungguin

Tepat pkl. 19:00 wib konser pun berlangsung.

Andra Ramadhan (berdiri di belakang) dan paduan suara mahasiswa UI (bagian depan) di sesi pembukaan konser

Opening Perform dibuka oleh beberapa violist dan paduan suara mahasiswa UI (PSM UI Paragita) membawakan lagu-lagu populer Ari secara medley di bagian depan panggung. Permainan biola dan koor ini sepertinya sudah direkam terlebih dahulu (menurut pengamatan saya).  Sementara di tengah-tengah tampak gitaris Andra Ramadhan (Andra and The Backbone) bersiap mengiringi Ari membuka konser dengan lagu Kangen.  Andra nantinya akan beberapa kali tampil menemani Ari.  Malah sempat berdiskusi dan bercanda tentang musikus-musikus jaman kini yang tampak dijawab oleh Andra dengan ragu-ragu.

Tampil rapih mengenakan jas yang berkualitas, Ari kemudian memenuhi sesi pertama dengan lagu Kamulah Satu-satunya, Rahasia Perempuan, dan Cintailah Aku Sepenuh Hati.  Lagu ke-4 ini tampak sangat menghanyutkan karena menjadi tema dari konser.

Di sela sesi pertama ini, Tike dan Ronald, pasangan MC kondang, mengundang teman-teman SMA 2 Surabaya, teman SMA Ari, yang memberikan beberapa buah tangan.  Tike dan Ronald inilah yang menjadi pengisi acara ketika iklan berlangsung di layar TV.  Candaan-candaan mereka berlangsung seru dan tidak membosankan.  Selingan-selingan kuis berhadiah pun ikut meramaikan sela-sela perpindahan setiap 9 sesi yang ada.  Yang bikin saya senyum-senyum adalah tim bersih-bersih yang tampak selalu sigap nyapu dan ngepel lantai panggung.  Selama Tike dan Ronald “berkicau”, mereka ini, dengan cueknya mondar mandir ke sana kemari membersihkan lantai panggung (atas dan bawah) serta tangga.

Yok, mari kita lanjut.

Membawakan lagu Cukup Siti Nurbaya, Judika tampil membuka sesi ke-2.  Suara menggelegar dan kuat khas penyanyi Batak langsung merasuk mulai dari bayangannya muncul di tangga panggung.  Judika bagi saya benar-benar penyanyi festival dengan suara prima.  Musik pengiring sekencang apapun rasanya bakal KO kalo sudah tertutup suara penyanyi juara 2 dari Indonesian Idol episode ke-2.

Dominasi suaranya pun begitu terasa ketika Judika tampil bersama Anji dan Ari.  Membawakan lagu I Want To Break Free milik Queen, keunggulan suara Judika tampak semakin memikat ketika dia bermain di suara falseto.  Ari tampak mengimbangi.  Tapi tidak untuk Anji.  Walaupun terlahir dari band rock, Ari dan Anji harus mengakui keunggulan bulat dan tegasnya vocal suami dari Duma Riris Silalahi ini.

Ari kemudian meneruskan konser dengan menyanyikan Kirana dan Elang.  Dua lagi yang menurut Judika adalah lagu-lagu tersulit untuk dinyanyikan.  Kedua pria yang sama-sama “lulusan” management Dani Prasetyo ini, tampak berbincang sedikit mengenai pengalaman mereka selama bergabung di Dewa.  Dewa 19 untuk Ari dan Maha Dewa untuk Judika.

Bintang tamu yang kemudian naik panggung adalah Melly Goeslow.  Penyanyi, arranger serta artist influencer yang satu ini seperti biasa tampil dengan busana yang antimainstream.  Muncul dengan busana ayam berbahan tebal dan berwarna merah, baju ini sempat disindir Ari “Ini karpet apa horden Mel?”.  Gelak tawa pun pecah seketika

Membawakan lagu Jika dengan aransemen unik, Melly adalah salah seorang musikus yang paling berjasa dalam kebangkitan karir Ari Lasso.  Ketika ditanya kenapa mau mengajak Ari berkolaborasi, dengan berseloroh Melly menjawab bahwa dia kasian liat Ari yang dikeluarkan dari grup, gak dapat job, kehabisan duit, dan lain lain.  Guyonan ini pun disambut dengan tawa membahana di dalam gedung, hingga akhirnya dengan serius Melly menjawab bahwa dia memilih Ari karena dia menyukai originalitas suara Ari.  Selain Alm. Chrisye, Melly berpendapat bahwa kedua penyanyi ini, selain memiliki suara indah, juga tidak dibesarkan oleh sensasi dan tidak mati-matian menjaga penampilan untuk tetap eksis di dunia tarik suara.  Ih, bener banget deh!!

Melepas Melly kembali ke belakang panggung, Ari kemudian menyanyikan Misteri Ilahi.  Lagu yang menurut saya sarat akan makna kekuasaan Allah.  Lagu ini tampak pas untuk menggambarkan kondisi sang biduan saat itu.  Bahwa semua cobaan dan ujian yang datang dan menimpanya adalah sebuah misteri kehidupan.  Jadi rasanya pas banget jika digandengan dengan lagu Jika yang barusan selesai didendangkan.

Lepas berduet dengan Melly dan sejenak beristirahat, panggung diambil alih oleh Anji yang membawakan salah satu lagu favorit saya yaitu Perbedaan.  Lagu puitis yang sarat makna ini, menurut saya, kurang pas dibawakan Anji karena tone suara Anji kurang “menggigit”(((kucing keles))).  Maaf ya buat penggemarnya Anji.  Tapi bagi saya suara Anji tidak memiliki karakter yang khas.  Bukan karena tidak bagus.  Maksudnya tidak memiliki ciri khusus yang jika seandainya kita hanya mendengarkan suaranya aja (tanpa melihat mukanya), bagi saya sulit untuk mengenali bahwa itu suara Anji.  Terus siapa dong yang pas untuk membawakan lagu itu? Mmmm menurut saya sih Once Mekel.  Mantan vokalis Dewa 19 yang memiliki suara serakk tapi kuat ini rasanya pas untuk lagu indah seperti Perbedaan.

Mengiringi bincang-bincang dengan Anji, Ari mengajak seluruh pemirsah untuk melihat Lomba Cover Lagu Ari Lasso yang diadakan di media sosial.  Hadirin pun dibuat terbahak-bahak dengan beberapa ekspresi dan penghayatan maksimal dari para peserta yang musiknya ke kanan eh suaranya nyasar ke kiri.  Duuhh, geli banget liatnya.  Saya gak bisa menahan gelak tawa ketika melihat beberapa peserta yang nyanyi sampe keluar urat, merem, keringetan, tapi fals.  Aduh gak berhenti ngakak saya.

Selepas penanyangan para artis dadakan ini, Ari pun berduet dengan Rahmani Astrini, sang  pemenang lomba.  Membawakan lagu Mana Ku Tahu, generasi milenial berusia 16tahun ini, tampil casual, manis, cukup menghibur walaupun dengan kualitas suara yang biasa saja.  Mendapatkan kesempatan manggung bareng seorang living legend dan tampilan fisik yang menarik, bukan tidak mungkin Astrini akan memiliki karir di dunia tarik suara.

Kejutan istimewa lainnya adalah dengan kehadiran 2 orang anak Ari yaitu Abe dan Audra (anak ke-2 dan ke-3 Ari).  Seperti kata pepatah, buah jatuh gak jauh dari pohonnya.  Jadi ketika Abe memulai sebuah lagu (maaf saya tidak tahu judulnya), lantunan merdu pun mengalir lembut di telinga.  Suara kanak-kanak berkualitas pun menguasai panggung.  Saya terkesima.  Bonding kedekatan antara Ayah dan anak terlihat mewakili suasana keakraban di atas panggung.  Kolaborasi indah pun kemudian berlanjut ketika mereka bertiga menyanyikan I Wanna Hold Your Hand yang dipopulerkan oleh The Beatles. Sepertinya kebiasaan mendengarkan lagu-lagu lawas di jaman sang Ayah, ternyata menjadi kegemaran anak-anak.  Potret mereka di atas panggung menjadi salah satu hasil cekrekan favorit saya malam itu.

Ari Lasso bersama Abe dan Audra

Nuansa riang tak lama berganti menjadi syahdu ketika Ari melantunkan lagu Lirih dan Cinta Sejati.  Saya melihat penghayatan maksimal dari seorang penyanyi panggung.  Menyalakan flash light dari smartphone pun mengiringi suasana syahdu yang terbangun.  Lagu Cinta Sejati ternyata dipersembahkan khusus untuk seorang penggemar Ari yang belum lama kehilangan seorang anak, berumur 2tahun, dan tidak terselamatkan karena penyakit tertentu.  Di kesempatan ini, Ari memberikan quote penyemangat yang ditandatangani Ari dan dibingkai cantik.  Wawancara lanjutan pun kemudian berlangsung pada saat iklan berlangsung.  Suara bergetar Tike seolah mewakili hati setiap Ibu yang memiliki empati mendalam malam itu.

Melanjutkan pertunjukkan penuh kesan ini, salah seorang Diva Indonesia, Bunga Cita Lestari tampil dengan busana couture plus gemerlap perhiasan berlian.  Lagu duet Ari dan BCL yang berjudul Aku dan Dirimu ini, kalau tidak salah, sempat menduduki posisi atas tangga lagu di Indonesia dan menjadi lagu favorit dalam jangka waktu yang lama.  Paras cantik dengan ukiran tubuh yang sempurna ikut membungkus indahnya suara BCL.  Karakter suara mereka menyampur tanpa cela.  Salah satu pasangan duet yang menurut saya begitu klop dan sangat indah untuk didengarkan.

Waktu pertunjukkan selama 2.5 jam nyatanya tidak terasa ketika beberapa lagu fenomenal juga dihadirkan di atas panggung.  Badai Pasti Berlalu, Arti Cinta, dan single yang diluncurkan pada awal tahun, Dunia Maya, mendapatkan antusiasme luar biasa dari para penonton.  Gelegar kolaborasi antara Ari dan Paduan Suara Mahasiswa UI Paragita membawa lagu Cinta Terakhir jadi begitu istimewa.

Belum sempat habis kekaguman saya akan stamina menyanyi Ari yang begitu terjaga, kehadiran mengesankan dari Abdul Qodir Djaelani (Dul) mendapatkan tepuk tangan meriah dari para penonton.  Berpakaian serba putih, rambut ikal terikat, dan berkacamata, permainan lincah keyboard Dul mengiringi lagu Cinta Kan Membawamu menjadi spesial.  Saya dan Dewi sempat tidak mengenali pemuda bening yang tampil saat itu, tapi ketika ada penonton yang meneriakkan nama Dul, dan dibalas dengan lambaian kikuk dari yang bersangkutan, saya baru ngeh kalau itu adalah bujangan bungsu dari pasangan Dani Prasetyo dan Maia.  Gak nyangka kalau Dul ternyata juga seganteng dua kakak-kakaknya.

 

Tepuk tangan gemuruh dan standing applaus tanpa putus mengiringi Ari mengakhiri konser dengan menyanyikan Mengejar Matahari.  Lagu yang menjadi soundtrack dari film dengan judul yang sama ini, adalah salah satu lagu yang membuat nama Ari Lasso semakin berkibar di dunia tarik suara.  Sukses lagunya mengiringi sukses filmnya.  Lagu penyemangat anak muda ini terlihat istimewa ketika semua penonton semua berdiri dan bernyanyi sekencang mungkin, mengiringi Ari yang mulai dihujani oleh potongan kertas emas yang berhamburan ke atas panggung.

Beberapa catatan yang menorehkan kesan tersendiri buat saya adalah:

  1. Video Tapping dengan gambar-gambar yang sangat atraktif dan selalu pas dengan tema lagu yang sedang dinyanyikan dan bintang tamu yang menemani Ari di atas panggung;
  2. Keseruan Ari menyanyikan 2 lagu berbahasa Inggris yaitu It’s My Life dari Bon Jovi dan I Want To Break Free dari Queen.  Kedua lagu ini ternyata membuat hampir seluruh penonton berdiri, bergoyang, bahkan loncat-loncat kegirangan, seperti yang dilakukan saya dan Sandi Uno yang menjadi tamu VIP malam itu;
  3. Video testimoni Ari yang menceritakan sejarah karirnya.  Dimulai dengan bergabungnya Ari dengan Dewa (yang pada awalnya bernama Down Beats) di tahun 1989.  Terhitungan sebagai tahun bersejarah dimana Ari memulai karirnya sebagai penyanyi;
  4. Penampilan prima Ari Lasso.  Tetap menjaga fisik, nyatanya membuat pria berusia 43 tahun ini telihat lebih muda dan fit walau harus bernyanyi setidaknya dalam 2jam;
  5. Aplikasi Light Glowing yang muncul di smartphone penonton.  Semua diminta untuk mengakses tautan tertentu, hingga muncul tulisan 25th Ari Lasso Sepenuh Hati dengan latar belakang warna yang bisa dirubah-rubah.  Amazing;

 

Satu lagi konser istimewa sudah mampir dalam sejarah hidup saya.  Kenangan menjadi saksi suksesnya perjalanan bermusik dari seorang Ari Lasso tercatat pada 25 Oktober 2017 di Balai Sarbini Jakarta.  Terimakasih Ari Bernardus Lasso.  Sudah menyajikan performance ciamik tanpa cela.  Begitu menghibur.  Begitu indah.  Semoga perjalanan karir yang sudah mencapai 25 tahun ini tidak akan berhenti sampai jiwa menutup mata.

 

 

 

 

Facebook Comment