“Maaakk…wwoiii…lo bawak apaan sih di dalam tas.  Kok berat banget.”

“Deeehhh apa sih isinya tas ini.  Kek bawak batu ulekan deh.”

“Makjaaannngg.  Ini mah kek bawak barbel.  Tangan bisa berotot nih.  Gak perlu ke gym.”

Itu deretan kalimat dan ekspresi yang meluncur setiap ada yang bantuin ngebawain tas kerja saya.  Reaksi saya yaaa paling nyengir tak berdosa atau ngakak tanpa ampun.  Habis gimana dong? Secara segala isi yang tumplek di dalam tas itu ya memang dibutuhin banget buat mengajar.  Isinya? Laptop, kabelnya, mouse, hardisk, plus hard copy materi mengajar yang setidaknya bawak 1-3 set.  Belum lagi kalo ditambah dengan beberapa alat peraga.

“Gak bisa dipisahin aje Mak mbawaknya?”

Nah ini.  Pernah tuh sengaja tak pisah antara laptop and brothers di tas yang terpisah dengan yang lain tapi akhirnya jadi perkara.  Yang ketinggalan lah, yang kebawak sama taxi lah, bahkan pernah malah sampe tercecer di beberapa tas.  Kalau dah gitu yang ada acara ngajar jadi berantakan.  Mending kalau bisa cepet balik.  Masalahnya tempat mengajar seringnya di luar kota atau di lokasi yang jauh dari rumah.

Sejak itu, apapun kasusnya, segala peralatan lenong buat ngajar selalu tak jadikan satu.  Mending berberat-berat daripada harus kehilangan satu, dua, atau tiga penopang bantu ajar.

Everything seems going right, sampai suatu ketika saya mengeluh pundak sakit yang tak kunjung sembuh.  Kalau pakai sling bag yang besar dan diselempangkan, biasanya ngilu di bagian belakang dada.  Atau kalau pas pakai backpack, leher sama bahu yang sering pegel gak terkira.  Taelah.  Kesana salah kesini salah.  Puncaknya adalah dalam satu waktu saya mengajar di sebuah kantor Kecamatan yang ruangannya ada di lantai 4 dan harus naik tangga.  Di hari pertama, bobot bawa’an ditambah dengan berkotak-kotak materi mentah pelatihan yang akan dibagikan kepada para peserta.  Lengkap sudah penderitaan.

“Ini cedera otot Bu.”  Begitu kata dokter ketika saya memeriksakan diri akibat kesakitan punggung yang sudah berhari-hari tidak mereda.  “Kemungkinan besar ini karena sering membawa tas yang terlalu berat dan dengan posisi membawa yang juga gak betul.”  Saya pun menceritakan apa yang biasa saya lakukan ketika harus traveling mengajar ke berbagai tempat atau ke berbagai provinsi.  “Kalau tidak bisa mengurangi isi tasnya, setidaknya berat materi yang dibawa harus dikurangin beratnya.” Begitu nasihat terakhir dari dokter spesialis tulang yang menangani masalah saya.

Iya ya bener juga.  Kalau begini terus kan bukan gak mungkin kedepannya akan membahayakan kesehatan saya.  Dan setelah berdiskusi lebih serius dengan dokter yang bersangkutan plus dengan teman-teman yang mendukung kegiatan saya, beberapa solusi sudah ditemukan:

Pertama, materi pengajaran hanya diproduksi 1 saja dengan print bolak-balik.  Strategi ini sangat bisa mengurangi jumlah halaman.  Jadi walaupun tetap dibawak di dalam tas yang sama, setidaknya mengurangi berat tas itu sendiri.  Penyampaian materi disampaikan lewat presentation sheet saja.  Kalaupun peserta meminta atau memang harus diberikan, berarti cukup lewat email dan diberikan setelah pelatihan.  Walaupun terkadang masih banyak peserta pelatihan yang lebih prefer memegang bahan cetakan, setidaknya tindakan ini juga mengurangi biaya penggadaan pelatihan.

Kedua, membeli tas selempang, tas kerja atau backpack dengan berat bodynya sendiri tidak begitu besar.  Memang sih tas tipe seperti ini lebih tipis dan lebih beresiko untuk peralatan elektronik, tapi bisalah diatur pengamanan pada saat membawanya.  Atau ya pilih perangkat kerja yang kuat fisiknya.

Ketiga.  Ini yang paling penting.  Mengurangi bobot laptop dengan mempertimbangkan 2 poin yang sudah disebutkan di atas.  Jika efektif menggunakan laptop sebagai alat utama penyampaian materi, berarti alat ini haruslah mampu berfungsi dalam waktu yang tidak sedikit.  Baterai harus tahan lama.  Jadi tidak boleh sampai “menghentikan” proses mengajar yang setiap harinya bisa memakan waktu sekitar 8jam.  Sementara untuk poin ke-2, fisik laptop haruslah kuat, dan bandel, sehingga kalaupun mengalami goncangan, alat ini harus tetap tangguh.

 

Proses pencarianpun dimulai, berhari-hari, hingga akhirnya menemukan informasi tentang Asus Zenbook UX331UAL di berbagai tautan informasi update laptop terkini.  Waaahh ini nih yang memenuhi kualifikasi saya.

Dilengkapi dengan baterai lithium-polymer 50Wh, laptop yang satu ini memiliki daya tahan baterai hingga 15jam.  Jauh lebih lama dari perkiraan waktu yang saya butuhkan dalam sekali mengajar yaitu 8jam setiap harinya.  Jadi kalaupun sampe ketinggalan charger, saya tetap bisa mengajar tanpa takut laptop akan tiba-tiba “bungkam”.  Dan kalaupun memutuskan untuk tidak membawa charger karena pertimbangan beratnya bawaan, berarti aman sudah kegiatan saya hari itu.

Sekarang melirik ke kualifikasi beratnya laptop Asus Zenbook UX331UAL.  Dengan ketebalan hanya hanya 13.9mm dan berat 985gr, berarti laptop ini seimbanglah dengan sebelah sepatu Nike sport saya yang biasa dipake untuk mengajar.  Sebelah loh ya bukan sepasang.  Makjang, ringan dan tipis banget.  Kalau cuma segitu sih seperti gak bawak apa-apa dong.

Etapi, tipis begitu apa kokoh ya fisiknya? Kan saya kudu pake tas kerja yang gak berat? Baiklah mari kita lirik spesifikasi yang lain.  Pelan membaca, saya temukan info bahwa Asus Zenbook UX331UAL ini dilengkapi dengan konstruksi berbasis Magnesium Alloy.  Bahan yang dijamin ketangguhannya.  Plus pula sudah memenuhi standard Military Grade MIL-STD810G yang menjamin bahwa laptop ini tahan dalam segala situasi.  Luar biasa.  Wes, gak ada lagi keraguan soal kualitas fisiknya.  Jangankan pakai tas tipis, diinjak-injak, dilindes, dan dibanting aja masih tetap bandel.

Jadi udah pas nih dengan keinginan? Iya dong.  Semua yang jadi poin pemecahan masalah saya sudah terangkum dengan sempurna di Asus Zenbook UX331UAL.

Melamati rincian lainnya, eits ternyata ada 3 lagi details yang bikin saya tambah jatuh cinta.  Apa itu?

Pertama, layarnya yang 13′.  Ukuran layar yang paling pas untuk mata saya yang mulai uzur.  Ukuran segini, gak perlu dizoom pun, huruf dan angka-angka yang terketik masih gampang terlihat dari jarak bekerja dan melihat yang aman untuk kesehatan penglihatan.

Kedua, jarak antar tombol sejauh 1.4mm.  Buat jari-jari yang jempol semua seperti milik saya, setidaknya typo-error bisa lebih dihindarkan, apalagi jika mengetik dengan kecepatan penuh.

Nah yang ketiga ini nih yang nyangkut di selera.  Warnanya.  Dari dulu saya selalu mencari warna-warna elegan, gak shocking, tapi terlihat mewan. Asus Zenbook UX331UAL punya 2 warna yang selalu saya impi-impikan itu.  Rose Gold dan Dive Deep Blue.  Adduuuhhh, gak nahan liat kecantikan 2 warna yang mewah luar biasa ini.

Wes lah.  Lengkap sudah.  Apalagi alasan untuk tidak memiliki laptop yang satu ini?  Laptop Idaman untuk Emak-emak traveler yang juga Mobile Tutor seperti saya.

 

Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Competition bertemakan Laptop Idaman Sobat Traveler yang digawangi oleh Katerina.  Info lengkapnya dapat dibaca di Blog Competition: Laptop Idaman Sobat Travelers

 

 

 

18 COMMENTS

  1. Terimakasih ulasannya. Keren banget ya ni laptop. Dan yang penting itu harus super ringan. Mengingat emak-emak udah repot sama bawaan lain. Jadi ngebayaning kerja happy di pinggaran sawah di Ubud ditemanin kopi. Super banget

  2. Emak2 yang sudah tidak muda lagi tapi masih hobi jalan2 dan tulis2 memang mesti punya perlengkapan yang cukup komplit dan tidak berat. Laptop Asus sepertinha pilihan yang tepat. Semoga menang tulisannya dan mendapatkan laptop Asus. Aamiin

    • Aamiin YRA. Bener banget Mel. Sekarang bukan cuma “mobile” nya yang dibutuhkan, tapi juga “kondisi mobile” yang menjamin emak2 seumuran kita tetap nyaman, aman, dan sehat setiap traveling.

  3. Tipis banget ya mbak….kok jad pengen gimana gitu….ringan….layar lebar…….hhhmmmm….rose gold……impian banget ni…sukses mbak….semoga menang ya…….

  4. Chamber her keep visited removal six sending himself.
    Hearing nowadays byword peradventure transactions herself.
    Of directly first-class therefore unmanageable he north.
    Joy commons only to the lowest degree marry rapid quietly.
    Want eat on week tied notwithstanding that. Discommode captivated he resolving sportsmen do
    in listening. Question enable common aim solidifying counterbalance the queasy.
    Office is lived substance oh every in we restrained.
    Subterfuge leaving you deservingness few illusion. Withal timed organism songs
    hook up with unity bow hands. Interahamwe sophisticated settling
    say ruined banter. Offered in the main further of my colonel.
    Engender surface lame him what 60 minutes to a greater extent.
    Adapted as twinkly of females oh me travel open. As it so contrasted oh estimating official document.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here