Jika ingin melihat “wajah asli” anak muda di suatu daerah, carilah seorang atau beberapa dari mereka yang berpenampilan “istimewa”, atau yang paling sering disebut-sebut, menjadi topik pembicaraan, diteriakin, dipanggil-panggil, selama kita berkeliling di tempat yang bersangkutan.  Tentu saja semuanya dalam konotasi positif ya.

Begitu yang saya alami ketika pertama menginjakkan kaki di Tidore.  Sebuah kota administratif di Provinsi Maluku Utara.  Sepanjang perjalanan dari Pelabuhan Rum menuju Kelurahan Gurabunga, nama Bams – begitu dia dipanggil – sering kali diucapkan oleh Muhammad Gathmir, ayah tiga putri yang menemani kunjungan pertama saya ke kota kecil yang sarat makna ini.

Tidak terhitung berapa kali nama ini disebut dalam berbagai versi cerita.  Tapi bisa dipastikan bahwa sebagian besar dari cerita yang saya dengar adalah narasi-narasi konyol, penuh canda, sarat kelucuan.  Jadilah selama 30menit berkendara, rasa penasaran akan sosok cowok yang satu ini menggelitik di hati.  Seperti apa ya orangnya? Ganteng atau manis? Menyenangkan atau bikin muntah? Atau malah sebening bintang sinetron? Atau mirip opa-opa drakor alias drama korea yang cowok-cowoknya sudah oplas dan lebih feminin ketimbang maskulin?

Saya pun akhirnya mendapat jawabannya tak lama setelah menginjakkan kai di Gurabunga.  Bams memperkenalkan diri sebagai Presiden Tidore, mengulurkan tangan, menawarkan jabatan erat.  Senyum manis seperti dalam iklan pasti gigi di TV pun mengembang.

Terkesima rambut ikal panjang tergerai menari-nari seiring dengan tiupan angin di Gurabunga, saya pun langsung terkesan pada anak muda yang satu ini.  Dengan cambang yang sepertinya tidak pernah terpikir untuk dicukur, sapaan dan obrolan penuh rasa humor seakan mengalahkan kesan sangar yang muncul dari rambut gondrong dan kumpulan rambut di seputaran dagu.

Satu yang menjadi ciri khas Bams adalah kostum sehari-harinya.  Selama bertemu saya berkali-kali dalam beberapa kesempatan, pemuda bernama asli Sadam Abdul Azis ini sering memakai kain tenun sebagai bawahan dan bertelanjang kaki.  Oiya, kainnya bukan kain kodian loh ya.  Tapi kain tenun berkelas dan menjadi ciri khas daerah tertentu di tanah air.  Dan jika ditanya mengenai kain yang dia kenakan, cerita panjang kali lebar pun akan meluncur berjam-jam.

Badannya yang langsing dengan postur yang tidak terlalu tinggi untuk ukuran pria, Bams mengingatkan saya akan bentuk badan di usia 20-an.  Perut rata dengan komposisi padat berisi.  Bedanya, dulu rambut saya irit jumlahnya, bahkan sempat gundul dua kali karena sakit tifus, sementara Bams awet panjang tergerai.  Perbedaan lain yang tidak terbantahkan adalah Bams punya cambang dan kumis, sementara saya tidak.  Ya iyalaaah!!

Terlahir sebagai anak kedua dari pasangan Boki Hartini Adjaran dan Mansur Abdullah yang bermarga Kaicili, Bams mengaku senang dengan musik blues dan rapp serta penikmat cokelat sejati.  Tidak heran kalau wajah manisnya tetap bertahan seiring dengan kegemarannya akan makanan sumber gula yang satu itu.

Anak bujang yang lahir di Tidore pada 9 Juli 1991 ini tak pernah putus dari cerita-cerita seru dan aksi-aksi gila setiap bertemu dan mengobrol berjam-jam dengan saya.  Seperti berjalan kaki sambil bernyanyi dari Bandara Sultan Babullah ke Pelabuhan Bastiong di Ternate selama hampir 6 jam, ujian skripsi mengenakan pakaian adat Sulawesi sambil membawa gitar, dan hadir di sebuah seminar nasional bersama saya memakai pakaian dan kain tenun Aceh yang awalnya datang mengenakan sepatu kets tapi akhirnya nyeker juga karena panggilan jiwa.

Dari mimpinya yang tak pernah berhenti untuk keliling dunia, Bams pernah ditahan beberapa jam oleh petugas Bea Cukai di Singapura karena membawa Saloi (backpack bambu anyaman khas Tidore) dan ukulele.  Ketika saya tanya kenapa bisa tertahan, dengan enteng Bams menjawab, “Ya mungkin mereka terpesona dengan wajah saya yang seperti artis Hollywood.” Mendengar ini saya memilih mengucap istighfar berulang-ulang.

Terlepas dari keyakinannya sebagai seorang high quality jomblo, dan layaknya anak muda 20 tahunan yang sarat akan mimpi, dalam setiap pembicaraaan diantara sekian banyak pertemuan kami, Bams selalu mendesak saya agar mengirimkan doa jodoh terbaik untuknya.

“Saya ingin istri bule untuk memperbaiki keturunan, Bunda”  Saya mengangguk.  “Nanti kalau sudah ketemu dan dia mau menikah dengan saya, mas kawinnya adalah Al Quran yang saya tulis tangan,” katanya mantap.  Alis saya meninggi.  “Tak perlu 30juz, bisa tahunan dan tidak gampang menuliskan Quran.  Cukup Surah Al Faithah aja”  Kesepakatan ini diaminkan oleh Bams dan dilengkapi dengan janji saya untuk hadir sebagai saksi jika Bams menikah nanti.

Kali terakhir saya ke Tidore, minggu ke-2 Februari 2018, sebagai pecinta kain-kain nusantara, Bams antusias bercerita bahwa kini ia terlibat dalam upaya menghidupkan kembali kain tenun khas tidore, Puta Dino.  Ia terpilih sebagai salah seorang dari enam putra daerah Tidore penerima dana bantuan Bank Indonesia, dikirim ke Jepara untuk berlatih menenun selama kurang lebih sebulan lamanya.

Lagi-lagi jika sudah baku cerita soal kain dan budaya, waktu mengalir berjam-jam tanpa pernah cukup.  Di balik rasa lelah mempelajari ilmu tenun setahun hanya dalam sebulan, Bams bertekad untuk tekun melatih kemampuannya.  Dengan semangat Bams mengungkapan bahwa salah satu hal penting yang ia dapat dari belajar menenun adalah kesabaran.

“Kita yang harus bisa mengendalikan benang.  Bukan benang yang menguasai emosi kita”  Tidak ada yang bisa saya bantah dari statement penuh tekad ini.

 

Bams dan Kora Kora Cafe

Mentasbihkan diri sebagai Presiden Tidore seumur hidup, Bams memiliki area khusus kekuasan secara de facto dan de jure yang dinamakan Kora Kora Cafe.  Ruko seluas kurang lebih 6x8m di Pasar Sarimalaha inilah yang menjadi Kantor Pemerintahan anak-anak muda Tidore.  Tempat mereka berbagi cerita dan impian masa depan sembari membaca berbagai jenis buku, menikmati hidangan minuman dan makanan kecil yang diracik oleh Bams sendiri.

Di awal-awal mengenal Kora Kora Cafe, Bams membuka perjanjian dengan saya bahwa jika ia diberi sebuah buku maka saya berhak mendapat 2 cangkir kopi gratis selama nongkrong di kafe miliknya itu.  Hal sama juga berlaku bagi setiap tamu atau kenalan baru yang menyempatkan diri menikmati waktu-waktu berharga selama mengunjungi Tidore.

Buka setelah maghrib, kita dapat menikmati saat-saat berharga berupa pergantian waktu terang menuju gelap, sambil memandang Gunung Kie Marijang yang persis terhampar di depan mata melalu teras kafe.  Terlihat Kelurahan Gurabunga, Dewa Wisata Religi Tidore, yang pelan-pelan tertutup awan dan menghilang dari pandangan.  Satu sisi cerita tentang Tidore yang tidak akan habis untuk dinikmati setiap harinya.

Bams di halaman depan Kora Kora Cafe | Terlihat Kie Marijang yang cantik dan gagah

Di minggu pertama April 2017, setelah beberapa hari berkeliling dan meliput rangkaian perayaan Hari Jadi Tidore ke-909, seluruh anggota tim dari Jakarta, Ngofa Tidore dan para pemenang lomba menulis tentang Tidore bertajuk Tidore Untuk Indonesia, berkumpul di Kora Kora Cafe membahas berbagai ide, meramu harapan agar eksistensi Bumi Marijang ini agar lebih dikenal di dunia pariwisata, setidaknya untuk wisatawan dalam negri.  Salah satu catatan sejarah dan memorable untuk tempat nongkrong yang populer seantero Tidore.

Ngofa Tidore | Para Blogger pemenang Lomba Menulis Tidore Untuk Indonesia | Anak-anak muda kreatif Tidore | Berkumpul di Kora Kora Cafe untuk baku cerita

Di kesempatan lain, Kora Kora Cafe juga menerima berbagai tamu yang berasal dari luar negeri, para awak media, teman-teman seniman, para peneliti, dan lain lain.  Semua disambut dengan tangan terbuka dan keramahan luar biasa dari seorang Bams, pemuda berambut panjang yang sarat impian dan kecintaan akan tanah kelahirannya.

Jadi kita kalian berkesempatan berwisata ke Tidore, mampirlah ke Kora Kora Cafe.  Silahkan duduk menghabiskan waktu-waktu berharga di tempat yang juga adalah museum foto kejayaan Kesultanan Tidore dari masa ke masa.  Berswafoto di salah satu dinding kafe yang istagenic pun akan menjadi kesenangan tersendiri.  Apalagi jika sempat bertemu dan foto bareng Bams, Presiden Tidore tanpa proses pemilihan umum.

Saya menanam asa ke depan bahwa Kora Kora Cafe bukan hanya tempat nongkrong, tapi juga menjadi ajang bertukar pikiran dan berkegiatan seni, terutama untuk anak-anak muda Tidore yang ingin mengekspresikan diri.  Berkesenianlah, berkaryalah, dan habiskan masa-masa emas kalian dengan segala hal yang meninggalkan kenangan berharga sepanjang hidup.  Biarkan waktu mencatat semua hal terbaik, hingga masa dan sejarah mencatat bahwa kalian, Bams dan semua anak-anak uda kreatif di Tidore, pernah ada dan menorehkan jejak-jejak bernilai di bumi yang penuh kearifan lokal ini.

PUT YOUR HANDS UP !!

Tulisan ini adalah hasil karya saya, salah satu dari sekian banyak tulisan di Buku Antologi TO ADO RE yang dipersembahkan oleh para Penulis, Budayawan, Sejarawan, dan Putra Putri daerah Tidore untuk Hari Jadi Tidore ke-910 yang jatuh pada 12 April 2018.

Resensi untuk Buku Antologi TO ADO RE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here