BANYU TIBO 1_Fotor Setelah berhari-hari berkutat dengan tanggungjawab mengajar wire jewelry untuk 50 crafter di Kota Pacitan, lega rasanya bisa punya sisa waktu yang cukup untuk mengunjungi pantai yang indah ini.  Lebih tepatnya sih disebut air terjun di bibir pantai dengan pemandangan tebing yang sedikit menjorok ke daratan. Satu ekspresi yang paling tepat adalah LUAR BIASA karena terus terang baru di sini, sepanjang hidup saya,  saya temukan ada air terjun setinggi kira-kira 4-5m yang jatuh ke pasir yang bersahut-sahutan dengan debur ombak di garis akhir pantai.  Subhanallah!! sungguh Allah begitu indahnya menggoreskan lukisan alam yang tiada tara dan saya telah diberikan kesempatan untuk menikmatinya dengan decak kagum tanpa jeda.

BANYU TIBO 3_Fotor

Untuk orang Jawa, sebutan BANYU TIBO tentunya bisa langsung dimengerti.  Banyu berarti AIR, sementara tibo artinya JATUH.  Jadi kalo disinkronisasikan Banyu Tibo artinya AIR JATUH.  Cuma arti jatuh yang diambil benar-benar mengkiaskan arti jatuh yang sungguh unik.  Seperti yang saya sebut sebelumnya, air tersebut jatuh di butiran pasir yang kemudian meresap dan ditarik oleh akhir gelombang air laut yang mencapai titik jatuh air.  Begitulah kira-kira gambarannya.

PACITAN, salah satu kabupaten yang merupakan bagian dari provinsi Jawa Timur ini, tadinya dikenal sebagai surga batu-batu alam, kota seribu goa dan batik yang masih mencari jati diri dalam goresannya, kini mulai dikenal sebagai salah satu pusat wisata pantai.  Banyu Tibo ini adalah salah satunya selain Pantai Klayar yang sudah lebih dulu populer dan akan diikuti oleh beberapa pantai lain yang aksesnya sekarang masih/sedang diolah oleh pemerintah daerah setempat.  Bahkan saat terakhir saya mengunjungi pantai ini (kunjungan yang ke-2 kalinya di minggu ke-3 September 2014), jalan menuju pantai-pantai ini (yang kebetulan saling berdekatan), sedang di rombak dengan menanamkan bongkahan batu kapur yang kuat, diperlebar jangkauannya luasnya kemudian di over-lay menggunakan aspal.  Hal ini membuktikan betapa seriusnya Pemda Pacitan untuk menjadikan kota ini sebagai surga kunjungan pantai setelah Pantai Baron dan pantai-pantai sekitarnya yang berlokasi di Jogjakarta.

BANYU TIBO 8_FotorUntuk mencapai Pacitan, saya sendiri lebih memilih melewati jalur darat dari Jogjakarta ketimbang datang dari arah Solo.  Selain jarak tempuh yang lebih pendek, jalan yang dilalui juga tidak terlalu berkelok-kelok, dan bisa mampir ke beberapa rumah murid-murid saya yang kebetulan berada di beberapa Kecamatan sebelum mencapai pusat kota.  Jalan besar dan mulus akan menyambut kita begitu sampai di pintu desa Donorojo. Untuk sekelas kabupaten bagi saya ini cukup istimewa.  Apalagi 10tahun belakangan, salah seorang putra daerah menjadi orang no 1 di Indonesia.  Jadi rasanya adalah sesuatu yang biasa jika Bapak Susilo Bambang Yudhoyono, mantan Presiden RI yang ke-7 dan 8, berusaha mempercantik tanah kelahirannya sendiri.

 

BANYU TIBO 6_FotorJika teman-teman ingin langsung menuju ke Pantai Banyu Tibo, ambillah jalan menuju desa Donorojo, satu garis lurus dari arah Jogjakarta setelah pasar rakyat yang berada di per-empat-an Pracimantoro.  Terletak di desa Widoro, Kecamatan Donorojo, untuk menuju lokasi, jalur yg paling mudah adalah melalui jalur Goa Gong. Dari jalur utama Pacitan Solo, tepatnya di pertigaan dekat masjid Besar Punung. Jika dari arah Solo atau Jogjakarta, pertigaan belok kanan. sampai ketemu per-tiga-an lagi belok kanan, ikuti terus jalan aspal arah Goa Gong, yang adalah salah satu goa paling fenomenal di Pacitan.

Setelah sampai kompleks Goa Gong, terus ambil jalan jurusan Kalak. Sampai di per-empat-an balai desa Kalak, ambil kiri setelah melewati pasar kalak ketemu per-tiga-an, ambil jalan yang kanan arah desa Widoro. Ikuti terus jalan ini sampai ketemu petunjuk di depan bak besar penampungan air yang mengarahkan ke Pantai Banyu Tibo. Dari petunjuk arah ini selanjutnya melewati jalan yang sudah dirabat 2 jalur. Jika bertemu per-tiga-an, ambil jalan yang kanan, ikuti terus jalan ini maka akan sampai di Banyu Tibo.

BANYU TIBO 7_FotorKalau masih bingung dengan arahan di atas, paling makjleb ya tanya penduduk setempat hahahaha.  Tapi jangan khawatir penduduk desa pasti khatam arah menuju ke pantai ini, asal kita mampu mengadaptasi petunjuk arah angin yang sering digunakan oleh orang Jawa ketimbang menyebutkan belok kanan, lurus atau belok kiri. Pengalaman saya sih jarang pengunjung yang nyasar walaupun petunjuk arah menuju beberapa lokasi wisata ditulis sangat minim. Yeaah setidaknya kita kan masih di NKRI, jadi gak usah pusing mengenai komunikasi. Ya enggak? Yang bikin mumet itu adalah kalo kita merasa sok tau dan malas bertanya.  Seperti kata pepatah “malu bertanya, sesatlah di jalan”.

Nah, yang mungkin butuh sedikit perjuangan adalah ketika kita sudah sampai di jalan satu-satunya menuju pantai.  Jalan dibuat dua tapak ukuran roda mobil dan benar-benar memang buat 1 mobil.  Jadi kalau kebetulan papasan dengan mobil lain yang berbeda arah, yah terpaksa harus ada yang merapat ke kiri atau ke kanan, disesuaikan dengan kondisi jalanan.  Yang pasti persis seperti gang senggol ala mobil, semepet-mepetnya, sampe berasa kalo penumpang di mobil yang amprok-kan dengan kita serasa ada di bangku sebelah mobil kita sendiri.  So buat yang belum lihai nyetir, jangan coba-coba deh.  Atau mau mencoba nyali sih boleh aja asal jangan mencelakakan orang lain.

Sejatinya Banyu Tibo ini adalah wisata tebing karena titik akhir parkir mobil adalah di atas tebing.  Disediakan sedikit lahan yang agak landai di tebing tersebut untuk parkiran jika kita beruntung datang dalam kondisi sepi pengunjung.  Kalau dalam musim liburan, bisa dipastikan harus parkir di lahan berpohon-pohon dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.

Di depan ujung parkiran inilah kita bisa menikmati suara deburan ombak dari pantai yang berada di bawah.  Di sisi kanan berderet warung-warung yang menyajikan makanan-makanan ringan maupun berat (seperti nasi dan lauk pauk), air minum dingin atau hangat, bahkan untuk sekedar menikmati rujak yang sambelnya nauzubillah minzalik pedesnya.  Saya sempat duduk-duduk sambil mengobrol dengan beberapa teman ditemani kopi tubruk yang luar binasa manisnya.  Iseng memesan mie instan goreng dengan harapan bisa memuaskan selera, tapi ternyata gagal.  Ternyata yang dijadikan mie goreng adalah mie rebus dan difinalisasi tanpa sentuhan kuah.  Alamak, terbayang dong ya asinnya itu bumbu.  Saya nyengir menyerah karena setelah terkena jebakan betmen pedesnya rujak eeeh dilanjut dengan jebakan keasinan mie goreng bumbu kuah. Gagal sudah acara makan.  Selidik punya selidik, ternyata si Ibu pedagang buta huruf.  Begitulah kira-kira kesimpulan kami, karena setelah dicoba memesan satu kali lagi (oleh teman saya yang lain), teman saya ini mengambil sendiri bungkusan mie goreng untuk dimasakkan.  Dengan menggunakan bahasa Jawa yang kromo (sopan) barulah tersibak rahasia bahwa biasanya tamu sendirilah yang memilihkan mie mana yang akan dimasak dan bagaimana mie itu akan dimasak. Eeeeaallaaahh …..

Kegagalan mengisi perut nyatanya tidak bisa mengalahkan sensasi luar biasa yang saya rasakan ketika mendengar dentuman ombak dan menikmati bermenit-menit nongkrong di bukit, memandang ke sisi kiri, melihat air jatuh yang tiada putus ke pasir yang masih bersih dan putih di bawahnya.  Sekelompok remaja terlihat menuruni tangga bambu yang dipasang tidak jauh dari air terjun dan bersenda gurau menikmati kucuran air di atas kepala ketika sudah menyentuh pasir di telapak kaki.  Ngiri banget ngeliatnya.  Tapi saya cukup berbesar hati menerima kenyataan bahwa jika saya paksakan diri mengikuti mereka, bukan tidak mungkin tangga bambu itu akan rubuh, saya terjengkang ke belakang (ya iyalah masak terjengkak ke depan) dan mendarat di pasir pantai karena tidak kuat menopang tubuh saya yang langsing ke arah luar.  Lagipula, kalo terjadi apa-apa dengan saya (amit2), siapa dong yang ngurusin suami dan anak-anak saya di rumah hehehehehe (alasan).

Siang itu kunjungan ke Banyu Tibo kami tutup dengan gelak tawa karena menemukan supir yang kami sewa tertidur di jok depan dengan kaki diangkat ke atas setir dan indehoi terbuai menikmati lagu-lagu dangdut yang lagi happening.  Saya terpaksa membangunkan dia karena kami harus melanjutkan perjalanan ke Pantai Klayar on-time agar terkejar agenda makan ikan nila bakar di depan kantor Kecamatan setelahnya.  Maapin aye ya Mas …hihihihihi

BANYU TIBO 4_Fotor  BANYU TIBO 5_Fotor

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here