Manusia diberikan kepandaian oleh Allah SWT untuk mampu mengangkat derajat hidup dan melakukan apapun terbaik di muka bumi.  Sebagai makhluk dengan kemuliaan tertinggi, kita tentunya berada di tangga teratas dalam keilmuan, akal serta kebijakan untuk mengelola semua yang telah disediakan di atas tanah, air, dan langit ini.

Telah banyak contoh yang bertebaran dan kita saksikan, dimana kemampuan manusia berfikir berhasil menciptakan berbagai hal untuk memperbaiki hidup.  Berbagai teknologi muncul memudahkan pekerjaan sehari-hari.  Ilmu kedokteran semakin canggih hingga semakin banyak penyakit bisa disembuhkan.  Bahkan kemampuan seni pun makin berkembang seiring dengan meningkatnya akal budi manusia.

Ketika mengetahui bahwa di tanah kelahiran saya telah ada Museum Alqur’an raksasa di daerah Gandus, hati saya bergetar luar biasa.  Apalagi saat mengetahui bahwa museum ini adalah yang pertama dan terbesar di dunia, dimana 30 juz qalam ilahi dikerjakan dalam bentuk ukiran kayu jenis tembesu.  Kayu yang terkenal sangat kuat, kokoh, dan dikenal karena kualitasnya.

Ketika sampai di Pondok Pesantren Al Ihsaniyah, lokasi dimana museum ini berada, di halaman parkir tampak beberapa mobil, motor, dan bis-bis besar para pengunjung.  Di sekitar mobil kami parkir tampak beberapa warung makanan, minuman, dan buah tangan serba Islami.  Jalanan tampak sudah dibeton dan terlihat ada pekerjaan bangunan perluasan museum di sebelah kanan rumah inti yang tampaknya seperti rumah tinggal dengan ukiran kaligraphy memenuhi sepanjang pintu.

Masuk melalui sebuah jalan setapak yang tidak begitu besar, mata langsung tertuju kepada kayu tinggi berwarna coklat dengan ukiran Ayat Suci Qur’an berwarna kuning dalam berbagai lembaran ukuran 177x140x2.5cm.  Setiap lembar dapat digerakkan berputar dan terlihat terukir dalam 2 sisi. Dibuat selama hampir 7tahun dengan biaya sekitar 1.2milyar, berdiri tepat di hadapan 30juz isi dari kitab suci yang saya imani, semakin membuat hati saya tergetar.  Berdiri dengan penyanggah besi yang tampak kokoh, tak henti saya mengagumi rapihnya pekerjaan kaligrafi yang sempat dipamerkan di Masjid Agung Palembang selama 3 tahun untuk mendapatkan koreksi dari masyarakat umum, terutama para hafidz Qur’an, sebelum dipindahkan ke Gandus.

Tersedia panggung lebar dengan 1 undakan berkarpet merah untuk para pengunjung duduk mengagumi tingginya akal manusia dan memberikan kesempatan kepada setiap orang untuk melemparkan pandangan ke seluruh penjuru museum.  Diresmikan pada 30 Januari 2012 oleh Presiden (pada saat itu) Susilo Bambang Yudhoyono, museum ini menjadi wisata religi kebanggaan masyarakat Sumatera Selatan.  Saat itu keberadaan museum ini menjadi salah satu bagian dari konferensi parlemen Organisasi Konferensi Islam (OKI) yang dihadiri oleh seluruh peserta.

 

Puas melihat keseluruhan dinding dari arah depan, saya menelusuri sebuah jalan kecil yang membawa saya ke bagian dalam dari potongan-potongan kayu.  Pijakan-pijakan besi menyanggah langkah saya untuk melihat hampir keseluruhan mushaf Qur’an yang berada di bagian dalam.  Hanya lapisan bawah yang dapat terlihat, sementara beberapa potongan bagian atas hanya dapat saya nikmati dalam cahaya yang sangat minim.  Memanfaatkan waktu dengan keindahan ukiran berwarna emas, saya menyempatkan diri berfoto diantara lapisan kayu yang bisa diputar-putar.

Mengakhiri kunjungan ke tempat yang bersejarah ini, kami menuju sebuah mezzanine besi yang berada persis di berhadap-hadapan dengan dinding kayu.  Dari titik ini kita bisa melihat setiap potongan ayat suci Alqur’an secara keseluruhan.  Lagi-lagi decak kagum mengalir tanpa henti.  Membayangkan proses pembuatannya yang pasti tidak mudah. Menghabiskan 40 kubik kayu atau sekitar 315 buah papan kayu, dengan 35 orang pekerja yang dengan sangat hati-hati memindahkan setiap ayat dengan rincian tanda baca, pastilah akan sangat menguras energi, waktu, dan tentu saja biaya yang tidak sedikit.

Tidak ada kata atau kalimat yang lebih pantas selain keberkahan bagi siapapun yang terlibat dalam pembangunan museum ini, baik itu pekerja, penyelia isi, dan yang tidak dapat dilupakan adalah mereka yang sudah dengan ikhlas menyisihkan, mensedekahkan sebagian hartanya bagi pembangunan wisata religi di Palembang yang tercatat dalam skala dunia.

 

 

Facebook Comment