“Ke Bontang? Jauh amat Mbak mainnya”  Itu reaksi yang saya dapatkan ketika bercerita kepada seorang teman bahwa saya akan ke Bontang dalam 10 hari ke depan.  “Kalimantan kan itu?”  Yup bener!!  Tepatnya Kalimantan Timur.  “Ngapain lo ke sana Mbak?”  Aaahhh.  Seperti biasa.  Mengajarlah yang membawa saya sampai ke ujung timur pulau terbesar di Indonesia ini.

Baca : Pengalaman Istimewa Mengajar di Bontang Bersama PWP Badak NGL

Saya mengenal kota Bontang dari salah seorang sepupu (dari pihak suami) yang kebetulan suaminya bekerja di PT. Pupuk Kalimantan Timur (PKT), perusahaan terbesar ke-2 di Bontang.  Dari obrolan-obrolan pas ketemuan arisan, dari Ina, sepupu ini, saya mendengar beberapa cerita tentang Bontang.  Mengetahui bahwa kita harus melewati 2x penerbangan, saya mahfum kalau kota ini bukanlah tempat yang murah untuk didatangi.  Kalau tidak karena urusan tertentu, pasti menimbulkan rasa segan jika harus bela-belain berlibur ke sana.  “Ayok Ni, kapan yok main ke Bontang” begitu tawaran Ina, dan saya pun menjawab, “InsyaAllah.  Siapa tau ya ada rejeki ke sana”  Dan jawaban saya ini dicatat oleh malaikat hingga akhirnya dalam 2 tahun ke depan saya benar-benar menginjakkan kaki di Bontang.  MasyaAllah.

 

Perjalanan Menuju Bontang

Kami (saya, Mbak Yayuk, dan Dewi) mencapai Bontang setelah terlebih dahulu terbang ke Balikpapan.  Mengetahui bahwa harus transit di Balikpapan, kami pun meminta pihak pengundang (PWP Badak NGL) untuk memberangkatkan kami pagi-pagi sekali agar punya waktu yang lowong untuk keliling Balikpapan.  Semangat untuk menengok Pasar Inpres Kebun Sayur yang terkenal dengan aneka kerajinan tangan dan penjual batu-batu alam asli Kalimantan.  Plus merasakan nikmatnya hidangan seafood ala Balikpapan sebelum melanjutkan penerbangan ke Bontang menggunakan pesawat ATR milik Badak NGL.

Jadi, kalau ingin ke Bontang, salah satu alternatifnya adalah dengan 2x penerbangan seperti kami.  Karena connecting flight dari Balikpapan menuju Bontang hanya ada 2, ATR Badak NGL atau PKT, ada baiknya teman-teman ngecek dulu waktu-waktu penerbangan yang sudah diatur oleh 2 perusahaan ini.  Dan karena ke-2 flight ini hanya dari dan menuju Balikpapan, otomatis kita harus terbang dulu ke kota ini.

Alternatif ke-2 adalah menyambung melalui jalan darat dari Balikpapan menuju Samarinda kemudian melanjutkan perjalanan ini ke Bontang selama 6-7 jam dengan biaya sewa kendaraan Rp 750.000 per sekali jalan.  Dari informasi yang saya dapatkan, rute darat ini cukup baik dengan melewati beberapa area hutan.  Jadi sangat disarankan perjalanan pagi sampai sore saja.

Berikut adalah informasi mengenai penerbangan menuju Bontang

Masyarakat umum dapat menggunakan penerbangan dengan pesawat milik ke-2 perusahaan di atas dengan biaya Rp 1.200.000,-/trip (1x jalan) dengan rincian waktu-waktu penerbangan sebagai berikut:

Senin ada 2x penerbangan : Balikpapan – Bontang (siang dan sore), Bontang – Balikpapan (pagi dan siang).  Sabtu: Balikpapan – Bontang (siang), Bontang – Balikpapan (pagi dan siang).  Sementara untuk hari-hari lainnya (Rabu s/d Jumat): Balikpapan – Bontang (sore) dan Bontang – Balikpapan (pagi).

Kontak yang dapat dihubungi: Herman Turkie (0811 581 1804, hermant@badklng.co.id), Achmad Fadoil (0811 584 5081, Fadoil@badaklng.co.id), Syuhril (0811 581 1806, syuhril@badaklng.co.id)

Untuk charter flight – self check in dapat berselancar ke tautan htt://travelsystem.badaklng.com.  Tautan ini dapat diraih dengan menggunakan aplikasi internet Firefox, Google Chroome, Internet Explorer 11 atau Safari.

 

Beberapa Tempat Wisata di Bontang

Bontang Kuala

Bontang Kuala adalah salah satu kampung tertua yang didiami penduduk Bontang.  Kampung ini berada di atas air dengan jembatan kayu Ulin sebagai penghubung lingkungan .  Sebagian besar penghuni kampung ini adalah nelayan yang berasal dari Suku Bugis dan Suku Bajau.  Mereka mendirikan rumah-rumah kayu yang tampak kokoh.  Bahkan ada beberapa rumah yang dibangun 2 lantai, dicat berwarna, dan jadi obyek photography yang cantik.

Selama di Bontang, saya beberapa kali mengunjungi tempat ini untuk menikmati sunset di salah satu resto yang berada di sudut ujung perkampungan.  Duduk di resto ini kita bisa menikmati sekian banyak kegiatan pengunjung.  Ada area khusus jika ingin mencoba naik perahu dayung, berenang, duduk-duduk santai sambil bermain air, dan mencoba berbagai jajanan di sebuah lapangan terbuka (tentu saja beralaskan kayu).

Jangan khawatir takut haus dan lapar di sini, karena banyak resto-resto besar dan kecil yang menyediakan aneka makanan khas Bontang, dan minuman-minuman hangat maupun dingin untuk melegakan tenggorokan kita.  Di dekat parkir mobil pun berteret resto seafood plus penjual ikan asin dari berbagai jenis ikan.

Di tempat ini pun ada Rumah Mangrove Information Center yang didirikan oleh BADAK NGL yang letaknya tidak jauh dari pintu/gerbang masuk sebelah kanan parkir.  Dalam waktu tertentu (air laut pasang sedang), beberapa petugas bisa membawa kita berkeliling hutan bakau yang berada dalam satu lingkungan Bontang Kuala.

Ecowisata kemudian dikembangkan oleh BADAK NGL dan dijalankan oleh mitra binaan mereka yaitu Kelompok Tani Mangrove Lestari Indah.  Selain membantu memberikan wisata edukasi mengenai mangrove, kelompok ini juga bisa mengajak kita menikmati berbagai aneka kuliner yang berhubungan dengan mangrove.

Tulisan lengkap mengenai dapat dibaca di Bontang Kuala | Pemukiman Nelayan di Atas Air yang Sarat Nilai Wisata di Utara Bontang | Kalimantan Timur

 

Pulau Segajah

 

Untuk mencapai Pulau Segajah, pulau pasir tak berpenghuni, harus menunggu air laut mencapai titik surut tertentu.  Beberapa kali ke Dermaga milik BADAK NGL untuk mendapatkan informasi ini hingga di satu waktu kami tegopoh-gopoh menuju dermaga dan naik speedboat milik perusahaan menuju Segajah kurang lebih 30menit.

Semakin siang, luas pulau pun akan semakin terlihat.  Air laut akan terlihat lebih bening, bergradasi, disorot oleh sinar matahari yang mentereng di atas kepala.  Cuaca terang benderang dilengkapi dengan biru sempurna langit dan putih cantiknya awan.  Ada beberapa pohon bakau yang tumbuh dengan akar yang menyembul ke atas.  Alur-alur sentuhan air laut yang surut tergores di pasir yang putih bersih.  Beberapa hewan lautpun hidup di pinggiran pasir yang bening dan cantik banget untuk difoto.

Untuk mencapai pulau ini, selain melalui fasilitas dari BADAK NGL, masyarakat dapat menyewa kapal dari Bontang Kuala dan melakukan island hopping ke Pulau Beras Basah.  Kalau tidak salah, biaya sewanya sekitar Rp 1.200.000,-/8 jam.

 

Pulau Beras Basah

Pulau dengan sebuah mercusuar ini berada di lalu lintas kapal-kapal laut yang datang dan pergi dari pelabuhan BADAK NGL.  Mengikuti SOP perusahaan, kami tidak diperkenankan membuang sauh di pulau ini.  Kondisi ini bertentangan dengan kebijakan masyarakat umum yang ingin tetap bisa main ke pulau Beras Basah melalui (salah satunya) naik kapal dari arah Bontang Kuala.

Tapi untuk melepas penasaran, Mbak Chris, yang saat itu menemani kami, mengajak kami menyapa pulau ini dari atas speedboat.  Di atas goyangan ombak laut yang heboh kek lagi joget dangdut di atas panggung, saya sempat memotret beberapa sisi pulau.  Dari kejauhan terlihat tenda-tenda biru, kemungkinan besar warung-warung yang dinaungi oleh ratusan pohon kelapa, tumbuh hampir di seluruh sisi pulau.  Di beberapa sisi dipasang tumpukan semen cor sebagai penahan ombak dan sebuah jembatan dermaga yang saya yakin cakep banget buat difoto.

Kalau diperkenankan urun rembuk, terus terang, pondokan-pondokan tenda biru itu cukup mengganggu pemandangan.  Menurut saya, akan lebih cantik dilihat jika atapnya diganti dengan rumbia atau bahan-bahan lain dari materi natural, agar terlihat menyatu dengan alam.

 

Pulau Selangan

Pulau di atas laut ini lebih tepat disebut kampung nelayan di atas air.  Selangan ini mengingatkan saya akan Bontang Kuala tapi dalam ukuran yang lebih kecil.  Saat kami berkunjung tampak beberapa nelayan sedang panen rumput laut yang siap untuk dijemur dan diperdagangkan.  Baru kali ini saya memegang rumput laut segar bugar.  Tampak tebal seperti karet solid.  Gak percaya kalau hasil laut ini bisa diolah, dinikmati, dikonsumsi bersamaan dengan bahan lain dalam segelas es campur dingin.

Dihuni oleh kurang lebih 80 KK, di Pulau Selangan juga disediakan SD dan Masjid yang cukup besar.  Semua adalah sumbangan dari program CSR BADAK NGL.  Kami sempat menikmati bergelas-gelas kopi di salah satu warung milik warga sambil ngobrol ngalur ngidul tentang kebersahajaan kehidupan masyarakat pelaut di pulau ini.

 

 

Jembatan Panjang

Nama yang sangat pas untuk tempat wisata yang satu ini.  Memasuki daerah Pagung Sekambing, Kelurahan Bontang Lestari, kami melewati jalan aspal berukuran lebar sedang.  Kampung-kampung yang kami lewati tidaklah banyak, tapi sebagian besar sudah jadi mitra binaan BADAK NGL atau PKT.  Dari cerita Daeng yang mengantarkan kami, di kampung ini pernah diadakan kejar paket A, B, dan C, untuk menghilangkan buta huruf.

Tiba di area parkir di ujung awal jembatan, kami disambut oleh hutan bakau yang luas membentang hingga bertemu dengan ujung laut.  Saya sempat melihat beberapa ekor beberapa binatang melata berkeliaran dan suara monyet yang menggeram dari kejauhan.  Di samping jembatan kokoh yang terbuat dari kayu ulin, tertambat beberapa perahu dayung para nelayan dan jaring-jaring besar untuk menangkap ikan.  Jembatan ini berujung di bibir pantai.  Tapi karena panas yang luar biasa, kami membatalkan rencana untuk berjalan menyusuri jembatan panjang.

 

 

 

Pulau Tihik Tihik

Sama seperti Pulau Selangan, pulau yang satu ini adalah perkampungan nelayan di atas laut.  Kampungnya lebih luas dan dikelilingi oleh bentangan garis pembudidayaan rumput laut.  Speedboat kami pun merapat pelan-pelan agar tidak tersangkut di salah satu jaring yang sudah dipasang.  Wajah-wajah sumringah bocak laki-laki menyambut kami di bibir dermaga.  Keriangan bermain terlihat begitu menyenangkan.  Duduk di dalam speedboat, saya sempat merekam ekspresi mereka melalui kamera saya.  Pondok dermaga yang mulai rapuh ini dan ijakan-ijakan kayu yang juga mulai menua tak menghalangi mereka untuk berlari kesana kemari.

Memutuskan untuk tidak turun, kami berkeliling kampung dan melihat budidaya bakau yang menyembul keluar dari batas atas air laut.  Warna hijau dari daun bakau yang kokoh terlihat kontras dengan warna air laut.  Rumah-rumah di sini jauh lebih besar-besar dari beberapa rumah di Pulau Selangan.  Bahkan gedung sekolah dan masjidnya pun jauh lebih besar.  Letak bangunan pun lebih sempit dan lebih padat.  Di sana sini terlihat perahu dayung tertambat yang terayun-ayun mengikuti ombak laut.

 

Bukit Sekatup Damai (BSD)

Tempat ini adalah tempat pertama yang kami kunjungi sejak menginjakkan kaki di Bontang.  Diantar oleh Daeng yang memang bertugas menemani kami, kawasan wisata ini berada di lokasi perumahan BTN para pegawai PKT.  Melewati lingkungan tempat tinggal yang cukup besar, kami bertemu sebuah rumah kayu dengan konsep foodcourt.  Kami nongkrong dulu di sini, minum juice, menikmati minuman dingin dengan es batu bertumpuk-tumpuk, membayar panas yang serasa menampar-nampar muka.

Selepas hilang dahaga, kami melangkah masuk ke dalam kawasan melewati sebuah gerbang kayu kecil.  Menuruni beberapa anak tangga, terhampar di depan mata beberapa pondokan dari Resto Seafood Pondok Pesisir.  Tadinya pengen nyobain masakannya, tapi ngeliat tidak ada petugas yang nongol, akhirnya kamipun menghabiskan waktu dengan berfoto-foto saja di beberapa titik unik, seperti pondokan dengan atap rumbia dan jembatan kayu yang menghubungkan satu pondokan dengan pondokan lain.  Semakin menjorok ke laut, pondokan akan langsung berdampingan dengan hutan mangrove.

 

Tak menemukan tanda-tanda kehidupan di tempat kami berkeliling, kami pun memutuskan untuk kembali ke mobil.  Padahal, setelah bercerita dengan ibu-ibu peserta pelatihan, kami mendapatkan info bahwa jika menyusuri sebuah jalan kecil, kita akan bertemu dengan Taman Wisata Graha Mangrove yang luas dengan fasilitas yang lengkap.  Duuhhh, gitu ya kalau melalak tanpa didampingi orang lokal.

 

IDO Niaga

Tak lengkap jalan-jalan kalau ga ketemu tempat beli oleh-oleh.  Adalah Ido Niaga, sebuah kompleks kecil yang menampung para perajin dan pedagang aneka kerajinan tangan khas Kalimantan.  Berada di Jl. Pangeran Antasari, Berbas Pantai, Bontang Selatan, berbagai produk unik dapat kita temukan di sini.  Mulai dari ukiran kayu, tas-tas kulit kayu, berbagai kelengkapan sehari-hari dengan bahan-bahan mote warna warni dan motif khas Kalimatan, tas-tas wanita dari bahan-bahan mote yang tampak mewah, hingga kain meteran tentu saja dengan motif Kalimantan dan warna-warna shocking menarik mata.

Walaupun pedagang di sini tidak banyak, kepuasan menikmati berbagai produk kreatif cukup terbayarkan. Kuncinya adalah telusuri isi dari setiap toko pelan-pelan dan perhatian satu persatu.  Niscaya kita akan menemukan sesuatu yang menarik hati.  Dan jangan ragu untuk menawar di sini karena para penjualnya ramah dan sopan.

 

Satu yang tidak akan terlupakan dari Ido Niaga adalah karena letaknya berdekatan dengan Warung Bastino.  Awalnya, sambil menunggu kami berkunjung ke Ido Niaga, Daeng membelikan kami beberapa gorengan berukuran besar untuk kami nikmati sepanjang jalan.  Tak menolak, setelah nyomot tahu isinya, kami pun mendadak keranjingan gorengan Bastino.

Berada di Jl. H. Agus Salim No. 175, Berbas, warung ini menyajikan aneka gorengan dalam ukuran besar (tahu, tempe, bakwan) dengan kuah/bumbu petis khas Jawa Timuran.  Harga ditetapkan kelipatan 5 per 3 buah gorengan.  Seperti 3bh – Rp 5.000,-, 6bh – Rp 10.000,-, 9bh – Rp 15.000,-, begitu seterusnya.

Selama bolak balik ke sini, kami selalu mendapatkan gorengan dalam kondisi panas.  Artinya antara jualan dan masak/nggoreng pasti kejar-kejaran.  Ini bener banget.  Setiap kami kemari, pengunjung gak pernah berhenti.  Ada yang makan di tempat, tapi lebih banyak banyak lagi yang take a away.  Sekali waktu kami coba makan di tempat, tak terhitung berapa pelanggan yang datang.  Dan ternyata memang lebih nikmat makan di warungnya selagi panas, dicocol ke kuah petis, sambil memesan teh hangat atau kopi untuk menyempurnakan makanan sejuta umat seperti ini.  Di Bontang, warung gorengan bertebaran hampir di setiap sudut jalan.  Pernah mencoba warung yang lain, tapi ternyata hanya di Warung Bastino kami menemukan kecocokan selera dan lidah.  Jadi kalau kalian ada kesempatan main ke Bontang, mampirlah kemari ya.  Bakalan nagih seperti kami hahahaha.

Masih ada beberapa destinasi wisata yang belum sempat saya kunjungi selama berada di Bontang.  Next time, jika diberikan kesempatan untuk ke Bontang lagi, saya ingin berkeliling dan meliput plus menulis kekayaan kuliner di sana.  Terutama kuliner seafood yang bertebaran hampir di setiap sudut kota.

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here