Teman-teman dari Majels Taklim Ar-Raudhah yang mengadakan pertemuan di Sun Sang

Mendekat ke Alam

Hari ini, menuntaskan janji dengan seorang sahabat, saya berangkat menuju Sun Sang Eco Village (Sun Sang) yang berada di desa Kerambitan, Tabanan. Gak begitu jauh sih dari rumah di Denpasar. Lalu lintas yang relatif lengang dengan laju kecepatan mobil yang sangat santai, akhirnya membawa saya sampai di Sun Sang dalam 1 jam berkendara. “Kita jalannya santai-santai aja ya Bu, biar Ibu bisa menikmati pemandangan.” Begitu yang disampaikan oleh Pak Hadi dari GoCar yang mengantar saya saat itu. Aaahh betul banget. Kapan lagi saya bisa menikmati kesibukan-kesibukan warga Bali di pagi hari sepanjang perjalanan yang mengarah ke Pelabuhan Gilimanuk jika tidak dalam kondisi seperti ini.

Mengikuti petunjuk arah via GPS, Pak Hadi sempat ragu ketika akan melalui jalur khusus menuju Sun Sang. Meskipun sudah ada signage besar di pinggir jalan, kontur tanah menurun, berkelok, dan nyasir tertutup hutan, Sun Sang tidak terlihat dari ujung jalan. Saya mengontak Indah, sahabat saya, dan memastikan bahwa kami sudah berada di jalur yang tepat. “Betul kok Mbak, tinggal ikutin aja jalannya. Nanti akan ketemu pintu depan Sun Sang dalam 5 menit.” Lega karena pasti gak nyasar, kami pun melanjutkan perjalanan tetap dengan kecepatan rendah dengan bonus pemandangan hutan kecil di sisi kanan dan kiri jalan.

Seperti yang disampaikan Indah, tak lama, tampak di depan mata beberapa atap rumbia rumah bambu, pagar bambu yang tersusun apik dan menarik, dan sebuah kebun yang cukup luas berdampingan dengan area khusus parkir mobil. Udara segar segera menyeruak sesaat setelah turun dari mobil. Saya hampir lupa mengucapkan terimakasih ke Pak Hadi saking terpakunya pada angin semilir yang menyapu wajah, kicauan halus beberapa burung yang menggelitik di telinga, dan aliran sungai yang terdengar dari kejauhan. Rangkaian natural compliment yang tidak akan kita dapatkan saat tinggal di perkotaan yang penuh dengan bangunan.

Saya seketika merasakan keberuntungan mendekat ke alam sambil berjalan pelan di atas kerumunan batu koral yang berdecit kecil saat diinjak.

Sekilas Tentang Sun Sang Eco Village

Pintu depan menuju kompleks villa

“Sun Sang Eco Village is a community property, with each bamboo houses co-owned by impact investors and managed by our management. Working closely with local communities, we offer sustainable solution to over development problem in Bali. By using renewable resources to build houses, we aim to reduce carbon footprint usually linked to property development. To further promote our agenda, we also provide a learning center that is open for public, a space for permaculture garden, and solar energy for electricity

Saya membaca uraian di atas melalui official website Sun Sang selama dalam perjalanan. Pemahaman akan konsep Eco yang dihadirkan oleh tempat yang beroperasi sejak April 2019 ini, serentak menggugah hati saya. Komplit banget awareness nya terhadap kelestarian lingkungan. Lebay nih? Enggak dong ah. Menghadapi gempuran perubahan iklim dengan jutaan sampah yang dihasilkan saat ini dan pemanasan global, kepedulian akan keterbelangsungan lingkungan sudah harus dimulai dari sekarang. Kesadaran dari skala kecil seperti kita dan keluarga, lalu lingkungan kita, dan akhirnya melibatkan semua personal di seluruh dunia. Siapapun, kapanpun, dan dimanapun, tanpa terkecuali.

Saya berusaha menyimak beberapa kalimat yang digadang-gadang oleh Sun Sang yaitu bamboo houses (rumah/villa bambu), sustainable solution to over development problem (solusi berkelanjutan untuk masalah pembangunan fisik), using renewable resources to build houses (penggunaan sumber daya yang dapat diperbaharui dalam pembangunan rumah/villa), learning centre (pusat pengajaran), permaculture garden (taman/lahan yang mampu bersinergi dengan ekosistem dan atau lingkungan), and solar energy for electricity (energi matahari untuk listrik).

Bayangan akan sebuah tempat dengan sekian banyak konsep rasa cinta akan lingkungan dan kelestariannya, seketika memenuhi benak dan pikiran. Benarkah semua yang saya sudah baca ini? Atau sekedar promotion gimmick untuk menarik perhatian konsumen? Baiklah mari kita buktikan ya.

Learning Center

Pintu depan menuju Learning Center

Sebelum nengokin kompleks villanya, kita mampir ke Learning Center dulu yok.

Yang pertama kali saya lakukan adalah bertemu teman-teman sholeha dari Majelis Taklim Ar-Raudhah yang sedang khusyuk mengaji dan mendengarkan penyegaran ilmu agama dari seorang Ustadz. Berkumpul di salah satu gazebo milik Sun Sang, yang berada persis di pinggir sungai, makna learning center pun merengkuh teman-teman saya yang sholeha ini. Arti yang sama tingginya saat Bali Institute Foundation pernah menyelenggarakan Youth Leadership di tempat yang sama. Semua mengusung tema “belajar” yang memang ingin dihadirkan dan difasilitasi oleh Sun Sang.

Youth Leadership Program by Bali Institute Foundantion | Sumber foto : Sun Sang

Selain gazebo besar sebagai pusat kegiatan, di area ini juga ada beberapa unit Bamboo Capsule dan Bamboo Tent yang ditawarkan senilai IDR 195K/orang/malam (bisa lebih murah jika memesan unit lebih banyak). Kedua jenis fasilitas stay over ini pas banget untuk pelajar yang sedang mengikuti pelatihan atau bagi mereka yang memiliki budget terbatas. Harga segitu sudah termasuk perlengkapan mandi (amenities), kamar mandi (bathroom), toilet, dan juga dapur yang dapat dipergunakan bersama. Semua material untuk membangun capsule dan tent ini adalah sisa dari kayu dan bambu yang sebelumnya digunakan untuk pembangunan villa. Jadi semua sumber daya alam yang digunakan bagi keseluruhan kompleks dimanfaatkan semaksimal mungkin hingga tak tersisa.

Bamboo Capsules
Bamboo Tent

Ada juga pondokan khusus yang bisa digunakan sebagai pusat pengumpulan konsumsi. Kesemua bangunan mengelilingi sebuah lapangan rumput yang cukup luas. Jadi kalau ingin mengadakan permainan-permainan secara berkelompok, kita gak perlu ngungsi ke tempat lain. One package facilities lah pokoknya.

Learning Center sering kali menerima tamu yang sekiranya berminat untuk menjadi co-owner dari villa bambu yang terus dikembangkan oleh Sun Sang atau hanya untuk sekedar memahami lebih jauh tentang proses pembuatan bangunan full bambu. Setiap calon investor diajak terlebih dahulu mengenal lebih baik mengenai konsep keseluruhan dari pembangunan villa yang kesemuanya menggunakan bambu dan berbagai bahan alam yang menyertainya. Visi dan Misi Sun Sang juga dijabarkan agar kesamaan mindset akan tujuannya keberlangsungan tempat ini menjadi satu kesatuan dengan calon pemilik villa.

Diskusi hangat tentang rumah bambu

Makan Siang yang Luar Biasa

Menutup pengajian dengan sholat Dzuhur berjamaah, rasa lapar pun menyerang tanpa bisa ditolak. Mbak Novi, salah seorang petugas dari Sun Sang, akhirnya datang dan mengingatkan kami bahwa hidangan makan siang sudah siap santap di sebuah rumah kecil, yang lagi-lagi berada tepat di bahu sungai.

Berjalan beriringan dari Learning Centre tak lebih dari 5 menit, aneka hidangan rumahan tampak cantik disajikan di atas wadah bambu beralaskan daun pisang. Semua menyelerakan. Telur bacem, sayur urap, ayam panggang kuning, sate lilit khas Bali, plus dilengkapi dengan sambal matah dan kerupuk gendar. Makan dikit? Diihh rugi amat. Apalagi menu diramaikan dengan sekotak gede semur jengkol yang dibuat dari rumah dan dibawa oleh salah seorang teman. Lengkap sudah. Jadi jangan salahkan diri ini jika 2 piring menu komplit meluncur ke lambung tanpa ampun. Hasilnya? Bengong kekenyangan.

Saya sampai perlu meng-istirahat-kan badan setidaknya 30 menit, ngobrol ngalor ngidul dulu, sampai akhirnya ingat punya niat untuk berkeliling memotret kompleks villa. Segen bener mau menggerakkan kaki. Tapi sapaan Mbak Novi, “Ayok Mbak, mumpung langitnya cerah nih. Biar hasil motretnya bagus-bagus.” mendadak memecahkan rasa kantuk yang mulai merayap di ujung mata. Saya segera menghabiskan segelas besar air putih dan beranjak dengan semangat.

Makan siang kami hari itu | Telor bacem, ayam panggang, sate lilit khas Bali, sayur urap, dilengkapi dengan krupuk

Eh ngomong-ngomong, restonya ini walaupun berukuran tidak terlalu besar dan hanya mampu menampung belasan orang saja dalam sekali kunjung, ada 1 spot tempat duduk yang lebih rendah dan menjorok ke pinggir sungai. Teras resto mungkin lebih tepatnya ya. Ada bean bags warna warni dan bangku panjang yang bisa difungsikan untuk naruh camilan dan kopi. Pas banget buat makan-makan sambil ngobrol-ngobrol sembari mendengarkan bisikan aliran sungai. Dan lagi-lagi karena hampir seluruh bangunan dibuat dari bambu dengan atap rumbia, panas gonjrengnya matahari tidak menghempas ke atas kepala dan badan kita.

Indah Isdiana di teras resto | Spot foto yg istagenic dan nyamanable buat ngupi-ngupi sambil nggayem pisang goreng

Berkeliling Villa

Inspired by Sea Shell | Tsubasa House

Di depan Tsubasa House

Tepat berseberangan dengan resto, ada 3 rumah bambu (6 kamar) yang idenya berasal dari cangkang kerang (sea shell). Dilengkapi dengan ruang duduk di bagian tengah yang menghubungkan 2 kamar yang berdampingan di dalam 1 rumah, sirkulasi udara di villa jenis ini sangat terasa. Diberi nama Tsubasa House, dalam setiap unit tersedia kamar mandi dengan dinding yang tidak tertutup penuh (tapi masih aman loh), meja rias, dan tempat tidur queen size yang dilengkapi dengan kelambu dan tersambung langsung dengan sebuah balkon kecil. Di ruang duduk tadi, ada juga bean bags, hammock dan ayunan yang dapat dipergunakan bersama. Jadi kalau nginapnya ber-empat, menyewa 2 kamar seharga IDR 550K/unit/malam sudah termasuk breakfast ini rasanya udah pas banget di kantong.

“Mbak, ayok foto di sini. Spot favorit pengunjung nih,” Mbak Novi mengarahkan saya untuk berdiri di antara atap 2 unit Tsubasa House, sesaat setelah kami melangkah keluar menuju villa yang lain. Waahh bener juga ya. Mengintip IG Sun Sang (@sunsang_ecovillage) memang rame bener yang bergaya di selempitan atap yang menyentuh tanah, dengan foot steps batu koral dan latar belakang teras villa dengan tipe yang sama.

Spot foto favorit pengunjung

House of Abundance | Stephanie House

Saya langsung merasakan nuansa yang sangat pribadi sesaat setelah melangkah masuk ke dalam Stephanie House. Dibangun dengan rancangan unik, terinspirasi dari Cornucopia dari mitologi Yunani, keindahan villa ini terbagi atas 2 lantai. Lantai bawah, berupa ruang terbuka untuk function facilities dan lantai atas khusus untuk kamar tidur. Pengaturan ruangan yang sesuai untuk honey mooners tapi ingin tetap merasakan kebersamaan dengan teman-teman atau saudara. Atau ingin menikmati waktu dan kemurnian alam hanya berdua saja? Bisa banget. Berada di titik paling ujung dari keseluruhan kompleks villa, House of Abundance berada jauh dari lalu lalang pengunjung.

Saya menghabiskan hampir 30 menit untuk duduk, memotret dan merasakan feel of abundance of love and joy, di lantai bawah. Sofa besar yang nyaman, dapur bersih untuk menampung banyak makanan dan minuman, sebuah dek dengan meja, sofa, dan relaxing net, kemudian hammock ukuran besar dengan bantalan yang luwes terayun-ayun di sisi kiri villa. Semua tampak menyatu dengan alam, terbuka, dan tanpa penghalang untuk melihat aliran sungai dan sebuah air terjun kecil sepandangan mata. Sun Sang juga menyediakan jalan setapak dengan pijakan koral yang memungkinkan penghuni Stephanie House untuk menyentuh langsung aliran sungai yang berada persis di bawah villa.

Dek dengan sofa-sofa nyaman, bantalan duduk yang berlimpah ruah dan relaxing net
Ruang terbuka di lantai bawah | Tampak jalan setapak beralaskan koral untuk menuju sungai

Ditawarkan dengan harga IDR 770K/unit/malam termasuk sarapan, Stephanie House terlalu sayang untuk dilewatkan tatkala kita menginginkan sebuah rumah dengan rancang bangun istimewa, merasakan udara segar dari alam, dan keheningan di kala matahari telah terbenam. Buat yang menyukai ketentraman sambil menulis? Balkon yang terhubung dengan kamar di lantai atas bisa jadi pilihan terbaik. Tinggal siapkan bergelas-gelas minuman hangat, sepiring besar camilan, dan tentu saja kedamaian yang mendukung terciptanya ratusan bahkan ribuan kata.

Heart of The Bamboo | Yugon House

Yugon House adalah villa pertama yang dibangun dari keseluruhan villa yang ada di Sun Sang. Unit yang berkonsep heart and love ini, kalau dilihat dari atas, memang berbentuk hati, termasuk outdoor bathtub yang menemani sebuah kamar di lantai atas. Keintiman dan privacy yang sama kita rasakan seperti berada di Stephanie House. Sempurna sekali untuk pasangan suami istri yang ingin menikmati waktu-waktu berkualitas tanpa gangguan.

Ditawarkan dengan harga yang sama seperti House of Abundance, Yugon House, memfasilitasi penghuninya dengan sebuah ruang tamu di lantai bawah berikut dengan dek dan dinding tertutup, pemandangan ke arah sungai, sebuah dapur bersih kecil, bean bags, dan tentu saja akses atau jalan setapak menuju sungai.

Yugon House | Semi Open Deck
Yugon House | Heart Shape Bathtub

Triangle of Prosperity | Nakada House

Nakada House

Nakada House adalah salah satu rancangan istimewa yang dikenalkan oleh Sun Sang. Dengan konsep 2 kamar yang terhubung melalui sebuah ruang yang bisa digunakan bersama, bangunan Nakada House mengusung traditional design pada bagian atas villa (roof) dan konsep segitiga yang memungkinkan penginap dapat merasakan lancarnya lalu lintas udara dan pemandangan kebun/taman dari sebuah ketinggian di bagian depan, plus tentu saja river view yang bisa dinikmati di bagian belakang.

Villa yang ditawarkan dengan harga IDR 750K/malam/unit atau IDR 1.200K/malam/2 unit including breakfast ini tampak megah dan langsung terlihat dari kejauhan karena atapnya yang tinggi menjulang. Villa pertama yang terlihat saat kita menelusuri jalan masuk utama.

Sejenak saya merasakan dejavu berada di desa Rantepao, Tana Toraja. Satu Kabupaten yang berada di Sulawesi Selatan, yang juga menghadirkan atap rumah lancip dan tinggi menjulang pada fasad/tampak depan bangunan. Satu wajah tradisional Indonesia yang nyata terkonsep dengan baik dan menjadi bagian dari Sun Sang.

Glamping In The Twin Pyramids | Twin Triangle

Unit ini tercipta dari sebuah pelatihan yang diadakan dan diberikan kepada tamu-tamu yang datang dari Sabah, Malaysia. Konsep tinggalnya merujuk kepada Glamping (Glamorous Camping). Meskipun rancang ruangnya sangat sederhana dan ditawarkan dengan harga termurah (IDR 450K/unit/malam), Twin Triangle tetap dilengkapi dengan berbagai kenyamanan dan fasilitas seperti villa yang lain.

Twin Triangle | Glamping Concept
Kanan : restoran | Kiri : Sea Shell Bamboo House

Mengisi waktu-waktu berkualitas selama menginap di Sun Sang, para tetamu bisa mengikuti beberapa kegiatan yang rutin diadakan seperti yoga, meditasi berkebun, memancing, creative workshops, beternak, melihat proses perawatan bambu dan beberapa materi alam, membuat makanan dan minuman sehat, trekking, dan kegiatan-kegiatan lain yang bisa diselenggarakan untuk private team, team building, dalam kelompok kecil maupun dalam jumlah besar. Semua kegiatan yang tentu saja melengkapi konsep eco village yang membawa kita kembali ke kemurnian alam.

Dibangun di atas lahan seluas 2 hektar, Sun Sang, mengajak para investor untuk menjadi pemilik villa bambu dengan konsep co-ownership. Setiap pemilik villa berhak meluangkan ide dan design impian yang ingin diwujudkan dengan, tentu saja, bambu sebagai bahan baku. Mereka juga berhak menjadi pemilik atas lahan dimana villa tersebut dibangun, sementara manajemen operasional akan dilaksanakan oleh Sun Sang secara professional dengan sistem bagi hasil yang akan dinegosiasikan dan disepakati bersama.

Ranjang dari bambu dengan kelambu | Standard fasilitas area tidur di Sun Sang
Inspired by Sea Shell

Waktu beranjak sore saat saya harus kembali ke Denpasar dan mengakhiri kebersamaan singkat dengan Sun Sang. “Kapan-kapan kembali kemari dan merasakan sensasi menginap di sini Mbak Annie” sambung Mbak Novi, melengkapi pertemuan kami hari itu. Saya mengangguk seraya berjanji akan menuliskan kesan singkat tapi mendalam saya untuk Sun Sang. Eco Village yang mendekatkan kita kepada alam, dan tentu saja lingkungan.

Sun Sang Eco Village yang kaya akan tumbuhan, udara segar, dan kebersihan lingkungan

#SunSangEcoVillageBali #BaliEcoVillage #EcoVillage #VisitBali #ExperienceBali #VillaInBali #TabananBali #BaliVillage #BaliTourism