Rabu, 22 Februari 2017

Hari itu memang sudah diniatkan keliling Bogor dan menclok di beberapa tempat untuk nabung foto-foto cantik dan bahan tulisan di blog. Rencana pun mendadak dibuat dan berharap agar cuaca hari itu bersahabat sehingga hasil foto bisa maksimal terbantu dengan cahaya matahari.

GRAND GARDEN RESTO & CAFE ini jadi perhentian kami terakhir, setelah melewati Lemongrass, Roof Top, dan Bakmi Bangka Al.  Waktu menunjukkan sekitar pkl. 15:00 wib ketika kami sampai di pintu gerbang Kebun Raya Bogor yang berada persis di depan/seberang Mall Lippo.  Membayar biaya masuk Rp 14.000,-/orang, mata langsung dimanjakan oleh hamparan hijau rumput yang luas dan terawat plus hujan yang mulai menyoraki kedatangan kami.  Petugas di depan pagar masuk sempat menyampaikan info bahwa mulai jam 4sore, bisa free tiket masuk. Laaahh nanggung amat yak harus nunggu 1jam lagi hahahahaha.  Ya sutralah, itung-itung ikut membantu biaya operasional pemeliharaan tempat yang indah ini.

Setau saya, resto yang ada di dalam Kebun Raya Bogor itu namanya CAFE DEDAUNAN, tapi begitu tiba di depan pintu masuk, semua signage bertuliskan GRAND GARDEN.  Waahh berarti sudah berganti manajemen nih.

Gak memakan waktu lama, mengikuti jalur lurus dari gerbang masuk tadi, kami bertemu dengan air mancur di sisi kiri.  Belok menanjak ke arah kiri, kami pun bisa langsung melihat megahnya resto dari kejauhan.  Hujan yang semakin deras menyambut kami yang berlarian menuju pintu masuk.  Terlihat sepasang patung besar sedang memegang tongkat dan sebuah taman kecil dengan beberapa patung rusa di dalamnya.  Mengakhiri jalur setapak, ada sebuah patung perempuan yang berpose menari seakan-akan menyambut setiap tamu yang datang.

 

Sejenak saya sempat sibuk mengeringkan muka dengan tissue sebelum akhirnya gak bisa menahan decak kagum melihat hamparan hijau yang disajikan di depan saya.  Dan takjubnya lagi, hujan mendadak berhenti, menyisakan rintik-rintik kecil, seakan-akan memberikan waktu untuk saya mengambil foto-foto yang luar biasa indah.  MasyaAllah.

Spot pertama yang saya ambil adalah dari posisi tengah resto.  Sebuah cekungan kecil yang di bagian dinding bawahnya bertulisan nama resto.  Dari posisi ini, kita bisa melihat jalan aspal yang tadi dilewati, jalan setapak berbatu apung yang disusun rapih, pohon-pohon besar yang tumbuh subur, kontur jalan beraspal yang naik turun, 2 air mancur (air mancur besar bulat dan air mancur milik resto berdinding batu dan kaktus yang tinggi-tinggi), dan tentu saja lapangan luas hijau menyegarkan mata.

Melangkah turun dari titik tengah ini, saya menemukan step ke-2 resto, berupa area tempat duduk dengan lantai susunan batu apung dilengkapi dengan beberapa patung besar, dan dinding tanaman rambat.  Di area ini semua meja berbentuk bulat dengan 2 tempat duduk untuk setiap meja dan tidak beratap.  Semua terlihat bersih dan sangat terawat.

 

Melewati 2 patung besar yang memegang lampu sambil mengangkat tangan, kita akan sampe di bagian ground yang sangat luas.  Di sini, tersedia beberapa kelompok tempat duduk yang dilengkapi dengan payung-payung besar.  Kami memutuskan untuk kongkow di sini berlama-lama sebelum hujan benar-benar berhenti.  Dengan masih tetap diselimuti oleh rintik hujan, pesanan 1 cangkir kopi hitam dan 2 cangkir expresso menjadikan acara ngobrol menjadi lengkap asiknya.  Salah satu kopi expresso yang dipesan, oleh sang Barista, dibuat bergambar kepala beruang.  Duuhh lucu banget sih.  Sampe gak tega untuk minumnya hahahahaha.

Sempat kekenyangan (berlebihan) makan mie ayam di Bakmi Bangka Al, perut sudah gak sanggup lagi menampung makanan.  Tadinya niat memesan makanan ringan aja ternyata tak satupun dari kami memproklamirkan diri untuk sanggup menghabiskannya.  Yoweslah kalo begitu, mari kita minum-minum saja sambil membolak-balik buku menu yang besar dan terisi berlembar-lembar foto makanan, minuman, dan philosophy resto.

Memperhatikan harga makanan dan minimum, angka yang tercantum tidak berlebihan untuk standard resto yang kaya pemandangan seperti ini.  Cuma sayang untuk saat ini saya belum bisa memberikan komentar untuk makanannya karena memang perut dalam kondisi full tank.

 

Menuntaskan secangkir kopi hitam, kami pun tanpa bergerak ke sana kemari.  Sama seperti ketika berada di Desa Penglipuran, sisa-sisa air hujan justru menjadikan warna hijau menjadi lebih tegas, jalan setapak lebih berwarna dan tentu saja nyaman untuk berkeliling tanpa harus berjuang melawan panas matahari.  Berikut adalah beberapa hasil foto saya menggunakan Oppo F1s terbaru

 

Turun lagi melewati beberapa anak tangga dan pot-pot bunga yang besar, saya membalikkan badan untuk melihat resto dari arah bawah.  Baru menyadari ternyata ada beberapa tenda sarnafile di sisi ujung resto.  Awalnya saya kira itu adalah daerah tambahan untuk menampung tamu.  Tapi ternyata ketika pulang dan melewati tempat itu, saya melihat kesibukan beberapa orang menyalakan lilin dan mempersiapkan private party.    Waahh romantisnya.  Kebayang indahnya mengadakan pesta pernikahan di sini.

Lanjut mengambil beberapa titik foto yang cantik, saya melangkahkan kaki terus menuruni tangga, menuju air mancur dengan dinding batu dan puluhan kaktus tinggi besar.  Air mancur berdiri di tengah-tengah kolam berisikan ikan koi berukuran sedang, beberapa patung unggas di undak-undakan dinding batu, dan sebuah patung kura-kura (yang tadinya saya kira hidup hahahaha).

Puas mengelilingi lautan hijau rumput yang sangat luas, kami pun bergegas kembali ke tempat duduk seiring dengan mendung yang mendadak garang muncul di atas langit.  Wah nampaknya bakal hujan gede nih.  Bener aja, 2 waiters yang berdiri di dekat kami menganjurkan agar kami segera pindah ke lantai atas agar terhindar dari hempasan air yang sepertinya bakal habis-habisan menyentuh bumi.  Tanpa membantah kami pun bergegas ngungsi.  Bener.  Gak sampe 5menit, hujan beserta petir menggelegar tanpa ampun.

Menyadari gelap dan pekat yang mulai tampak, resto pun menyalakan lampu-lampu indah di seputaran venue.  Sayang karena hujan yang deras tanpa ampun, membuat saya terperangkap tidak bergerak, dan pasrah menikmati live music yang menyanyikan lagu-lagu amerika latin….aeeehh mantab (pake be).  Saya pun mendadak ditodong jadi penyanyi karbitan dengan suara pas2an.  Alhamdulillah, walaupun nekad tetap nyanyi 2 lagu, gak ada ayam-ayam yang mendadak mati mendengar suara saya.

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here