Hujan dan angin kencang mengguncang malam di awal Maret 2019. Saya meringkuk di dalam kamar berukuran 15m2 bersama 2 orang teman di Comfort Hostel, Causeway Bay, Hong Kong. Kelelahan menyergap kami setelah 3 hari berturut-turut jaga stand dalam rangka pameran Hong Kong International Jewelry Show 2019 di HKCEC.

Baca: Comfort Hostel. Penginapan berlokasi strategis di Causeway Bay, Hong Kong.

Sebelum jatuh dalam tidur yang lelap, kami bertiga bersepakat tentang jadwal masing-masing keesokan harinya (Minggu). Yuk Onie dan Mbak Sisca akan misa di sebuah gereja yang kalau dilihat di atas peta sih gak begitu jauh dari hostel. Sementara saya dan Malik (salah seorang staff dari peserta pameran yang sama) berencana main ke Victoria Park. Taman yang populer di kalangan TKI yang bekerja di Hong Kong. Tempat dimana, setiap hari Minggu, saat libur kerja, mereka berkumpul di sini untuk bercengkrama dan berjualan aneka panganan darimana mereka berasal. Semua juga setuju untuk meninggalkan hostel sekitar jam 7 pagi kemudian siap di tempat pameran sebelum jam 10 pagi seperti biasa. Saya pun kemudian tertidur membayangkan akan makan pecel, nasi rames, pempek, atau apapun itu makanan khas nusantara keesokan harinya. Kerinduan yang mulai terasa setelah berhari-hari menikmati nasi dengan ikan salmon dari Wellcome Superstore.

Pagi yang masih basah dengan sisa hujan

Entah jam berapa malam itu saya terbangun karena angin kencang menembus jendela kecil yang selalu kami buka sedikit. Walaupun kamar berAC kami sengaja membuka jendela kecil kamar ini karena ingin merasakan udara dingin dari balik jendela. Tapi karena angin kemudian diiringi dengan rintik hujan, saya memutuskan untuk menutup jendela diantara lelap 2 teman yang lain.

Kekhawatiran saya bahwa hujan akan berlanjut di pagi harinya akhirnya terjadi. Bahkan jadi semakin deras ketika kami menginjakkan kaki keluar dari hostel. Saya dan Malik memutuskan untuk duduk-duduk menunggu hingga hujan mereda sambil mengobrol dan mengamati sekian banyak orang yang berlari memegang payung. Langkah mereka terhuyung-huyung menahan serbuan angin. Hari libur ternyata tidak menyurutkan semangat untuk tetap melakukan kegiatan seperti hari-hari biasa, walau di tengah cuaca yang kurang bersahabat.

Sekian menit sebelum saya akan menyerah dan ingin meringkuk kembali ke kamar, hujan perlahan-lahan mulai berhenti dan matahari pun muncul di sela gedung-gedung tinggi yang berdiri tegak mengitari kami. 30 menit menunggu di titik yang sama berubah menjadi saat-saat yang berharga untuk menatap kegigihan orang-orang mencari nafkah sepagi itu. Saat dimana saya melihat beberapa pegawai toko bergegas menjalankan tugas dan berharap bahwa sepagi itu, di saat weekend, ada tamu yang akan mampir ke tempat mereka. Tak terkecuali sebuah warung kecil yang menjajakan minuman hangat, yang berada persis di seberang tempat saya menunggu. Yang punya warung sudah sepuh tapi terlihat tetap bugar walau di usia lanjut dan tampak bersemangat mengatur pernak pernik dagangannya. Contoh yang baik buat kita-kita. Termasuk saya tentunya. Bahwa usaha mendapatkan rejeki, harus tetap berjalan di saat kita masih sehat dan diberikan umur.

Gedung-gedung menjulang di depan Victoria Park
Sebuah kolam besar di salah satu sudut taman

Taman tampak masih becek di sana-sini ketika saya datang. Belum banyak pengunjung walaupun terik matahari mendadak garang menerpa kulit. Saya dan Malik memutuskan untuk keliling dan memotret sebelum mencari sarapan. Kami ternyata tidak bisa beranjak jauh karena sebagian taman ditutup dalam rangka persiapan pameran flora yang akan diadakannya minggu depannya lagi. Duh, gak pas banget ya. Seandainya saat itu saya belum kembali ke tanah air, pasti akan banyak foto-foto cantik yang bisa diabadikan. Membayangkan ribuan kuntum bunga yang menjadi destinasi wisata, saya mendadak ingat Flower Dome di Gardens By The Bay Singapore, dan Taman Bunga Nusantara di Cianjur. 2 tujuan wisata flora yang luar biasanya indahnya.

Wajah-wajah dan bahasa Indonesiapun tak lama mulai memenuhi taman. Mendadak berasa tidak sedang di Hong Kong. Saya dan Malik berteduh di salah satu bangku besi panjang yang ada di tengah-tengah taman. Di belakang kami ada 2 ibu-ibu paruh baya yang tampak malu-malu melihat kami. Mereka membawa gembolan besar yang ditaruh di belakang bangku. Saya mengangguk dan tersenyum ke arah mereka. Dibalas dengan tatapan ramah tapi tidak bersuara.

Melihat tas mereka sih saya yakin itu jualan makanan. Bahkan ada termos, botol air putih besar, dan berderet minuman sachet di samping tas tersebut. Tapi kenapa mereka tidak gelar dagangan ya? Saya kembali menatap mereka dan bertanya, “Mbak bawak dagangan? Saya pengen sarapan nih Mbak?”. Mereka berdua saling bertatapan dan bertahan diam. Waduh, jangan-jangan saya salah tanya nih. Jadi gak enak perasaan. Ngeri juga kalo tersinggung dikira TKW.

“Ibu kerja di Hong Kong?” Saya mendadak melongo. Kaget dengan pertanyaan balik yang gak saya duga. Tapi dengan sopan saya menjawab “Enggak Mbak. Saya lagi ada pameran di sini. Saya dari Jakarta. Katanya kalo Minggu banyak yang jualan makanan enak nih. Mangkanya saya mau cobain” Ketawa lepas pun langsung membahana dari mulut 2 mbak-mbak berhijab ini. Saya pun jadi ikutan tertawa melihat mereka ngikik tanpa henti.

“Maaf ya Bu,” jawab Mbak Darmi, salah seorang dari mereka, sambil menahan tawa. “Kami kira Ibu ini petugas KonJen. Mereka suka menegur dan melarang kami jualan. Kalo sekedar kumpul-kumpul sih boleh.” Kini giliran saya dan Malik yang ketawa ngakak. “Muka dan postur Bu Annie sih kek petugas Bea Cukai.” Saya tambah ketawa menangkap maksud dari kalimat Malik. Iya sih. Karena pernah jadi mandor kawat (kerja kendor makan kuat) di sebuah pabrik, wajah saya memang cenderung terkesan galak kalau pertama kali ketemu. Banyak yang ngomong gitu sih. “Tapi saya tetap manis kan Liiiikkk” Yang diajak ngomong mendadak terbahak-bahak.

Mbak Darmi yang sedang menata dagangannya
Nasi rames Mbak Darmi dan sebungkus peyek kacang

Tanpa menunggu instruksi lebih lanjut, Mbak Darmi dan Mbak Dian (si Mbak yang satu lagi) pun, sigap menggelar tiker plastik dan membongkar satu persatu isi tasnya. Mbak Darmi menawarkan 3 opsi sarapan. Nasi rames, nasi pecel, atau nasi telur ayam. Setelah melihat beberapa bungkusan yang terpisah-pisah, saya memutuskan untuk mencoba nasi rames yang berisi sayuran lengkap, tempe bacem yang dipotong-potong kecil, dan ayam goreng. Melirik ke jualan Mbak Dian, saya mengambil sebungkus peyek kacang, dan 2 bungkus rujak untuk dibawa ke pameran plus 2 bungkus nasi rames untuk Yuk Onie dan Mbak Sisca. Ditambah dengan 2 gelas teh hangat, total biaya yang saya keluarkan saat itu sekitar (hampir) IDR 150.000,-.

Sembari menunggui saya menikmati sarapan, Mbak Darmi bercerita bahwa dia sudah 10 tahun lebih bekerja di Hong Kong. Mulai dari anak-anaknya masuk SMP sampe akhirnya mereka menikah. Mbak Darmi yang berasal dari Madiun ini berkisah bahwa dia beruntung mendapatkan majikan yang baik dan ramah. Makanya selama bekerja di Hong Kong dia tetap mengabdi di majikan yang sama. Dari 10 tahun lebih berlalu, dia hanya 3 kali pulang kampung. Itu pun bukan masa-masa lebaran karena tiket pesawat yang mahal. “Gak kangen sama suami dan anak-anak Mbak?” tanya saya penasaran. “Kan sekarang bisa video call Bu. Suami saya juga sudah gak ada. Jadi lebih baik saya cari duit aja di sini daripada nganggur.”

Berbeda dengan Mbak Darmi, Mbak Dian selalu mengusahakan tiap tahun pulang untuk berlebaran di kampungnya, Jember. “Anak-anak saya masih kecil-kecil Bu. Dititipkan ke Ibu saya. Gak tega kalo gak pulang,” Saya mengangguk takzim. Iya sih, Mbak Dian memang terlihat jauh lebih muda ketimbang Mbak Darmi yang mengaku sudah berumur 45 tahun. Saya mendadak tercekat. Usianya lebih muda dari saya tapi sudah 1/3 hidupnya dihabiskan untuk merantau, mencari nafkah di negri. Hong Kong memang tidaklah begitu jauh dari tanah air. Tapi membayangkan sekian tahun jauh dari keluarga, tentunya tidak segampang itu.

Bagi Mbak Darmi, gaji bulanannya yang mencapai 10 juta per bulan, rupiah demi rupiah, ditabung untuk gedein rumah dan tabungan masa tua. Dengan masa waktu kerja yang sudah lama begitu, saya yakin nominalnya bisa jadi lebih besar. Apalagi didukung dengan cerita bahwa majikannya selama ini sangat baik dan murah hati. Untuk berdagang di Victoria Park seperti sekarang ini, sang majikan mengijinkan Mbak Darmi memasak dan memakai fasilitas dapur di rumah. Mbak Darmi hanya perlu urunan membeli gas walaupun sang majikan tidak menuntutnya. Dia pun selalu menyisakan apa yang dia masak di hari Minggu itu untuk majikannya sebelum berangkat ke taman.

Dagangannya pun hampir selalu habis terjual. Iya sih, nasi ramesnya enak banget menurut saya. Walaupun di seputaran Causeway Bay banyak restoran ala Indonesia, merasakan jajanan seperti ini, walaupun ngemper, ada kesenangan yang berbeda. Apalagi ditambah dengan ngobrol-ngobrol akrab seperti ini.

“Gak kepengen kerja di Indonesia aja Mbak?” tanya saya hati-hati sambil menyelesaikan suapan terakhir. Dari pertanyaan ini meluncurlah cerita bahwa dulu Mbak Darmi pernah kerja di Jakarta. Gajinya lumayan tapi tak pernah beruntung mendapatkan majikan yang berhati baik. Karena himpitan keadaan harus mencari uang di saat suaminya sakit keras di kala itu, nekatlah dia merantau sampai ke negri seberang. “Tapi saya berangkat dengan agen yang legal Bu. Jadi alhamdulillah gak ketemu masalah selama bertahun-tahun.” wanita paruh baya ini berkata ringan sembari menyimpan bungkusan sisa makanan saya ke dalam plastik sampah dan mengambilkan saya segelas teh tawar hangat.

Entah kenapa dari kalimat terakhir saya merasakan plong di hati. Dari beberapa berita yang pernah saya baca, yang sebagian besar adalah kasus TKW ilegal, mendengarkan suara tenaga kerja yang sadar akan hukum, mendadak merubah stigma akan ketidakpedulian para pekerja akan nasib mereka di rantau. Walaupun Mbak Darmi juga menceritakan tentang beberapa temannya yang harus dideportasi karena tidak memiliki ijin kerja atau tidak beruntung mendapatkan majikan yang bertanggung jawab, saya lebih memilih hanya mendengarkan tanpa memberikan tanggapan. Terkadang hanya itu yang mampu saya lakukan untuk mereka yang jauh-jauh mencari nafkah demi kehidupan yang lebih baik.

Waktu sudah beranjak ke pkl. 9 pagi waktu Hong Kong. Saya berpamitan, memeluk Mbak Darmi, dan bergegas menuju MTR Causeway Bay agar sampai di tempat pameran 30 menit kemudian. Tak lupa Mbak Darmi mendoakan saya agar pamerannya sukses dan lancar. Saya mendadak terharu. Ucapan tulus yang disampaikan oleh seorang TKW, yang menggenggam erat tangan saya seperti dua sahabat yang sudah lama saling kenal. Alhamdulillah, setelah berulangkali berkunjung ke Hong Kong, keputusan sekali ini untuk main ke Victoria Park, telah menoreh cerita yang indah dalam hidup saya. Gak banyak memang. Tapi walaupun terjadi dalam waktu yang sempit, ceritanya bagi saya sudah seluas samudra.

Semoga Mbak Darmi sehat terus, tetap bekerja dengan baik, dapat tabungan yang banyak demi hari tuanya seperti yang diharapkan. Semoga nasib baik seperti si Mbak juga tertular kepada pekerja-pekerja lain di luar negri.

Bunga-bunga cantik di Victoria Park
Di salah satu sudut Victoria Park
Pepohonan dan gedung-gedung menjulang