BALI identik dengan wisata pantai, wisata bahari, art shopping, art performance, sampai night life yang didominasi oleh tamu-tamu asing.  Ingin merasakan sesuatu yang berbeda? Wisata Agro (Agro Tourism) sepertinya bisa jadi pilihan yang tepat.  Awal Agustus 2017 yang baru lalu, selain untuk tujuan riset, saya memutuskan untuk mengunjungi 2 dari sekian banyak wisata agro yang ada diseputaran Gianyar dalam rangka mendekat ke alam dan mencintai bumi, serta merasakan waktu jalan-jalan yang berbeda dari sebelum-sebelumnya.

 

BALI PULINA PLANTATION

Bali Pulina.  Nama yang sudah tidak asing di mata saya sebagai seorang pecinta dunia jalan-jalan.  Tempat ini sudah sangat populer di beberapa situs wisata yang menjadi andalan referensi berlibur seperti Trip Advisor dan sering menjadi salah satu agenda wajib kunjung dari penyedia jasa paket rekreasi di Bali.

Tempat ini juga sering dikenali sebagai Bali Pulina Agro Tourism. Seperti yang juga tercantum di akun Instagram mereka @bali_pulina.  Tetapi dari kartu nama yang saya dapatkan di counter manajemen, nama yang tercantum adalah Bali Pulina Plantation.

Hujan deras menyambut ketika mobil kami (saya dan Mbak Yayuk) sampai di halaman parkir Bali Pulina.  Bahkan sebelum mencapai tempat ini, dari daerah sawah terasering (rice/padi fields) yang juga berada di Tegallalang, rintik hujan sudah menyapa.  Jadi ketika melewati gerbang tinggi besar dan menanjak dari Bali Pulina, kami harus melangkah pelan di tengah hujan, melewati hutan buatan yang sangat rimbun dengan segala macam jenis tanaman, untuk mencapai sebuah pondokan besar yang berada di ujung tebing.

Di tengah gempuran air langit, seorang petugas berseragam rapih, menyambut kami di depan gerbang setelah terlebih dahulu membayar HTM senilai Rp 30.000,-/orang.  Sambil berjalan meringkuk di bawah payung besar, petugas inilah yang mendampingi kami menuju pondokan besar tersebut, dan mempersilahkan kami untuk duduk sambil menunggu satu set hidangan minuman.

Menikmati waktu menunggu, mata sayapun menghambur ke segala penjuru pondok.  Sarat akan kayu dan sentuhan tradisional, pondokan ini tampak begitu sederhana dengan pencahayaan minim, tapi terlihat kokoh ditopang beberapa batang kayu ulin yang tampak sudah tua.  Kursi yang disediakan di tempat ini ditata sedemikian rupa sehingga lebih dari cukup untuk menampung tamu-tamu yang datang.

Melihat bentuk kursi dan bangku panjang di sini, saya teringat rumah lama kami ketika saya masih kecil di Palembang.  Kayu dibuat bersinergi dengan anyaman bambu pada dudukan dan senderan, sehingga badan tidak terasa panas ketika lama duduk di sana.  Sementara di Bali Pulina, dudukan dilengkapi dengan bantalan tipis dan senderan diberi kain dengan busa pipih.  Di meja, tampak terlihat benih padi yang tertanam di sebuah mangkok kayu berukuran sedang, asbak berbentuk kura-kura, dan laminating foto serta tulisan berbagai jenis minuman yang akan kami nikmati.

 

Tak sampai 10menit kemudian, seorang petugas membawa beberapa  cangkir kecil putih yang sudah berisi aneka minuman berbahan dasar kopi, teh, dan coklat.  Semua cangkir dijejer rapih mengikuti arahan dari gambar, dan diletakkan di atas kayu kecil tebal dengan bentuk yang natural.

Sejenak petugas ini menjelaskan isi dan kandungan yang terdapat di dalam setiap cangkir, dan mempersilahkan kami untuk mencobanya satu persatu.  Setelah itu, mereka membebaskan kami untuk memesan minuman apa yang kami suka dengan harga Rp 25.000,- per cangkir yang ukurannya lebih besar, termasuk panganan ringan berupa pisang goreng dan kue lupis.  Tak lupa mereka pun menawarkan kami untuk mencicipi Kopi Luwak, kopi andalan mereka, dengan harga Rp 50.000,- per cangkir sedang.

Seakan tau bahwa saya sudah gatal kaki untuk menjelajah dan berfoto di undakan kayu yang seringkali saya lihat di beberapa akun medsos teman-teman, hujan pun mulai mereda perlahan.  Berikut adalah foto-foto keindahan Bali Pulina yang berhasil terekam melalui kamera saya.

 

 

 

 

 

Mengusung moto “We think all the thing”, tampaknya Bali Pulina sudah lebih dari siap untuk menyambut wisatawan dalam jumlah yang banyak.  Menurut info dari pendamping kami, setiap hari Bali Pulina setidaknya menerima tamu minimum 5.000 orang / hari, bahkan bisa jauh lebih banyak selama weekend, liburan sekolah, atau libur hari-hari besar.  Jumlah petugas pun terlihat lebih dari cukup untuk melayani tetamu.  Tampak sekali alur koordinasi yang baik dan lancar.  Laki-laki dan perempuan pendamping, hanya bertugas mengarahkan tamu mulai dari datang sampai pulang dan tampak selalu menawarkan bantuan untuk memfoto tetamu di spot-spot undakan batu yang cantik menawan.  Sementara beberapa petugas di dalam pondokan, memang hanya melayani sajian minuman tamu.

Selain 2 pondokan besar yang berada di kanan kiri tebing (kami duduk di bagian kanan dari arah kedatangan), Bali Pulina menyiapkan beberapa meja dan kayu yang disetting natural di depan masing-masing pondokan.  Melangkah turun dari kedua tempat inilah, kita akan disambut dengan pijakan kayu berbentuk kuncup bunga dengan 3 sisi.  Beberapa bangku panjang, kursi dengan warna mencolok dan meja-meja kecil juga disediakan di sini.  Wah kalo gak hujan dan licin, saya pasti berlama-lama nongkrong di sini sambil menyeruput kopi.  Dari atas pijakan ini kita bisa menikmati pemandangan hutan dan sawah terasering di berbagai titik.  Saat saya berada di titik ini, tampak ada kegiatan pembangunan 2 villa/resort/hotel persis di seberang.

Buat yang takut ketinggian, Bali Pulina menyediakan satu spot foto yang berada persis di bawah pondokan di sisi kanan.  Letaknya tidak terlalu curam tapi terlihat aman untuk dijadikan pijakan puluhan orang.  Jadi buat yang sering bergetar karena takut hilang nyawa berada di tempat yang tinggi tapi tetap pengen punya kenang-kenangan berada di sini, tuh sudah ada solusi.  Seperti kata pengelola “We think all the thing”.

Mengakhiri kunjungan kami ke Bali Pulina, petugas yang mengantarkan kami dari pintu masuk tadi, mengarahkan kami ke sebuah rumah kayu besar yang berada di jalur keluar.  Rumah panggung kayu yang dikelilingi oleh hutan kecil ini, digunakan sebagai souvenir shop, counter kasir (tempat membayar minuman yang sudah kami pesan), dan meja customer service.  Menjual berbagai minuman siap seduh dan buah tangan, rumah ini tampak indah dengan beberapa penerangan natural yang dinyalakan seiring dengan hujan deras yang turun kembali, mengantarkan kami meninggalkan Bali Pulina.

 

Bali Pulina | Desa Sebatu, Tegallalang, Gianyar, Bali 80561 | Telp. +62-361-901728 | Jam operasional pkl. 08:00 – 20:00 wita

 

SATRIA AGROTOURISM

Tempat ini menjadi tujuan agro wisata kami berikutnya setelah menimbang beberapa review yang sempat saya baca sehari sebelumnya dan memiliki karakter layout lahan yang berbeda dengan Bali Pulina.  Kebetulan pulak jalannya searah dengan Kintamani yang ingin kami kunjungi.

Masih dalam nuansa langit mendung, tanpa angin, dan gerahnya udara, kami melangkah turun dari mobil, dan melewati rangkaian jalan setapak berbatu coral mulai dari area parkir yang tampak penuh dengan mobil-mobil hiace milik beberapa tour & travel.  Berbeda dengan Bali Pulina, pihak Satria tidak memungut biaya apapun untuk masuk.  Kamipun bersegera berjalan dengan jalur masuk yang dipisahkan dengan jalur keluar.

 

Sepanjang perjalanan, mungkin sekitar 200m, di tengah-tengah kebun yang penuh dengan aneka tanaman rempah-rempah serta apotik hidup, kami bertemu dengan sarang binatang Luwak yang tampak terlelap menikmati nyamannya udara siang itu.  Buntalan-buntalan kopi dari feses binatang inipun terlihat tergeletak disana-sini.  Tidak ingin mabok wangi feses, kami pun mempercepat langkah dan bertemu dengan sebuah pondokan kecil dengan aneka tampah berisi butiran kopi dan jahe yang sedang dalam proses pengeringan.

Dari sini jalur setapak pun menurun hingga langkah kaki kami pun terhenti oleh beberapa wisatawan yang tampak menyemut di sebuah tempat proses penggorengan tanpa minyak (sangrai) di atas tungku api tradisional dan penumbukan kopi.  Beberapa petugas menerangkan proses ini untuk setiap grup wisatawan yang datang berbarengan dengan kami.  Kesibukan memotret dan merekam video pun tak ayal terjadi disana-sini.

 

Tidak ingin terjebak dengan kepadatan di satu titik ini, kami melangkah menuruni bukit dan disambut dengan sebuah ladang yang luas, di sebuah lembah kecil, dengan 3 pondokan tanpa dinding dengan meja kayu panjang.  2 pondokan panjang untuk para tamu dan 1 pondokan kecil untuk para petugas menyiapkan minuman.  Di sekeliling kami duduk, mata dimanjakan dengan tanaman-tanaman yang subur dan tertata dengan apik.

 

Satu persatu nampan berisi 12 cangkir kecil transparan disajikan ke setiap kelompok wisatawan.  Berbeda dengan apa yang kami dapat di Bali Pulina, Satria tidak hanya menyajikan kopi dan teh, tetapi juga minuman dari rempah-rempah yang memiliki efek pengobatan dan kesehatan bagi tubuh, seperti air jahe, air lemon, coklat murni, dan lain lain.  Semua tamu diijinkan untuk menikmati 12 minuman ini tanpa biaya.  Tapi jika ingin memesan, kita harus merogoh dompet sejumlah Rp 25.000,-/cangkir yang lebih besar.  Kopi Luwak pun ditawarkan di sini seharga Rp 50.000,-.

 

Kami memutuskan untuk duduk di sini lebih lama, sambil mengobrol, dan menikmati hembusan angin semilir di lembah yang cantik ini.  Penataan sederhana dengan luas area yang tidak begitu besar sangat terasa.  Dan jika melihat sekitar serta bahasa yang kami dengar sepanjang berada di sini, sepertinya saat-saat ini adalah musim liburan mereka yang tinggal di Eropa.  Bahasa Perancis, Jerman, dan Belanda tampak mendominasi.  Sementara, kalo mata tidak siwer, cuma kami berdua dan para petugas yang orang lokal.

Sedikit bertanya kepada si Mbak yang membawa minuman, saya mendapatkan informasi bahwa pengunjung Satria memang kebanyakan orang asing ketimbang orang Indonesia.  Bahkan wajah-wajah Asia pun jarang terlihat.  Wah, tampaknya memang wisata alam atau kebun seperti ini sudah dianggap biasa untuk orang Asia kali ya.  Sementara di bagian bumi yang lain, di benua yang berbeda, banyak penduduk yang (mungkin) jarang sekali bisa menikmati nuansa hijau dengan sinar matahari yang memeluk kulit.

Melihat kerumunan wisatawan mulai berkurang, kami melanjutkan perjalanan menanjak untuk sekedar berfoto dari sebuah pijakan semen yang berada sedikit tinggi di sisi kiri pondokan.  Tak ada yang istimewa dari spot foto ini, tapi tampak sebuah tulisan Bali Cat Poo Chino, yang sepertinya adalah salah satu jenis minuman andalan Satria.

Selesai bernarsis ria, kami menuju ke sebuah rumah tanpa dinding yang menjadi pusat penjualan bahan mentah dari minuman yang kami nikmati tadi, wewangian dari rempah-rempah alam, dan beberapa buah tangan khas agro wisata seperti mangkok berukirkan bunga, asbak dengan ukiran binatang, dan lain lain.  Di tempat ini juga kami membayar minuman yang telah kami nikmati.

Satria, walaupun secara overall tampak jauh lebih simpel dari Bali Pulina, menurut saya memiliki kelebihannya tersendiri.  Dengan lahan terbatas, Satria nyatanya mampu mengelola kebun yang ada dengan baik.  Para petugas pun, walau hanya berseragam kaos sederhana, tampak sangat ramah dan mampu berbahasa Inggris dengan cukup baik.

Dari kedua tujuan wisata agro ini, saya mendapatkan wisata hati, wisata penyegaran mata, wisata kekayaan oksigen, dan tentu saja wisata edukasi.  Tempat yang sangat pas untuk membawa anak-anak agar lebih mencintai alam dan lingkungan.  Jadi jika Anda ke Bali, ayok mampir ke sini dan rasakan perbedaan rasa wisata yang lain dari biasanya.  Tidak ada salahnya dalam satu waktu kita mengajak diri sendiri untuk mendekat ke alam dan lebih mencintai bumi.

SATRIA Agrotourism | Jl. Raya Tampak Siring, Kintamani, Basangambu, Gianyar, Bali 80552 | Telp. +62-817-9793-020 | Jam operasional pkl. 09:00 – 18:00 wita

Facebook Comment