Ketika diajak kemari oleh salah seorang teman di Bali, Indah Isdiana, saya menduga tempat ini adalah restoran biasa.  Selain pertimbangan lokasi yang dekat dari rumah di Denpasar, menghemat waktu di perjalanan, saya ingin lebih banyak waktu ngobrolnya ketimbang jalan-jalan menelusuri pagi yang tampak panas kala itu.  Bermodalkan (hanya) 35ribu untuk ongkos taxi on line, saya sampai di Big Garden Corner (BGC) tidak lebih dari 15menit.

What a suprise. Tiba di BGC kami disambut sebuah signage huruf-huruf berwarna bertuliskan BGC, halaman parkir yang sangat luas, deretan patung yang berjejer rapih, dan pagar tanaman yang tinggi, hijau, dan asri.  Di bagian depan terdapat pondokan kecil kayu tempat membeli tiket masuk sebesar 25rb/orang.  Wah, kalau ada HTM berarti ini tempat wisata dong ya bukan hanya restoran.  Mendadak saya jadi penasaran.  Untung bawak kamera.  Oia, dari informasi petugas di depan, uang yang sudah dibayarkan dapat ditukar dengan sebotol minuman dingin yang bisa diambil di salah satu counter yang ada di dalam.

Entrance Signage di bagian depan BGC | Signage yang eye-catchy dan menghadap ke jalanan besar

Melangkah masuk, kita akan bertemu 2 sisi jalan.  Untuk meneruskan eksplorasi, menuju restoran, dan tempat-tempat cantik, pengunjung diarahkan untuk belok ke kanan.  Tapi, saya dan Dewi, berbelok sebentar ke kiri karena melihat deretan kandang tempat memelihara hewan-hewan jinak yang tampak sehat terpelihara.

Tak ingin membuang waktu, kami mengikuti arahan petugas untuk menelusuri sisi jalan yang berbeda.  Tak lama berjalan kaki, kami disambut oleh sebuah lapangan luas dengan rumput tebal di bagian kanan, pagar tanaman yang juga tinggi, dan sebuah karya seni unik yang terbuat dari botol-botol minuman kaleng.  Tampak di hadapan kami 5 patung gajah (1 besar/si ibu gajah dan 4 kecil-kecil/si anak gajah).  Dari sebuah banner kecil yang dipajang di pintu masuk halaman ini, diinformasikan bahwa kaleng-kaleng softdrink yang digunakan untuk pembuatan beberapa patung gajah ini adalah sisa minuman dari para tetamu BGC yang datang selama periode Oktober 2016 s/d Maret 2017.  Tidak disebutkan secara spesifik mengenai banyaknya atau siapa seniman yang mengerjakannya.

 

Melanjutkan eksplorasi, melewati deretan arca besar-besar, kami menemukan taman besar yang penuh dengan patung-patung binatang.  Ditata mirip kebun binatang kecil.  Di bagian tengah ada gerbang bunga warna-warni dengan pijakan ribuan batu coral, sementara di bagian ujung gerbang berbentuk hati ini ada sebuah pondokan kayu yang cantik banget.  Di pondokan inilah para tetamu bisa menukarkan voucher untuk mendapatkan sebotol minuman dingin.  Menyempurnakan penampilan taman, di salah satu sisi ada relief gajah yang tampak teduh dipayungi oleh pohon kamboja dengan bunga-bunga yang tumbuh subur dan beberapa helai daun yang mulai tampak luruh di sana-sini.

Di tempat ini juga dipasang pengumuman dan himbauan agar para pengunjung turut menjaga kebersihan, tidak lalai menjaga barang bawaan, mendampingi anak-anak yang masih di bawah umur, dan informasi bahwa semua pajangan yang dipameran di seluruh area BGC dapat dibeli.  Jadi konsepnya seperti open air craft gallery.

Relief serombongan gajah yang menyempurnakan keindahan taman yang penuh dengan patung-patung binatang

Entah berapa lama waktu yang sudah kami habiskan di sini, hingga badan mulai terasa berpeluh plus tenggorokan yang mulai tereak-tereak minta dilayani.  Berjalan pelan menuju restoran, sambil ngobrol ngalor ngidul, kami berhenti berulang kali untuk motret-motret.  Terlalu banyak sudut-sudut cantik yang sayang banget buat dilewatkan.  Salah satunya adalah rumah pohon yang keren pake bingit untuk jadi obyek jepretan.  Entah karena memang doyan dipotret atau karena memang tempatnya cakep, nawaitu awal pengen cepat-cepat nenggak minuman dingin pun sempat terlupakan hahahaha.

Rumah pohon yang cakep banget jadi obyek foto

Beres urusan narsis di area ini, nyok istirohat dulu.  Ngejuice, ngopi, dan nyemil-nyemil sambil ngobrol berkualitas.  Cerita punya cerita, ujung-ujungnya kami terlibat diskusi seru soal anak-anak saya, Indah, dan Dewi yang sama-sama sedang menuntut ilmu di universitas yang sama.  Buat emak-emak seperti kami, obrolan soal anak-anak, selalu jadi topik yang paling menyenangkan.  Saling mengisi, bertukar pengalaman dan nasihat dengan informasi-informasi bermanfaat yang dibutuhkan selama anak-anak harus merantau jauh dari orang tua.  Yang begini ini nih yang bisa mengisi relung kalbu. Benar kan ibu-ibu?

Wes, lagi-lagi, selesai menyediakan waktu buat saling bertukar kisah, kami pun merekam kebersamaan kami di lingkungan resto yang lagi-lagi ternyata penuh dengan pernak pernik dekorasi ciamik.  Restoran kayu adem dan teduh dilengkapi dengan sebuah kolam bunga teratai kecil yang menempel pada ukiran pura, kemudian ada gazebo dudukan kayu yang cukup luas dengan hiasan permen yang dibuat menggantung, dan juga meja-meja bertenda dengan couch warna warni.  Di salah satu sisi tersembunyi disediakan satu tempat khusus untuk anak-anak bermain.  Dibuat penuh warna agar menarik dan sesuai dengan hidup anak-anak yang masih penuh warna.

 

 

Setelah ini kejutan-kejutan lain menanti kami.  Menikmati selangkah demi selangkah leisure park dengan luas total 3 hektar ini, BGC menawarkan beberapa spot foto istagramable yang gak akan dilewatkan oleh siapapun.  Berdampingan dengan restoran yang barusan kami sambangi, kami menikmati waktu-waktu berpotret di sebuah lorong yang beratapkan payung warna warni menggantung, standing stone yang membentuk gerbang atraktif, pondokan duduk besi berbentuk sangkar burung, patung-patung manusia warna warni yang sedang asyik membaca, kolam memanjang berisi puluhan bunga teratai, sebuah rumah kecil yang pas banget untuk acara pernikahan dengan undangan terbatas, dan sebuah replika candi tinggi.

Sambil melangkah pelan, saya baru menyadari bahwa BGC membuat pijakan-pijakan semen berukir yang tersusun rapih.  Ukirannya dibuat dalam beberapa motif dan diletakkan silang menyilang dan saling menyempurnakan satu sama lain.  Pekerjaan details yang memperkaya sentuhan seni dan begitu menarik untuk direkam lewat lensa kamera.  Kalau sudah ketemu obyek-obyek rinci seperti ini, semangat untuk mendalami seni memotret rasanya semakin menggebu.  Perlu kelihaian dan taste of art of picture angle yang kudu dipupuk dan terus dilatih supaya semakin sempurna.

 

 

 

Baca juga: Menyaksikan Kemegahan Garuda Wisnu Kencana (GWK) Cultural Park di Uluwatu, Bali 

Salah satu foto favorit saya di BGC | Replika candi yang sering digunakan untuk spot foto pre-wedding | Tak tahan dengan sinar matahari yang gonjreng menantang, saya meminjam kacamata hitam milik Indah | Tapi dasarnya hidung mancung ke dalam, saya terpaksa berpose agak mendangak, supaya kicimiti hasil pinjaman ini tidak melulu melorot ke bawah | Sesuatu banget lah

Baca juga: Pura Taman Saraswati | Pura Cantik Dengan Ratusan Bunga Teratai di Ubud, Bali

Yok, mari kita lanjutkan lagi penjelajahan.

Mengira bahwa kami sudah melewatkan sudut terindah BGC, tak lama sebuah pemandangan istimewa malah “menjebak” kami untuk berlama-lama.  Terhampar belasan standing stones dalam berbagai ukuran tegak berdiri di pinggir sebuah kolam ikan.  Di sisi yang berlawanan berjejer pondokan-pondokan kayu kecil.  Tadinya saya pikir pondokan itu bisa kami duduki, tapi ternyata hanya pelengkap keindahan saja.  Di sudut lain, bergantung ayunan putih yang nyantol kuat di sebuah pohon besar.  Kemudian di salah satu dinding terdapat ukiran 3 wajah dengan ekspresi berteriak.

Entah berapa banyak gaya dan lembaran potret via HP maupun kamera yang kami hamburkan di sini.  Yang pasti, saking serunya, kami sampai lupa waktu dan menikmati keringat yang meluncur deras sepanjang kepala sampai pinggang.  Setidaknya itu yang saya rasakan.  Mukapun sepertinya rada gosong dan lagi-lagi dilanda rasa haus yang gak bisa terbendung.

 

Alih-alih pengen bersegera nongkrong dengan bergelas-gelas minuman dingin, langkah kami lagi-lagi terhenti dan dibuat berdecak kagum dengan sebuah taman besar dengan beberapa patung photographer wanita warna warni, sebuah function room terbuka dilengkapi dengan kolam teratai memanjang beratapkan kayu besar-besar dan tumbuhan rambat, serta sebuah gerbang kayu tinggi yang gagah berdiri seperti di komik Asterix.  Kemon.  Tahan dulu minum-minumnya.  Mari kita berfoto lagi sampe licin.

 

 

Bagian terakhir dari kompleks besar BGC, pengunjung akan memasuki area khusus anak-anak.  Wisata bermain air atau Water Splash dengan puluhan warna dan arena kecipak kecipuk yang seru, tampak begitu menggoda.  Pengennya sih di tengah terik yang nauzubillah saat itu, saya nyemplung dan berendam.  Tapi apa daya, tinggi kolam yang paling cuma sedengkul itu tidak menerima peserta emak-emak seperti saya.

Buat pewisata dewasa yang menemani anak-anak di sini, BGC menyediakan pelayanan makan dan minum serta tempat duduk yang melimpah.  Sebuah perahu kayu, rumah burung, dan berbagai patung binatang, bisalah jadi sasaran berfoto untuk menghabiskan waktu.

Siang menuju sore hari itu, kami bertiga menuntaskan waktu berkunjung dengan menyambung obrolan sambil menikmati minuman dingin dalam berbagai warna.  Sengaja order yang berbeda satu sama lain biar difotonya cantik.  Halaaahh.

Sebagai info tambahan buat teman-teman sekalian, selain dibuka untuk kunjungan rekreasi, BGC juga menyewakan tempat ini untuk acara gathering, reuni, arisan, ulang tahun, anniversary, meeting, farewell, dies natalis, pre-wedding, dan tentu saja wedding.  Dari leaflet yang saya dapat, BGC juga menyediakan fasilitas penyewaan jasa hiburan seperti fire dance, tari bali, magician, lawak, music instrument, projector, fireworks, balon udara dan biasa, sweet corner table, dan tentu saja dekorasi dalam berbagai tema.  Untuk mendapatkan info lengkapnya, sila menghubungi Sales Marketing Team di 0812.3810.2983 atau 0812.3748.4796

Big Garden Corner | Jl. By Pass Ngurah Rai | Traffic Light Waribang & Padang Galak, Sanur, Bali

 

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here