Cafe BATAVIA | Front Gate/Door dengan sambutan dan keramahan yang tak pernah pudar

Setiap kali ada kesempatan berkunjung ke Kawasan Kota Tua, saya selalu tidak pernah alpa untuk mampir ke cafe yang satu ini.  Yup.  CAFE BATAVIA.  Cafe lawas dengan bangunan berusia ratusan tahun yang tak lekang oleh jaman dan waktu.  One of my favorite place indeed.

Berada persis di depan Taman Fatahillah dan Museum Fatahillah, stuktur bangunannya sendiri sudah ada sejak 1830.  Tepatnya pada masa penjajahan Belanda.  Dikala itu terjadi beberapa kali pergantian kepemilikan dan fungsi dari gedung khas Eropa (baca: Belanda) ini.  Mulai dari rumah tinggal penguasa salah seorang keturunan Belanda, unit usaha milik penjajah, sebuah perusahaan pelayaran milik keturunan muslim, art gallery, resto dengan nama Cafe Betawi di awal 90an, baru setelah itu dirombak menjadi sebuah cafe dengan sentuhan interior design khas abad ke-19.  Pengerjaan perombakan ini terjadi setelah bangunan ini dibeli oleh James Graham, orang Australia, yang menurut info masih jadi pemilik yang sah hingga saat ini.  Beliau kemudian melakukan restorasi di seputaran 1992-1993 hingga menjadi sebuah restoran yang cantik dengan keindahan yang tetap terjaga.

Cafe Dengan Nuansa Jaman Kolonial Berpadu Sentuhan Nusantara

Disambut dengan keramahan front liner yang patut diacungi jempol, di sisi depan terhampar sekian banyak sofa-sofa besar dan nyaman bersandar pada puluhan dinding kaca.  Dari bagian ini kemudian kita terhubung dengan area tengah ground floor dengan beberapa kaca ukuran jumbo di beberapa sisi, meja makan kayu dan dudukan khas Betawi, serta satu sisi open bar di sisi kanan tangga menuju lantai 2.  Datang persis di jam makan siang, lantai ini padat terisi pengunjung.  Maklum.  Sedang musim liburan.  Karena tak ingin berdesakan, saya memutuskan untuk ke lantai 2.  Area free smoking dengan ambience yang lebih cozy menurut saya.

The Bar | Berada di Ground Floor dengan beberapa tempat duduk tinggi yang tampak penuh tertata
Tangga menuju lantai 2 | Karpet yang selalu bersih dan puluhan foto dengan frame indah di dinding tangga

Melangkah di atas karpet merah tebal dengan belasan anak tangga, mata kita akan disambut dengan puluhan frame dengan foto beragam.  Sebagian besar adalah foto para pesohor dunia dan beberapa model terkenal dengan pose-pose dewasa.

Lepas dari front liner yang mengantarkan kita dari lantai bawah, persis di ujung tangga kita akan bertemu waiter khusus lantai 2, yang kemudian membimbing ke tempat duduk sesuai dengan jumlah pengunjung.  Lagi-lagi beberapa sofa, tirai tinggi besar, kaca jumbo, langit-langit tinggi, tiang-tiang bangunan yang kokoh, dan sebuah bar, memenuhi space awal di lantai ini.   Melangkah sedikit lebih masuk, pemandangan favorit dan terbaik dari resto ini akan menyambut kita.  Terhampar luas banyak meja bertaplak batik dengan tone warna seiring dengan warna dominan kayu.  Terasa sekali percampuran antara budaya lokal dengan sentuhan nuansa kolonial di sisi bangunan.  Terutama ya jendela-jendela tinggi besar itu.  Khas banget Eropanya.

Bermaksud ingin menikmati indahnya Museum Fatahilah dari jendela tinggi berkaca sekat seperti yang saya uraikan di atas, langkah kakipun tanpa ragu menuju sisi pinggir.  Tapi impian untuk bisa menikmati indahnya Taman Fatahillah berjubel lautan manusia dengan sekian banyak aktivitas terpaksa dibatalkan karena semua seats di sisi strategis ini sudah di booking wisatawan manca negara.  Aaaiihhh.  Gak kepikiran untuk reserve dulu deh.  Yah, akhirnya pasrah duduk mojok di sebuah meja yang memang khusus disediakan untuk 2 orang.  “Maaf ya Bu, belasan seats di posisi strategis ini sudah dibooking tour and travel yang bawak tamu dari Perancis,”  sang waitress tampak berujar sopan memohon pengertian.  Saya pun cuma sanggup mengangguk menelan rasa kecewa.

Menu Mewah Harga Premium

UITMIJTER Sandwiches | Tampilannya gak seribet namanya | Tapi rasanya tetap endes maksimal

Cukup puas terkepung tamu-tamu Jepang yang tampak khusuk mendengar penjelasan tentang Kawasan Kota Tua dari guide mereka, saya berusaha konsentrasi membuka lembar demi lembar buku menu yang diberikan.  Berwarna coklat dengan lembaran tebal-tebal, buku yang satu ini sukses bikin bingung nentuin pengen makan apa.

Sebagian besar menu hanya berupa nama, ingredients, dan harga.  Cuma beberapa yang ada fotonya.  Terbiasa “nyontek” pilihan lewan kemanjaan visual, akhirnya saya memutuskan untuk langsung loncat ke bagian sandwhiches.  Menu prioritas ala saya (selain nasi goreng) kalau pas mati kutu sama pilihan asupan yang bejibun.  Eits ternyata semua tertulis bererot.  Puanjang banget pilihannya.  Yak tambah bingung.  Akhirnya cap cip cup keputusan pun jatuh pada si sandwiches dengan nama terunik.  UITMIJTER.  Yeay!!!

Di dalam menu dituliskan bahwa roti panggang tangkep ini adalah roti yang disajikan dengan telur mata sapi (mostly half done), daging sapi asap (beef bacon), dan irisan keju.  Kemudian dilengkapi dengan potatoes wedges yang digoreng garing.  Baiklah.  Tampaknya cukup simpel dan bakal tidak lama jadinya.  Dan saya ternyata keliru (mesem-mesem sambil melotot).  Pesanan saya ternyata datang cukup lama.  Tapi untungnya rasa mengalahkan segala penantian (halah).

Yang Perlu Dicatat Ketika Di Sini

Oia, beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk baru atau akan berkunjung ke sini.

Pertama.  Cafe/Resto ini, walaupun bernuansa barat, mereka menyediakan makanan dengan range yang lumayan luas dari beberapa negara dengan rasa yang sudah disesuaikan dengan lidah orang Indonesia.  Jadi kalau gak bisa nelen aneka pasta, kekejuan, dan sejenisnya, menu pure Indonesia dan seafood mungkin bisa membantu.  Ada beberapa menu yang  juga disediakan dalam 3 pilihan ukuran (banyaknya).  Nah kalo begini ini, pertimbangkan usulan kapasitas/menu yang ditulis ya.

Kedua.  Semua makanan dan minuman yang ditawarkan akan dikenakan pajak pendapatan 10% dan pajak layanan (service) juga sebesar 10%.  Jadi selalu tambahkan 20% dari angka yang ditulis di akhir rincian santapan yang kita pesan.  Karena untuk ukuran kantong orang Indonesia, harga makanan dan minuman di sini masuk dalam skala premium, otomatis angka akhir di bon akan lebih premium lagi (catet!!)

Ketiga.  Cafe Resto ini dibuat 2 lantai dengan pembatasan lantai bawah untuk smoking (para ahli hisab), termasuk tempat duduk di bagian penerimaan tamu dan beberapa meja berpayung di bagian luar, dan lantai atas untuk area bebas asap.  Beberapa kali saya masih melihat, keluarga dengan anak-anak tetap duduk di lantai bawah.  Entah tidak mengerti atau memaksakan diri untuk bisa bersantap di sini.  Padahal ini keputusan yang sangat keliru.  Be smart and keep healthy!!

Keempat.  Demi meningkatkan daya tampung, terutama di masa-masa liburan atau peak-season, cafe cenderung menambah jumlah meja untuk melayani tamu.  Sama seperti yang saya alami ketika datang ke sini beberapa hari yang lalu.  Thus, meja dan kursi nyaris hampir bersentuhan satu dengan yang lainnya.  Berhati-hati dengan barang bawaan.

Kelima.  Ada beberapa foto yang berskala “dewasa” di toilet.  Jika Anda beranjangsana kemari dengan anak-anak, pastikan Anda bersama mereka ketika ke toilet.  Terkadang kita harus jeli untuk satu hal ini.

Puluhan foto pesohor dengan frame yang atraktif | Memenuhi dinding menuju dan di lantai 2
Flower in a bowl | Saya menemukan bunga segar yang ditaruh di dalam mangkok kaca kecil di setiap meja | Hadir cantik menyambut tetamu dengan berbagai warna | Sentuhan yang apik banget
Restorasi di Lantai 2 | Area Grande yang nyaman
Pemandangan Taman dan Museum Fatahillah dari lantai 2 Cafe Batavia
Rest Room dengan warna adem dan puluhan foto dalam frame yang memenuhi dinding

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here