Siang itu saya mendapatkan tugas dari suami untuk ngungsi ke Swiss Belinn Manyar dari Santika Premiere (Santika) yang berada di Gubeng. Awalnya pengen mengisi celah-celah waktu dengan keluyuran ke beberapa tempat lebih dulu tapi ternyata cuaca sedang tidak bersahabat. Hujan angin dan panas sumuk setelahnya membuyarkan semua rencana. Akhirnya saya memilih untuk mengedit foto-foto, merapihkan kembali koper-koper, dan nongkrong sebentar sambil ngopi di minimart yang hanya beberapa langkah dari Santika.

BACA JUGA : SANTIKA Premiere Gubeng, Surabaya. Satu Catatan Menginap di Timur Jawa

Kegiatan “berpindah” ini memang sudah jadi kebiasaan saya dan suami jika sedang dalam kegiatan traveling di satu kota selama 4 hari atau lebih dari itu. Setidaknya hanya 3 hari 2 malam untuk satu tempat. Selain biar tidak bosan, saya pun bisa merasakan nuansa dan pelayanan berbeda dari setiap hotel yang kami singgahi. Jadi ada pengalaman baru. Dan tentu saja ada ulasan baru.

Ground Floor yang Eye-Catchy

Sebelum berangkat dari Santika, supaya gak nyasar, suami sempat mengingatkan kembali bahwa ada 2 Swiss-Beliin di Surabaya. Satu di Manyar yang sudah direserve suami dan satu lagi di berada di Tunjungan (persis di depan Tunjungan Plaza). Hal yang juga ditanyakan lagi oleh taxi one-line yang saya pesan sesiangan itu. “Memastikan lagi biar gak keleru,” begitu penjelasan si Mas sebelum melajukan kendaraan. Aaahh baiklah.

Berada di 2 lajur jalan yang cukup besar dengan sebuah sungai kecil sebagai pemisah sisi kanan dan kiri, gedung milik Swiss-Belinn Manyar (SB Manyar) gampang terlihat dari kejauhan. Bangunan-bangunan di sekitar hotel sebagian besar tidak bertingkat dan difungsikan untuk bisnis. Baik itu kantor, toko, atau usaha kuliner. SB Manyar sendiri tidak terlihat besar. Tanjakan kecil menuju lobby nya pun mepet banget. Jadi hati-hati untuk yang nyetirnya masih dalam tahap belajar ya.

Selangkah memasuki lobby, sepasang dudukan merah dengan sandaran menjulang berikut dengan karpet warna senada, langsung menarik perhatian. Selain karena warnanya yang gonjreng, sofa seperti ini keceh maksimal buat jadi obyek foto. Saya menjajal duduk di situ sembari menunggu giliran check in. Receptionist cukup sibuk sesiangan itu karena kebetulan ada company event di function room. Tamu acara ini pun berderet, satu persatu mengurus administrasi. Bahkan ada beberapa dari mereka sabar menanti sambil nongkrong-nongkrong di bar/lounge yang hanya beberapa langkah dari sofa merah tadi.

Sebagai compliment selama menunggu, pihak SB Manyar menyediakan satu piring besar Ginger Caramel Cake yang bisa dinikmati free of charge. Rasanya? yang pasti komposisi ginger nya lumayan banyak menurut saya, karena baru makan sepotong kecil aja rasa hangat di tenggorokan langsung terasa. Mata pun mendadak jadi seger. Sayangnya saya tidak diberikan welcome drink saat itu. Jadi rasa pedas pun harus saya tahan sampai tiba di kamar.

Ginger Caramel Cake yang menghangatkan tenggorokan

Saya menandatangani beberapa dokumen adiminstrasi termasuk diantaranya selembar surat jaminan yang menyatakan bahwa tamu yang bersangkutan tidak telah melakukan perjalanan ke/dari Cina selama kurang dari 14 hari sejak ditandatangani surat tersebut. Tindakan preventif yang dilakukan SB Manyar karena pada saat itu pandemi Covid-19 memang sudah mulai merambah negara-negara Asia. Terus terang perasaan saya sudah mulai gak enak saat itu karena dari beberapa link berita, pandemi Corona sedang seru menghantam Singapore dan Malaysia. 2 negara yang punya reaksi lebih cepat dibandingkan kita.

Deluxe Room yang Cantik

Dari 143 kamar yang ada, sebagian besar diperuntukkan bagi Kamar Deluxe. Sementara sisanya adalah Junior Suite dan King Suite. Kami memesan kamar Deluxe yang tata ruangnya ternyata berbeda dengan foto yang ada di website mereka www.swiss-belinnmanyar.com. Sepertinya SB Manyar menerapkan konsep boutique untuk memberikan kesempatan para penginap untuk kembali dan tidur di kamar dengan interior berbeda, meskipun memesan kamar dengan tipe yang sama.

Tapi meskipun tidak sama, saya suka dengan pengaturan kamarnya. Terutama untuk mix and match warna serba natural di furniture dengan hiasan dinding dan tirai yang dipasang. Efek sinar bohlam yang berpendar terperangkap di dalam hiasan dinding, sangat membantu kenyamanan tidur saat semua lampu dimatikan. Seperti biasa, tirai saya buka sebagian untuk membiarkan cahaya langit dan bintang menyeruak ke dalam kamar. Cahaya temaram seperti ini ternyata nyaman banget untuk mengantarkan tidur yang nyenyak.

Ada sofa kecil yang biasa ditaruh di samping nakas. Sebuah meja kayu oval dengan lapisan kaca yang dilengkapi dengan lampu meja stainless tampak cantik ditempatkan di dekat jendela. Fungsional dengan ukuran yang proporsional untuk kamar seluas kira-kira 30m2 ini.

Not to let their guests lost in information, SB Manyar menyediakan beberapa booklet berisikan informasi tentang kota Surabaya, termasuk beberapa destinasi wisata populer yang bisa kita kunjungi tanpa harus memakan waktu lama. Satu layanan yang tentunya bermanfaat untuk pewisata yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Surabaya atau yang sudah lama tidak kembali ke kota ke-2 terbesar di Indonesia ini seperti saya. Larut membuka lembar demi lembar, perut pun mulai berontak untuk diisi.

Oia, untuk kamar mandinya, nothing further to explain. Yang pasti dengan fasilitas shower yang memadai dan toiletries standard, ruang membasuh badan ini terjaga sekali kebersihannya. Meskipun berukuran kecil, lubang penyaring udara yang berada di atap, berfungsi baik. Jadi walau berlama-lama di dalam kamar mandi, kita tidak merasakan sumpek teramat sangat. Pencahayaan nya juga cukup. Terutama dari kaca hias di atas wastafel. Yang rajin berdandan pasti seneng banget nih dapet extra cahaya di depan wajah.

Fasilitas Lain di Swiss-Belinn Manyar

Room Service 24 jam

Nyambung soal urusan perut yang mulai menggeliat tadi, saya iseng mbuka buku menu yang ada. Banyak banget tawaran dining in yang menarik hati. Tentu saja dengan harga standard hotel. Layanan room service ini buka 24 jam. Satu dari serangkaian layanan jasa hotel yang hanya kita temukan di Indonesia.

Pengennya sih pergi makan keluar, tapi foto sepiring besar Caesar Salad lengkap dengan telur rebus tanpa liquid dressing, sudah bikin air liur meleleh duluan. Untuk penyempurna rasa, aneka sayur ini ditaburi parutan keju yang rasa asinnya klop banget dilidah saya. Bener-bener keputusan mantab ketimbang harus kelayapan sendirian keluar hotel. Yang kurang nyaman adalah soal pembayaran. Tamu tidak diperkenankan memasukkan tagihan makan ke dalam biaya kamar. Jadi harus membayar cash saat makanan diantar. Yah untung pas ada uang yang cukup di dalam dompet. Coba kalo pas gak ada kemudian yang dipesan banyak, bingung juga kan.

Caesar Salad yang enak banget

Sebenarnya kalau ada teman, di jalan yang sama dengan SB Manyar, ada KFC, beberapa resto seafood, resto Italia, rumah makan khas Surabaya, yang bisa diraih dengan hanya berjalan kaki. Tapi karena cuaca panas mendera dan mata yang sudah berat terasa, saya lebih memilih bertahan di dalam kamar, kemudian melarutkan diri di atas tempat tidur. Sebelum jatuh terlelap, saya sempat meninggalkan pesan via WA ke salah seorang teman yang rencananya akan bertemu di hotel sekitar jam 3 sore.

Swimming Pool dengan Pemandangan yang Menarik

Kolam renang di lantai 5

Tadi tuh, waktu mbolak mbalik buku petunjuk fasilitas hotel sambil menunggu pesanan datang, saya sempat melirik foto kolam renang yang ada di lantai 5. Tampaknya menggiurkan karena sisi terluar kolam dibuat mendekati ujung bangunan hotel. Jadi kita bisa menikmati pemandangan sebagian kecil kota Surabaya dari sebuah ketinggian. Tapi niat ini terkalahkan oleh kantuk yang tak tekira.

Tapi supaya gak penasaran, saya meminta suami agar menyempatkan mampir ke tempat ini setelah sarapan pagi keesokan harinya, beberapa belas menit sebelum kami meninggalkan hotel, beranjak menuju bandara Juanda.

Tidak ada yang istimewa untuk kolamnya. Penataan fasilitas penunjang seperti tempat duduk pun seadanya saja. Cuma ada 3 orang tamu yang asyik ngobrol dan duduk-duduk. Itupun tak lama. Saya meminta suami untuk memotret diantara gempuran angin dan udara panas yang menampar wajah. Aaahhh kejam nian udaranya. Pantesan gak ada yang betah nangkring di sini. Sepertinya kalau memang niat ingin berenang, waktu-waktu sore sebelum matahari istirahat, akan terasa lebih nyaman. Sekalian menikmati sunset tentunya.

Baca juga : BONCAFE Steak & Ice Cream Surabaya. Living A Good Life

Sarapan dengan Banyak Pilihan Menu

Bakery, makanan pembuka, dan makanan penutup

Resto BaReLo (Bar, Restaurant, and Lounge) yang melayani sarapan untuk tetamu ada di lantai dasar (ground floor). Persis berdampingan dengan area penerimaan tamu, di belakang sepasang sofa merah yang ciamik itu.

Saat kami turun ke lantai dasar, tempat duduk di resto hampir 90% penuh. Kesibukan terlihat disana-sini. Lalu lalang tamu dan suara-suara obrolan menyeruak hampir di setiap sudut. Sebagian besar sepertinya saling mengenal satu sama lain. Jadi obrolan pun ramai terisi dengan canda tawa dan topik omongan yang sefrekuensi.

Sembari menunggu suami yang lebih dulu berkeliling, saya menebarkan pandangan ke beberapa sudut area hidang. Dengan ruangan yang cukup terbatas seperti ini, meja-meja makanan utama/berat (buffet) semua dirapatkan ke sisi terujung. Makanan pembuka dan penutup, serta bakery, mendapatkan porsi area paling besar. Pilihan cake dan rotinya pun banyak banget. Semua ditaruh island table yang berada lebih ke tengah. Beragam minuman dingin berderet rapih. Mulai dari air putih, infused water, 2 jenis juice, dan susu. Sementara disamping dispenser kaca (glass dispencer) berbagai air ini ada cereal dengan 2 jenis pilihan. Di sisi yang berbeda ada egg stall, aneka bubur, dan makanan tradisional. Ada nasi campur di sini dengan topping yang sangat beragam. Sajian yang mantab banget untuk mereka yang tiap pagi wajib mengisi lambung dengan heavy breakfast.

Dari outlook semuanya tampak terlihat tasty, menyelerakan, dan tertata dengan baik. Tapi untuk rasa tidaklah terlalu istimewa walau tidak juga digolongkan tasteless. Tadinya saya berharap akan bertemu makanan berkuah bening seperti misalnya Bakwan Surabaya dengan bakso goreng, tahu, siomay, dan kuah kaldu bening. Setidaknya panganan khas Surabaya ini cukup ringan untuk jadi hidangan utama sarapan setelah berhari-hari memanjakan lidah dengan menu-menu berlemak dan berkolesterol tinggi.

Paket nasi campur yang lengkap banget
Saya dan Evi Wijaya | Salah seorang wire jewelry designer Indonesia favorit saya

Waktu mulai beranjak siang ketika kami kembali ke kamar untuk berkemas-kemas dan terbang menuju Jakarta. Dari SB Manyar menuju Juanda tak lebih dari 1 jam perjalanan. Itupun gak pake acara ngebut atau buru-buru. Cuaca cerah, langit terang benderang, dan flight pun on schedule. Dan by the way, saya akhirnya sarapan lagi dengan menu bakwan surabaya di airport. Aaahh tuntas sudah kepengenan pagi tadi.

Tak disangka bahwa trip saya ke Surabaya ini adalah trip saya terakhir di awal 2020, sebelum virus Corona menjadi perhatian besar di tanah air. Hingga menyelesaikan tulisan ini, saya dan keluarga sedang menikmati masa-masa stay at home yang sudah berlangsung lebih dari 1 bulan. Semoga pandemi ini segera berakhir karena saya sudah rindu banget traveling lagi. Melanglang buana, menjelajah destinasi wisata cantik, dan bertemu para sahabat untuk berbagi cerita.

Galeri Foto

#SwissBelinnHotel #SwissBelinnSurabaya #SwissBelinnManyar #SurabayaTrip #ExploreSurabaya #HotelDiSurabaya