WJ hasil karya saya di 2015

Ketika hendak memulai mengerjakan sebuah produk (dalam topik ini adalah wire jewelry), banyak hal-hal lain yang terlibat di dalam setiap prosesnya. Mix and match alias padu padan bentuk, warna dan komposisi materi, kondisi fisik kita, sampe mood yang seringkali naik turun karena terpengaruh banyak hal, termasuk berbagai pengalaman yang menjadi guru sambil berjalan.

Pada tahun-tahun awal, ketika baru mengenal wire jewelry dan hanya bisa beberapa teknik tertentu, mengerjakan sebuah design justru tanpa beban. Kerjakan sebisanya saja karena memang kemampuan terbatas, tapi tetap dengan mempertahankan kualitas kerapihan yang memang sudah jadi pakem untuk karya saya.

Tapi seiring dengan berjalannya waktu, meningkatnya pengetahuan dan kebisaan, apalagi dengan semakin bertambahnya jumlah murid, desakan untuk menjadi “lebih mampu” dan “harus bisa menjadi contoh” serasa mendorong-dorong di belakang. Kedua hal yang memberikan efek positif juga negatif untuk diri saya.

Efek positifnya adalah saya jadi terdorong untuk meningkatkan kualitas dengan terus berinovasi dan mengolah teknik-teknik yang ada menjadi tampilan-tampilan baru. Untuk tujuan ini, biasanya saya luangkan waktu khusus 1hari, semaksimal mungkin. Entah sudah berapa meter kawat yang terbuang dalam proses uji coba dan berapa tumpuk emosi dan kesabaran yang terlibat di sana. Apalagi pada tahun-tahun dimana saya mulai mengenal jenis perhiasan ini, hanya ada beberapa orang wire worker saja di Indonesia.  Jadi gak banyak yang bisa dijadikan teman bertukar ilmu dan pengalaman.  Bergurupun kebanyakan dari youtube dan tutorial berbayar, yang disediakan oleh para designer dari luar negri.  Itupun juga gak gampang, karena terkadang, bahkan seringnya, tidak semua petunjuk dapat dipahami dengan mudah, bahkan untuk seorang self-learner sekalipun.

Semangat untuk mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan murid juga menjadikan saya terpecut untuk menabung ilmu. Dan kalaupun ketika ditanya saya belum memiliki jawabannya, paling tidak ada beberapa clue yang menjadi pijakan teori untuk kembali kepada yang bertanya dengan beberapa alternatif pemecahan masalah yang sedang didiskusikan.  Di tahap inilah, ilmu saya sendiri jadi bertambah dengan sendirinya.

Efek negatifnya adalah ketika diri sendiri mentok dengan beberapa hambatan. Buntu ide. Kesehatan sedang drop. Kesibukan-kesibukan lain yang lebih urgent dan lebih membutuhkan perhatian. Hingga akhirnya mengacaukan mood yang ingin dibangun.  Entah ini terjadi sama teman-teman yang lain atau tidak.  Tapi jika fisik saya sudah (terlampau) lelah, misalnya mengurus rumah dan anak-anak karena tidak ada yang membantu, nyentuh kawat aja seperti gak ada energi.  Yang ada malah akhirnya belanja on line dengan alasan nyetok bahan baku hahahaha.  Penyakit dompet yang sepertinya menjadi kutukan dan terjadi pada setiap newbie/new comer.

Last but not least, dari semua uraian di atas, intinya ADA serangkaian proses naik turun dan perjuangan yang terjadi ketika sebuah karya itu dihidangkan ke publik.  Mungkin beberapa teman perajin memiliki pengalaman yang sama dengan saya.  Mungkin juga ada yang lebih berat, lebih menyiksa dan lebih berkesan.  Bahkan mungkin ada juga yang ceritanya biasa-biasa alias mulus-mulus saja tanpa kejadian luar biasa selama merintis karir dan muncul menjadi seorang wire jewelry designer.

Namun apapun itu, sebuah karya, tidak mungkin muncul begitu saja.  Tidak mungkin langsung jadi seperti Bandung Bondowoso yang membangun candi untuk Roro Mendut dalam semalam.  Let’s say untuk seorang artist yang mengenyam pendidikan seni secara teoripun, butuh rentang waktu yang tidak sedikit, hingga akhirnya benar-benar menemukan jati diri dalam berkarya.  Apalagi buat saya, yang dulunya pekerja kantoran, mantan kuli sekuli-kulinya, TANPA background ilmu seni sedikitpun.

Facebook Comment