Rampung menonton versi layar lebarnya Crazy Rich Asians (CRA), saya mendadak tertarik dengan novel lain karya Kevin Kwan yang berjudul China Rich Girlfriend (CRG).  Selain penasaran dengan kemampuan literasi penulis yang baru saya kenal ini, saya selalu dirundung keingintahuan yang besar pada novel-novel yang akhirnya diadaptasi menjadi sebuah film.  Pasti ada sesuatu yang istimewa.

Ada banyak tokoh yang ditampilkan di dalam CRG, tapi untuk resensi ini saya (hanya) ingin memusatkan perhatian kepada 3 pasang tokoh saja yaitu Astrid Leong Teo РCharlie Wu, Colette Bing РCarlton Bao, dan tentu saja Rachel Chu РNicholas Young.  

Baca juga : CRAZY RICH ASIANS | Beberapa Adegan dan Venue Shooting Favorit Saya

Cover depan novel dengan warna dan design yang menarik hati

Rachel Chu dan Nicholas (Nick) Young

Di dalam novel ini dikisahkan bahwa Rachel akhirnya mengetahui siapa ayah kandungnya.  And you know what?  Yang melacak dan mengetahui di awal tentang siapa ayah kandung Rachel adalah Eleanor Young, ibu dari Nick, yang di awal cerita masih meragukan keyakinannya untuk bermantukan Rachel.  Yang pernah nonton CRA pasti sempet geregetan akan kemampuan Eleanor mengungkat jati diri Rachel yang jadi sumber keributan dan pangkal penolakan neneknya Nick akan kehadiran gadis yang satu ini di keluarga Young.  Nah, di sequel ini akhirnya gerakan “detektif” ibu-ibu high class dengan tampilan berkelas ini jadi sesuatu yang sangat berarti untuk pasangan Nick dan Rachel.

Bao Gaoliang, seorang kaya dan wakil rakyat yang disegani, yang adalah ayah kandung Rachel, diceritakan mengambang di novel ini.  Di satu sisi diungkapkan kebahagiaannya “mendadak” mendapatkan tambahan anak, sementara di lain pihak, sebagai orang yang disegani dan dihormati, Bao berat malu karena punya anak di luar nikah.  Tekanan pun datang dari sang istri, Shaoyen, yang tidak mau Bao membagi warisan kekayaannya yang berlimpah kepada Rachel selain kepada anak tunggal mereka, dari pernikahan yang sah. 

Rachel dan Nick, sebagai pasangan, diceritakan sudah bertunangan dan akhirnya menikah.   Beberapa kisah perjalanan mereka terjadi di berbagai negara, seperti Singapore, China, Amerika, dan Perancis.  Mengikuti hidup ala the have bersama pasangan Carlton dan Colette,  kebersamaan mereka terungkap tanpa cacat.  Bonding  diantara keduanya pun diulaskan semakin menguat, bahkan hingga Rachel sempat berada di titik nadir kehidupan saat terkena racun yang mematikan.  Jadi selain di bagian akhir novel, tidak ada fluktuasi, naik turun hubungan, diantara ke-2 tokoh yang fenomenal ini.

Carlton dan Colette | Sepasang manusia yang juga dominan di novel CRG

Carlton Bao dan Colette Bing

Kalau menilik dari family namenya Carlton, tentu pembaca sudah bisa menebak.  Yup.  Carlton adalah saudara tirinya Rachel dari ayah yang sama (Bao Gaoliang) tapi dengan ibu yang berbeda.

Carlton dikisahkan sebagai seorang high-class dandy milenial man yang di awal-awal novel diceritakan mengalami kecelakaan mobil (sport) hingga menyebabkan 2 wanita teman kencannya ikut menjadi korban.  Sembuh dari kecelakaan ini, Carlton tampak menikmati hidup jet-set dengan Colette yang juga adalah anak seorang milyuner.  Seorang gadis sexy penuh kejutan yang diam-diam sangat dicintainya.

Mengetahui bahwa Rachel adalah saudara seayahnya, Carlton tidak apriori.  Dia malah berusaha agar Rachel tetap menikmati waktu-waktu bersamanya dan menyembunyikan sikap Ibu nya yang sesungguhnya tidak menerima Rachel.  Carlton malah berusaha untuk selalu menyenangkan Rachel hingga akhirnya merasa nyaman dan bersyukur memiliki seorang saudara perempuan.

Sementara Colette adalah seorang social media artist.  Tokoh mode termuka dengan follower Weibo dan WeChat nya berjumlah 35juta.  Gadis ini sangat fashionable dan ratu dari ratunya belanja seraya selalu dikawal ketat oleh asistennya yang bernama Roxanne.  Kehadiran Colette dalam keseluruhan cerita adalah karena hubungannya Carlton dan jika ditelaah lebih mendalam kosa kata Rich Girlfriend yang dititikberatkan sebagai topik utama novel sepertinya pas disematkan kepada Colette Bing.

Pasangan ini mendapatkan porsi penokohan yang sama dengan Nick – Rachel.  Statusnya lebih tinggi dari sekedar supporting actor and actress.  Sama-sama terlahir bergelimang uang, ternyata keduanya masih merasa ada kekurangan di dalam hidup.  Padahal ya kalo dilamati rincian kemewahan yang mereka nikmati, baik itu dalam kegiatan belanja, tempat tinggal, sampai kendaraan dan layanan pribadi, para pembaca bakal tercengang dengan keberuntungan kenikmatan hidup yang pasangan ini rasakan.

Di bagian akhir novel, Colette sempat dicurigai sebagai otak dari pemberian racun kepada Rachel.  Racun yang hampir merenggut nyawa Rachel.  Tapi seiring dengan bergulirnya penyelidikan akhirnya terungkap sudah bahwa pelakunya adalah Roxanne.

Astrid Leong Teo dan Charlie Wu

Profil Astrid sudah ditampilkan di CRA.  Wanita berkelas.  Sepupu Nick.  Menikah dengan pria dari kalangan rakyat biasa, Michael, yang akhirnya mampu membangun kerajaan bisnisnya sendiri dengan sukses.

Astrid menguasai 80% alur cerita.  Bahkan di CRG kita jadi bisa lebih mendalami karakter Astrid yang memendam hati untuk terus mempertahankan pernikahannya dengan Michael.  Walaupun Michael sendiri sering menyakiti Astrid secara verbal berkali-kali, Astrid selalu menempatkan diri sebagai istri yang (terlihat) patuh dan mampu menjaga nama baik suaminya di hadapan orang lain.

Lalu siapa Charlie Wu? Pria kaya yang satu ini adalah teman lama Astrid yang meskipun sudah berkeluarga tetap memendam cinta sejatinya kepada Astrid.  Hubungan pasangan ini, di dalam novel CRG, lebih kepada hubungan emosional yang dituangkan dalam obrolan-obrolan akrab via internet.  Kontak diam-diam diantara keduanya akhirnya diketahui oleh Michael hingga Astrid dan Michael harus mengakhiri rumah tangga mereka.

Yang Nyenengin Dari Novel Ini

Poin utama yang paling saya sukai dari novel ini adalah kekayaan kata-kata atau kalimat dari bahasa Cina (sebagaian besar Hokian) di kutipan percakapan.  Satu persatu dari kata atau kalimat ini diberikan artinya dalam bentuk foot note di halaman yang bersangkutan.  Saking excited nya saya bahkan sengaja meninggalkan stiker kecil di setiap halaman yang berisikan hal ini.  Buat pengingat tapi ternyata saking banyaknya, tak ada satupun yang mampu terikat di memori saya (ngakak sampai Sabang).

Seperti misalnya, teet toh lui = uang jajan (bahasa Hokian), ah nee ho miah = hidupmu menyenangkan sekali (bahasa Hokian), zheen ho seng lee = bisnis yang sangat menguntungkan (bahasa Hokian), wah mai chup = aku tidak peduli (bahas Hokian), siow tsah bor = perempuan gila (bahasa Hokian), dan masih banyak lagi yang sepertinya biasa digunakan sebagai omongan bahkan umpatan sehari-hari.  Sambil menulis ini mendadak ingatan saya melayang ke beberapa tahun lalu saat berdagang (baca: pameran) di Nanning, China, dan bertemu sederetan emak-emak yang suaranya nyaring sampe 7 oktaf (nyengir antara nangis dan ketawa).

Poin kedua adalah kesederhanaan tata bahasa.  Dalam hal ini terjemahannya.  Buat saya yang nyaris “buta” soal barang-barang bermerk, dan sering black out dengan istilah-istilah kemewahan, secara keseluruhan, makna dari inti cerita tersampaikan dengan mudah.  Hingga halaman ke-453 saya tidak menemukan kesulitan mencerna yang biasanya saya temukan ketika seorang penulis menggunakan teknik flash back dalam ceritanya.

Above all, novel Crazy Rich Girlfriend ini sangat menghibur dan pas untuk mereka yang menyukai bacaan ringan tanpa harus berfikir keras.  Kalaupun tidak membaca seri sebelumnya (Crazy Rich Asian), kita masih bisa memasuki alur cerita tanpa hambatan di profile setiap tokohnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here