Ke Hong Kong dengan budget ngepas, pilihan tinggal di hostel pastilah jadi keputusan jitu. Alternatifnya banyak. Mau yang tempat tidurnya bertumpuk seperti bunker asrama (cewek semua, cowok semua, atau bercampur) atau berbagi kamar berdua, bertiga, dengan harga yang sedikit lebih mahal. Tapi ya tetap hemat karena bayarnya gotong royong.

Yang pasti pilihan manapun itu, sebagian besar penginapan di Hong Kong terkenal dengan konsep gang senggol alias sempit ke sana kemari. Ukurannya rata-rata sekitar 15-20m2. Bila ada kamar mandi di dalam, berarti nambah dikitlah luasnya untuk ruangan pribadi ini. Bahkan ada yang total 15m2 termasuk kamar mandinya. Yang pernah ngekost atau tinggal di apartemen tipe studio keknya bisa membayangkan seberapa gede kamarnya.

Gedung utama Comfort Hostel | Pintu kecil yang persis di belakang pohon itu adalah pintu masuknya | Sementara ruang penerimaan tamu ada di lantai 3

Di akhir Februari sampai dengan awal Maret 2019 barusan, saya bersama 2 teman pengamen produk kreatif internasional lainnya, sepakat untuk tinggal bareng di hostel supaya bisa menekan biaya operasional penginapan. Hal jamak yang biasa kami lakukan supaya pasak (pengeluaran) kita lebih kecil daripada tiang (pendapatan) dan bukan sebaliknya. Karena sudah saling mengenal sebelumnya dan beranjak dari pengalaman yang sama, berbagi kamar jadi lebih asyik. Dengan kondisi ini setidaknya azas keterbukaan, sharing biaya, dan komunikasi dipastikan bisa lebih lancar jaya.

Setelah berhari-hari browsing sana sini, hal pertama yang kami sepakati adalah area. Supaya tidak terlalu jauh dari venue pameran (Hong Kong Convention and Exhibition Centre) yang berada di Wan Chai, pilihan jatuh pada Causeway Bay. Hal kedua yang dipertimbangkan adalah kemudahan transportasi umum sehari-hari, khususnya PP hostel dan tempat pameran. Naik MTR dengan mudah atau Taxi jika terpaksa digunakan karena hujan atau mendadak harus jadi kuli angkut barang. Hal ketiga adalah fasilitas penyedia konsumsi sehari-hari yang halal, terutama untuk saya yang satu-satunya muslim diantara kami. Sementara alasan terakhir adalah tinggal berdekatan dengan anggota tim yang lain. Jika ada apa-apa kan bakal lebih mudah untuk saling berkoordinasi. Dan yang paling penting diantara keseluruhannya adalah kesesuaian dana karena kami akan tinggal dalam waktu sekitar 8 hari + 2 hari untuk saya yang extend dalam rangka keluyuran (baca: motret dan cari konten blog).

Runut dan disiplin mengikuti priority list di atas plus mengikuti obrolan dengan peserta lainnya di Whatsapp Group (WAG), pilihan akhirnya jatuh pada COMFORT Hostel. Apalagi setelah membaca beberapa review para penginap sebelumnya kesepakatan untuk memilih hostel ini pun semakin meyakinkan. Buat saya, tambahan lain selain kebutuhan-kebutuhan di atas adalah soal kebersihan dan kamar mandi di dalam yang memudahkan urusan buka tutup pakaian untuk saya yang berjilbab. Naaahh banyak nih yang memberikan jempol soal kebersihan ini. Plus ada kamar yang bisa dihuni bertiga dengan toilet di dalam. Klop sudah.

Gedung lain yang digunakan Comfort Hostel | Pintu bergaris-garis, di depan pejalan kaki adalah pintu masuknya

Setelah sempat loading in di booth milik delegasi Indonesia di HKCEC, saya dan Yuk Onie memutuskan untuk check in duluan sambil menunggu Mbak Sisca yang datang dari Surabaya malam harinya. Karena sudah terlalu lelah kami memutuskan untuk naik taxi menuju hostel. Perjalanan 20menit yang penuh gulatan emosi. Badan dah capek, eeehh supir taxinya nyebelin to the max. Sudahlah nyetirnya bikin mual (ngepot ngalah-ngalahin pembalap F1), ngomel-ngomel karena macet, terus sempat marah-marah karena susah menemukan nomor pintu hostelnya. Tak pun menolong menurunkan koper baju kami. What a drama!! Nih ya, kalau bicara soal keramahan, orang kita mah seng ada lawan lah.

Turun dari taxi, sesungguhnya menemukan pintu masuk hostel bukan perkara gampang karena tidak ada signage apapun di bagian depan. Terutama untuk yang baru pertama kali menginap di sini seperti kami. Satu-satunya yang membantu adalah kenekatan untuk mengintip ke dalam, dan bertanya kepada seorang penjaga apartemen yang terpekur memperhatikan layar CCTV sambil ngantuk-ngantuk. Yang bikin yakin bahwa itu pintu hostel adalah pintu-pintu lain yang terlihat memang dibuat untuk outlet fashion yang berjejer di kanan dan kiri. Jadi yah tinggal menerka pintu yang sisanya aja.

Fashion Walk di depan bangunan Comfort Hostel | Jalur pejalan sepanjang Paterson Street dengan beberapa stiker atraktif

Hostel dan Ulasan tentang Kamar

Naik lift yang cukup hanya untuk 6 orang dengan berat badan tak lebih dari 70kg/orang, kami tiba di ruang penerimaan hostel di lantai 3. Berada di sisi kanan keluar lift, di ruangan seluas sekitar 50m2 ini, ada kantor kecil di bagian kiri dan dining area beserta sofa tunggu di bagian kanan.

Si Mbak yang mengurus keperluan kami check in saat itu berbahasa Inggris dengan baik. Tersenyum ramah terutama saat menerima uang cash HKD 300 sebagai pembayaran full selama 8hari 7malam. Untuk kunci kamar dikenakan deposit HKD 100/buah. Menimbang mobilitas masing-masing kami, akhirnya memutuskan untuk menyewa 2 buah kunci masuk.

Ditengah kepadatan perlengkapan kantor, ruang kerja receptionist di sini tampak lebih luas dibandingkan hostel yang pernah saya tinggali di Bangkok. Setidaknya ada cukup ruang untuk menitipkan koper, dispenser air, dan sebuah rak tinggi yang menjual makanan ringan, berbagai soft drink, dan handuk yang disewakan.

Sambil menunggu Yuk Onie yang mengurus pendaftaran dan mengajukan berbagai pertanyaan soal transportasi dan fasilitas di sekitar hostel, saya mencoba melongok ke area makan. Ruangannya gak besar tapi peralatan makannya lumayan lengkap, kecuali sendok, garpu, dan gelas yang jumlahnya minim/terbatas. Ada pemanggang dan penghangat makanan, ketel untuk memasak air. Meja dan kursi lumayan banyak meskipun terpaksa diletakkan berdempetan.

Ruang makan yang juga berfungsi sebagai ruang tunggu tamu

Selesai mengurus ini dan itu, kamar kami ternyata tidak berada di gedung ini. Comfort Hostel memiliki gedung lain yang berjarak sekitar 100m. Gedungnya relatif lebih baru. Bedanya adalah kalau di gedung yang ini, entrance area bebas untuk lalu lalang tamu, walaupun ada security di ground floor, sementara di gedung baru, kita harus membawa kunci kamar dengan kode tertentu (kombinasi huruf dan angka) untuk dapat masuk mulai dari pintu paling bawah.

Diantar oleh salah seorang petugas hostel yang juga berfungsi sebagai cleaning service, kami melewati beberapa toko untuk sampai di gedung bertumpuk tempat kamar kami berada. Perlu usaha tambahan untuk mencapai lift karena ada beberapa anak tangga. Persis di dekat pintu ada penjaga. Berseragam sama dengan gedung yang lama. Pun tebakan rentang usianya. Dah pada kakek-kakek semua. Masih keliatan gagah sih. Tapi kalau penjahatnya masih seger buger keknya nih kakek-kakek bakal jumpalitan juga. Kecuali, yah kecuali, si kakek punya ilmu digdaya, mampu menjatuhkan penjahat dengan sekali tepok (akibat kebanyakan nonton Avengers). Topik ini bolak-balik jadi obrolan kami setiap pergi dan pulang ke apartemen. Tentu saja dengan cerita hiperbola dan diiringi tawa berderai-derai.

Comfort Hostel | Kamar mandi di dalam ruang tidur kami

Keluar dari lift di lantai 8 kami harus menggunakan kartu kembali untuk masuk ke pintu depan ke-2 dan ketika sampai di depan pintu kamar. Jadi kartu kamar yang dipinjamkan ini harus digunakan 3 kali sampai kita benar-benar masuk ke kamar. Jadi urusan keamanan sepertinya boleh diancungin jempol.

Seperti yang sudah ditulis di info kamar, tersedia 1 tempat tidur ukuran 160x200cm untuk berdua, dan 1 lagi berukuran 120x200cm untuk orang ketiga. Diletakkan bersilangan dan mepet ke tembok. Ada jendela yang sangat membantu sirkulasi udara, AC, wastafel, meja kecil, dan TV. Untuk kamar mandi sudah disediakan sampo dan sabun cair dalam botolan yang menempel permanen di dinding. Ada 2 buah slipper karet. Tapi tidak ada handuk. Ini nih yang menjawab kenapa ada penyewaan handuk di resepsionis tadi.

Kasurnya nyaman. Bukan kasur busa yang bikin badan meliuk kalo tidur. Selimutnya juga standard hotel. Tapi sering tidak saya gunakan karena sebagai penyuka udara dingin, waktu-waktu tidur dengan cuaca belasan derajat Celcius ditambah angin yang mengalir dari jendela, bikin waktu-waktu istirahat di dalam kamar jadi tambah nyaman.

Sayangnya saya tidak sempat memotret situasi dalam kamar karena sibuk sendiri ngatur barang hahahaha. Tapi semuanya sesuai dengan ekspektasi kami. Setidaknya sesuai dengan dana yang sudah digelontorkan. Hanya yang perlu dicatat adalah kebijakan untuk pembersihan kamar dan petugas kebersihan itu sendiri. Menurut aturan hostel, mereka tidak diperkenankan membersihkan kasur. Alasannya petugas mereka pernah dituduh mengambil barang yang diletakkan di kasur oleh salah seorang tamu. Tah etaaa. Jadi tamu kudu bawak sapu lidi sendiri dong (kebanyakan nonton nenek sihir)

Untuk hal satu ini, masalah kebersihan, kita harus rada cerewet minta ke resepsionis. Khususnya bagi yang tinggal dalam jangka waktu lama. Jatah membersihkan kamar untuk kami yang tinggal selama 7 malam hanya 2 kali saja. Gak cukup banget sebenarnya. Tapi berkat kebawelan Yuk Onie, kami bisa mendapatkan 1 kali tambahan jatah bersih-bersih. Bahkan pernah di 1 hari kami minta diulang sapu dan ngepel karena penampilan kamar masih sama berantakannya ketika kami tinggalkan di pagi hari, dan lantai terasa lengket ketika diinjak. Gini nih kalo jalan sama emak-emak penyuka resik-resik.

Welcome Superstore | Supermarket serba ada yang hanya beberapa langkah dari hostel

Fasilitas Di Dekat Hostel

Kalo bicara soal kata “strategis”, Comfort Hostel memegang kriteria itu. Lengkap dikelilingi oleh berbagai fasilitas yang memenuhi kebutuhan sehari-hari. Baik itu hiburan, makanan, dan transportasi.

Ada Wellcome Superstore. Supermarket yang jadi andalan banget. Buka 24jam. Sebagian besar yang dijual adalah kebutuhan konsumsi. Saban pagi, sebelum naik MTR menuju HKCEC, rombongan kami selalu mampir ke mari. Pagi-pagi mereka sudah menyiapkan aneka sarapan. Nasi goreng, bihun goreng, aneka bakery, bebek goreng, ayam goreng, sushi dengan harga dan jenis yang beragam. Semua dalam porsi besar di rentang harga 50ribu s/d 150ribu. Saya biasanya beli sekotak sedang nasi dan salmon (seharga 50ribu) untuk makan siang di stand, dan sarapan apapun yang saya beli di malam sebelumnya. Mulai jam 7 malam, Wellcome akan memotong harga semua makanan siap saji. Diskonnya gak kira-kira. Bisa sampai 30%. Bahkan ada yang 50%. Jadi dijamin keesokan harinya apa yang mereka tawarkan bener-bener fresh.

Kasus utama di Wellcome itu cuma buah-buahan. Lebih mahal dari harga daging. Beda dengan sayuran. Walaupun termasuk rada mahal dibandingkan dengan di negara kita, setidaknya masih affordable. Biasanya sih kami beli sekotak besar sayur matang untuk dimakan rame-rame. Melengkapi olahan bebek yang hampir tiap hari jadi menu utama.

Wellcome Superstore | Buah-buahan yang serba mahal

Supermarket dalam skala kecil (toko berukuran kecil) juga ada. Berdekatan dengan Wellcome ada Sevel dan beberapa toko kelontong. Ada yang jual make-up, buah, jajanan aneka bentuk dan rasa. Jadi kalau gak ingin ngubek-ngubek belanjaan terlalu banyak, toko-toko kecil ini praktis banget untuk didatangi.

Dikepung oleh gedung-gedung tinggi untuk apartemen dan hostel, termasuk pertokoan, kita juga dimanjakan dengan puluhan resto yang menyebar hampir di segala sudut. Food Street yang berada di seberang Fashion Walk contohnya. Saya menemukan banyak resto istagramable di sela-sela bangunan dan atau toko yang berada di lantai bawah. Mereka menyatu dengan outlet produk-produk bermerk seperti Adidas, Onitsuka, serta beberapa merk fashion branded. Di sudut-sudut tertentu ada mural-mural cantik yang keceh bana-bana untuk jadi obyek foto.

Tak lebih dari 200 meter ada Victoria Park. Taman fenomenal yang jadi tempat berkumpul para pejuang devisa Indonesia (TKW). Di hari Minggu dimana mereka mendapatkan day-off dari para majikan, saya sengaja menyempatkan diri mampir dan menikmati dagangan makanan mereka. Khusus untuk Victoria Park akan saya tulis dalam artikel terpisah.

Berseberangan dengan taman ini, ada titik tunggu khusus untuk bis yang bisa membawa kita menuju airport. Saya sempat kejengkang saat naik bis ini di hari terakhir berada di Hong Kong. Belum selesai ngangkat koper besar berisikan dagangan ke rak khusus bagasi, Pak supir banting stir mengikuti jalan yang berbelok tajam. Tidak siap dan tidak menduga akan gerakan super membanting ini, saya pun sukses kejengkang tunggang langgang tanpa ampun. Sakitnya lumayan. Berasa sampe ke rumah. Tapi malunya itu loh. Kerasa seumur hidup kayaknya.

Kalo soal jajan gimana dong? Aman lah pokoknya. Masih dalam lingkungan Causeway Bay, di radius tak lebih 300 meter dari hostel, ada beberapa restoran Indonesia yang jadi tempat nongkrong langganan orang-orang kita. Ada Warung Malang, Chandra, Kampoeng, Pandan Leaf, Win’s Restaurant. Semua menyajikan menu-menu otentik Indonesia dengan kerenyahan bumbu seperti di tanah air. Makan di sini setidaknya kita yakin akan kehalalannya. Walaupun harganya bisa 2-3 kali lipat karena masih dibayar dalam uang HKD, ada waktu-waktu tertentu memang kangen masakan negara sendiri.

Terus untuk urusan shopping gimana tuh? Bapak, Ibu, Uwak, Tante, sodara-sodara sekalian, kalo sudah sampe Hong Kong dan tinggal di beberapa daerah yang terkenal dengan destinasi wisata, hampir bisa dipastikan kita akan dikepung oleh ribuan toko. Nah kalau di Causeway Bay, lingkungan terdekat dan terlengkap surga belanja adalah Times Square. Tentu saja selain di seputaran Comfort Hostel itu sendiri. Mau yang murah ada. Mau yang jutaan juga ada. Jarak Times Square dari Comfort Hostel gak lebih dari 400an meter lah.

Transportasi? Beh gampang banget. Selain titik antar jemput ke airport dengan rentang waktu 30 sampai 45 menit, di basement gedung yang sama, ada akses menuju MTR. Taxi? Jauh lebih gampang lagi. Keluar hostel ada 2 line khusus untuk taxi ngetem. Tinggal ngawe-ngawe langsung deh bisa naik. Bis-bis kecil juga ada. Tapi terus terang saya gak sempat mencatat. Itu bis kecil beberapa kali lewat dan berhenti persis di depan Wellcome Superstore. Ada beberapa destinasi yang mereka layani. Dengan daya tampung sekitar belasan penumpang (mobil seukuran Hiace untuk pariwisata), dalam jam-jam kantor tampak antrian yang lumayan panjang. Bis nya pun terlihat berseliweran berkali-kali.

Di depan pintu depan Comfort Hostel di bangunan baru | Saya sering menikmati waktu berlama-lama di sini sambil merasakan udara dingin yang sangat saya sukai

Hostel strategis yang satu ini highly recommended untuk first Hong Kong traveler. Kemudahan merasakan berbagai fasilitas yang dibutuhkan selama liburan, setidaknya dapat terpenuhi dengan baik. Dan kalaupun ingin menjelajah di area-area wisata populer lainnya yang ada di Hong Kong, menggunakan MTR tidaklah sulit dan bisa menambah pengalaman merasakan transportasi publik yang belum dapat kita rasakan di kampung halaman sendiri.

COMFORT Hostel | Unit A1, 9th Floor, Block A Paterson Building 47, Paterson Street (3rd Floor) | Causeway Bay | Hong Kong