Saya itu jarang banget nonton film-film romantis.  Kalaupun nonton biasanya karena direferensikan teman, ulasannya bagus, pernah baca novelnya, gak sengaja nonton (biasanya via TV karena gak ada pilihan), atau nemenin kawan yang ngotot pengen nonton.  Selain karena saya DNA nya bukan orang romantis, nonton film mendayu-dayu justru sering bikin saya ngantuk dan tertidur tanpa sadar.  Lain hal kalau film romantisnya digabung dengan genre lain seperti thriller atau horor, baru dah tuh mampu nonton sampe khatam.

Untuk kasus Crazy Rich Asians, alasan pengen nontonnya banyak banget.  Pertama karena hingar bingar diomongin di semua sosial media.  Kedua, bolak balik diajak oleh orang yang berbeda-beda dan menggebu-gebu (baca: maksa) nonton.  Ketiga, sempat baca ulasannya dan beberapa informasi bahwa film ini masuk dalam box office.  Keempat, sore itu saya dan Ika tidak ada kerjaan lain untuk bersenang-senang di Bali (pasang muka senyum sambil kedap kedip.  Cacingan mak? hahahaha).

Jadilah, tanpa antrian yang melelahkan seperti yang dialami temen di Jakarta, saya nangkring di Cinemax Plaza Renon Bali bareng Ika.  Tak kira jarang peminat, eeehh…begitu masuk studio, ternyata penuh tempat duduknya.  Semua terlihat antusias termasuk seorang Mas-mas yang ngakaknya ngalah-ngalahin audio Cinemax.  Sering banget pulak.  Alamak.  Tapi ya sutralah.  Memang banyak sih adegan lucunya.

Selesai menikmati film dengan tema sederhana klasik masalah percintaan pewaris kekayaan keluarga, Nick Young, dengan seorang Dosen dari kalangan rakyat biasa, Rachel Chu, ada beberapa adegan dan tempat/venue shooting yang menarik perhatian saya.  Rangkaian adegan dan tempat yang terbungkus dengan saratnya emosi (lucu, sedih, suka, dan duka) plus keindahan tempatnya.

 

Berikut adalah beberapa ADEGAN yang mencuri perhatian saya

Obrolan awal Nick dan Rachel di Amerika

Di sini chemistry awal ikatan percintaan Nick dan Rachel mulai ditampilkan.  Dan di adegan ini pulak, saya terkesima dengan gesture dan suara Henry Golding, si pemeran cowok ganteng dan tajir melintir itu.  Wajahnya terlihat teduh, sumeh (nyaris hampir di sepanjang film berlangsung), sorot matanya adem, well dressed (ya iyalah wong anak orang kaya) dengan garis good-looking yang mengesankan.  Suaranya itu loh ya.  Bariton dengan pronoun english yang sempurna.  Sesuai tebakan saya.  Ternyata Henry bukanlah cowok Cina biasa.  Tapi dia lahir dari seorang Ayah berkebangsaan Inggris dan Ibu yang berasal dari Malaysia.

Lanjut soal adegan.  Di restoran ini, Nick berusaha mengajak Rachel untuk mau menemaninya mudik ke Singapore, menghadiri pernikahan teman baiknya (Colin dan Araminta), sekaligus dikenalkan kepada keluarga besarnya.  Buat cewek-cewek yang pernah ngalamin gemeternya bakal dikenalin ke camer yang gak pernah diceritain sebelumnya oleh pacar, bisa maklum kalau di sini Rachel terlihat ragu, walaupun akhirnya meng-iya-kan ajakan Nick.

Satu lagi yang bikin sesi ini terasa menggigit adalah ketika salah seorang cewek yang tau siapa Nick dan keluarganya di Singapore, memotret keberadaan sepasang kekasih ini di restoran tersebut, kemudian langsung menyebarkannya di media sosial.  Walhasil, kencan mereka malam itu cepat tersebar seantero Singapore plus nyampek secepat kilat bagai halilintar (lebay) ke telinga Eleanor Young (Emaknya Nick yang diperankan oleh Michelle Yeoh).  Jadi, belom juga Nick ngabarin tentang rencana kedatangannya, si emak dan konco-konconya sudah heboh duluan hahahaha.

Saya terkesima dengan berbagai ekspresi yang ditampilkan oleh banyak perempuan penggosip di beberapa adegan yang nyangkut di sini.  Mulai dari yang muda sampek yang tua (baca: temen-temennya Eleanor).  Kesan Nick sebagai high-quality jomblo dari keluarga super kaya langsung gencar dibombardir.  Pecaaahh!!

 

Pertemuan Rachel dengan Peik Lin (Awkwafina)

Begitu Peik keluar rumah menyambut Rachel dengan piyama bergambar unik, rambut dicat blondy, dan dandanan norak, saya langsung punya hint bahwa Peik akan berperan banyak dalam keseluruhan cerita.  One of the main and important supporting actress.

Bener banget.  Peik banyak menghadirkan adegan-adegan lucu yang membuat film ini begitu hidup.  Karena berkat Peik lah, Rachel jadi tau banyak soal keluarga Young.  Lewat Peik jugalah Rachel bisa mempersiapkan diri agar mampu tampil berkelas.  Kepada Peik Rachel banyak mencurahkan isi hatinya.  Dan Peik lah sahabat yang membantu Rachel menenangkan diri di saat gadis biasa ini menyerah pada kenyataan.  Peik menampung Rachel di rumahnya hingga akhirnya Rachel ngobrol terbuka dengan ibunya tentang siapa Ayah Rachel sesungguhnya dan bagaimana perjuangan ibu nya agar mereka tetap bisa hidup di Amerika.

Peik sendiri berasal dari keluarga kaya.  Meskipun masih kalah tajir dibanding keluarga Young.  Rumah Peik terlihat megah, plus kendaraan yang digunakan Peik itu high-class (Jaguar kalo gak salah liat).  Untuk Singaporean, dengan pajak yang sedemikian tinggi, punya rumah dan kendaraan mewah itu langsung menunjukkan kastanya .  Walking closet nya aja 2 kali ukuran kamar saya (ngekek).  Baju, tas, sepatu, dan perlengkapan lenong perempuan lainnya, tampak rapih tersusun dan diatur sedemikian rupa dengan sentuhan up-to-date.  Bikin ngiri kaum hawa ini sih hahahaha.

Peik sendiri diperankan dengan begitu apik oleh Awkwafina, yang menurut informasi adalah seorang rapper.  Walaupun wajahnya pas-pasan dengan dandanan nyeleneh, Peik dilukiskan sebagai sahabat andalan dengan nasihat-nasihat yang juga ajaib tapi jitu.  Hal ini terbukti di saat satu waktu Rachel merasa terhina dengan ucapkan Eleanor bahwa dia tidaklah “sekelas” dengan Nick.  Naahh Peik inilah yang memberikan energi positif kepada Rachel untuk meng-make-over dirinya.  Mulai dari pakaian hingga dandanan, sampe akhirnya Rachel terlihat wah ketika menghadiri pernikahan Colin dan Araminta.

 

Pertemuan Pertama antara Rachel dan Eleanor

Image perempuan high-class dengan bawaan tenang menghanyutkan begitu sempurna diperankan oleh artis kawakan sekaliber Michelle Yeoh.  Artis asal Malaysia ini udah kenyang berperan di film-film berkualitas dengan berbagai genre film.  Pokoknya kualitas beliau gak diragukan lagi.  Termasuk ketika dia memerankan Eleanor Young, ibu dari Nick.

Kesan yang begitu kuat saya rasakan ketika dia pertamakali berjumpa dengan Rachel di dapur rumah.  Eleanor yang sibuk mengatur hidangan untuk para tetamu yang menghadiri satu acara di rumahnya itu, tampak berjalan anggun, menatap tegas dan tajam, tapi tetap elegan.  Begitupun ketika dia menyambut uluran tangan Rachel kemudian panjang lebar berorasi tentang siapa dan bagaimana keluarganya.  Sudah mengetahui hampir semua latar belakang Rachel, Eleanor berhasil menguatkan posisi dirinya sebagai who’s the first lady, penentu gadis mana yang berhak menjadi pasangan hidup anak lelakinya.  Bahkan di ujung perkenalan itu, Eleanor sempat secara halus tapi tegas menyatakan bahwa dia tau gadis sekelas apa yang pantas mendampingi Nick.  Rachel ngeper dengan mata redup sampe terus menerus mengucapkan “Ooohh Nick, she doesn’t like me” berulang kali di hadapan Nick yang sibuk menenangkan dia.

Saya terkesima dengan cara Michelle memainkan karakter perempuan high-class di rangkaian adegan ini.  Mulai dari dandanan, pakaian, body language, dan sorot mata.  Nyata sekali terlihat sebagai mamak-mamak berkuasa hahahaha.  Di lingkungan teman-teman geng nya pun, terlihat kalau Eleanor itu sangat disegani.

Kira-kira kalau saya dalam posisi dia akan begitu gak ya? (ngakak sampe Merauke)

 

Pernikahan Colin dan Araminta

Bertemakan dunia peri, setting adegan dan venue pemberkatan pernikahan ini, bakal banyak menyumbangkan ide untuk mereka yang bergerak di bisnis Wedding Organizer.  Semua terlihat wah dan konseptual.  Mulai dari mainan berlampu kupu-kupu yang dipegang oleh para tetamu, outfit nya pengantin perempuan (Araminta), dekorasi ruangan, sampe jalan setapak berhiaskan aneka bunga warna warni dengan genangan air kecil yang dilalui oleh Araminta.

Nuansa syahdu yang tercipta, musik pengiring, dan suara penyanyi yang begitu hikmat, pada saat upacara pernikahan berlangsung juga menimbulkan getaran sarat cinta antara Nick dan Rachel.  Turut berada di altar menemani Colin, Nick tampak begitu charming dengan tuxedo dan kerap melirik ke Rachel yang duduk di barisan depan bangku.  Rachel saat itu juga terlihat sangat cantik setelah dipermak oleh Peik.  Nick beberapa kali terlihat terkesima dan membisikkan I Love You dari gerak bibir dan disambut dengan air mata Rachel yang bercucuran.  Duuhhh menyentuh banget.

 

Yok sekarang ngomongin soal tempat-tempat shooting yang bisa jadi referensi jika kita berkunjung ke Singapore

Yang pertama adalah Super Tree Groove yang ada di Gardens By The Bay.  Tempat dimana pesta mewah pernikahan Colin dan Araminta berlangsung.  Gemerlap lampu dari setiap pepohonan buatan dan lingkungan sekitarnya termasuk Marina Bay Sands turut memancarkan keistimewaan tempat ini.  Apalagi ada beberapa shoot dimana lokasi penuh cahaya warna warni ini diambil dengan angle bird-eye-view.  Waaahhh bener-bener sesuatu dah pokoknya.

Untuk nuansa pestanya sendiri, Jon M. Chu, sang sutradara, tampak gak ingin tanggung-tanggung.  Terutama untuk sentuhan dekorasi dan pakaian para pemain, baik pemain utama, pemain mendukung, dan puluhan atau mungkin ratusan orang yang menjadi pemain latar.  Pesta horang kaya yang sarat kemewahan dan kesempurnaan, plus kembang api yang melengkapi eksklusifitas suasana pesta.

Baca juga: Gardens By The Bay | Destinasi Wisata Dunia Berteknologi Tinggi di Singapore

 

CHIJMES

 

Gereja yang dibangun pada 1852 ini memenangkan Merit Award dari UNESCO sebagai Asia Pacific Heritage Awards for Cultural Heritage Conservation di 2002.  Tempat yang dijadikan venue shooting pemberkatan pernikahan Colin dan Araminta ini berada di Victoria Street ini sekarang menjadi salah satu tujuan wisata di Singapore dan dikomersialkan dengan adanya cafe-cafe berkelas.

Sepertinya layak tempat warisan dari negara Eropa (baca: Inggris) yang menduduki Singapore dalam rentan waktu yang tidak sedikit, terlihat sekali bahwa tempat ini menyimpan sejarah berkembangnya agama Katholik dan keindahan arsitektur Eropa yang cantiknya luar biasa.

Dalam beberapa potongan scene, mata penonton dimanjakan dengan kemampuan rancang bangun manusia di abad ke-18.  Decak kagum kita gak bakalan putus tatkala melihat bagaimana setiap sudut CHIJMES sebagai salah satu warisan kebudayaan dunia saat ini.

 

Carcosa Seri Negara

Membaca namanya saja, apalagi dengan kata Seri, kita pasti langsung ngeh kalau tempat ini berada di Malaysia.  Yak.  Rumah yang cantik maksimal berada di dalam kompleks Perdana Botanical Gardens di Kuala Lumpur.  Rumah ini dijadikan tempat dimana keluarga Young tinggal, mengadakan pesta keluarga, dan beberapa adegan eksklusif yang meliput kekayaan keluarga Young.

Di rumah ini pula, Peik Lin mengantar Rachel untuk menghadiri acara makan malam yang diadakan oleh Eleanor, dan bertemu dengan calon mertuanya itu.  Berada jauh di dalam dari gerbang besi (gerbang depan utama), Peik dan Rachel sempat diperiksa oleh security rumah (ada beberapa adegan lucu di sini), kemudian pelan-pelan berkendara masuk, yang membawa seolah-olah kita pun (para penonton) menjadi undangan pesta wah tersebut.  Rachel yang baru saat itu tahu dan menginjakkan kaki di rumah pacarnya, saat itu bisa membuktikan cerita Peik soal kekayaan keluarga Young yang selama ini tidak pernah dia dengarkan langsung dari Nick.

Rumah dengan rancang bangun selera Eropa yang berkolaborasi dengan seni peranakan ini memang terlihat sangat berkesan.  Apalagi di shoot awal, kita melihat keindahannya di malam hari dengan pengaturan cahaya yang menyempurnakan keindahannya.

 

Newton Food Centre

Yang pernah atau akan ke Singapore dan menikmati kekayaan kuliner negara singa ini, keknya kudu alias wajib sampe di sini.  Sebagian besar menu yang ditawarkan mayoritas seafood dan makanan melayu.  Tempat jajan yang sangat semarak di malam hari ini, dijadikan salah satu venue makan malam 2 pasang kekasih, Nick-Rachel dan Colin-Araminta, saat Nick dan Rachel hari pertama tiba di Singapore.

Dalam satu adegan, Nick tampak berbicara bahasa Melayu dengan penjual sate, dan tampak sangat bahagia karena bisa berkumpul dengan sahabat baiknya, Colin, dengan membawa pasangan masing-masing.  Rachel pun terlihat terpesona dengan keakraban Nick dan Colin, dan merasakan kedekatan layaknya teman lama bersama Araminta.  Padahal mereka baru bertemu hari itu.  Yang menarik hati saya adalah beberapa momen di saat mereka bercanda, makan, dan tertawa bersama.  Suasananya begitu hidup, natural, dan kental dengan keakraban.

 

Kesan Secara Keseluruhan

Tema yang diusung untuk film ini sebenarnya sederhana aja.  Topik klasik bagaimana seorang wanita biasa, dari keluarga yang biasa saja, mencoba mendekat dan berbaur dengan keluarga kekasihnya yang berada di strata yang lebih tinggi.  Rachel sendiri dikiaskan sebagai wanita berkualitas, berilmu, dan tidak neko-neko.  Tapi nyatanya dia tersandung masalah sejarah hidup ibunya, dan tentu saja tidak sekaya keluarga Young, hingga Ibu kekasihnya tidak menerima hal itu.

Tanpa bermaksud mendiskreditkan suku-suku tertentu, faktor Bibit (keturunan) memang seringkali bahkan sampai saat ini masih berlaku di keluarga-keluarga yang berdarah biru (ningrat), keluarga yang hidup dengan harta bergelimpangan, atau mereka yang menjadi “seseorang” dengan tingkat keilmuan, pencapaian pendidikan tinggi hingga berhasil mendapatkan kedudukan yang mengubah nasibnya menjadi orang kaya raya.  Bahkan ada keyakinan-keyakin suku tertentu yang tidak menerima suku lain untuk masuk dalam hirarki keluarga mereka.  Walaupun seiring dengan kemajuan jaman, keterbukaan pikiran, dan dengan pertimbangan kemanusiaan, orang-orang seperti Eleanor itu nyatanya masih banyak loh.

Secara keseluruhan saya suka dengan film ini meskipun sebenarnya kata Crazy terasa kurang pas untuk dicantumkan di dalam judul.  Kalaupun dihubungkan dengan beberapa adegan “kegilaan” orang berada, seperti kasus menghambur-hamburkan uang, berpesta pora layaknya orang sangat berada tanpa batas, sepertinya sudah dipahami oleh sebagian besar orang.  Bahkan saya pernah diundang dan hadir di sebuah pesta jet-set yang jauh lebih habis-habisan dibandingkan apa yang saya tonton di film ini.  Pestanya sampai semingguan malah hahahaha.

Jadi, menurut saya, untuk sekedar hiburan, film ini layak banget untuk ditonton atau menyabet box office di peta perfilman internasional.  Apalagi di akhir cerita, penonton digiring untuk menikmati adegan atau klimaks yang membahagiakan dan tidak terduga.

Sumber foto dan informasi pendukung: www.en.wikipedia.org dan www.crazyrichasians.net

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here