Clutch Pandan Decoupage Sospeso Transparante
Clutch Pandan Decoupage Sospeso Transparante

Mengenal decoupage tanpa sengaja di awal 2015, disaat mencapai satu titik jenuh membuat perhiasan.  Berhari-hari tak ada ide dan tak ada selera untuk menyentuh batu, tang dan kawat. Mood bener-bener down to the ground, di titik nadir, ilfil sama harta karun perkawatan.  Sudah beberapa cara dilakukan untuk mengembalikan semangat nguwer, seperti browsing di Instagram, Website perhiasan dalam dan luar negri, Facebook dan Fanpage khusus craft, tapi hasilnya tetap nihil.

Mau menulis di blog juga buntu karena di saat yang sama sedang berjuang menyelesaikan Thesis yang sudah menyita waktu dan pikiran.  Berlembar-lembar jurnal dan tesis pembanding dibaca, ditelaah dan dirangkum, hingga berasa muntah untuk mengolah kata-kata. Belum lagi diskusi-diskusi dengan pembimbing, revisi, seminar, dan kerjaan-kerjaan akademis lain yang sungguh membutuhkan perhatian ekstra.  That’s really time consuming!!

Terus ngapain yaaaa?  Masak harus begini terus?   Semenjak berhenti jadi buruh pabrik, kemudian aktif mengajar Bahasa Inggris untuk expatriate (khususnya orang2 Jepang), sebagian dari waktu saya isi dengan mengerjakan craft.  Jadi ketika salah satu kegiatan tersebut mendadak berhenti, hidup seperti ada yang kurang.

Clutch 002

Frustasi dengan diri sendiri yang tak kunjung memecahkan masalah, akhirnya saya putuskan untuk memperbanyak waktu bertemu teman-teman dan meninggalkan semua keresahan yang sedang terjadi.  Siapa tau, dari kumpul-kumpul dan ngobrol-ngobrol ada suntikan semangat kembali. Paling tidak, kalaupun keinginan mengolah wire jewelry belum muncul, sharing dengan para sahabat menjadikan emosi menjadi redam dan lebih stabil.  Teorinyaaaaa ….. hahahaha.  Tapi yang terjadi justru kebalikan.  Tiap ketemu teman, yang ada malah ditanyain soal perkembangan penyusunan Thesis dan stok-stok baru perhiasan yang sudah atau sedang saya buat yang ingin mereka beli.  Yak saallaaammm.  Ini sih bak lepas dari kandang singa, masuk ke kandang harimau.  Tapi ya sutralah.  Ngobrol-ngobrol dan wisata kuliner aja sudah merupakan hiburan yang paling saya sukai.

Tak menemukan solusi dari bersosialisasi, akhirnya saya kembali ke laptop …eeeh…ke layar PC. Berjam-jam blogging, web-walking, ngobrol hilir mudik dengan teman-teman di WA dan inbox FB, sampe akhirnya kesambet jatuh cinta ngeliat clutch pandan yang cantik seperti dilukis di sebuah account FB. Membelalak mata seperti tersihir.  Edan.  Jago banget yak ngelukisnya.  Kok bisa rapih banget begitu.  Penasaran saya inbox yang bersangkutan, dan ngobrol-ngobrol sekedar ingin tahu.  Ealaahh… ternyata lukisan itu adalah tissue makan bergambar yang kemudian ditempel dan divarnish ke clutch pandannya.  Daaan tetiba jadi inget dengan tissue sejenis yang pernah ibu saya beli dan kumpulkan pada waktu kami sekeluarga berkunjung ke Amsterdam dan beberapa negara Eropa.  Aaahh bener banget.

Dari obrolan ini (dduuh saya lupa nama orangnya), saya diarahkan untuk belajar langsung dengan Mbak Winilea Dirgandhini yang juga adalah seorang kebaya designer.  Weits, bagaikan panci ketemu tutup, langsung capcus daftar.  Semangat 45 mengalahkan berkilo-kilo jarak yang harus saya tempuh untuk belajar basic decoupage on clutch beberapa hari kemudian.  Hasilnya? Alhamdulillah. Bagai menemukan sisi lain dari dalam diri yang lama tersimpan, keahlian ini berhasil mengisi kebosanan yang sedang saya alami.

Clutch 003

20150501_143323-1

Berpuluh-puluh clutch decoupage lahir dari tangan saya.  Bahkan ada seorang teman yang memesan dalam jumlah banyak untuk dibawa pameran dan diperdagangkan kembali.  Alhamdulillah.  Ruang kerjapun jadi berubah konsep dan semakin banyak “anggota”nya hahahaha.  Yang tadinya dimonopoli oleh kawat, batu, tang dan saudara-saudaranya, sekarang harus berbagi tempat dengan clutch, lem, varnish, tissue dan segala peralatan perang decoupage.  Ruangan yang ukurannya pas-pasan inipun akhirnya semakin berasa sempit.  Gila batu berubah menjadi gila tissue.  Biaasaaa …kutukan newbie …pokoknya ya mah gak bisa liat orang jualan materi/bahan mentah.  Kumpulin aje dulu.  Masalah dipakenya kapan biar Allah dan nasib yang memutuskan …hahahaha….

Tidak membutuhkan waktu yang lama, akhirnya saya berasa sesak di dalam ruangan kerja sendiri.  Walhasil, suamipun turun tangan ikut menata sana sini dan membelikan rak-rak gantung supaya perlengkapan decoupage tidak desak-desakan dengan craft cinta pertama.  Yak, keluar dah modal lagi dah.   Terpaksa harus disubsidi silang dulu dari income wire jewelry, yang sejujurnya juga dalam keadaan kritis a.k.a mati suri karena berhentinya produksi.  Tapi gapapa, di setiap usaha pasti ada pengorbanan.  Kalau mau serius ya berarti ada effort di situ.  Apalagi keahlian ini masih bisa menyatu dengan perhiasan.  Jadi jika nanti pas ngamen, keduanya bisa dipadupadan tanpa harus “berseberangan” terlalu jauh.

By the time, layaknya sebuah keahlian yang bukan teoritis, decoupage juga memiliki berbagai teknik dan berbagai media aplikasi.  Gak ingin terlalu kebawa arus dan memahami strategi finansial, saya memutuskan untuk konsisten mengolah clutch decoupage saja.  Media yang pas untuk disandingkan dengan wire jewelry.   Kalaupun tersentuh untuk mengaplikasikannya dalam bentuk hiasan-hiasan/media lain seperti kayu, semata-mata hanya untuk menjawab rasa penasaran aja.

Beberapa bulan kemudian, saya menemukan 1 teknik olahan decoupage on clutch yang cukup menarik untuk dikuasai.  Berkat referensi seorang teman, akhirnya saya terhubung dengan Mbak Ike Chandra, yang dengan baik hati mentransfer ilmu 3D decoupage on clutchnya kepada saya.  Jatuh cintapun semakin mendalam.  Bahkan ketika saya upload beberapa karya dengan teknik ini, komentar dari temen-temen sesama wire worker pun intinya sama.  Annie Nugraha sudah berpaling dari kawater menjadi decoupager …hahahaha….  Ddaaann…komentar itupun menjadi semakin heboh ketika dengan self-learning, saya akhirnya juga menguasai teknik sospeso transparante, yang pada saat penulisan blog ini, sedang happening dan digandrungi oleh masyarakat luas.

Anyway busway, wire working dan decoupaging, masing-masing memiliki tempat yang istimewa di hati saya.  Bagaikan memiliki 2 anak, si sulung adalah wire dan si bungsu adalah decoupage.  Kedua kekayaan ilmu yang ingin saya pertahankan, saya pelajari dan saya sebarkan ilmunya, sampai menutup mata

 

Facebook Comment