Waktu dengar namanya pertama kali dari Katerina (((dia lagi disebut))) saya senyum-senyum sumringah.  Makna kata Gendut, bagi saya, punya ciri khas tersendiri.  Sebutan ini untuk mereka yang lucu, ramah, doyan makan, dan chef yang handal.  Untuk asumsi yang terakhir itu, terus terang tidak akan pernah lepas dari bayangan dan luntur dari pikiran, karena  lagi-lagi menurut saya pribadi, chef yang eksplorasinya luas pastilah seorang yang gendut.  Kok gitu??  Ya iyalah, gendut kan menandakan betapa seringnya dia incip-incip dan merasakan sekian banyak jenis makanan.  Begitu.

Kemudian kata Encim.  Menurut situs www.kamusbahasaindonesia.org, Encim adalah panggilan untuk wanita keturunan Cina yang sudah bersuami.  Sedari kecil dan tinggal di Jakarta dalam beberapa waktu yang berbeda-beda (karena saya hidupnya berpindah-pindah), panggilan Encim seringkali ditambahi dengan kata Glodok.  Jadilah Encim Glodok.  Kok Glodok sih? Karena (tarik nafas sebentar), Glodok adalah tempat/pusat perdagangan yang didominasi oleh warga keturunan Cina/Tionghoa, dan sebagian besar memang dikuasai oleh emak-emak. Begitu.

Jadi ketika otak saya bekerja menggabungkan kedua kata ini, langsung kebayang sesosok ibu bermata sipit, bermuka bulat, pipi tembem, tubuh semlohai, kulitnya putih, dan jago masak.  Tidak menyangka, ternyata profil seperti ini benar-benar jadi logo dari Kantin Encim Gendut yang saya temukan di plang nama kantin ini dari parkiran.  Tuh kan klop banget.

Tampak depan Kantin Encim Gendut dari area parkiran

 

Interior dan Fasilitas Kantin Encim Gendut

Pertama kali masuk ke kantin ini, kesan pertama adalah sederhana sesuai dengan jargon kantin nya.  Interior dirancang tidak terlalu ribet tapi tetap unik, manis, dan indah untuk dipandang.  Gak ada kesan kemewahan malah suasananya dibuat jadul termasuk semua perangkat makannya.  Ruangan dibiarkan plong, tanpa sekat, sehingga memudahkan pergerakan setiap pengunjung yang berada di dalam, dan mampu menampung sekian banyak tempat duduk.  Langit-langit pun tinggi, dibuat tanpa plafon, sehingga perputaran udara di dalam ruangan sangat nyaman.  Lampu-lampu yang terkurung di dalam sangkar burung pun menyempurnakan nuansa dekorasi yang berbeda.

Memandang sekeliling, mata saya tertuju ke beberapa materi yang jarang sekali terpikirkan akan cocok dijadikan interior dalam ruang. Tampak piring-piring, baskom dan nampan kaleng tersusun rapih terpajang di dinding.  Barang-barang ini sangat populer ketika saya masih kanak-kanak dan imut-imut (((sekarang amit-amit)))

Tetiba inget dengan Ibu saya.  Dulu beliau memiliki koleksi piring, nampan, gelas persis seperti ini yang banyaknya segudang.  Bahkan Ayah saya menyediakan ruangan khusus yang ukurannya lebih besar dari kamar saya, untuk peralatan lenong Ibu yang satu ini.  Wajan lengkap segala ukuran.  You name it lah.  Mau segede muka, segede tampah, segede anak umur 10 tahun, aadaaaaa.  Sampe saya sempat berfikir, apa jangan-jangan ibu pernah niatan menggoreng saya kalau nakalnya gak sembuh-sembuh.

Waktu saya tanya, kok kenapa ngumpulin piring, gelas, nampan, dan teman-temannya sekomplit itu.  Dengan enteng beliau menjawab, “Dulu kan mana ada catering kek sekarang, jadi semua peralatan masak dan makan-makan ya harus disiapkan sendiri.  Kalo ada hajatan kan gak mungkin minjam sana sini”.  Iiihh bener juga ya.  Kalau diantara kalian pernah ngalamin hal seperti ini, berarti kemungkinan besar kita lahir di tahun-tahun yang gak berjauhan (((ngekek)))

Suasana di dalam kantin. Difoto dari arah pintu masuk depan.
Aneka piring, nampan, dan baskom motif jadul yang dijadikan hiasan dinding

Penemuan cantik lain yang saya lihat di dinding adalah cicak, eh salah, lukisan encim yang sedang tersenyum bahagia di dekat meja kasir.  Lucuk dan menarik hati banget.  Lukisan yang sarat kejenakaan dan kebahagiaan yang datang dari hati.  Impian seumur hidup saya tuh.  Tetap terlihat bahagia, sehat, dan membawa kelapangan hati di usia senja  (((emang sekarang merasa belum tua?)))

Di dekat meja kasir, saya melihat meja atau ruang bartender yang juga lengkap dengan peralatan jadul.  Tampak deretan teko-teko besar yang kalo diisi penuh bakal keserimpet ngangkatnya.  Gantung gelas minum yang rapih berbaris menunggu dipanggil.  Stok piring-piring kaleng yang siap sedia jika dibutuhkan.  Mesin pembuat kopi yang sepertinya bekerjasama dengan salah satu brand kopi yang terkenal di Lampung.  Tampak juga gendongan besar berisi kerupuk.  Semua begitu menyatu dengan furniture kayu dan bata expose di bagian dinding belakang.

Area bartender lengkap dengan segala fasilitasnya

Menoleh sedikit ke bagian kanan, saya terpaku dengan sebuah lukisan yang cantik genit luar biasa.  Bukan cuma konsepnya yang nyangkut di hati, tapi juga ide dan perpaduan warnanya yang bikin hati meleleh.  Tampak di dalam lukisan itu 4 wanita berpakaian kebaya Encim dan berkain dengan motif khas peranakan yang memang menjadi padu padannya.  Jadi kembali membahas arti kata Encim di awal-awal, salah satu perpaduan kata Encim, selain Encim Glodok adalah Kebaya Encim.  Naahh kan jadi ketemu deh pengetahuan baru.  Kata Encim ternyata melanglang buana sampe ke dunia fashion.

Baiklah.  Mari kita lanjutkan penjelajahan ya.  Ngomongin kain khas peranakan itu tadi, saya juga menemukan beberapa ide yang out-of-the box.  Kain ini ternyata gak hanya muncul di lukisan, tapi juga dipakai untuk alas meja dan pembungkus bantalan tempat duduk.  Aaahh, pikiran saya langsung tertuju ke anak-anak di rumah.  Dulu, sewaktu mereka masih bayi, saya menggunakan kain-kain motif ini untuk gendongan.  Dan itu tetap masih saya simpan sampe sekarang.

Bantalan kursi khas Encim Gendut. Dilapisi kain motif khas peranakan

Kembali mengelilingi interior dalam kantin, saya kemudian terpaku pada sebuah wastafel yang beda dari lainnya.  Sekilas teringat model yang sama ketika makan di sebuah restoran yang berada di Guilin, China.  Ada sentuhan yang sama, terutama saluran ledeng dan kran yang dibiarkan ter-expose dan frame kaca yang dibuat double list, semua dibuat dengan warna keemasan, salah satu warna kesukaan saya.  Kehadiran 2 buah pot bunga dan dinding bata expose di salah satu sisi menjadikan area wastafel ini terlihat berkelas dengan karakter yang kuat.  Detail yang luar biasa.  Jadi kepengen cuci tangan terus hahahaha.  Sambil ngaca, betulin jilbab, pake make-up, terus sikat gigi sekalian (ngikik).  Biar rada lamaan menikmati sentuhan indah ini.

Wastafel cantik khas Encim Gendut

Sekarang, yuk coba kita liat bagian luarnya.

Mendapatkan informasi bahwa di area belakang disediakan khusus untuk para ahli hisab dan reservasi dalam jumlah banyak yang ingin memiliki tempat terpisah dengan privacy terjaga, saya pun melangkah ke bagian belakang kantin.  Inilah yang saya temukan di sana.

 

Di sisi kiri ketika kita datang, ada 1 dinding semen tanpa lapisan dan dengan lukisan sangkar burung ukuran besar berwarna hitam yang dilengkapi frame lukisan berwarna merah.  Sementara di area makan, disediakan banyak meja dan bangku-bangku yang menggunakan kayu dengan jenis dan warna sama dengan yang ada di dalam ruangan.  Dinding pun dihias dengan nampan-nampan kaleng yang senada dengan interior dalam.

 

Bersebelahan dengan area makan terbuka ini, ada satu ruangan khusus dengan meja panjang dengan dekorasi yang seragam.  Kalau dihitung dari jumlah tempat duduk dan panjangnya yang tersedia, tempat ini bisa mengakomodir sekitar 20-25orang.  Atau kalau tidak menggunakan kursi kayu yang lebar, mungkin bisa lebih dari itu.  Pas banget nih buat acara-acara pribadi.  Bisa leluasa ngobrol.  Ruangan bisa dibuka atau ditutup (karena ada AC nya).  Buat emak-emak yang doyan berkicau, ngakak dan jerit-jerit, tanpa mengganggu kenyamanan tamu lain, lebih baik reserve ruangan ini aja.  Dijamin.  Gak bakalan diusir oleh customer lain.

 

Encim Gendut dan Panganan Rumahan

Layaknya sebuah kantin yang mengusung konsep self-service, Encim Gendut menyediakan meja rak panjang yang berfungsi sebagai pusat ditaruhnya semua materi yang bisa disantap ala pengaturan buffet.  Peralatan makanpun tertata rapi di salah satu ujung meja.  Piring makan diambil dari tatakan/anyaman lidi yang kemudian dilapisi dengan kertas makan (((ide jitu untuk mengurangi penggunaan air untuk cuci piring))).

Berbagai jenis masakan rumahan dijejer sekeliling meja, ditaruh diatas piring kaleng klasik yang populer ketika saya masih kanak-kanak.  Menu makanan utama diletakkan di kanan dan kiri, sementara bagian ujung meja yang lain, aneka camilan berat maupun ringan tersedia.  Entah berapa jenis masakan yang terhidang.  Tapi yang pasti semuanya makanan rumahan, menggugah selera, dan asli bikin bingung mau milih yang mana.

Semua suka dan semua mengundang selera (((apa sih yang gak enak buat saya))).  Mau ngambil banyak takut dibilang rakus (((padahal aslinya rakus))).  Tapi ngambil sedikit, takut ntar dijalan tersiksa.  Secara ya.  Selesai maksi di Encim Gendut, kami harus menempuh 5 jam perjalanan darat menuju Krui, Pesisir Barat, Lampung.

Saya tidak sempat memotret aneka masakan satu persatu yang terhidang di depan kami pada saat itu karena pas ketika kami datang tamu Encim Gendut bertambah, plus sudah kelaparan dan penasaran pengen segera mencicipi masakannya.  Aaahhh baru beberapa suap indra pengecap saya melonjak kesenangan.  Bener kata Rien, masakan di Encim Gendut itu kaya rasa dan gak pelit bumbu.  Beberapa detik kemudian, gak hirau obrolan teman-teman lain, saya pun khusyuk makan tanpa noleh-noleh.

 

Encim Gendut | Instagram | Koh Willy

Perkembangan on line marketing di media sosial terlihat semakin melonjak dari hari ke hari.  Menempati urutan ke-2 setelah Facebook, Instagram adalah salah satu sarana yang mengangkat eksistensi seseorang, sebuah usaha, bahkan organisasi (pribadi, pemerintah, maupun sosial) ke hadapan publik.  Tidak memandang sepopuler apa orang itu atau sebesar/sekuat apa sebuah organisasi itu, memanfaatkan media sosial di dunia internet yang sangat luas jangkauannya, adalah strategi jitu dalam memperluas jaringan.

Berpromosi melalui IG, demikian Instagram disingkat, nyatanya sedikit banyak mempengaruhi bagaimana dongkrakan brand image, terkatrol tanpa biaya dengan teknik pembuatan yang mudah.  Caranya gampang banget.  Tinggal bikin akun, posting/sharing foto yang kita inginkan, kemudian menjaring follower sebanyak mungkin.  Karena strategi IG adalah menjual foto, jadi hanya ini yang sepertinya perlu dikuasai khusus.  Selebihnya, kembali kepada pengguna.

Encim Gendut tampaknya sangat menyadari hal ini. Dengan akun IG @encim.gendut, kantin ini terlihat begitu massive dan tekun membagi foto-foto yang bikin air liur meleleh.  Pintar dan lihai mengambil sudut foto layaknya Food Blogger sudah tidak diragukan lagi.  Everything looks tempted.  Menggoda iman.  Dan yang pasti liat fotonya aja sudah menyelerakan.  Seimbang dengan kenyataan ketika kita makan di sana.

Mau tau seperti apa tampak IG mereka? Nih tak kasih ya.  Mari rasakan efek meleleh yang selama ini terjadi pada saya.  Apalagi pas puasa sodara-sodara.  Ngeliat admin @encim.gendut memposting liwetan dengan beberapa orang yang buka puasa bersama, hadeehh mendadak potek hati saya.  Seandainya tinggal di Bandar Lampung, mungkin rumah saya gak perlu ada dapur.  Tinggal ngedrop duit dan pasrah sama hantaran makanan setiap harinya dari kantin ini.

 

 

Menutup kunjungan kami hari itu, saya berkesempatan berkenalan dengan Koh Willy, pemilik tempat yang saya bahas ini.  Tepatnya, dikenalkan oleh Katerina yang sudah 3 kali berkunjung ke kantin ini.  Untuk seorang yang lama mengenyam pendidikan di luar negri dan pernah bekerja di dunia jurnalistik yang tentu saja bersentuhan dengan dunia social media, senyum ramah Koh Willy mewakilkan kerendahan hatinya.

Walaupun tidak sempat mengobrol lama karena kami harus mengejar waktu agar sampai di Krui tidak terlalu kemalaman, saya ingin sekali punya momen khusus ngobrol dengan beliau untuk belajar, menggali sekian banyak pengetahuan dan keahlian dalam mengelola sebuah rumah makan, yang membuat kantin ini semakin dikenal masyarakat luas.  Buka sejak 18 April 2016, berarti ketika kami datang, kantin ini baru saja menginjak usia ke-1.  Baru 1 tahun saja, saya sudah bisa merasakan tingginya traffic pengunjung, kaya nya menu, dan ligatnya penguasaan sales yang mereka jalankan.  Siapa tau, suatu saat, saya bisa menjalankan bisnis yang sama untuk membiayai masa-masa pensiun saya dan suami.  Boleh kan belajar dari ahlinya dan meniru hal-hal yang baik?

Saya, Katerina, dan Dian, bersama Koh Willy

Terimakasih Encim Gendut.  Jika ada kesempatan saya ke Lampung lagi, semoga bisa ada waktu untuk mampir dan ya itu ngobrol panjang lebar, dari Sabang sampai Merauke, dengan Koh Willy yang bersahaja.

Kantin Encim Gendut | Jl. Lindu No. 6 | Tanjung Karang | Bandar Lampung | Lokasi: di belakang kursus Bahasa Inggris LIA di Jl. Kartini | SMA/WA: +6282306087294 | Jam buka: pkl. 07:00wib – 17:00wib

 

 

Facebook Comment