Failonga. Photo taken by Annie Nugraha

Reaksi pertama ketika sampe sini? Segala rasa!!

Bengong ada, kagum ada,  sampe salah tingkah juga ada.  Komplit semua jadi satu paket. Pokoknya mendadak norak habis.

Berangkat dari Tanjung Soasio dengan speed boat pagi-pagi sekali, kunjungan ke Pulau Failonga ini adalah salah satu agenda yang paling ditunggu-tunggu.  Sempat melihat beberapa foto pulau kecil ini sebelum berangkat.  MasyaAllah.  Tertegun dan tak bisa berkata-kata.  Gimana aslinya ya?

Setelah sempat mampir ke Pulau Mare, dalam 30menit kemudian, kami sudah menyentuh Failonga.  Saya berdiri terdiam diantara teriakan-teriakan teman seperjalanan dan kesibukan mereka mengatur titik terjun untuk diving dan snorkling.  Gegap gempita teriakan heboh terdengar di sana sini.  Luar biasa.  Saya yang memang saat itu bertugas mengumpulkan foto-foto, mendadak sigap naik ke atap boat (walaupun dengan susah payah) supaya bisa merekam semua keindahan dari sisi yang lebih tinggi dan lebih banyak.  Ih, kebayang seandainya punya drone, pastinya lebih oke deh.

Diiringi dengan ayunan speed boat yang tergoyang-goyang oleh ombak dan terparkir tanpa anjungan, saya beberapa kali hampir terpeleset dan jatuh.  Tapi demi demiiiii foto-foto yang cetar, apalah arti terjengkal hahahaha.  Pulau yang luasnya tak lebih dari 1 hektar ini begitu mempesona membuat saya bagai orang mabok yang kesetanan merekam semuanya melalui kamera.  Jepret kanan, jepret kiri, semuanya gak ada yang gagal seperti layaknya fotomodel dengan wajah dan body yang photogenic.

Melihat ke bawah, air jernih dan terumbu karang indah yang jelas terlihat tanpa hambatan.  Seandainya ya ada boat dengan alas kaca seperti di Benoa, dijamin lebih puas melihat terumbu karang tanpa harus nyebur dan basah-basahan.

Melihat ke kanan, ada pantai kecil berpasir putih yang seakan sengaja terhampar untuk membiarkan dirinya menjadi tempat istirahat bagi para pecinta pantai.  Spot yang juga tak terkira indahnya.  Kehadiran beberapa bukit karang yang merangkul di pinggir pantai ini, seakan melengkapi kecantikan alam yang puas dinikmati oleh pengunjungnya.

Failonga. Photo taken by Ade Ghea

Melirik ke sebelah kiri, laut jernih juga memanjakan mata.  Terlihat Pulau Tidore dengan Kie Matubu dan lagi-lagi sebuah pantai kecil bertebaran batu-batu di sana sini.  Karena di bagian belakang terlindungi oleh pepohonan yang cukup rindang, pantai di sisi ini lebih banyak dipilih pengunjung untuk sekedar duduk-duduk dan menikmati deburan ombak.  Walaupun di belakang batu terlihat banyak pepohonan, tapi nyatanya sengatan sinar matahari begitu kuat menampar wajah.

Rombongan kami, terutama yang tidak berenang dan beberapa crew, menikmati ngobrol ngalur ngidul sambil sesekali pindah tempat sana sini, mencari posisi duduk yang strategis (baca: terhindar dari sengatan sinar matahari) dan tentu saja ujung batu yang bersahabat alias tidak lancip untuk diduduki hahahaha.  Kami membawa beberapa termos besar berisikan bekal (pisang rebus, dll) sambil asik membakar ikan untuk disantap siang itu.

Awalnya saya segan turun dari boat.  Selain karena tidak mempersiapkan diri dengan konstum yang pas untuk basah-basahan, saya merasa masih berhutang banyak foto-foto.  Tapi panas yang terperangkap di dalam boat, membuat saya sesak nafas dan berasa sauna.  Duduk di atap boat juga sudah tidak nyaman karena jarum jam sudah bertengger di tengah hari.  Akhirnya terpaksa nyebur juga hahahaha.  Nyebur bukan untuk berenang tapi karena boat terparkir agak jauh dari bibir pantai dan tidak ada anjungan untuk naik turun tanpa basah.

Failonga. Photo taken by Annie Nugraha
Failonga. Photo taken by Annie Nugraha

 

Me and Beautiful Failonga. Photo taken by Me. Thanks to Xiaomi Redmi Pro 3

Menikmati pembicaraan ngalor ngidul dipenuhi gelak tawa, saya sempat tertegun ketika diceritakan bahwa di Failonga ada 3 kuburan JERE.  Sebutan untuk orang yang berilmu tinggi di Tidore.  Mereka memindahkan jazadnya sendiri ke pulau ini ketika mereka wafat.  Haa?? Saya yang saat itu lagi makan nasi, mendadak berasa seret di tenggorokan.  Jadi mereka tidak dikuburkan orang lain? Teman saya pun mengangguk sambil tertawa-tawa melihat saya melongo.  Dan menurut cerita yang lain, saking saktinya Jere, mereka malah pernah memesankan ikan dan beras di pasar untuk dikirimkan kepada keluarga mereka yang kekurangan.  Ketika semua diantarkan ke rumah yang dituju, semua mendadak menjerit ketika si penjual dan yang ngantar diberitahu bahwa yang beli sudah almarhum.  Mata saya tambah mendelik.  Penasaran, ketika pulang ke penginapan, saya bertanya kepada Bapak/Ibu pemilik rumah, daaaaannn saya mendapatkan cerita yang sama sodara-sodara.  Alamak.  Mendadak kebelet pipis. Semua teriak kompak “Suddaaaahh…kencingkan aja laut” hahahahaha

Failonga. Photo taken by Annie Nugraha

Waktu sudah menunjukkan Pkl. 15:00 WIT ketika semua tersadar akan saatnya pulang.  Semua tampak lebih legam dari ketika datang hahaahaha.  Tapi senyum mengembang dari bibir masing-masing kecuali ketika tiba saatnya kami balik ke speed boat.  Karena tidak ada anjungan, kami terpaksa berenang menuju bagian belakang perahu dan berusaha memanjat dengan mengandalkan uluran tangan crew yang berada di perahu.  Air yang tingginya sudah sedada saya, membuat badan semakin susah diangkat.  Tidak adanya tangga atau pijakan, acara naik perahu menjadi drama bagi semua orang.  Saya basah kuyup sampai ke muka, sementara teman saya harus melerakan 2 handphonenya rusak karena terendam.  Sepertinya Failonga harus bikin anjungan kayu  nih supaya proses naik turun perahu lebih gampang.  Apalagi jika ditambah gubuk-gubuk kecil yang bertengger manis di bibir pantai.  Asik bener tuh pasti.  Selain jadi lebih nyaman memandangi laut, menikmati bekal (karena jelas gak ada warung di sana), juga bisa jadi home-base sambil bawa tiker, bantal dan guling.  Sepakat?

Beberapa usulan untuk teman-teman yang ingin berkunjung ke Failonga: Fisik dalam kondisi sehat, Menggunakan pakaian renang yang ringan (baik bagi yang ingin snorkling/diving dan hanya duduk-duduk menikmati alam) karena tidak adanya anjungan kita sudah pasti basah-basahan, Menggunakan SUN BLOCK dengan angka tertinggi di seluruh badan setidaknya 30menit sebelum berangkat, Membawa bekal makan dan minum (terutama) karena di sana tidak ada warung, Menggunakan alas sandal gunung atau sepatu khusus snorkling/diving,  Untuk foto-foto lebih baik menggunakan Action Camera karena kemungkinan tercebur itu tinggi sekali, Jika membawa HP dsb. pastikan tercover dengan bungkus anti air

 

 

Facebook Comment