Februari 2017

Sudah berhari-hari, bahkan selama kunjungan saya pada akhir Januari sampai 4 Februari 2017, hujan selalu turun menyapu panas yang biasanya menyelimuti Bali.  Tumben-tumbenan seperti ini.  Memang sih udara jadi adem, leher gak kering, dan bikin enak tidur sama makan.  Tapi bagi wisatawan yang ke sini untuk wisata outdoor, otomatis jadi bete berat karena gak bisa kemana-mana.

Menghabiskan waktu sekian banyak di Penglipuran dan nongkrong menikmati lezatnya bebek garing di Ubud, sepanjang perjalanan balik ke Denpasar, lagi-lagi disambut dengan hujan berkepanjangan.  Kami pun terkantuk-kantuk di dalam mobil.  Selain karena udara dingin mendukung, perut kenyang sepertinya jadi penyebab akut mata sulit untuk diajak melek.  Untuk saya yang suka banget mengenali setiap jengkal jalan, menelusuri jalur-jalur sempit alias jalan tikus, jadi hiburan tersendiri.  Tapi ini tidak berlaku untuk ke-2 penumpang di belakang hahahahaha.  Gelar pelor alias nempel molor tidak terkalahkan oleh apapun dan dimanapun.  Hidup pelor!!

Menyiasati keinginan agar tetap (bisa) rekreasi di tengah cuaca begini, akhirnya kami memutuskan untuk mengunjungi DREAM MUSEUM ZONE (DMZ) 3D TRICK ART yang berlokasi di Jl. Nakula No. 33X, Legian.  Hujanpun semakin menggila.  Bahkan ketika kami sampai di DMZ, ditambah dengan bonus angin kencang yang bikin kami berlarian keluar dari mobil.  Berbarengan dengan kedatangan kami, muncul beberapa bis, segede truk gandeng, membawa rombongan ABG se kecamatan.  Alamak.  Tuh kaaann orang-orang jadi berhamburan menikmati wisata indoor gegara hujan.  Wes aaahh daripada bertumpuk kek sarden, mending kami ngunyah aja dulu di restoran yang menjadi satu dengan DMZ (di parkiran depan).

Entah emang dasarnya perut laper terbawa suasana dingin apa memang hobi makan, restoran yang lebih mirip kantin dengan tampilan ecek-ecek ini, ternyata enak bener masakannya. Walaupun penamaan alias judul makanannya hiperbola hahahaha, endesnya setara dengan cafe bermerk.  Saya memesan semangkok mie ala Korea (ditulis dengan nama Korea), tapi begitu mangkoknya mendarat di depan saya, ealahdalah tampilannya persis sis sama indomie ayam goreng dengan kuah nyemek-nyemek plus sayuran dipotong tipis-tipis dan 1 buah telor rebus yang dibelah dua.  Kami mendadak ngakak gak berujung.  Taaappiii eeettssss, begitu dikunyah lah kok enak yak.  Ttuuhhh kaaaan.  Again.  Don’t judge the book by it’s cover.  Catet yak!!

Selesai ngasih makan para naga yang ngendon di perut dan melihat antrian sudah berkurang, kami pun segera memasuki museum.  Tiket seharga 100K untuk para pemegang KTP kami berikan kepada Mbak2 yang menjaga pintu masuk.  Sandal/sepatu dilepaskan yang ketika kami pulang sudah berjejer dengan rapih di pintu keluar.  Kami pun siap menjelajah setiap sudut.  Berikut adalah foto-foto keseruan kami selama berada di dalam.

 

 

Buat yang bepergian sendirian, jangan khawatir.  Di dalam museum banyak petugas yang akan membantu menjepretkan kamera untuk Anda.  Mereka ini bahkan memberikan pengarahan pose-pose yang pas untuk setiap lukisan.  Apalagi ketika kita ingin difoto bareng dengan teman-teman seperjalanan, mbak-mbak ini akan dengan senang hati mengabadikan dan mengarahkan kita.  Mau jepret sendiri? DMZ menyediakan foto-foto yang dapat kita contoh posenya.  Di lantai juga diberikan petunjuk arah/sudut foto yang pas untuk tempat berdiri mengambil gambar.  Sangat komunikatif dan menolong banget.

 

Ada beberapa spot yang pas untuk foto sendiri, tapi banyak juga lukisan yang justru lebih bagus kalo difoto beramai-ramai.  Foto keroyokan terkadang lebih pas dengan suasana yang diciptakan oleh pelukisnya.

Berikut ini adalah salah satu foto yang paling saya sukai.  Arahan dan jepretan petugas pas banget.  Kesan “terperangkap” di dalam botol yang hanyutnya dapet banget.  Ekspresi kamipun menyatu dengan konsep foto.

Sekedar sedikit tambahan informasi untuk para pengunjung DMZ, di setiap titik foto, hendaknya berdiri di atas petunjuk arah foto berbentuk panah.  Atur pengambilan foto dari point tersebut dari berbagai sudut, seperti dari atas kepala (posisi tinggi), searah mata, dan dari sisi bawah.  Karena ada beberapa lukisan yang tidak selalu bagus jika dipotret sejajar tubuh.  Contohnya adalah foto saya yang sedang memegang kamera seperti sedang menahan jatuhnya batu.  Foto saya ini diambil oleh seorang teman dengan posisi sejajar, sementara ketika saya yang mengambil foto teman yang lain, saya berjongkok.  Posisi memfoto jongkok ini akhirnya membuat hasilnya jauh lebih bagus.  Kesan menahan batu yang menonjol itu lebih terlihat. Mari kita lihat perbandingannya berikut

 

Selain posisi mengambil foto yang tepat,  kunci sukses lainnya jika berfoto di 3D Art adalah gak usah jaim.  Lukisan 3D bukan obyek photography untuk mereka yang ngadalin kecantikan atau kegantengan muka.  Foto nya akan lebih jadi, kalo kita berekspresi lepas dan sesuai dengan konsep lukisan.  Percuma cengar cengir jaim tapi hasilnya gak sesuai dengan konsep 3D.  Ada saatnya gila-gilaan, tapi ada juga saatnya mengikuti cerita lukisan.  Jadi kalo lukisannya menceritakan tentang jurang yang menjebak kita, yah otomatis kita menunjukkan ekspresi ketakutan.  Sementara kalo lukisannya menceritakan tentang dapet harta, ya tunjukkan aja ekspresi senang atau kaget karen mendadak dapat duit banyak. Begono…..

Oia ada satu lagi nih yang penting.  Kalau memang berencana ke studio 3D, sebaiknya mengenakan baju 1 warna solid yang terang tanpa motif (garis-garis, bunga-bunga, atau batik).  Kenakan celana jeans biru dengan baju kuning, merah, atau biru misalnya.  Saya sempat melihat beberapa pengunjung dengan kostum begini dan mengintip hasil fotonya.  Beneran hasilnya jadi lebih maksimal.  Warna solid menjadikan kita menyatu dengan cat lukisan.  Dari seluruh obyek foto yang saya liat, sebagian besar bernuansa biru dan warna-warna tanah.  Jadi selain biru, mungkin yang menyatu itu adalah coklat terang dan hijau gelap.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DMZ Bali yang buka mulai pkl. 09:00 wita dan tutup sekitar pkl. 22:00 wita ini melarang para pengunjung untuk membawa makanan dan minuman selama menjelajah dalam museum.  Untuk mengantisipasi kehausan dan kelaparan, DMZ menyediakan cafe kecil yang berada di titik akhir museum, dekat pintu keluar.  Saya sempat mencoba ice cream durian (sejenis ice cream yoghurt).  Iiisss enak banget ternyata.  Harga 25K/potong nyatanya terlalu murah untuk sepotong penghibur tenggorokan yang endes luar binasa hahahahaha (dasar tukang jajan).

 

 

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here