Langit cerah (((baca: panas))) menyambut kami ketika terbangun pagi itu.  Ngobrol sampai lewat tengah malam, nyatanya gak bisa menahan antusiasme kami untuk segera bersiap-siap menjadi saksi sejarah event Gedung Batin Bamboo Rafting 2017.  Mbak Lita, tuan rumah kami, tampak sigap membelikan sarapan lontong sayur untuk kami berlima yang sudah cantik dan gagah (((gagah))) mengenakan seragam putih yang diberikan oleh panitia acara.  This is the day.  Let’s go!!

 

 

Sekilas Mengenai Gedung Batin Bamboo Rafting 2017

Bamboo rafting di Oktober 2017 sejatinya adalah rafting ke-2 setelah peresmiannya pada April 2017.  Wisata petualangan air yang satu ini mengajak kita menyusuri Way Besay, sungai yang mengelilingi Gedung Batin, sepanjang 4.2km.  Dengan titik start jembatan gantung Dusun Tiga Serangkai, mengapung dengan bambu akan berakhir di Kampung Wisata Gedung Batin.

Diselenggarakan oleh Kementrian Pariwisata Republik Indonesia dan Pemerintah Daerah Kabupaten Way Kanan, acara ini didukung oleh beberapa komunitas seperti K@wan (Komunitas Wisata Way Kanan), GenPi Way Kanan, MTMA Way Kanan, Fun Bike XC, dan Trail Track Adventure.  Sementara peserta-peserta rafting adalah komunitas komunitas penggerak pariwisata nasional, blogger, vlogger, wisatawan manca negara, dan beberapa undangan lainnya.

Para wisatawan manca negara yang sehari sebelumnya tiba hampir bersamaan dengan kami, sengaja diinapkan di rumah Pak Ali yang berada di Gedung Batin.  Mereka diajak untuk melihat dan merasakan berada di tengah-tengah sebuah kampung dengan rumah-rumah kayu yang sudah berusia ratusan tahun, sebelum keesokan harinya bergabung dengan peserta rafting dari berbagai kelompok.  Sementara beberapa undangan lainnya, termasuk Rien dan Ika yang mewakili kami berlima, langsung menuju Dusun Tiga Serangkai.

 

Jalan masuk menuju jembatan gantung Dusun Tiga Serangkai

 

WAY KANAN dan Pengembangan Pariwisata

Melengkapi 3A persyaratan utama sebuah destinasi wisata yaitu Atraksi, Aksesibilitas, dan Amenitis, Gedung Batin telah banyak berbenah diri untuk memenuhi standard kualitas ini.

Untuk poin ATRAKSI.  Way Kanan selain mempromosikan Bamboo Rafting, juga memiliki berberapa destinasi wisata sarat atraksi sebagai berikut:

  1. Air terjun PUTRI MALU yang berada di Jukuh Batu.  Selain air terjun Putri Malu yang sudah diliput oleh My Trip My Adventure, Jukuh Batu juga memiliki TRAIL ADVENTURE, PEMANDIAN AIR PANAS dan arung jeram dengan grade III;
  2. Air terjun KERETA dan ATRAKSI PERAHU di Rambang Jaya;
  3. Kampung Wisata GEDUNG BATIN sebagai Kampung Wisata Lestari dengan wisata sejarah, budaya, bamboo rafting dan tubing dengan grade I;
  4. BANJAR MASIN yang juga menjadi jalur Bamboo Rafting dan memiliki air terjun Bukit Salju;
  5. Air terjun KINCIRAN yang berada di kampung wisata BENGKULU TENGAH;
  6. Kampung Wisata SUKA NEGERI dengan obyek wisata air terjun ANGGAL dan rest area yang menghubungan Way Kanan dengan Lampung Utara

AKSESABILITAS.  Untuk mencapai berbagai tempat wisata ini, pemerintah daerah Way Kanan telah secara konsisten membangun dan memperbaiki jalan/akses, agar para wisatawan dapat dengan mudah dan nyaman mencapai tempat-tempat ini.

Salah satu contoh perubahan yang sangat terasa di kunjungan saya yang ke-2 ke Way Kanan ini adalah pembangunan jalan aspal menuju Kampung Wisata Gedung Batin.  Jalan tampak sangat tertata rapih dan leluasa untuk dilalui.  Saya sempat menikmati langit biru terpadu cantik dengan pohon-pohon di kebun karet yang mengiringi setiap detik kekaguman sepanjang jalan menuju Gedung Batin.  Sepertinya semesta memberikan restu kepada saya untuk berada kembali di tempat bersejarah ini dengan cuaca cerah dan tumpukan perubahan untuk saya nikmati.

Jalan aspal yang mulus dengan pemandangan kebun karet menuju Gedung Batin
Indah birunya langit cerah yang berpadupadan dengan pohon karet

Jarak 7.2km dari jalur lintas trans Sumatera menuju Gedung Batin menjadi pemandangan indah khas perkampungan.  Selain kita bisa mengendarai mobil, untuk mencapai Gedung Batin kita dapat menggunakan kereta api yang berjarak 30menit dari Blambangan Umpu atau 40menit dari bandara Gatot Soebroto di Kecamatan Way Tuba.

Hanya sedikit catatan tambahan untuk Pemda Way Kanan, agar memasang/mendirikan beberapa petunjuk arah mulai dari belokan pertama jalan trans Sumatra hingga beberapa titik persimpangan jalan menuju Gedung Batin.  Hal ini akan sangat membantu wisatawan non-Way Kanan untuk mencapai kampung wisata ini tanpa hambatan (baca: enggak nyasar)

Poin terakhir adalah AMENITAS.  Melengkapi ke-2 syarat layaknya sebuah destinasi wisata berkualitas, di Gedung Batin kita dapat melihat Pusat Informasi Pariwisata, jalan setapak pedestrian, kamar mandi dan ruang ganti, mushola, beberapa gazebo untuk pengunjung, kios pedagang (mulai dari kerajinan tangan, makanan, minuman), taman bermain anak, dan area parkir.  Dalam waktu dekat juga akan dibangun gerbang masuk, menara pandang, dermaga tubing dan rafting, theater terbuka dan pergudangan peralatan untuk pemeliharaan.

Baca juga:  GEDUNG BATIN | Ketika Rangkaian Perubahan Membawa Timbunan Kebaikan | Bagian 1

 

GEDUNG BATIN BAMBOO RAFTING

Seperti yang sudah diatur oleh penyelenggara, 2 dari 5 cewek-cewek keceh badai ini  (((gibas jilbab))) akan dibiarkan terbawa arus sebagai peserta bamboo rafting.  Saya yang pernah mengalami kendang (baca: hanyut) di sungai sepanjang 10km, Dian dan Rian, lebih memilih untuk bernostalgia dan menjelajah Gedung Batin.  Iya dong.  Kudu ada yang tetap menginjak tanah untuk memotret para peserta rafting yang tampak heboh disambit eh disambut oleh masyarakat yang sudah berkumpul di titik akhir.

Jadi sambil menunggu gerombolan sukaria ngapung di Way Besay, kami menikmati waktu-waktu berkeliling (kembali) dan menyaksikan “wajah baru” Kampung Wisata Lestari Gedung Batin.

Sesuai kesepakatan bersama, kami memutuskan untuk berziarah ke makam Siti Fatimah.  Makam tua tahun 1305 yang berada tidak jauh dari sungai Way Besay.  Informasi terbaru yang saya dapatkan, beliau adalah seorang pedagang dari Turki yang berbisnis sambil menyebarkan agama Islam.  Hal ini dikuatkan dengan nisan yang berornamen Timur Tengah dengan tulisan Arab gundul di bagian pucuknya.  Ketika pertama kali saya “menyapa” Siti Fatimah, kuburan beliau dikelilingi oleh tanaman-tanaman liar yang sering menjadi santapan hewan-hewan peliharaan.  Tapi saat ini, pemda Way Kanan telah membangun jalan setapak dan merapihkan lokasi serta lingkungan sekitar, sehingga kesan angker dan terbengkalai sudah tidak tampak sama sekali.

Saya datang kembali wahai Siti Fatimah

Selesai berziarah, kami mengelilingi beberapa rumah yang berada tidak jauh dari rumah Ibu Devi, Kepala Desa Gedung Batin.  Pemandangan sekitar pun menjadi sesuatu yang tidak biasa.  Dulu kampung ini begitu sepi dan jarang sekali mendapatkan pengunjung, bahkan oleh warga Way Kanan.  Sekarang, tak jauh dari tempat kami memotret, puluhan mobil dan motor terparkir rapih.  Berderet.  Jalan di tengah kampung yang dulunya hanya berupa tanah berbatu koral, sekarang sudah teraspal dan sempat macet saking banyaknya kendaraan yang mondar mandir.  Acara Bamboo Rafting ternyata sudah menyedot sekian ratus orang untuk berwisata.  Luar biasa!!

 

Langit cerah di tengah Kampung Gedung Batin. Semesta menyambut kemeriahan acara Bamboo Rafting Oktober 2017

Tak ingin menyianyiakan waktu, di tengah padatnya pengunjung, saya memutuskan untuk melangkah ke bagian belakang kampung.  Di sini jalan setapak juga sudah dibangun, sehingga rumah kayu yang paling dekat ke sungai tampak terlihat berdiri berdampingan dengan bangunan-bangunan baru, seperti Pusat Informasi Wisata, Musholla, MCK, dan signage Kampung Wisata Gedung Batin.  Signage ini tampak menarik dengan ornamen huruf dan warna yang beragam dan menjadi identitas keberadaan kampung.

Mampirlah ke : Berwisata ke Way Kanan Semakin Asyik

Beberapa langkah dari tempat ini, nyali kita diuji untuk melewati sebuah jembatan kayu, berada di atas derasnya arus Way Besay.  Dulu untuk mencapai jembatan ini, saya harus melewati hutan kecil dan tanaman-tanaman tinggi.  Tapi sekarang (Oktober 2017) setiap inci jalan keliatan begitu humanis dengan pemandangan yang memanjakan mata.  Kalo ditanami bunga warna-warni sepertinya bakal lebih cantik nih.

Saya menunggu Dian dan Rian untuk nyebrang bareng.  Beberapa motor tampak ikut meramaikan acara melintas 2 daratan dan gak mau kalah bersegera meluncur di atas jembatan.  Setiap pijakan jadi semakin bergoyang-goyang kuat dan membuat para pejalan memegang erat besi penyanggah.  Ddduuhhh mental, dengkul dan kaki saya mendadak dangdut jogat joget.  Sumpah.  Jangan sampai pengalaman hanyut di sungai terulang lagi di umur setua ini.  Malu sama bendera putih  (((kibas-kibas))).

Tereakan heboh saya agar motor tidak meluncur bareng kami ternyata tidak diindahkan.  Jadilah beberapa menit saya memutuskan untuk pasrah dan merasakan goyangan gempa 3 skala reichter sambil mulut komat kamit semoga kayu-kayu pijakan tidak mendadak runtuh.  Maka atas nama dunia dan Siti Fatimah, saya menamakan jembatan ini sebagai JEMBATAN JOGET GEDUNG BATIN.

Jembatan Joget Gedung Batin

Awalnya, kalo tidak mendadak “manggung joget” di atas jembatan, saya sudah nawaitu kuat untuk memotret kemeriahan titik finish bamboo rafting dari tengah-tengah jembatan. Melihat betapa serunya umbul-umbul berkibar-kibar, jejeritan anak-anak yang diajak berperahu mondar-mandir dan warung es yang menggantung minuman bubuk dengan berbagai merk, dari atas jembatan, rasanya pengen nggeplak helm pemotor yang barusan lewat dan sudah sukses menggagalkan rencana saya.

Tapi ya sutralah.  Pada akhirnya acara berkeliling taman wisata ini akhirnya membuahkan puluhan sukacita di hati saya.  Tampak wajah-wajah polos penuh kegembiraan dari segala usia.  Tersedianya wahana bermain untuk anak-anak yang keliatan sekali begitu dinikmati. Jeritan-jeritan kecil berdiri dan tercebur di pinggir sungai.  Sapaan para pedagang kecil yang menjajakan gorengan dan minuman dingin.  Dan tentu saja sekelompok biduan yang asyik bernyanyi lagu-lagu daerah diiringi dengan keyboard, sambil mengenakan kain tapis, kain identitas Provinsi Lampung.

 

Sambil menikmati aura kebahagiaan dari sekian banyak warga yang berada di sini, saya merasakan hal sama ketika bertemu dengan sebuah pondokan yang memamerkan beberapa handicraft ciri khas Lampung (clutch, bros, dll), kain tapis dengan rancangan yang berbeda-beda, makanan kecil produksi Lampung, dan Kopi Putri Malu.  Sayang ketika saya berada di sana, petugasnya sedang tidak ditempat sehingga tidak bisa ikut mencicipi kopi ini.

 

Belum selesai rasa sukacita melihat apa yang disajikan selama acara berlangsung, saya dibuat sangat terkesan dengan kehadiran mobil (Perpustakaan Keliling) yang membawa puluhan (mungkin ratusan) buku dengan berbagai tema.  Saya pun mendekat bersama dengan beberapa anak-anak yang tampak bingung memilih sekian banyak buku bertebaran di dekat mobil.

Seandainya ya di atas rumput ini digelar tikar, dudukan senderan, dan bantalan empuk, waaahh bisa terpekur berjam-jam membaca sambil ditemani minuman dingin bergelas-gelas dan aneka gorengan berbagai rasa.  Salut untuk seluruh tim penyelenggara yang masih sempat memikirkan gerakan Mari Membaca untuk melengkapi semua kebutuhan masyarakat selama berwisata.

Ingat loh, membaca adalah jendela dunia dan buku adalah sumur ilmu pengetahuan.  Pengen tetap bermutu dan kuat bersaing dijaman now, yok biasakan dan support diri sendiri untuk giat membaca buku.  Pengen anak-anak kita mencintai buku ketimbang gadget? Mari kita mulai dari kita sebagai orang tua.  Memberikan contoh bukan menggurui.  Mengajarkan tapi bukan memaksakan.

Mobil Perpustakaan Keliling milik Pemda Way Kanan

Sambil menunggu jamaah bamboo rafting yang belum juga sampai, saya menyempatkan diri berkumpul dengan para penggiat wisata atau Komunitas Wisata Way Kanan (K@wan).  Obrolan-obrolan akrab terbangun, tertawa, diskusi, dengan sesekali diisi oleh jeritan nyanyian bapak-bapak yang keliatan berjuang bernyanyi sekuat-kuatnya.  Mungkin sedang latihan untuk rekaman.  Biarlah.  Walaupun kuping sering tergelitik dengan nada sumbang atau cekikan leher karena kasih (baca: nada) yang tak sampai, kenekatan bapak-bapak ini patut diacungi jempol.

Menghibur diri sendiri karena diterjang panas yang tanpa ampun, saya minum bergelas-gelas air es.  Satu-satu pedagang emperan saya hampiri sambil langsung meneguk segelas minuman dingin dengan gelas yang tampak kemringet embun.

“Banyak yang beli ya Bu,” mulut iseng usil bertanya.  “Iya Bu, ramai orang beli.  Sering-seringlah adakan acara-acara seperti ini, biar saya terus bisa dagang”.

Saya pun mengacungkan jempol sambil menenggak bir, eh salah, minuman dingin.  Melirik ke kaos seragam yang saya pakai, mendadak saya paham alasan si Ibu ngomong begitu ke saya.

“Ibu dari Jakarta ya?”.  Saya pun gelagapan mengangguk tanpa suara. “Sering-seringlah main ke Way Kanan.  Liat Gedung Batin nih.  Sudah cantik sekarang”.  Senyum sayapun mengembang.  Begini loh apa yang dirasakan masyarakat.  Ungkapan kebanggaan yang meluncur dari hati, dari seorang rakyat, yang merasakan timbunan manfaat dari rangkaian perubahan yang konsisten dilakukan oleh pemerintah daerah Way Kanan.

Percakapan singkatpun terhenti ketika terdengar jejeritan riang menyambut beberapa peserta bamboo rafting yang mulai berdatangan satu persatu.  Teriakan heboh paling gemuruh ketika mereka melihat wisman.  Lambaian tangan keramahan pun mengiringi kalimat “Halo Mister” yang berulang kali keluar dari mulut mereka.  Bak artis yang sedang populer, beberapa wisman pun membalas lambaian para fans yang sudah berjam-jam berdiri di pinggiran sungai.  Dan saya pun ngakak kecil ketika salah seorang dari mereka membalas dengan teriakan “Haalloooo….I love Indonesia.  Terimakasih”.  Akuuurrr.  Daaan akhirnya merekapun kewalahan melayani permintaan foto bertubi-tubi setelahnya.

 

 

Baca juga : Bamboo Rafting Seru di Gedung Batin Way Kanan

Rangkaian acara basah-basahan kemudian ditutup dengan makan bersama di rumah Ibu Devi, Kepala Desa/Kampung Gedung Batin bersama Bapak Wakil Bupati.  Makan siang ini tambah seru karena Pak WalBup merayakan ulang tahun di hari yang sama.  Jadi suasana heboh pun tidak terhindarkan.

Terimakasih untuk Pemerintah Daerah Way Kanan, Bapak Bupati Raden Adipati Adisurya,  Wan Yazeed beserta seluruh anggota K@wan, dan semua pihak yang telah memungkinkan saya untuk hadir kembali di Gedung Batin, menjadi saksi sejarah keberadaan Bamboo Rafting yang sekarang telah resmi sebagai salah satu andalan kegiatan wisata di Way Kanan.

Beberapa cerita mengenai Way Kanan dan Gedung Batin Bamboo Rafting, bisa juga dibaca di beberapa tulisan berikut:

  1. Kuliner Pijok Pijok Khas Way Kanan
  2. Bamboo Rafting Bikin Way Kanan Semakin Asyik
  3. Menikmati Perjalanan ke Way Kanan Lampung
  4. Kemeriahan Bamboo Rafting di Way Kanan

Ingin merasakan keseruan berbamboo rafting di Way Kanan? Adalah loh paket wisatanya.  Silahkan hubungi beberapa nara hubung yang ada di flyer berikut ini:

 

 

 

 

Facebook Comment