Salah satu cara untuk lebih mengenal keunikan sebuah kota/tempat itu adalah dengan mengunjungi PASAR TRADISIONAL nya.  Di pasar, seringkali kita menemukan jualan-jualan suatu daerah yang tidak ada di daerah lain.  Bahkan mungkin berupa kebiasaan yang berbeda dengan kebiasaan orang atau tempat lain.  Kalau boleh saya katakan, pasar telah menjadi salah satu “wajah” sebuah tempat/daerah selain obyek wisata.

Kata PASAR pun, walaupun sering dikonotasikan dengan penjualan barang-barang mentah, seperti sayur mayur dan buah-buahan, ternyata di beberapa daerah juga digunakan sebagai tempat penjualan produk kerajinan tangan.  Contohnya Pasar Bringharjo di Yogjakarta.  Selain memperdagangkan beberapa bahan mentah untuk makanan, pasar ini malah lebih dominan menjual batik dan produk-produk turunannya (tas, sepatu, baju, dll) plus beberapa warung sederhana yang siap melayani pelanggan di area yang sangat terbatas.

Hari ke-2 di Soasio, salah satu Kelurahan di Tidore Kepulauan, saya sengaja menyempatkan diri mengunjungi pasar tradisionalnya.  Pasar GOTO.  Itu namanya.  Lokasinya tidak jauh dari PANTAI TUGULUFA dan dibuka HANYA pada hari-hari pasar yaitu SELASA dan JUMAT.   Ukurannya tidak begitu besar jika dibandingkan dengan pasar-pasar lain yang pernah saya kunjungi.  Materi jualannya pun bercampur sana sini.  Nyaris 90% adalah produk basah.  10% sisanya adalah toko kelontong dan kerajinan tangan yang berada di sisi luar pasar.  Beberapa penjualnya adalah para perantauan dari Jawa yang mengadu nasib di Tidore yang mendadak seneng banget dapet tamu yang bisa berbahasa Jawa hahahaha.

Berikut adalah beberapa dagangan unik yang saya temukan di Pasar Goto:

SALLOI

Saya menempatkan SALLOI sebagai produk unik 1 karena tas punggung berbahan dasar bambu ini belum pernah terlihat di pasar manapun.  Dibuat mengikuti kontur punggung manusia, Salloi adalah tas ransel khas Tidore.  Bentuknya mengerucut ke bawah dengan ketinggian sekitar 40-50cm.  Ada tali berbahan janur di sisi kanan kiri layaknya ransel, dan tapak kaki di bagian bawah yang terbuat dari batang pohon nangka  Salloi seringkali digunakan untuk panen atau membawa hasil pertanian, seperti cengkeh, kenari, kopi, dll.

Lama saya mencoba mengamati alur anyamannya.  Semakin dilihat, semakin saya terkagum-kagum akan kerumitan pembuatannya.  Apalagi dengan bentuk yang tidak sama antara bagian atas dan bawah, tentunya ada rumus tersendiri supaya jalinan bambunya tetap rapih dan rapat. Luar biasa pokoknya.

Toko yang menjual Salloi ini berada di bagian depan Pasar.  Pemilik toko memang mengkhususkan diri berdagang materi-materi kerajinan tangan.  Selain Salloi, saya juga melihat sapu lidi yang panjangnya lebih dari biasa, ayakan beras berbentuk segi empat, gerabah, dll.  Tapi Salloi tetap menjadi andalan karena sepertinya, setelah berkeliling, saya tidak menemukan toko lain yang menjual Salloi.  Harga satuan Salloi adalah Rp 100.000,-.  Pantas untuk sebuah kriya yang rumit pembuatannya.

 

PISANG MULU (MULUT) BEBEK

Awalnya saya gak ngeh kalo pisang ini unik bentuknya.  Setelah tak amat-amati sedikit lebih lama, baru sadar kalo body pisang ini lebih langsing dari pisang-pisang biasa, terutama sisi ujung yang jauh lebih panjang.  Lengkungannya pun lebih meliuk dibandingkan dengan pisang biasa.  Jadi tidak salah kalau masyarakat setempat menamakan pisang ini sebagai Pisang Mulu/MulutBebek.

Keunikan lain mengenai pisang ini adalah tidak bisa dikupas melainkan dipotong-potong seperti ketika kita mengupas mangga.  Waktu konsumsi yang terbaik adalah ketika dalam kondisi mentah 3/4 matang.  Pisang dipotong tipis-tipis, dibuang kulitnya, baru setelah itu digoreng bagian dagingnya.  Warna kuning solid terlihat jelas ketika pisang ini sudah dihidangkan.  Dan karena dipotong tipis-tipis, terasa kriuk keripik di ujung lidah dengan tekstur daging yang sedikit kesat.

 

DAUN SALAM

Awalnya saya kira ini terompet kecil yang memang dipersiapkan untuk tahun baru 2017 hahahaha.  Secara, ketika berada di pasar ini, tahun baru hanya tinggal 5 hari ke depan.  Penjualnya lumayan banyak.  Jadi ketika tahu ini bukan terompet, saya mendadak ketawa sendiri.  Daun salam ternyata.  Daun sengaja diulir berbentuk terompet kecil kemudian dirangkai/diikat menyerupai topi kecil.  Setiap ikatan terdiri dari 12 sampai 14 lembar daun.

 

BIJI KENARI

Buah/biji kenari ini sering banget digunakan oleh masyarakat Tidore untuk menjadi campuran aneka masakan dan atau kue.  Bahkan untuk membuat sambal sekalipun, kenari sering digunakan sebagai pengganti kacang tanah.  Rasanya yang sangat gurih memberikan sentuhan yang berbeda di lidah.

Masyarakat Tidore percaya bahwa kenari memiliki khasiat yang sama dengan almond.  Menyehatkan badan dan rendah kolesterol.

Untuk yang suka camilan dominan kacang.  Kenari biasanya dibikin HALUA.  Itu loh keripik kacang yang dicampur dengan gula aren.  Seperti peyek kacang kecil tapi isinya dominan kacang ketimbang terigu.  Kalau sudah makan ini, dijamin bisa lupa daratan inget lautan.  Apalagi kalau sambil nonton tivi.  Aeeehh selesai sudah urusan dunia.

Makanan lain yang wajib berbahan dasar kenari adalah LAPIS TIDORE.  Bolu 3 tumpuk yang diantaranya dioleskan kenari yang sudah diolah menjadi selai bercampur padan untuk menimbulkan efek wangi.

 

SAGU BALOK dari POHON SAGU

Sagu di Tidore dibuat dari 2 bahan baku.  Yang pertama adalah dari pohon sagu.  Yang kedua adalah dari bubuk/parutan Singkong.  Foto di atas adalah sagu yang berasal dari pohonnya.  Dipadatkan dan dijual per balok.  Sagu jenis ini biasanya diolah menjadi Papeda atau Popeda, yang memang menjadi makanan pokok khas Maluku, sebagai pengganti beras atau jagung.

Mengkonsumsi Papeda/Popeda adalah paling pas ketika masih panas.  Sagunya masih dalam kondisi ditarik-tarik dan bisa diplintir-plintir.  Cara makannya itu yang seru hahaha.  Tapi kalau sudah dingin, Papeda/Popeda akan berubah seperti agar-agar dan bisa dipotong-potong hingga kecil.

Sebagai makanan pokok, sagu bisa dimakan dengan lauk apapun.  Paling sering sih ditemani oleh ikan bumbu kuah kuning.  Rasa sagu yang plain terisi dengan gurihnya kuah ikan dan daging ikan itu sendiri.

Untuk sagu parutan singkong dan kue-kue khas Tidore akan saya bahas dalam tulisan terpisah.

 

NGADI

3 tumpukan tampah teratas itu yang disebut Ngadi.  Tampah segiempat yang terbuat dari bambu dan biasa digunakan untuk membersihkan sayur dan kegiatan-kegiatan memasak lainnya.  Celah anyaman bambu yang menjadi dasar dari Ngadi ini, bisa untuk menjadi saringan air.  Karena itu Ngadi juga dapat digunakan untuk mencuci beras dan bahan-bahan memasak lainnya.

Ngadi biasanya dijual dalam ukuran besar sekitar 50x50cm dengan sisi-sisi yang agak tinggi.  Mungkin supaya daya tampungnya jadi lebih banyak.

 

ROKOK LINTING TRADISIONAL

Gampang untuk mengenali tembakau kering jika dijembreng.  Baunya sangat khas tercium oleh kita.  Yang bikin menarik adalah tembakau ini dibungkus oleh daun kolang kaling muda.  Langka banget menemukan rokok linting jaman sekarang.  Bahkan mungkin nyaris punah.

 

SPATULA SENG

Buat yang hobi memasak, spatula atau stick penggorengan, pastinya adalah salah satu “alat perang” yang wajib punya.  Kalau biasanya spatula dikasih bolongan-bolongan kecil atau panjang-panjang untuk mengikis minyak goreng, spatula yang dijual di Pasar Goto ini berbeda.  Ujungnya full terbuat dari seng yang dibentuk seperti cekungan.  Kemudian disambung dengan handle kayu sepanjang 50cm.  Jadi buat mereka-mereka yang trauma kecipratan minyak goreng panas, spatula ini bisa jadi solusi yang jitu hahahaha.

 

Last But Not Least.  Yang tidak boleh terlupakan adalah BENTOR

Di daerah manapun, yang nama kendaraan tradisional, parkir terbanyak adalah di seputaran Pasar.  Bentor atau Becak Motor, ada beberapa versi di berbagai provinsi di Indonesia.  Di Tidore keunikan bentornya adalah didorong oleh motor matic 250cc, beratap seperti papan selancar tapi lebih melengkung, 4 lampu sorot di masing-masing sisi tempat duduk dan yang paling penting adalah dilengkapi dengan sound-system hingar bingar layaknya sedang clubbing di night-club.  Jangan salah, suara yang memekakkan telinga justru dianggap sebagai hiburan dan bukan gangguan bagi masyarakat dan situasi kota kecil yang sepi.

Mau merasakan jalan-jalan ke pasar Goto, berinteraksi dengan para pedagang dan berjalan-jalan di sekitar pasar atau naik bentor ke pantai Tugulufa? Hubungi kami ya

Anita Gathmir – 0815.1433.7014, Gathmir – 0816.829.959, Annie Nugraha – 0811.108582

Emails: anitagathmir99@gmail.com, gathmir@yahoo.com, annie.nugraha@gmail.com, visittidore@gmail.com

Facebook Comment