Ngamen Perdana di Macao

Gawai saya berdering beberapa kali sore itu. Ramai berbunyi tanpa henti. Serangkaian pesan masuk melalui WAG (Whatsapp Group) dari seorang local staff Konsulat Jendral Republik Indonesia di Hong Kong. Mbak Anna, personal yang dimaksud, mengajukan sebuah proposal kepada kami, para UKM, yang tergabung di dalam WAG ini, untuk mengikuti event Guangdong & Macao Branded Product Fair 2019 yang rencananya akan diadakan di The Venetian Macao pada 26-28 Juli 2019.

Saya bersegera menjawab tawaran Mbak Anna dengan meminta beliau mengirimkan proposal event yang sedang didiskusikan. Seperti biasa, sebelum meng-iya-kan tawaran ngamen di luar negri dari institusi pemerintah, saya selalu meminta waktu khusus untuk mempelajari semua hal yang (akan) terkait dengan event yang bersangkutan. Seperti contohnya pembiayaan yang harus ditanggung secara mandiri, koordinasi produksi internal dengan teman-teman yang bernaung di bawah jenama produk perhiasan saya, FIBI Jewelry, serta menggali info sebanyak mungkin tentang market share produk perhiasan di negara/kota dimana pameran akan berlangsung, terutama dari teman-teman yang sudah pernah mengikuti acara yang sama.

Jika tempat yang dituju baru pertamakalinya didatangi, PR untuk mengerjakan hal-hal tersebut di atas menjadi pekerjaan ekstra yang membutuhkan lebih banyak waktu (time consuming), pikiran, dan tenaga. Terutama, tentu saja soal operational cost yang sebisa mungkin tidak meleset lebih dari 20% dari perkiraan, serta mengatur full engine untuk memproduksi dan membawa produk dengan design dan acceptable pricing range yang akan ditawarkan kepada (calon) konsumen.

Berhasil mengumpulkan semua informasi dan dukungan yang dibutuhkan, akhirnya keputusan untuk bergabung pun sudah bulat ditetapkan. Macao. Belasan kali hanya mendengarkan cerita tentang negri kecil ini dan sempat menolak beberapa tawaran untuk nyebrang dari Hong Kong, akhirnya nasib dan sebuah kesempatan membawa saya mencoba peruntungan berdagang di kota kasino terfenomenal di Asia untuk pertama kalinya.

From Jakarta to Macao

Menyesuaikan dana yang tersedia plus menambah pengalaman terbang menuju Hong Kong, kali ini saya mencoba menggunakan jasa Malindo Air. Sempat meragukan ketepatan keberangkatan yang menjadi momok dari grup yang menaunginya, ternyata jadwal kami, saya dan Ratu, sepagian itu tak mengalami penundaan sama sekali. Jatah bagasi 20kg/orang kami maksimalkan khusus untuk dagangan dan peralatan pelengkap pameran. Sementara untuk pakaian dipadatkan ke koper kecil cabin.

How was Malindo’s service? So far so good menurut saya sih. Gak ada yang istimewa pun mengecewakan. Bolehlah untuk long leg flight sekelas low cost carrier. I had no complaint kecuali ruang tunggu di KLIA yang minim tempat duduk untuk connecting flight kami saat itu. Kalaupun ada, banyak emak-emak yang dengan egoisnya “menguasai” bangku dengan menaruh barang bawaan. Jadi ketika melihat sebagian besar penumpang ngemper di pinggir pintu menuju boarding gate, dah gak kaget deh. Strategi agar dapat duduk ya kudu nongkrong di cafe yang bertebaran sepanjang jalur/pinggir ruang tunggu atau di beberapa tempat khusus resto. Tapi pastikan kita aware dengan pengumuman penerbangan agar tidak ketinggalan rombongan ya.

Transit di KLIA

Kami mendarat di Hong Kong International Airport sekitar tengah hari setelah melewati masa transit hampir 2 jam di KLIA (Kuala Lumpur International Airport). Sesuai petunjuk yang disampaikan, perjalanan pun disambung dengan menaiki speed boat/kapal ferry berukuran grande (Cotai Water Jet) langsung dari pelabuhan yang menempel di airport menuju pelabuhan Macao. Biaya yang harus kami bayar adalah HKD 270/orang (atau setara dengan IDR 486.000/orang).

Tiket Cotai Water Jet dari Hong Kong menuju Macao

Setelah transaksi selesai, saya langsung menyerahkan stiker bagasi yang menempel di sobekan boarding pass pesawat. Bagasi pun akan langsung diurus oleh operator ini. Sangat memudahkan karena kami gak perlu repot ngurusin gembolan karena memang counter penyeberangan ini berada sebelum melewati Customs Hong Kong. Jadi proses pemeriksaan justru terjadi ketika melewati Customs di Macao.

Kok gak naik bis aja yang lebih murah? Nah ini yang tadinya sempat juga terpikirkan. Tapi kalau naik bis, berarti kami harus ngantri melewati pemeriksaan Customs Hong Kong, mengambil bagasi, keluar airport Hong Kong, berjalan sedemikian jauh dan nantinya akan melewati pemeriksaan ke-2 di Macao. Lebih makan tenaga dan waktu menurut saya. Effortnya lebih gede. Apalagi harus menggeret 4 koper. Kebayang lah rempongnya. Satu lagi. Karena pengalaman pernah jatuh kejengkang gegara ngangkat koper ke rak bagasi yang ada di bis (Hong Kong) yang mengakibatkan saya kena HNP, akhirnya pilihan naik bis dengan membawa koper puluhan kilo gak pernah lagi saya pertimbangkan. Kapok meeenn. Jadi mending keluar duit lebih banyak tapi aman, damai, efisien, dan efektif.

Oia, operator transportasi penyeberangan ini banyak banget loh. Ada kali sekitar 8-10 counter yang siap melayani penumpang. Tapi menimbang waktu keberangkatan terdekat dan harus mengejar jadwal loading in di The Venetian di hari yang sama, Cotai Water Jet adalah pilihan terbaik kami saat itu.

Ruang tunggu untuk pemberangkatan nyebrangnya standard bandara internasional karena memang masih menyatu dengan bandara Hong Kong. Hanya yang disayangkan adalah sedikit banget resto di ruang tunggu. Dengan kuota penumpang yang terlihat padat dan membludak, susah banget untuk bisa makan dengan santai. Apalagi setelah melirik menu yang ditawarkan, saya yakin tidak akan menemukan menu halal di sini. Untungnya, saya dan Ratu, sempat membeli roti dan sedikit minuman saat transit di KLIA. Jadi walaupun aslinya kelaparan tingkat dewa, cukuplah konsumsi yang ada di tangan untuk sementara waktu.

Di dalam ferry penyeberangan menuju Macao | Cotai Water Jet

Kapal milik Cotai Water Jet gede banget loh ternyata. Berbadan lebar dengan dudukan terbanyak untuk kelas ekonomi yang kami pilih di ground level. Ada sih kelas executive di dek atas. Tapi gak perlu-perlu banget lah. Tiketnya lebih mahal pastinya (walaupun saya gak sempat ngecek nilainya berapa). Toh waktu tempuh 1 jam menuju Macao enggak terlalu lama.

Tempat duduknya nyaman dan bisa reclyning. Dan ada box khusus cabin untuk menyimpan bawaan lebih di atas kursi. Sama seperti naik pesawat. Kita pun dapat nomor tempat duduk. Tapi karena masih banyak kursi kosong, beberapa penumpang banyak yang melipir mengambil kursi di dekat jendela untuk menikmati pemandangan laut. Sebelum berangkat mereka memutarkan video tentang keselamatan dan seluruh fasilitas yang ada di dalam kapal lewat beberapa layar televisi yang dipasang di beberapa titik. Ada juga pelayanan makan dan minum yang bisa kita manfaatkan. Tapi rata-rata sih minuman bersoda dengan kadar gula tinggi dan makanan yang menurut saya cuma cukup untuk 1/4 lambung. Rada mahal pulak hahahaha.

Meskipun berlayar dengan kecepatan penuh, di satu area tempuh tertentu, ferry harus melambatkan laju karena mengikuti aturan berlayar yang ditetapkan oleh pemerintah Hong Kong. Kalau tidak salah asumsi sih persis di titik mendekati run way take off dan landing pesawat.

Jadi ngapain aja di dalam ferry Mbak? Ah saya mah lebih memilih untuk merajut mata sembari menikmati ayunan lambung kapal yang bergerak sangat teratur. Sengaja menyimpan tenaga karena sudah membayangkan bakal membutuhkan energi lebih untuk menata stand.

Tiba di Macao

Antrian pemeriksaan lumayan juga ternyata. Kami sempat ketemu dan ngobrol sekilas dengan seorang WNI yang katanya membawa rombongan dari Indonesia dan punya jadwal main judi di Venetian. Sering banget menurut ceritanya. Saya dan Ratu cuma mesem-mesem penuh arti ketika dia menanyakan perihal kedatangan kami dan menduga kalau kami pun ke Macao punya niat yang sama. Ratu pun langsung semangat menjelaskan tentang rencana pameran yang akan kami ikuti dan berharap si Mbak mau mengajak rombongannya untuk mampir ke pameran.

Belakangan saya baru ngeh kenapa dia memiliki asumsi seperti itu. Karena nyatanya memang sebagian besar warga kita pergi ke Macao dengan tujuan berjudi ketimbang rekreasi. Dan ciri khasnya adalah membawa koper ukuran cabin, persis seperti rombongan wisatawan dari Cina daratan yang hampir tiap pagi ketemu kami di lobby hotel.

Baca juga : REGENCY ART Hotel | Lawas, Berbintang 5, di Pusat Kota Macau

Customs Macao tidak memberikan cap di passport. Persis seperti beberapa cerita yang saya baca di laman blog teman-teman pejalan. Kita hanya diberikan secarik kertas kecil yang wajib disimpan karena nantinya akan diperiksa saat kita keluar dari Macao. Jadi jangan lupa ya, kertas kecilnya kudu disimpan atau tempel aja di salah satu lembaran passport kita.

Selesai mengambil koper-koper besar milik kami yang sudah diturunkan oleh petugas Cotai Water Jet setelah pemeriksaan Customs, kami berjalan sekitar 300 meter menuju parkiran bis yang luas banget. Di tengah teriknya matahari siang itu, kami langsung menuju sebuah bis besar berwarna biru yang bertuliskan The Venetian, menggeret 4 koper dengan sisa-sisa tenaga. Kendaraan besar dengan lambung bagasi luas dan membawa kami menuju The Venetian Hotel, tanpa biaya, dalam 20 menit berkendara.

Bis besar The Venetian yang membawa kami menuju venue pameran

Bersambung ke Episode 2

#GMBPF2019 #MacaoTrip #PameranDiMacao #ExperienceMacao #VisitMacao