Cerita terdahulu : Guangdong & Macao Branded Product Fair 2019 (Episode 1)

Tiba di The Venetian Hotel

Saya dan Ratu sampai di The Venetian Hotel (Venetian) saat matahari mulai jatuh ke peraduan. Venetian rame luar biasa. Penuh dan padat oleh manusia, termasuk deretan berbagai moda transportasi umum seperti bis “gemuk” yang kami naiki dari Macao Outer Harbour Ferry Terminal dan taxi dari jenama kendaraan ternama di area parkiran. Tapi meskipun padat merayap semua tampak teratur dan tidak menumpuk. Yang masuk ke dalam Venetian pun membludak. Kami diantaranya. Berada diantara ratusan orang yang menyemut, kami tertatih-tatih menggeret 4 koper di tangan kanan dan kiri.

Turun di front gate ternyata membawa kami berjalan lumayan jauh ke venue pameran. Menyemut disela wisatawan, kami sempat beberapa kali mencari dan membaca beberapa petunjuk digital dan non-digital yang disediakan oleh Venetian. Tapi saking besarnya tempat ini, bertanyapun harus berkali-kali. Itupun harus tabah dan sabar karena tidak semua petugas yang kami temui tau persis dimana tempat yang kami tuju. Termasuk, lagi-lagi, kendala bahasa. Alamak!!

Setelah berulangkali melihat signage, ngintip GPS dan akhirnya call a friend (baca: petugas dari KJRI) setelah ketemu signal, gedung yang dipakai untuk pameran ternyata berada (jauh) di belakang. Kami harus melewati sederetan panjang toko-toko fashion (yang pastinya menggoda banget), beberapa function hall yang besar-besar, dan berbagai tikungan jalan yang mengarahkan tamu ke hotel-hotel lain yang terkoneksi dengan Venetian.

Hampir sebagian besar jalur yang kami tempuh beralaskan karpet-karpet tebal, cantik tak terkira. Saya sampai kehilangan keseimbangan karena terpaku dengan keindahan karpet ini dan deretan lampu-lampu gantung jelita yang terpasang hampir di sepanjang jalan. Selain karena terpesona, ternyata menarik koper berat di atas karpet itu butuh perjuangan. Roda koper tak gampang bergerak karena “terjerembab” ketebalan karpet. Jadi ketika berhasil menemukan front gate venue pameran, mendadak hati berasa plong tanpa beban, plus otot tangan dan betis terkondisikan kencengnya (lebay).

Gerbang depan menuju venue pameran

Loading In

Kami masuk ke dalam gedung besar pameran setelah terlebih dahulu menunggu ID Card yang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari oleh tim dari KJRI. Hantaman palu, bunyi seretan trolley, bonus jeritan suara-suara peserta dan petugas kontraktor stand, menyambut langkah-langkah kecil kami ke dalam. “Beginilah suasana loading in Ratu,” saya setengah berteriak sembari tersenyum melihat Ratu yang tampak surprise dengan kondisi yang ada. Sarjana pertanian yang juga adalah wire worker asal Bogor ini memang baru kali ini menyertai saya ngamen. Sekalinya diajak langsung kudu jualan di negri orang. Yang diajak ngomong cuma nyengir, menata napas yang mulai keliatan ngos-ngosan.

Deretan stand Indonesia yang berhadap-hadapan dengan rombongan dari Malaysia

Saya melongok ke langit-langit gedung mencari tulisan “Indonesia”. Satu-satunya cara yang bisa memudahkan kami mencapai lokasi yang kami tuju. Deretan stand Indonesia berada agak belakang, bertetangga dengan beberapa negara Asia Tenggara lainnya. Wajah depan stand dihiasi dengan fascia berwarna dasar merah huruf putih dengan dekorasi Rumah Gadang, ikon Sumatera Barat, di atasnya. Setiap peserta mendapatkan stand berukuran 3x3m dengan 2 buah meja panjang dan rak 3 lapis yang sudah terpasang di dinding. Semua sudah terpasang rapih saat kami datang.

Saya menyapa beberapa petugas KJRI dan peserta-peserta lain yang sempat saya temui sebelum akhirnya “terkapar” di dalam stand sendiri. “Istirahat dulu kita Mbak,” sahut Ratu gontai. Begitu juga rencana saya. Lumayan yak. Betis cenat cenut, keringet bercucuran, dan haus melanda. Kami mengisi waktu istirahat dengan berdikusi soal penataan booth dan pekerjaan apa yang harus kami prioritaskan. Mendengarkan saya orasi, Ratu tampak tekun memperhatikan dan beberapa kali memberikan ide.

Dari obrolan hampir 30 menit ini kami sepakat untuk mengatur posisi meja dengan L-shape yang tidak menghalangi back shelf di sisi belakang. Memasang dan menata taplak. Lalu dilanjutkan dengan membuat/merangkai display kalung dan backdrop display dinding yang sudah kami bawa dari Jakarta. Sementara untuk perhiasannya sendiri baru akan kami tata keesokan paginya.

Ngomongin soal display khusus untuk ngamen di luar negeri, saya selalu belajar dari satu event ke event yang lain. Menimbang jatah berat bagasi yang sangat terbatas, kebijakan menggunakan display yang tidak makan tempat, ringan, tapi tetap menarik dan fungsional, jadi sebuah keputusan penting. Jangan sampe gegara display, jatah quantity untuk barang dagangan jadi terkalahkan. Jangan juga gegara membawa display yang tidak tepat, akhirnya membuat booth kita tidak menarik untuk dilihat atau bahkan tidak mampu menunjang aktifitas penjualan.

Setelah berdikusi dengan teman-teman jauh-jauh hari sebelum keberangkatan, kami memutuskan untuk membuat sendiri display dari karton plastik. Karton ini sudah dipotong-potong dalam ukuran tertentu agar muat di koper. Ukuran yang secara hitungan fisika mampu menyanggah produk, dan tinggal dirangkai/ditempel saat sudah berada di booth. Bahannya murah. Banyak banget dijual di toko-toko buku dan tersedia dalam berbagai warna. Saya sengaja memilih warna hitam untuk board dasar dan warna kuning sebagai penyanggah. Jadi, bermodalkan karton plastik, glue gun berikut isinya, tali katun untuk display backdrop dinding, dan selotip sebagai penahan, tugas loading in, sehari sebelum pameran berlangsung, dapat kami tuntaskan tanpa hambatan berarti.

Deretan kalung menggunakan display plastik buatan sendiri
Display backdrop plastik hasil karya sendiri | Ringan, fungsional, dan sama sekali gak ngerepotin

Sarat Pengalaman Berdagang Dalam 3 hari

Layaknya berdagang di tempat baru yang belum pernah dijajal sebelumnya, menentukan jenis produk dan harga yang acceptable, bukanlah perkara gampang. Tapi menimbang sudah beberapa kali memiliki pengalaman ngamen di negara tirai bambu, asumsi bahwa selera, kesukaan, dan daya beli di Macao pastilah tidak begitu jauh dengan apa yang sudah kami alami di Cina. Dugaan ini ternyata jitu. Fokus mengeluarkan produk dengan harga menengah (IDR 100K – 450K) menggunakan bahan baku batu asli Indonesia (natural dan crystalized stone/druzy) ternyata mendapatkan sambutan yang baik. Teori dan dugaan bahwa sebagian besar pengunjung pameran berasal dari Cina daratan yang sedang berwisata di Macao benar adanya. Meskipun terselip diantaranya para penduduk Macao atau pengusaha dari luar Macao yang menjalankan bisnis di sana, pembeli produk kami (masih) sebagian besar adalah bukan penduduk Macao.

Cara termudah untuk membedakan atau mengindentifikasi mereka adalah dari kemampuan berkomunikasi dan ketertarikan mereka akan produk. Itu kami rasakan banget selama berjualan. Warga Macao atau mereka yang sedang bekerja/berbisnis di Macao (expatriate) kemampuan bahasa Inggrisnya lebih baik. Point of view atas keindahan design secara keseluruhan juga lebih ditilik oleh mereka-mereka ini. Sementara untuk wisatawan dari cina daratan lebih melirik pada batu nya saja. Susah juga untuk menjelaskan keaslian dari batu yang kami gunakan, terutama saat mereka melihat batu druzy, karena keterbatasan mereka dalam berbahasa Inggris. Jenis batu yang satu ini memang selalu dicurigai pecah atau dipecahkan karena memang ada coak/pecahan di tengahnya. Pertanyaan standard yang selalu saya hadapi ketika mencoba menjelaskan tentang druzy. Jadi ketika Ratu menyelak diantara waktu-waktu saya melayani tamu seraya berkata, “Ternyata memberikan product knowledge itu kudu banyak sabar dan makan waktu ya Mbak,” Saya mengangguk dan meneruskan diskusi di saat lowong pengunjung.

Setiap tamu bagi saya istimewa. Kami selalu menyambut mereka dengan ramah, terutama beberapa yang bolak-balik melamati, memegang, dan bertanya soal harga, satu persatu. Meskipun banyak dari mereka menawar dengan harga yahud, tapi kebijakan maksimum diskon 10% tetap tak tergoyahkan. Tamu kami bukan hanya perempuan, banyak juga laki-laki, dan akhirnya membeli beberapa mungkin untuk istri atau anak perempuan mereka. Tidak semuanya berpenampilan necis. Tapi bagi saya dan FIBI Jewelry, memberikan kesempatan bagi mereka untuk melihat, memegang, menawar, bahkan memotret sepuas mungkin adalah beberapa courtesy yang wajib diberikan kepada mereka.

Beberapa tamu yang sempat terekam kamera
Beberapa tamu yang sempat terekam kamera
Saya bersama May dan suami

Diantara sekian banyak tamu yang mampir ada beberapa dari mereka yang meninggalkan kesan khusus buat saya.

Pertama adalah seorang emak-emak dari cina daratan yang tiap hari bisa berkali-kali balik. Tiap hari beli walaupun hanya 1 buah. Tiap produk dia pegang, pelan-pelan dilihat, dan di satu waktu sibuk memotret kemudian bercakap-cakap dengan seseorang via telepon yang selalu dispeaker suaranya. Begitu terus tiap hari. Padahal yang dia lihat kan sama aja. Toh barang yang kami bawa dari Jakarta semua sudah berada di area display, baik di dinding maupun di meja. Tapi herannya tetap betah aja menunduk dan menelusuri setiap jengkal meja. Saya memutuskan untuk membiarkan dia melakukan hal ini berhari-hari. Bisa jadi apa yang dia lakukan telah, sedang, dan akan memberikan kepuasan hati tersendiri.

Kedua adalah seorang cewek cantik, tinggi, dan langsing, persis seperti model catwalk yang buka stand penjualan minuman anggur, persis di depan kami. Sepertinya karena melihat jualan kami yang selalu rame pengunjung dan laris, dia sempat dan selalu memperhatikan. Jadi, di hari ke-2 pagi-pagi sekali, dia ikutan sibuk memilih diantara desakan customer lain dan meminta kami untuk menyimpan beberapa perhiasan untuk dia bayar keesokan harinya. Biasanya sih saya kurang nyaman dengan cara seperti ini. Apalagi perhiasan yang dia minta simpankan bagus-bagus tanpa dia lihat dulu harganya. Tapi feeling saya berkata lain. She’s responsible enough. Benar saja. Di hari terakhir, beberapa jam menjelang pameran akan ditutup, beliau menyambangi saya untuk menghitung semua yang sudah dipilih, meminta diskon lumayan besar, dan membayar dengan cash.

Ketiga adalah May yang berasal dari Malaysia dan suaminya yang orang Brazil. Mengenalkan diri sebagai hotelier Macao, saya merasakan kenyamanan mengobrol dengan pasutri ini. Mereka datang ke stand di hari ke-2 disambung dengan hari ke-3. Selain memuji stand kami yang rapih tertata dan tidak terlalu ribet ornamen, mereka juga mencintai hasil karya kami dan membeli beberapa produk di harga yang lumayan mahal. Pujian yang tulus meluncur dari mulut mereka, benar-benar membuat saya tersentuh. “You guys have been doing a great job. These are so awesome, so exclusive, and highly-skilled treatment. You must be proud of yourselves.” Saya pun berkali-kali mengucapkan terimakasih untuk compliment yang sangat menyentuh ini. Jarang-jarang loh bisa bertemu pelanggan yang begitu menghargai hasil kerja saya dan tim FIBI Jewelry. Dan yang lebih mengharukan lagi adalah mereka tidak ngotot untuk dapat diskon besar karena sudah membeli banyak karena mereka tahu persis bagaimana menghargai sebuah hasil karya handmade dan waktu serta pikiran yang sudah dicurahkan untuk membuat satu perhiasan menjadi sebuah karya exclusive.

The Indonesian Team dan Suasana Pameran

Konsulat Jendral Republik Indonesia Hong Kong bekerja sama dengan Ditjen PEN, Promosi dan Citra Kementrian Perdagangan RI, memfasilitasi 17 peserta pameran dengan berbagai produk yang datang baik dari tanah air maupun para pebisnis asal Indonesia yang sudah menetap di Hong Kong. Para peserta ini adalah:

BEDO-Amiga Bali (Bali) dengan produk handcrafted macrame accessories and apparel. https://be-do.org

Indonesia Restaurant 1968 (HK) yang menyajikan kuliner otentik Indonesia. Mereka ini memiliki resto di Hong Kong. https://www.ir1968.com

Fok Hing/Indo Market (HK). Distributor and convenience store produk-produk asal Indonesia yang juga berpusat di Hong Kong. https://www.indomarket.com.hk

Arana Craft (Jakarta). Handcrafted furniture supplies. https://www.aranacraft.com

SFG & GMC Collection (Jakarta). Fashion and accessories. https://sfgcollection.webs.com

Pandan Leaf (HK). Indonesian Restaurant in Causeway Bay Hong Kong. https://www.facebook.com/pandanindo. Resto yang sering banget jadi tempat nongkrong masyarakat Indonesia di Hong Kong dan wisatawan Indonesia yang kangen dengan masakan Indonesia selama berada di Hong Kong.

Darmawan Silver (Bali). Silver jewelry and craft. https://darmawansilver.com

PT. Surabaya Indah Permai (Surabaya). Aroma Therapy. https://safecarearomatherapy.com

Kopi Estate (Jakarta). Coffee. https://kopiestate.com

Kampoeng Timoer (Kalimantan Timur). Crab Snack Souvenier. https://kampoengtimoer.co.id/shop

CV Wita Hara Kirana (Bogor). Lombok Pearls and Jewelry. https://id.linkedin.com/wita-budiani-92709443

PT. Daya Bimitra Konvensional (Bandung). Food and Beverage Trading Co. https://www.b-organizer.com

Sarah Beckmans (Bali). Luxuries Jewelry. https://www.sarahbeckmans.com

Kultiva Co (Jakarta). Naturally Fruit Chips and Snacks. https://www.kultiva.com

Mutiara Hasana (Jepara). Coffee. https://mutiarahasana.com

Sunskrips (Jakarta). Vegie Snacks and Chips. https://www.sunskrips.id

FIBI Jewelry (Bekasi). Handcrafted Wire Jewelry. https://www.fibijewelry.com

Dari sekian banyak peserta ada beberapa yang pernah ngamen bersama FIBI di event Internasional, khususnya di Hong Kong International Jewelry Show, seperti Sarah Beckman yang kali ini langsung digawangi oleh Sarah. Darmawan Silver milik Ibu Lenny Hartono. Seorang pengusaha perhiasan silver asal Bali dan fasih berbahasa Mandarin. Kemudian GMC Collection milik Mbak Sisca Pauline, yang sudah berkali-kali pergi bersama saya, bahkan selalu nginep bareng jika ikut acara yang sama.

Baca juga : Hong Kong International Jewelry Show 2019 | Ngamen Sarat Cerita di Awal 2019

Saya tidak sempat mengobrol banyak dengan anggota Tim Indonesia untuk acara ini, tapi hanya melihat sekilas secara random akan produk-produk yang dibawa dan betapa tingginya minat pengunjung terhadap produk-produk Indonesia. Setidaknya selama beberapa kali lewat untuk pergi membeli makanan, stand Indonesia selalu padat manusia.

Menilik obrolan sekilas dengan Pak Iqbal Shofwan, Konsul Perdagangan KonJen R.I Hong Kong, event yang diorganisir oleh Macao Trade and Investment Promotion Institute dan Department of Commerce of Guangdong Province ini rutin diadakan setiap tahunnya di Venetian. Pesertanya beragam dari berbagai negara yang mendapatkan undangan khusus dari penyelenggara dan dunia bisnis yang ada di Macao dan Guangdong. Selain transaksi retail layaknya pameran multi produk, ada satu area khusus yang menawarkan bisnis franchise. Lumayan banyak peserta. Tapi sayang saya tidak memiliki kesempatan untuk berkeliling dan melihat booth mereka satu persatu.

Saya yang pada awalnya sempat ragu akan terciptanya traffic visitors karena venue yang cukup jauh dari pusat keramaian Venetian, akhirnya angkat topi atas usaha penyelenggara agar GMBPF 2019 tetap ramai pengunjung. Selain mampu menggandeng exhibitor yang sangat beragam, penyelenggara tak henti-hentinya meramaikan suasana dengan berbagai acara panggung dan undian berhadiah fantastis (lucky draw) untuk para pebelanja. Beberapa pertunjukkan live yang diadakan adalah penampilan tari tradisional (yang saya tidak ngeh dari negara mana), pertunjukan nyanyi, atraksi sulap, dan anak-anak perempuan seusia balita yang melenggok-lenggok lucu membawakan beberapa modern dance.

Oia, saat saya mencoba mencari makanan dan minuman, saya menemukan satu booth dengan ukuran lumayan besar di hook dekat panggung, yang menjual buah-buahan, camilan, dan beberapa kue tradisional. Kebetulan berada persis di samping counter kopi yang kerap saya beli karena enaknya. Buah yang dijual selalu bikin saya takjub. Semua berukuran super dengan harga sekitar IDR 80.000,- hingga IDR 100.000,-. Ada yang ditawarkan dalam bentuk paket (per 3 buah). Ada juga yang dalam bungkusan dan kiloan. Penampakan fisiknya pun istimewa. Bahkan kalau dilamati secara lebih teliti, mirip dengan buah-buahan artificial yang biasa dijadikan sampel di kaca-kaca. Mendadak langsung kebayang buah-buahan ini tentunya dikembangkan dengan obat-obatan tertentu sehingga bisa terpoles dengan begitu sempurna dan dengan ukuran yang tidak biasa.

Aneka buah yang tampil besar dan cantik

Satu hal yang saya rasakan sangat bermanfaat dan disediakan oleh panitia adalah fasilitas transportasi (shuttle bus) dari dan menuju ke Venetian. Semua terorganisir dengan baik di hampir semua hotel yang sudah menjalin kerjasama dengan panitia. Setiap pagi, sekitar pkl. 8, selalu ada bis yang siap membawa kami dari hotel menuju Venetian. Berhenti di satu area perparkiran yang memang disediakan khusus untuk para peserta event. Pulang selesai pameran pun demikian. Bus-bus ini siap mengantarkan kami kembali ke hotel. Semua disediakan gratis selama pameran berlangsung.

Saya sangat berharap untuk bisa mengikuti event ini kembali di 2020. Dari berbagai rentetan pengalaman 2019, setidaknya sudah memberikan gambaran yang lebih jelas akan selera pasar Macao dan apa yang sebaiknya kami siapkan di acara yang sama. Selain itu saya berharap, di pameran berikutnya, FIBI bisa dan mampu melebarkan sayap bukan hanya lewat transaksi retail saja tapi juga mendapatkan rekanan bisnis yang bersedia bekerjasama secara professional dalam nilai transaksi yang lebih besar (business to business transactions).

Tak lupa, saya dan FIBI Jewelry, ingin mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya atas kesempatan yang sudah diberikan oleh Kosulat Jendral RI di Hong Kong, DitJen PEN, Promosi dan Citra Kementrian Perdagangan RI, serta seluruh staff yang terkait dengan kegiatan ini. Semoga pengalaman 3 hari mengikuti Guangdong & Macao Products Fair 2019 di Venetian membawa banyak manfaat bagi kami sekarang dan kedepannya.

Berbagai koleksi wire jewelry yang kami tampilkan di GMBPF 2019
Bersama Ratu | One of the best partner in crime
Tetap selalu narsis dengan beberapa hasil karya FIBI Jewelry and family
Exhibitors List di bagian depan ruang pameran

#GMBPF2019 #MacaoEvent #VisitMacao #ExperienceMacao #FIBIInternationalExhibition #MacaoExhibition #MacaoTourism