Cerita Tentang Bandar Lampung

Terakhir menginjakkan kaki ke Lampung itu (mungkin) sudah lebih dari 5tahun yang lalu. Dulu (cukup) sering bolak balik ke sana karena Eyang Putri (Ibu dari Ibu saya) masih tinggal di Jl. Semangka, yang berada dekat dengan UNILA.  Eyang dari pihak Ibu memang sudah bertransmigrasi ke Lampung sejak Ibu kecil.  Bahkan sekarang, 2 dari adik-adik Ibu masih tinggal di Lampung.  Tepatnya di Metro dan Seputiraman.

Semenjak Eyang Putri dipanggil oleh Yang Maha Kuasa, saya semakin jarang ke Lampung.  Jadi ketika diajak ngetrip ke sini, saya tidak lagi mengenali tempat-tempat dan jalan-jalan di seputaran pusat kota, dari dan ke rumah Eyang, bahkan rute ke luar dari kota.

Untuk yang tinggal dan atau pernah berkunjung ke Bandar Lampung (dulu namanya adalah Tanjung Karang), pasti tahu bahwa provinsi paling bawah di Pulau Sumatra ini, sebagian besar penduduknya adalah para transmigran.  Ini sangat gampang teridentifikasi ketika kita menyusuri beberapa kabupaten, kecamatan, atau desa yang berada di luar ibu kota provinsi.  Dari nama-nama tempat yang kita temui, kita akan langsung tahu asal dari sebagian (bahkan mungkin semua) penduduk setempat.  Contohnya Kabupaten Wates.  Nama Wates sendiri sudah terlebih dahulu kita kenal berada di Jawa Tengah.  Tapi kini dapat juga kita temui di Bandar Lampung.  Dari penamaan ini kita akan langsung ngeh bahwa penduduk di sini berasal dari Jawa Tengah. Komunikasi sehari-hari pun masih menggunakan bahasa Jawa.  Ada juga kampung Bali.  Se kampung isinya transmigran dari Bali.  Ada Pura terbangun untuk tempat ibadah dan mereka pun merayakan hari-hari besar umat Hindu layaknya seperti mereka berada di Bali.

Jadi kalau boleh saya ungkapkan, provinsi Bandar Lampung ini sangat kaya akan keberagaman suku.  Dan uniknya lagi, walaupun mereka memiliki bahasa daerah sendiri, saya tidak pernah kesulitan untuk berkomunikasi dalam bahasa Jawa dan bahasa Palembang karena nyatanya ke-2 bahasa daerah itupun sering digunakan oleh penduduk setempat.

Menuju Pesisir Barat

Tiba di Bandara Radin Inten II menjelang tengah hari, kami bergegas menuju Kantin Encim Gendut di dalam kota Bandar Lampung, untuk menikmati makanan rumahan yang lezat, sebelum menempuh perjalanan darat selama hampir 8jam menuju Krui – Pesisir Barat.

Terus terang tidak banyak nama tempat/desa/kecamatan atau kabupaten yang saya ingat sepanjang perjalanan.  Apalagi 60% waktu tempuh kami habiskan dalam kondisi gelap (malam hari).  Tetapi yang pasti kami lewati adalah Pesawaran, Pringsewu, Tanggamus, serta melalui Taman Nasional Bukit Barisan Selatan persis menjelang maghrib.  Sebagian jalan yang kami lewati berlubang, sementara sebagian lagi mulus tanpa hambatan.  Dengan waktu berkendara yang cukup panjang, kontur jalan yang naik turun dan penerangan yang minim, tentunya butuh seorang pengemudi yang sudah hafal medan jalur, agar perjalanan menjadi nyaman.

Menjelang pkl. 20:00 wib akhirnya kami sampai di Labuhan Jukung Krui dan bisa beristirahat di Penginapan milik Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Krui.  Penginapan tipe rumah panggung ini berada tepat di bibir pantai sehingga suara debur ombak terdengar jelas mengantar kami tidur.  Malam itu kami habiskan dengan obrolan-obrolan hangat hingga berganti hari, meluruskan pinggang yang mulai terasa bengkok, dan janji untuk berangkat pagi-pagi menuju Pulau Pisang.

Jika berminat untuk menyewa penginapan ini, kita hanya cukup mengeluarkan biaya sebesar Rp 275.000,-/kamar/hari.  Sila hubungi Bpk. Aries Pratama di no telepon 0821-8683-9738

 

Pantai Labuhan Jukung Krui

Tidak sah rasanya jika tidak meninggalkan jejak di sebuah pantai yang indah ketika kita menginjakkan kaki di satu tempat wisata.  Penginapan kami yang berada di bibir pantai Labuhan Jukung, yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia ini juga menghadirkan spot foto yang terlalu cantik untuk dilewatkan. Memenuhi panggilan jiwa dan mimpi menjadi foto model yang pernah menjadi cita-cita,  kami pun mengabadikan kebersamaan ini untuk kemudian menikmati nasi uduk dengan lauk ikan Tuhuk (sejenis ikan Marlin) yang katanya khas daerah Pesisir Barat.

Menurut informasi yang terdapat di dalam brosur yang disediakan oleh Dinas Pariwisata setempat, Pantai Labuhan Jukung memiliki ombak yang tinggi dan diminati oleh para peselancar, terutama di bulan April s/d September.  Pantai ini juga bisa menjadi titik yang sangat pas untuk menunggu terbenamnya matahari (sunset) di balik cakrawala.  Sayang, karena kami tiba hampir menjelang tengah malam, momen ini pun terpaksa kami lewatkan.  Ketidakberuntungan meliput sunset dan sunrise ini awet terjadi dari kami datang hingga pulang kembali ke Jakarta, Palembang, dan Batam.

Pantai landai LABUHAN JUKUNG. Dari titik ini kami memulai perjalanan mengeksplorasi Pesisir Barat Lampung. Photo taken by Aries Pratama.
Sarapan nasi uduk dengan lauk ikan Tuhuk di pinggir pantai sambil menikmati ombak dan indahnya pantai Labuhan Jukung. Photo taken by Katerina

 

Menuju Pulau Pisang

Melengkapi sarapan dengan kopi dan teh, kamipun menyegerakan diri menuju Pelabuhan Kuala Stabas yang berada tidak jauh dari penginapan.  Seperti layaknya sebuah pelabuhan, pagi itu puluhan kapal-kapal jukung dan beberapa speed boat terlihat berbaris rapih, terayun-ayun memeluk ombak lautan yang datang silih berganti.  Hebat juga ya.  Walaupun sering bersenggol-senggolan begitu, tetap ayem satu sama lain.

Terlihat juga beberapa nelayan yang sibuk mondar-mandir dan bergerombol menghabiskan pagi dengan mengobrol dan menghirup kopi di beberapa warung di pinggir pelabuhan.  Beberapa bapak menegor saya dengan ramah.  Berasa artis.  Padahal mereka nawarin jualan sarapan.

Sesampainya di pelabuhan, pelampung keselamatan kuning menyalapun dibagikan satu-persatu.  Untung bukan masa kampanye.  Kalo enggak, pasti kami dikira partisan Partai Beringin. Atau jurkam yang sedang ditugaskan ke Pulau Pisang.

Ditengah teriakan nahkoda kapal yang akan membawa kami berlayar, saya, satu-satunya emak-emak berusia matang (gak mau ngaku tua), tampak rempong dengan koper cantik yang sudah menjelajah ke berbagai negri.  Jeritan sang nahkoda yang menyuruh (baca: memerintahkan) kami untuk segera naik, bikin saya tambah grogi karena ribet dengan peralatan lenong yang saya bawa.  Pelajaran penting nih, bahwa tidak selamanya nenteng koper itu pas di semua medan jelajah (catet!!).  Beruntungnya rombongan kami semua ringan tangan dan selalu sigap membantu.  Coba kalo suruh nggeret sendiri, dijamin bakalan encok dan kesrimpet tali parkir kapal jukung (pas banget buat diketawain).

Ombak pun sepertinya ngajak becanda. Giliran mau naik, eeehh ada aja ombak yang menyeret perahu bergerak ke laut.  Nah pas ombak mendorong perahu ke darat, baru deh buru-buru naik.  Itupun harus dalam kondisi atau posisi tertentu agar kita tidak kejengkang.  Pesan moral: naik kapal jukung ternyata bisa menjadi moda melatih kesabaran.

Ingin menikmati pengalaman pertama menaiki kapal jukung, alias kapal dengan “tangan penyeimbang” yang terbuat dari bambu di sisi kanan dan kiri badan kapal, saya memutuskan untuk berada di posisi paling depan dan merasakan sensasi terbanting-banting ombak sambil berdiri.  Selama 45menit kami lalui dengan aman walaupun beberapa kali saya sempat menelan air laut yang mendadak ingin mengusap dan menampar muka plus berakhir dengan membasahi celana jeans saya hari itu.

Bermodalkan 1 mesin penggerak merek Yamaha, acara melaut kami pagi itu ditambahi dengan penasaran dan harap-harap cemas ingin melihat lumba-lumba.  Kabarnya lumba-lumba sering menampakkan diri di jalur laut lepas menuju Pulau Pisang ini.  Tapi sepertinya kali itu (di episode menuju ke Pulau Pisang) kami belum beruntung.  Bahkan hingga pasir putih Pulau Pisang sudah di depan mata pun, teman-teman Bondan Prakoso ini masih malu-malu berkenalan dengan kami.  Boro-boro atraksi, kenalan aja ogah.

Perahu Jukung yang kami naiki menuju Pulau Pisang. Photo taken by Katerina

Sebagai informasi tambahan, jika berminat ke Pulau Pisang dari Pelabuhan Kuala Stabbas, naik kapal Jukung dengan jumlah penumpang 10-15orang, kita bisa pergi berombongan (tanpa carter) dengan biaya Rp 25.000,-/orang untuk sekali jalan.  Sementara kalau pergi dalam jumlah banyak, kita dapat menyewa kapal jukung dengan biaya Rp 600.000,-/kapal, bolak balik.  Itu sudah termasuk bonus memburu ikan lumba-lumba di tengah-tengah lautan.

Atau bisa juga naik kapal berangkat dari Desa Tembakak.  Sebuah desa yang berada di Kecamatan Karya Penggawa, yang merupakan daratan terdekat dengan Pulau Pisang.  Nah, kalau dari Desa Tembakak, kita hanya perlu waktu 15menit menuju Pulau Pisang.

 

Welcome to Pulau Pisang

Seperti biasa, penyakit norak selalu hinggap di badan setiap sampai di satu tempat indah yang belum pernah saya kunjungi.  Meloncat sigap dari kapal jukung, saya melangkah tegap di pasir yang hangat dan melupakan koper saya yang cantik itu.  Entah bagaimana ceritanya, si koper sudah nangkring manis di dalam homestay.  Alhamdulillah, ternyata dia bisa menemukan jalan sendiri dan tidak nyasar kemana-mana.

Homestay Bang Jon yang persis di bibir pantai akan menjadi tempat tinggal kami selama 1 malam di Pulau Pisang.  Rumah dengan 2 kamar besar untuk tamu dan 1 kamar kecil berikut 2 kamar mandi ini, terlihat cukup besar, penuh dengan kasur, dan sering disewakan karena posisinya yang strategis.  Dengan biaya sewa Rp 200.000,-/orang/malam, kita sudah dapat menikmati tidur nyenyak di sini plus 3 kali makan (sarapan, makan siang, dan makan malam).

Siang itu, sambil menunggu waktu sholat Jumát dan lagi-lagi memenuhi kontrak menjadi model dadakan, kami sibuk berpose cantik di pantai Pulau Pisang.  Yok, simak foto-foto berikut ini.  Dijamin finalis Asian Next Top Model bakalan ngeper bersaing dengan kami.

 

Beberapa hal yang menarik perhatian ketika pertama kali mengunjungi pulau ini adalah, dermaga/anjungan semen yang terlihat sudah tua dengan bolongan-bolongan besar di sana-sini.  Awalnya mungkin terlihat menakutkan.  Bukan karena ada makhluk astral tapi lebih karena faktor keselamatan.  Tapi setelah beberapa kali mengamati, ternyata kondisi lantai yang bolong inilah yang justru membuat foto menjadi unik.  Konon katanya, kalo belum berfoto di sini, berarti belum ada bukti sudah sampai ke Pulau Pisang. Jadi yaaahh demi menjaga nama baik sebagai travel blogger, berfotolah kami beramai-ramai di sana.  Begitu!!

Bersebelahan dengan dermaga tua ini, terlihat floating dock yang terbuat dari plastik.  Gabungan warna biru, hitam dan merah adalah pilihan yang tepat untuk mengenali dermaga baru ini dari kejauhan.  Hanya sayang, saking ringannya itu plastik, dermaga pun jadi gampang terdorong-dorong dan tersundul naik ketika dihantam ombak.  Dengan kondisi begini, banyak pelaut yang memilih untuk sandar langsung ke pantai.  Tapi ya itu, bonus basah-basahan bagi penumpang yang akan naik dan turun.  Plus, perlu tenaga tambahan untuk mendorong kapal kembali ke laut atau mempertahankan kapal untuk kokoh bersandar di pinggir pantai.  Ribet loh perkara parkir kapal ini ternyata, gak segampang keluar masuk obat pencahar yang ditembak lewat belakang. Kok gak nyambung ya analoginya.

Satu lagi yang mencuri hati adalah batang kayu besar yang dibiarkan jatuh kejengkang dan dicat dengan tulisan WELCOME TO PULAU PISANG.  Naahh yang begini ini nih yang menurut saya kece.  Tulisan sederhana tapi mengena.  Properti seperti ini yang sepertinya sangat pas menjadi spot icon untuk berfoto.  Buat kami? Iya dong.  Langsung jepret dengan gaya khas masing-masing.  Sekali lagi.  Bukti otentik bahwa kami sudah sampai di Pulau Pisang, Pesisir Barat, Provinsi Lampung.

Selesai berpanas-panas di bawah terik matahari, kami kembali ke homestay untuk makan siang.  Acara selanjutnya yang ditunggu-tunggu adalah mengelilingi pulau hingga ke titik terakhir menyaksikan sunset. Naik mobil? Enggak dong.  Dengan jalan cor-coran (mungkin lebih tepat disebut semen) yang sebagian besar berukuran minim, sekitar 1.5-2m, rasanya jauh dari kemungkinan bahwa jalan ini digunakan oleh kendaraan roda empat.  Hanya area yang landai saja yang sudah dibangun jalan yang lebih besar, seperti yang berada di seputaran homestay tempat kami menginap.

4 buah Motor sewaan Rp 60.000/unit/hari pun akhirnya membawa kami berkeliling.  Menjelajah seputaran desa yang didominasi oleh rumah-rumah tak berpenghuni peninggalan Belanda, jalur naik turun yang menguji nyali dan masih dikelilingi oleh hutan tanaman cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Let’s the journey begins!!

 

 

Menjelajah Pulau Pisang

SD Pasar Pulau Pisang

Pemberhentian pertama dari penjelajahan kami adalah SD PASAR PULAU PISANG.  Bangunan sekolah ini sebagian besar masih asli dan merupakan warisan dari Belanda.  2tahun yang lalu sempat dipugar dan diganti lantai serta eternitnya.  Tapi secara keseluruhan bangunan asli masih tetap dipertahankan. Ciri-ciri khas standard bangunan Belanda, bisa langsung terlihat pada jendela dan pintu yang tinggi.

Untuk seorang yang pernah mengenyam pendidikan di sebuah sekolah katholik yang menggunakan bangunan Belanda, kemampuan mengenali peninggalan penjajah yang satu ini tidaklah sulit.  Sama seperti sekolah saya dulu di Malang, bangunan gedung terlihat sangat kokoh dengan jendela dan pintu yang besar dan tinggi.  Langit-langit ruanganpun dibikin sekitar 6-8m, sehingga perputaran angin bisa lebih banyak, dan ruangan pun menjadi tidak pengap.

Identifikasi spesifik di atas langsung terlihat di bangunan sekolah SD yang masih digunakan sampai sekarang ini.  Ruangan terbagi atas 5 dengan ukuran sama besar.  Kok 5 ya?  Jadi cuma kelas 1 s/d 5 dong. Nah, ini yang lupa saya tanya.  Tapi yang pasti di Pulau Pisang ini hanya ada 2 tingkatan sekolah yaitu SD dan SMP.  Untuk meneruskan ke tingkat SMA, berarti anak-anak harus merantau ke Krui.  Jadi budaya merantau bagi putra daerah sepertinya memang sudah terbentuk ketika mereka menuju usia dewasa.

 

Menara Rambu Suar

Untuk mencapai mercu suar ini, kami harus melewati jalur yang naik turun, bahkan seringnya curam.  Terkadang harus membungkuk atau memiringkan badan ke kanan – kiri untuk menghindari pohon-pohon yang tumbuh lebat di pinggir jalur.  Jadi kalo ada lomba joget india sambil naik motor, kemungkinan besar saya dan Deddy bisa menang.

Di beberapa titik, kami sering bertemu daun-daun yang luruh dan bertebaran sepanjang jalan, bahkan lumut yang menempel di semen jalan.  Motor yang saya naiki bersama Deddy sempat beberapa kali doyong karena ini.  Saya pun memutuskan untuk turun dari motor ketika terlihat jalur terlihat terlalu menanjak atau terlalu menurun.  Pertimbangan berat badan saya yang semlohai sepertinya jadi kode keras kami memutuskan motor melaju tanpa penumpang (di belakang).  Bahkan kalo memungkinkan pengennya motor otomatis pindah tanpa harus dikendarai, pake remote, atau menggunakan jasa Deddy Corbuzier demi mengurangi resiko jatuh yang sempat saya alami setidaknya dua kali selama perjalanan.

Memasuki hutan cengkeh yang sangat subur dan lebat, di hadapan kami terlihat sebuah menara besi bercat putih dan dikelilingi oleh dinding tinggi yang juga bercat putih.  Menara ini, yang awalnya memiliki tinggi sekitar 30meter dengan menggunakan besi-besi peninggalan Belanda, telah diperbaiki dan dirombak tahun lalu dengan besi yang berbeda dan dengan ketinggian yang berkurang menjadi 25meter saja.  Dari keterangan Sony, guide kami selama perjalanan, besi lama harus diangkat setidaknya 3-4orang, sementara besi baru, buatan Indonesia, cukup ditenteng oleh 1orang saja.  Padahal panjang dan besarnya sama.  Widih, kebayang dong bagaimana (dulu) kokohnya menara ini.

Dari 5 titik pijak yang tersedia, saya hanya berani mencapai titik pertama saja.  Melihat tangga yang begitu curam dan besi pegangan seadanya, terpikirkan mampu naik tapi ngeri untuk turun.  Rien dan Dian mampu mencapai tingkat kedua, sementara para cowok mencapai titik tertinggi.  Saya mencoba mengumpulkan keberanian.  Setidaknya ngumpul dengan 2 cewek lainnya.  Tapi membayangkan takut gak mampu turun, terkencing-kencing ketakutan, yang akhirnya bikin repot orang sejagat raya, mending nunggu baik-baik di tempat yang sudah berhasil saya taklukkan.

Diantara besi-besi putih Menara Rambu Suar ada seorang ibu berbaju merah yang bertahan untuk tidak naik lagi. Photo taken by Katerina
Tersenyum riang setelah mencapai titik injak pertama. Berfoto bersama Arif dan Rien sambil mengatur nafas yang masih ngos-ngosan. Photo taken by Rien

 

Bukit Batu Liang

Melewati jalur yang lebih menantang, bukit ini menjorok ke laut dan tersembunyi diantara sekian banyak pepohonan dan aneka tanaman yang tumbuh subur.  Gak cuma itu. Memasuki jalan masuk ke ujung bukit, kami melewati sebuah kuburan tua, panjang dan terlindungi oleh kayu dan atap genteng yang juga terlihat usang.  Kuburan ini persis berada di pinggir jalan.  Sementara melangkah sedikit, tidak jauh dari kuburan, terdapat sebuah lubang dalam dengan diameter sedang (mirip sumur), yang menghubungkan tanah yang kami pijak ke dinding bukit yang terhantam air laut di bagian bawah.

Masuk melalui semak-semak belukar dan tanaman berdaun panjang berduri, rasa penasaranpun terbayar dengan indahnya pemandangan yang terhampar di depan mata.  Karang-karang kokoh tegak berdiri.  Tanah yang kami injak menjorok ke laut, dengan luas yang sangat terbatas dan didominasi oleh berbagai tanaman yang seperti enggan berbagi tempat nongkrong.  Di lahan ini ada sebuah batu yang menjorok, tajam, dan menjadi titik foto yang keren.  Seperti biasa.  Gak bisa liat lahan cantik dan nganggur, semua sigap mengeluarkan kamera, kain tenun andalan (yang capek berpindah tangan), dan berpose satu persatu ala Titanic.

Saya bersyukur.  Walaupun bisa dibilang ini jurang pinggir laut, sensasi merasakan angin yang menampar wajah, ombak yang menghantam pinggir jurang, dan suburnya aneka tanaman, serta tidak adanya pagar yang menjaga supaya tidak jatuh, saya lebih merasa nyaman di sini ketimbang naik tangga di Mercu Rambu Suar.  Setidaknya selama di bukit Pugung muka saya tidak setegang tutup salep dibandingkan selama berada di mercu suar.

 

 

Bukit Batu Gukhi

Tak berapa jauh dari Bukit Pugung, kami singgah ke pantai landai dengan beberapa batu karang berwarna coklat tua dan warna turunannya.  Ada sebuah potongan batu karang yang lumayan besar dan bertengger di bibir pantai dengan beberapa karang-karang tajam menuju ke  karang besar ini.  Saya jadi mendadak teringat Tana Lot.  Walaupun karang ini (biasa disebut Karang Gukhi) berukuran lebih kecil dan tanpa Pura di atasnya, tapi bentuknya mirip sekali dengan Tana Lot di Bali.

Melihat banyak potongan-potongan kayu, karang-karang kecil di sepanjang pantai, dan tanah pinggir pantai yang terlihat semakin tergerus, bisa dipastikan air pasang laut sudah semakin masuk ke daratan.  Di tempat kami duduk dan memarkir motor, menjuntai akar-akar pohon yang terputus dan tampak keluar dari tanah.  Bahkan ada 1 pohon kelapa, persis di sebelah saya duduk, tampak doyong dan nyaris tumbang. Sungguh pemandangan yang unik.

 

 

Rencananya kami akan menghabiskan waktu di sini sambil menunggu sunset.  Titik foto sempurna menurut Aries, staff promosi Dispar Pesisir Barat, yang bertugas mengawal serangkaian kegiatan kami selama di Krui.  Tapi rencana tinggal rencana.  Mendadak sore itu angin kencang menerpa sampe merubuhkan motor kami.  Gak cuma itu, ombak pun terlihat menggulung tinggi dan melanting-lanting terbawa angin.  Saya mendadak beberes takut si angin iseng nerbangin topi pita cantik yang saya beli dari benua lain.  Penting banget itu diselamatkan.  Jangan sampe larung ke laut.  Modal gaya itu.

Tak tahan menahan terjangan angin yang semakin membabi buta, kami memutuskan untuk kembali ke homestay sore itu.  Badan kualitas usia maghrib seperti saya, jangankan kena angin laut, 30menit naik ojek aja besoknya pasti kerokan.  Jadi ketika menyadari bahwa ternyata kami sudah tawaf 3/4 total ukuran pulau yang 231 hektar, saya pun berseri-seri melihat tanah landai yang mengantar kami sampai di homestay dengan selamat.  Mendadak dangdut eeehh laper berat maksudnya.

 

Morning Has Broken

Photo taken by Aries Pratama

Melewati malam yang gelap dan semakin gelap karena aliran listrik yang mati, pagi itu saya bangun karena teriakan-teriakan halus Rien yang mengajak menyaksikan sunrise di pinggir pantai.  Saya yang memang cuma tidur-tidur ayam hampir 1/2 malam karena gak kuat panas, sigap bangun dari tempat tidur dan berharap mendapatkan udara segar di luar rumah.

Dugaan saya gak salah.  Pagi itu, disela-sela suara ombak, saya melangkahkan kaki ke pinggir pantai dengan hati yang penuh harap mendapatkan foto tercantik sunrise di Pulau Pisang.  Udara segar yang masuk ke paru-paru terasa seperti oksigen murni yang biasa saya minum dari botol O2.  Pasirpun terlihat bersih.  Saya memutuskan untuk melepas alas kaki dan merasakan dinginnya pasir di sela-sela jari-jari yang tampak legam terbakar matahari.

Sayang, lagi-lagi awan pekat menutup kesempatan kami mengabadikan munculnya matahari.  Menghapus kekecewaan, pagi situ saya puaskan merekam hamparan indahnya pantai Pulau Pisang dari berbagai sisi, sebelum kami menaiki kapal jukung yang sama, yang akan mengantar kami kembali ke Krui dengan kekayaan wisata-wisata lain di Pesisir Barat.

 

 

Terimakasih kepada Dinas Pariwisata Kabupaten Pesisir Barat – Provinsi Bandar Lampung yang telah berkenan mengikutsertakan saya melihat, merasakan, meliput, dan menceritakan keindahan daerah Pesisir Barat dalam kisah perjalanan selama 4hari 3malam.

Sukses untuk penyelenggaraan FESTIVAL PESONA KRUI 2017 yang akan diadakan pada 13-22 April 2017.  Semoga dengan festival ini, pariwisata di Pesisir Barat akan semakin dikenal oleh para pejalan, pelancong, wisatawan baik dari dalam maupun luar negri.  Biarkan para tamu semakin menyadari betapa kayanya pesona alam Indonesia, dan meninggalkan jutaan kesan yang baik, khususnya selama mereka berada di Kabupaten Pesisir Barat.

 

 

 

Berikut adalah tulisan dari adik-adik Travel Blogger yang pergi bersama saya dan juga menerima undangan dari Kementrian Pariwisata Pesisir Barat:

Katerina: http://www.travelerien.com/2017/03/jelajah-keindahan-pulau-pisang-pesisir-barat.html

Dian Radiata: http://www.adventurose.com/2013/01/tentang-saya-dan-adventurose.html

Deddy Huang dan Yayan:

Jelajah Pesona Pulau Pisang, Krui (Bagian 1)

24 Jam “Bermanjah” di Pulau Pisang

Facebook Comment