Waktu beranjak sore ketika saya dan Ratu meninggalkan Macau menuju Hong Kong. Menggunakan shuttle bus yang disediakan oleh Regency Art Hotel, tempat menginap selama di Macau, kami hanya butuh sekitar 30 menit untuk mencapai terminal ferry Macau. Sesuai rencana, dalam 2 malam berikutnya kami akan menjelajah Hong Kong, sebelum akhirnya pulang ke tanah air di akhir Juli 2019.

Drama Menuju (Kembali) ke Hong Kong

Passport keselip. Yup. Bener-bener keselip. Gegara ini kami tidak berhasil mengejar jadwal ferry sesuai tiket yang sudah dibeli sementara bagasi sudah berlayar nyebrang ke Hong Kong. Panik menyerang persis di depan counter Customs Macao. Lemes akika maaakk. Saat buku kecil itu ditemukan, kami terpaksa naik ferry jadwal berikutnya. Sukurnya tanpa harus membeli tiket baru. Plong!!

Lepas dari kejadian yang tidak diharapkan barusan, jadilah perjalanan laut selama hampir 1 jam kedepan kami isi dengan obrolan soal passport ini. Mengurai cerita, kasusnya adalah semalam sebelumnya saya meminjam sling bag Ratu dan meletakkan passport di kantong belakang tas pinjaman itu. Keesokan harinya, saat berpindah lagi ke sling bag saya sendiri, itu passport terlewat diungsikan.

Untungnya. Tetap masih untung juga. Sling bag Ratu yang saya pinjam tidak dimasukkan ke dalam koper bagasi yang sudah kami titipkan di ferry yang berangkat sebelumnya. Duuhh lemes banget rasanya kalo ternyata hal ini terjadi. Gak kebayang kalau harus menelpon pihak KonJen untuk mengurus keperluan travel document saya. Emang sih saya kenal baik dengan mereka. Tapi gak kebayang aja ngerepotin mereka di tengah kesibukan dan kepanikan. Ini di negara orang loh malih. Make sure dokumen penting sudah disiapkan, dicek kembali sebelum jalan, supaya gak jantungan kayak kejadian barusan. Apalagi ini pake acara pinjem meminjem tas. What a big lesson to learn!!

Drama berikutnya terjadi di pelabuhan ferry Hong Kong. Membeli tiket Macau – Kowloon, ajibnya kami tiba di pelabuhan yang lokasinya masih jauh banget dari pusat daerah Kowloon. Karena buktinya biaya taxi menuju hostel sekitar HKD 230 an. Padahal seharusnya sih skenarionya maksimum HKD 100 sudah termasuk ongkos tol sekitar HKD 10. Lah wong Kowloon sama Tsim Sha Tsui itu menyatu. But apparently, we’ve lost in translation. Saya baru ngeh ketika taxi ngepot masuk tol ke arah bandara. Ealah dalaaahh. Masih jauh bana-bana ini sih.

Naik taxinya juga penuh perjuangan. Antrian taxi terbagi dua. Satu yang mengarah ke tengah kota Hong Kong. Satu lagi menuju sisi lain Hong Kong seperti Tsim Sha Tsui dimana Homy Inn Hostel berada. Ajibnya, setelah bolak balik nunjukin nama dan alamat hostel pun petanya (google map), baik dalam bahasa Inggris maupun dalam aksara Cina, bererot taxi menolak mengantarkan kami. Alamak. What happen, aya naon ya? Apa dosa yang sudah kami perbuat? (((lebay))).

Dan setelah hampir 5 kali Ratu berjibaku berkomunikasi dengan supir taxi, akhirnya ada juga yang berbaik hati. Belakangan kami menemukan asumsi keseganan supir nganter ke Homy Inn. Chatam Road yang tertulis di lembaran booking hotel, tidak secara spesifik menunjukkan sisi mana dari jalan sepanjang itu. Permasalahan terus-terusan yang harus kami hadapi ketika berhadapan dengan supir taxi yang sudah berumur. Sementara dengan supir yang tampak masih muda, gak ada masalah sama sekali. Melirik sebentar ke map yang terpampang di HP, buka GPS sendiri, beres dah tuh.

Jadi bisa disimpulkan penyebabnya ada 2. Pertama, seksi jalan yang tidak jelas dituliskan. Kedua, supir-supir yang berumur ogah diajak nyari-nyari alamat. Tapi kalau soal teknik nyetir. Mau tua atau muda, nyetirnya ngalah-ngalahin pembalap. Ngerem kalo sudah mepet. Mbelok setajam mungkin. Ngalahin tarikan jangka sekali kepotan. Persis supir bajaj di daerah Kota, Jakarta Barat.

Tiba di Hostel

Hujan cukup deras menyambut kami ketika tiba di Hart Avenue, jalan kecil yang berada di samping/belokan Chatam Road. Taxi kami berhenti di depan beberapa bar dengan musik lantang yang sepertinya mendominasi lingkungan ini. Setelah kuralang kuriling mencari signage hostel, kami memberanikan diri memasuki sebuah lorong dengan tulisan Windsor Mansion. Aaahh got it. Setelah beberapa langkah ke dalam kami menemukan petunjuk bahwa Homy In ada di lantai 5. Oia untuk taxi, kami membayar biaya tambahan untuk toll (tunnel Hong Kong City – Kowloon) sebesar HKD 10 dan HKD 6 per koper yang kami bawa.

Setelah memasuki lift imut, melewati lorong yang juga imut, kami berjalan zig zag supaya 4 koper yang kami bawa cukup untuk digeret pelan-pelan. Pintu resepsionis pun tiny winy. Terkunci rapat dan kudu dipencet dari dalam. Setelah terdengar bunyi khas pintu dibuka, kami mengatur posisi sedemikian rupa supaya koper bisa ditarik dengan sebelah tangan menahan pintu untuk tetap terbuka. Petugas penerima tamunya pun tampak santai berdiri, tersenyum manis semanis madu, tapi tanpa minat untuk membantu. Lempeng aja mukanya ngeliat kami kepayahan.

Proses check in berlangsung tanpa hambatan. Tidak ada deposit yang diminta seperti yang tertulis di Booking Confirmation Sheet. Di ruang yang penuh sesak dengan barang-barang ini terlihat ada beberapa kamar dengan nomor seri 5. Belum lepas lelah hayati dan istirahat dengkul sama betis, kami diarahkan untuk ke gedung lain. Ternyata kamar kami tidak berada di gedung ini tapi di Union Mansion, lantai 6. Dimanakah gedung yang dimaksud? Ealahdalah ternyata persis di depan taxi kami tadi berhenti (((ngakak dari Sabang sampai Merauke))). Jadilah perjuangan geretable 4 koper berlanjut ke sesi berikutnya.

Fasilitas Kamar

Denah lokasi antara Windsor Mansion dan Union Mansion

Memasuki lorong bertuliskan Union Mansion kami disambut dengan fasilitas berukuran pas-pasan layaknya hampir sebagian besar hunian di Hong Kong. Soal sempit sih sudah biasa ya. Secara. Untuk hotel bintang 4 dan 5 yang pernah saya inapi aja semua ukurannya juga irit. Apalagi untuk hostel. Tapi yang bikin kaget adalah lift yang spooky dan berantakan fisiknya. Lorong keluar dari lift menuju kamar juga begitu. Keramiknya hancur menghancur. Seperti reruntuhan sehabis gempa. Ada mural bertuliskan Welcome to Homy Inn dan peta sebagian kecil titik-titik transportasi seputaran hostel di dinding menuju kamar, tapi jadi gak bernilai karena fasilitas sekitarnya yang kurang terurus.

Kami menempati kamar Standard Twin Room dengan 5 kamar lain yang berada dalam pintu masuk yang sama. Berukuran sekitar 3x7m, kamar berbau semriwing ketika kami masuk. Ada 2 kasur dengan alas (kotak) kayu yang ukurannya melebihi kasur. Jadi hati-hati kalau melangkah. Sudut-sudutnya bisa nyenggol betis kita.

Diantara kasur ada meja kecil dengan sekotak kecil tissue dan safe deposit box plus colokan. Di atasnya ada jendela yang ternyata cuma gaya-gayaan doang. Tak pikir ada pemandangan. Ternyata ga ada hahahaha. Boro-boro jendelanya bisa dibuka. Amsiong. Di atas jendela terpasang AC model lama yang “nyanyinya” kenceng banget. Lagunya merdu kek naik speed boat dari pelabuhan Bastiong menuju Tidore.

Fasilitas di dalam kamar Standard Twin Room
Fasilitas di dalam kamar

Berhadapan dengan kasur, ada TV yang menggantung. Ukurannya pas dengan jarak pandang. Tumpukan selang-selang besar menembus kesana kemari. Di bawah TV inilah kita bisa menaruh koper-koper. Cukup untuk 2 koper besar dan sekitar 2-3 koper cabin dalam keadaan tertutup dan berdiri. Tapi kalau mau packing ya kudu bergantian.

Kamar mandi dirancang modern dengan dinding semen tanpa plester. Ada shower tube yang dilengkapi dengan shower gel dan shampoo yang dijadikan satu. Ukuran tube nya cukup untuk bodi kami. Entah kalau untuk tamu yang semog atau beratnya 80kg ke atas. Ada air panas dan dingin yang berfungsi dengan baik. Ada wastafel kecil, kaca ukuran sedang, dengan sedikit space untuk menaruh toiletries. Di atas dudukan toilet ada gantungan handuk dan baju-baju. All look good and functional kecuali lantai tube yang gak cepat mengalirkan air. Baru mandi sekian menit aja air langsung tergenang. Tube ini juga bikin sempit kamar mandi sebenarnya. Coba showernya dibiarkan terbuka aja. Pasti deh keliatan lapang.

Soal kebersihan kamar bener-bener harus dapat koreksi serius. Ratu yang sensitif dengan debu berulang kali bersin karena perkara ini. Bahkan ketika keesokan hari yang katanya pasti dibersihkan di siang hari (sesuai janji resepsionis) ternyata tidak dilaksanakan. Petugas hanya menaruh handuk dan slipper pengganti. Kasur tidak dirapihkan bahkan untuk sekedar melipat rapih selimut yang ada pun tidak dilakukan. Lantai sama sekali tidak disapu termasuk kamar mandinya. Pengen komplain tapi segan untuk jalan ke resepsionis di gedung yang berbeda.

Fasilitas di luar Hostel

Selain beberapa bar gedebak-gedebuk yang banyak di lingkungan hostel, ada beberapa fasilitas umum yang bermanfaat banget untuk wisatawan.

Ada akses menuju MTR (lift kecil) yang letaknya berdampingan dengan Sevel. Hanya 100 meter dari Windsor Mansion. Sayangnya tidak bisa kami nikmati karena ditutup akibat aktivitas demo yang masih berlangsung di Hong Kong. Sekitar 200 meter jalan kaki ke belakang hostel, ada restoran Turki, Kebab House, dengan label Halal. Kemudian di seberangnya ada restoran dengan menu ala Thailand dan Malaysia, Chinese traditional noodle, dan tentu saja 2 outlet Sevel yang meskipun kecil ramenya gak ketulungan. Kami sempat bertanya soal jam buka resto Turki ini. Katanya sih jam 6 pagi sudah buka. Tapi nyatanya enggak. Padahal sudah sempat riang gembira bakal sarapan kenyang di sini.

Kebab House. Tampak gedung tinggi di bagian (paling) belakang foto. Itu adalah gedung hostel

Berjalan lebih jauh sedikit dari Kebab House, persis di blok yang berikutnya, ada outlet Mc Donald yang buka 24 jam. Kemudian in walking distance juga ada Halal Noodle Resto. Rencananya sih mau mampir ke sini di hari kami pulang, sebelum berangkat ke airport. Tapi badai angin dan hujan deras tak mengijinkan. Termasuk kesempatan memotret yang harus dilupakan.

Di jalan besar tak jauh dari pintu depan gedung (Chatam Road) juga ada 2 titik pemberhentian bus. Bahkan ada terminal bus di seberang jalan besar. Lalu disediakan titik-titik menunggu taxi yang cukup nyaman. Hostel sebenarnya tidak terlalu jauh dari Bruce Lee Statue yang merupakan bagian dari Avenue of Stars. Tapi sayangnya, seperti yang saya sampaikan di atas, cuaca lagi-lagi tidak bersahabat, jadi gak ada kesempatan jalan-jalan dan memotret di tempat terbuka.

Akankah saya kembali menginap di sini? Mmmm perlu difikir berkali-kali keknya. Namanya juga hostel Mbak, harga murah, opo meneh yang diharapkan? Weits jangan salah. Dengan membayar 500an ribu/malam setidaknya saya mendapatkan pelayanan kebersihan yang prima. Gak berlebihan kan? Karena sejatinya kebersihan itu adalah segala kunci kenyamanan. Bahkan semewah apapun kamar yang kita tempati, tetap aja poin kebersihan jadi kebutuhan mendasar. Dan sayangnya itu tidak saya dapatkan dari Homy Inn.

Nevertheless, untuk mereka yang 3/4 hari dihabiskan dengan ngukur jalan, tidak “gatel” dengan kondisi kamar yang so so dan rajin resik-resik, plus pengen merasakan beberapa waktu kehidupan malam, hostel ini bolehlah jadi pilihan. Kali aja pengen mencoba. Maaf tidak banyak foto yang bisa saya kasih karena less cahaya di fasum hostel dan kondisi cuaca di luaran.

Homy Inn Hostel | Flat A, 5/F, Windsor Mansion, Tshim Sha Tsui, Kownloon, Hong Kong