Setelah beberapa kali menjelajah beberapa pameran di belahan negara Asia, Hong Kong sebenarnya sudah lama menjadi incaran ngamen, setidaknya mencoba 1 event yang sekiranya pas dengan kualifikasi wire jewelry.  Berkonsultasi dengan 3 kementrian yang berbeda, wire jewelry tidaklah bisa digolongkan sebagai fine jewelry seperti berlian, emas dan perak, tapi lebih pas disebut handicraft, kerajinan tangan/handmade.  Sehingga ketika mengajukan produk ini untuk event sekelas Jewelry Fair, dinilai tidak pas dan tidak memenuhi kualifikasi untuk diikutsertakan pada event khusus perhiasan yang menjadi standard HKDTC (Hong Kong Trade Development Council) sebagai penyelenggara tunggal acara-acara bergengsi di HKCEC  (Hong Kong Exhibition & Convention Centre).  

Penelusuran pun mulai dilakukan berbulan-bulan secara intense hingga akhirnya menemukan Gifts & Premium Fair sebagai pilihan yang tepat.  Presentasi dan kurasi pun mulai dijalankan di 3 Kementrian terkait, hingga akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan Kementrian Koperasi dan UMKM Indonesia sebagai bendera inti menuju ke pameran ini.  Jalan terbuka lebar dan FiBi Jewelry pun terpilih untuk menjadi salah satu peserta bergandengan tangan dengan 9 UKM lain yang juga adalah pelaku bisnis di bidang gift dan produk-produk premium lainnya.

Keberangkatan tim yang dipimpin oleh salah seorang petinggi di Kemenkop dan UMKM didampingi dengan EO yang telah ditunjuk untuk menjadi guide kami, berlangsung mulus dan lancar pada pkl. 00:00 wib tanggal 26 April 2016.  Burung besi Cathay Pacific pun menembus langit menuju Hong Kong dalam 6 jam ke depan.  Untuk saya yang orang “malam menjelang pagi”, tidur dalam penerbangan dengan jam yang nanggung seperti itu, menjadi masalah yang menggelitik.  Mau pules dan langsung tidur di pesawat kok ya belum ngantuk.  Tapi kalau tidak segera ditidurkan takutnya teler begitu tiba di Hong Kong yang sesuai itinerary akan langsung loading in di venue.  Dan bener aja, baru mau tarik selimut memaksakan tidur .. eh dibangunkan dengan suara flight attendant yang membagikan makanan yang gak jelas masuk dalam kategori makan apa.  Makan malem kok ya sudah lewat tengah malam.  Tapi gak bisa dibilang makan pagi karena jauh dari jadwal pagi, walaupun sejatinya memang sudah berganti hari. Sahur mungkin lebih tepat ya hahahaha.  Akhirnya saya memutuskan untuk tidak mengunyah kue dingin yang disajikan di dalam box tapi lebih memilih nonton film dan membiarkan diri tertidur tanpa mematikan layar kecil yang berada di hadapan saya.

 

Tiba di Hong Kong dejavu pun hinggap di benak.  Setelah sebelumnya pernah mengunjungi negara ini karena tugas kantor, kali ini bisa menginjakkan kaki di kota yang sama untuk urusan yang berbeda.  Perjalanan hampir 45menit dari airport menuju hotel lebih saya nikmatin dalam diam dan rasa penasaran.  Hampir lebih dari 1 dekade berlalu sejak terakhir berada di Hong Kong tentunya akan menemukan banyak perubahan.  Dugaan saya tidak meleset.  Hong Kong sudah sangat sangat jauh berbeda.  Dari yang dulu bangunan dan jalan-jalan sedikit lengang telah berubah menjadi dunia kotak-kotak dengan bangunan gedung bertingkat yang semakin banyak dan jalan raya yang semakin terasa sempit.  Ya ampun.  Bangunan rapat-rapat begini gimana enak bernafas ya? Luar biasa.

 

Hotel tempat kami menginap pun, Best Western, yang berada di area Causeway Bay memberikan kesesakan yang lain.  Dengan bangunan yang serba sempit dan 4L (Lo Lagi Lo Lagi), pagi itu kami cuma sempat setor bagasi yang berisi pakaian di ground floor hotel.  Sementara bagasi untuk ngamen tetap berada di bis yang gedenya gak kira-kira.  Angkat topi buat supir nya deh.  Dengan kendaraan yang montok begitu, kok ya lihai aja berbelak belok di jalanan yang serba sempit dan selalu berhimpit-himpitan dengan mobil-mobil biasa yang terlihat mini dari kaca jendela bis.  Kalau saya yang berada di mobil itu pasti deh berasa terintimidasi habis hahahaha lebay.

 

HKCEC 01  HKCEC 02

 

Tiba di HKCEC pagi itu, saya berasa seperti petugas kebersihan yang wajib datang pagi sebelum pekerja lain tiba.  Gimana enggak wong pintunya masih tertutup rapat.  Rajin bener yak.  Untuk membunuh waktu kami pun berpencar blingsatan mencari restoran atau cafe untuk sarapan.  Masih pkl. 08:00 waktu setempat, sementara pintu baru dibuka 1 jam ke depan.  Gak ada kerjaan yang berarti, baru deh berasa lapernya.  Saya memilih cafe kecil yang berada di ujung selatan untuk minum dan menikmati cake box Cathay.  Kocaknya, tergoda botol minum yang keren, saya tidak teliti membaca keterangan di tutup botol.  Alamak ternyata minuman sparkle yang mana artinya minuman full soda dengan rasa-rasa aki (sudah pernah minum air aki soalnya, gitu deh dikerjain temen).  Jadilah pagi itu pasrah minum dan kentut terus sambil memaksakan mulut menerima kue-kue dingin yang sudah ngejongkrok kena setrap selama di pesawat.  Mo pesen kopi kok ya mihil bingit yak.  Gak rela aja ngabisin duit ratusan ribu hanya untuk secangkir kecil kopi yang pastinya sudah olahan.  Ya gitu deh emak-emak. Beda tipis antara pelit sama perhitungan.

 

Tepat pkl. 09:00 waktu setempat pintu area pameran dibuka.  Terlihat orang mulai menyemut dan sibuk dengan acara loading.  Gedung 6 lantai yang besarnya pake banget ini sungguh terlihat megah dan kokoh memeluk ratusan orang yang menyemut.  Pertama kali digunakan pada 1997 dan menjadi salah satu dari 2 gedung besar yang digunakan sebagai pameran di Hong Kong ini, HKCEC selayaknya gajah melawan semut jika dibandingkan dengan JCC Indonesia.  Berlokasi di Wan Chai North – Hong Kong island dan di pinggir Victoria Harbor, bagian dalam gedung sangat informatif dengan beberapa signage yang membantu para pengunjung langsung ke area yang diinginkan. Petugas-petugas nya pun lincah-lincah, ramah dan dapat berkomunikasi dengan baik.  Beberapa sarana umum penting seperti restoran dan toilet pun sangat terjangkau. Di spot tempat paviliun Indonesia berada banyak resto counter di beberapa titik, jadi tidak perlu berpanas-panas dan keluar gedung untuk sekedar cari makan.  Dispenser air mineral pun disediakan gratis di dalam ruang pameran dan selalu sigap terisi bersama gelas-gelasnya. Eits waktunya bekerja dan menata barang dagangan di tempat yang sudah disediakan.  Tanpa perlu berlama-lama dan bekerja dalam diam … taaraaa … puluhan wire jewelry pun terhidang manis di etalase kaca dan 2 meja yang sudah disediakan oleh Kemenkop.  Acara hari itu kami tutup dengan makan yang gak jelas lagi-lagi makan apa di pusat kota (tentunya makanan Indonesia dan halal)  dan berjalan-jalan sedikit di seputaran hotel.

 

PIC 19 PIC 20

PIC 21 PIC 22

PIC 18

Letoy setelah tour kecil-kecilan di Causeway Bay, bencana kecil kemudian menimpa saya malam itu.  Koper yang berisi baju dan perkakas dalam tidak bisa bisa dibuka.  Nomor kombinasi koper sudah benar, bahkan ketika saya cek ke suami juga sudah benar, tiba-tiba stuck tidak berfungsi.  Sudah ditekan sana sini berjam-jam dan oleh orang yang berganti-ganti juga tidak berhasil.  Merusak resleting juga tidak mungkin, karena selain 2bh cantolan ujung yang terkait dengan kunci masih kokoh terkait, jenis koper yang saya miliki ini memang yahud kualitasnya.  Pergi ke ground floor hotel dan receptionist memohon pertolongan dengan memanggil staff maintenance pun dijawab dengan “So sorry Mam, we don’t have somebody with some tools to open your luggage”.  What??? Hotel bintang 4 sebesar ini gak punya cutting plier untuk motong pengait? Yang bener aja coy. Muke gile.

 

Asli saat itu saya terduduk pasrah di lantai kamar dengan tubuh penuh peluh dan lelah luar biasa.  Sempat terlintas untuk membeli setidaknya 3 stel baju baru dan memohon maaf kepada Allah karena saya kemungkinan tidak akan istiqomah menjaga jilbab saya.  Secara pedagang kostum yang dekat hotel pasti tidak ada yang menjual hijab. Ya Allah.  Mencoba otak-atik kombinasi 3 nomor pun rasanya sudah gak sanggup.  Dengan 3 angka begitu dan mencoba satu persatu dan kondisi otak yang sudah gak nyambung, sungguh tidak manusiawi.  Teman-teman seperjalanan pun pastinya sudah capek dan gak mungkin menunggui saya.  Tapi alhamdulillah teman sekamar saya, Nanda, sangat sabar dan tetap terjaga dengan penuh empati.  You’re a great person Nanda!!

 

Hampir 45menit saya tak berdaya.  Bercanda dengan Nanda akhirnya memunculkan ide untuk mencoba lagi pertolongan hotel.  Kali ini tidak dengan cara yang sudah ditempuh di atas, tapi dengan menelpon housekeeping dengan suara yang entah berapa getaran resonansinya.  Gak ada jawaban pasti di ujung telepon.  Hanya “OK Mam” yang saya dengar.  Melirik jam, astaghfirullah sudah hampir pkl. 21:00 waktu setempat, no wonder yang yaut telepon juga terdengar lelah.  Ya sudah. Telepon saya letakkan dan melanjutkan lawakan-lawakan garing dengan Nanda.  Maksudnya mentertawakan penderitaan diri sendiri, sementara tangan sudah mulai rajin menggaruk body di sana sini karena gerah dan gatal yang mulai menyerang.

 

Tepat ketika memutuskan untuk tidur dengan baju Nanda malam itu, bel pintu berbunyi kencang.  Di depan saya berdiri 2 orang bapak-bapak dengan beda kostum.  1 berjas rapih yang saya yakin official staff dan 1 lagi berseragam kuning menyala.  Gak penting parasnya gimana, mata saya langsung berbinar-binar melihat si bapak berbaju koneng nenteng kotak peralatan gede. Naaahhh gini baru betol.  Senyum sumringah dan rasa plong membuncah di hati saya.  Cutting Plier sebesar lenganpun dikeluarkan dan dengan 2x gerakan cantolan penghianat itupun putus dari sangkurnya.  Biarlah, kalaupun nanti harus direparasi dengan biaya mahal, setidaknya dalam 7 hari ke depan hidup saya berjalan seperti biasanya. Entah sudah berapa kali kata terimakasih meluncur untuk kedua bapak-bapak ini, sampe akhirnya sadar kalau jilbab saya tidak terpasang ketika bertemu mereka. Yah dimaklumi aja yak.  Malam itu seperti malam terindah berada di Hong Kong.  Tertidur dengan baju bersih walaupun sudah hampir tengah malam.

 

Hari yang ditunggu-tunggu pun akhirnya tiba.  Naik mini bis menuju HKCEC semangat saya pagi itu terasa luar biasa.  Tak sampai 20menit kami tiba di area pameran dan melanjutkan acara rapih-rapih di stand masing-masing.  Kesibukan terlihat diantara semua UKM yang tergabung antara Kementerian Perdagangan dan Kementrian Koperasi.  1jam ke depan, semua sudah siap, dan saya sudah tidak sabar untuk “menangkap” keindahan produk-produk kreatif dari sekitar 20 UKM yang berangkat dari tanah air. Slogan TRADE WITH REMARKABLE INDONESIA dan RUMAH INDONESIA pun terpampang di bagian depan island booth Indonesia yang berada di Hall 3C Unit D34.  Semua terlihat rapih dan cantik luar biasa. Sungguh pemandangan yang istimewa.

 

PIC 05 PIC 06

PIC 08 PIC 07

PIC 12 PIC 13

PIC 15 PIC 16

PIC 09 PIC 10

PIC 11 PIC 14

 

Untuk tim Kementrian Koperasi sendiri ada 10 UKM dengan produk yang beragam yaitu : SSS Silver dari Bali (produk perhiasan silver), Batik Soul Guitars dari Solo (gitar dengan design unik batik), FiBi Jewelry (wire jewelry), Mica Work dari Solo (produk unik dari kain), Putri Ayu Bali Indonesia dari Bali (home decoration), Naditha dari Bekasi (unique packaging), Hikmah Mandiri dari Martapura (precious stones dan accessories khas Kalimantan), Jorajona dari Jakarta (decoupage), Bina Karya dari Balangan (tric bags) dan Bowsha dari Bandung (unique tie).  Dari kesemuanya ada 3 teman yang sudah pernah ngamen bareng di LN yaitu SSS Silver, Mica Work dan Naditha.

 

Hari demi hari dilewatkan dengan penuh sukacita dan semangat yang membuncah.  Dari 4 hari pameran dengan 3 hari untuk transaksi wholesales and 1 hari terakhir untuk retail, hampir kesemuanya ditutup dengan kombinasi keduanya.  Seperti layaknya berdagang di LN, FiBi menerapkan pricing system yang sama selayaknya di tanah air.  Bedanya hanya di jenis mata uang.  Salah seorang teman bertanya apakah ada kenaikan tertentu untuk masalah harga.  Tidak.  Sejatinya pasar dimanapun kita berada, kebijakan harga yang terlalu mengada-ada justru akan menjerumuskan kita.  Buktinya ketika berada di Eropa Tengah beberapa tahun yang lalu, saya menemukan kesulitan untuk memasarkan produk premium.  Produk yang dilirik customer adalah yang murah-murah (tidak lebih dari Rp 300.000,-).  Kenyataan bahwa orang Indonesia jauh lebih konsumtif dibandingkan dengan orang di negara lain itu benar adanya.  Untuk sebuah kalung seharga IDR 450.000,- terjual dengan mudah ketika pameran di JCC.  Sementara di LN, menawarkan harga segitu perlu perjuangan, tarik urat bonus orasi panjang lebar mengenai product knowledge.

 

Untuk di event ini sendiri produk wire jewelry menuai banyak pujian.  Mulai dari design exclusive alias tidak sama satu dengan lainnya, pengerjaan murni dengan tangan tanpa bantuan alat berat dan tentu saja batu-batu asli Indonesia yang tidak ada duanya.  Meskipun Hong Kong sendiri adalah salah satu surga batu di dunia, tetap saja setiap pengunjung yang mampir berdecak kagum tanpa henti.  Bangga rasanya mewakili sekian banyak perhiasan yang dinilai istimewa bagi orang lain.  Pun termasuk ketika banyak Ibu-ibu dari keluarga besar Konsulat Jendral RI di Hong Kong bertandang ke stand kami dan terbenam dalam diskusi.  Terimakasih untuk anggota team FiBi Jewelry yang sudah bekerja maksimal.  A very good job ladies!!

 

Dari keseluruhan waktu yang dihabiskan di acara ini, saya sempat bertemu 3 potential buyers yang sangat antusias membangun kerjasama dengan kami ke depannya.  Ngobrol panjang lebar tanpa lelah.  Diskusi alot mengenai pricing policy dan partnership system, hingga akhirnya ada 1 buyer yang justru tergerak untuk belajar langsung karena beliau memiliki outlet creative di beberapa tempat di Hong Kong. Bahkan ketika diceritakan bahwa salah seorang murid saya adalah orang Hong Kong dan tinggal/menetap di kota ini, antusiasme beliau justru semakin menyala-nyala.  Alhamdulillah dari masing-masing buyer ini terlihat serius dengan membeli beberapa produk dengan design yang berbeda-beda sebagai materi review dan market test.

 

Transaksi retail pun sebagian besar tidak njlimet.  Memang butuh waktu untuk menjelaskan ini dan itu.  Dengan bantuan beberapa interpreter yang disediakan oleh Kementrian obrolan dengan beberapa customer yang tidak bisa berbahasa Inggris pun berlangsung tanpa hambatan yang berarti.  Bahkan ada beberapa pelanggan yang rela berlama-lama mengamati satu persatu sebelum akhirnya menutup kunjungannya dengan membeli produk yang sangat disukai, yang sebagian besar dengan sentuhan wrapping yang tidak terlalu rumit.  Di satu waktu saya bertemu dengan Mrs. Irene, seorang Manager sebuah perusahaan IT, yang tak bergeming menoleh ke kalung yang lain.  Kalung buatan saya yang bernama Kolang Kaling pun dibeli tanpa menawar, langsung dipakai dan pulang dengan wajah sumringah.  Bangganyaaaa…..

 

PIC 02

 

Menutup acara pameran dan pulang dengan koper isinya berganti dengan oleh-oleh meletupkan keinginan untuk kembali ke Hong Kong, tentu saja dengan karya-karya yang lebih baik.  Pengalaman bertemu dengan sekian banyak orang dengan tipe yang berbeda-beda dan janji untuk menggarap kerjasama dengan Buyers yang sudah ditemui, meringankan langkah saya untuk kembali ke tanah air.

 

Facebook Comment