The Indonesian Team

Mengikuti kurasi kesekian kalinya untuk sebuah perhelatan internasional selalu saya nantikan. Apalagi jika kegiatan yang dituju berhubungan dengan craft, jewelry, atau segala produk handmade. Karena kesempatan untuk hadir, berpartisipasi di acara-acara seperti ini, bukan cuma demi kepentingan jualan (retail maupun business to business) tapi juga menambah pengalaman, melihat dan membuka mata akan perkembangan dunia craft khususnya perhiasan (handcrafted jewelry), meraup network baru, dan tentu saja biar gak (hanya) jadi jagoan kandang.

Jadi ketika mendapatkan email dari Konsulat Jendral RI di Hong Kong melalui Departemen Perdagangan RI di Jakarta, saya langsung responsif mengirimkan proposal dan company image. Sembari menunggu keputusan kurasi, saya menyempatkan diri mengorek informasi sebanyak mungkin tentang event ini. Setelah 2 tahun yang lalu mengikuti Hong Kong Gifts & Premium Fair di tempat yang sama, kali ini adalah pameran khusus untuk perhiasan yang diikuti oleh sebagian besar produsen dari segala penjuru dunia. Menempati semua hall yang tersedia di Hong Kong Convention & Exhibition Centre, materi yang disajikan kepada pengunjung adalah produk perhiasan dari segala kriteria. Mulai dari creative jewelry hingga precious jewelry seperti berlian, permata, dan segala produk menggunakan precious stones serta sejenisnya.

Tak lebih dari 1 minggu setelah proses kurasi dilaksanakan, brand saya, FIBI Jewelry, terpilih untuk menjadi salah satu peserta event berkualitas ini bersama 8 (delapan) perajian dan atau produsen perhiasan lainnya. Formasi lengkap kami adalah: SSS Silver (Bali) – perhiasan perak, Leginayba (Jakarta) – perhiasan dari tanduk kerbau, FIBI Jewelry (Bekasi) – wire jewelry, GMC Collection (Surabaya) – perhiasan batu alam, Bintang Dharmawan (Bali) – perhiasan perak, VITE (Jakarta) – perhiasan perak dan miniatur perak, Maha Candra (Bali) – perhiasan perak, Verso Jewelry (Bali) – perhiasan perak, dan Artistica Jewelry (Surabaya) – perhiasan perak.

Indonesian Team

Meskipun sebagian besar diisi oleh produsen silver, produk yang ditampilkan oleh setiap pengusaha sangat bervariatif dengan karakter dan ciri khas yang berbeda-beda. VITE contohnya. Mengolah rancangan di Jakarta, produk mereka diproduksi di Jogja. Hal ini dijalankan karena VITE lebih berkonsentrasi pada design filigree yang menjadi kekuatan DNA perajin perak Jogja. Selain menghadirkan perhiasan, VITE juga membawa sekian banyak contoh produk miniatur khas Indonesia yang sangat diminati oleh buyer Timur Tengah.

Debut baru dari serangkaian pameran LN yang pernah saya ikuti adalah brand VERSO Jewelry. Berkonsentrasi pada pecinta perhiasan dengan model simpel kekinian, Verso lebih menyasar pada pangsa pasar kaum milenial. Chitra, pemilik Verso, yang juga adalah putri dari pemilik brand ASIA Jewelry, tampil begitu promising dengan kemampuan berkomunikasi yang menurut saya sangat mumpuni. Satu nilai plus yang wajib dimiliki oleh siapapun dalam bisnis apapun saat mewakili institusi di ajang internasional.

Booth Indonesia yang disponsori oleh Konsulat Jendral RI di Hong Kong

Menempati lahan hook seluas 27m2 di lantai 5 Unit B01, setiap peserta mendapatkan 1 buah meja kaca display dan tentu saja area dinding backdrop yang berada di bagian belakang. Untuk FIBI, saya lebih memaksimalkan bagian depan dengan membawa display meja dan gantungan kayu, agar tetap berkonsentrasi “menjamu” produk di bagian depan saja.

Berada di salah satu sudut lantai 5 dikelilingi oleh beberapa peserta yang berasal dari Cina daratan, di area khusus Asia ini boleh dikatakan front space nya dikuasai oleh Thailand. Hadir dengan sekian banyak stand dengan ukuran jumbo, fascia dan physical appearances mereka juga tampak sangat menarik. Dari info yang saya dapat, para exhibitor dari Thailand ini mendapatkan hampir 3/4 dana bantuan dari negara. Jadi gak heran kalau posisi-posisi strategis, terutama di lobby unit 5F dikuasai oleh beberapabrand ternama Thailand.

Oia selain stand besar yang disponsori oleh Konsulat Jendral RI di Hong Kong, ada beberapa pengusaha silver asal Bali yang ikut serta dalam event ini secara mandiri. Tidak banyak memang. Tapi mereka sudah secara regular berpartisipasi dan sudah memiliki customer/buyer langganan. Saya terpaku mendengar cerita kesuksesannya. Perlu berguru agar bisa sesukses itu. Mengamati, mengambil contoh yang baik, baru kemudian mengeksplorasi sesuai dengan karakter dan kemampuan sendiri. Langkah-langkah yang selalu saya ingat dalam mengembangkan bisnis. Tentu saja dengan dukungan kejujuran, strong financial root, neat management, dicipline, konsistensi, berusaha semaksimal mungkin dan tak lupa, menguatkan iman, ibadah kepada Sang Pencipta.

HKCEC dan Nuansa Pameran

Kesibukan berbenah jalur jalan dilihat dari lantai 5 gedung HKCEC

Tiba tengah hari di Hong Kong International Airport di H-1 sebelum acara berlangsung, saya dan Yuk Onie yang bareng berangkat dengan Cathay Pacific dari Jakarta memutuskan untuk makan siang dulu sebelum melanjutkan perjalanan. Airport penuh luar biasa. Kekhawatiran bakal berdiri dalam antrian panjang melewati Custom luruh seketika saat saya melihat sebuah banner besar terpasang di sebuah sudut tertentu. Berbekal surat keterangan sebagai peserta pameran, kami dilayani oleh counter khusus yang sama sekali tidak ngantri mengekor. Kelar urusan koper, kami naik bis A11 yang menurut info penjaga counter informasi adalah bis yang dapat berhenti mendekati HKCEC. Belakangan saya ketahui bahwa ternyata HKCEC menyediakan bis 15 seats yang melayani transport dari dan menuju airport. Yaellaaaa.

Bermodalkan HKD 40/orang, perjalanan menuju tengah kota Hong Kong dengan bis 2 tingkat (double decker), memakan waktu sekitar 1 jam. Ketidakyakinan menggeret 2 koper besar dan 2 koper kecil menuju venue, kami akhirnya memutuskan untuk turun di Causeway Bay dan meneruskan perjalanan dengan menggunakan taxi. Keputusan yang tepat karena setelah beberapa hari berada di Hong Kong, saya mengetahui bahwa bis A11 yang kami naiki ternyata rutenya cukup jauh dari main gate HKCEC.

Dengan luas (mungkin) 5 kali lebih besar dari Jakarta Convention Centre (JCC), HKCEC, dari segi ukuran, kira-kira seimbang dengan Nanning International Convention Centre di China. Berada di kawasan Wan Chai, saat saya datang akhir Februari 2019, lingkungan sekitar HKCEC masih sibuk berbenah. Tampak pembangunan perluasan jalan di sisi gedung yang menghadap ke laut. Kegiatan reklamasi yang saya liat di 2016 tampaknya sudah selesai dan dilanjutkan dengan perapihan jalur lalu lintas.

Menelusuri jalan panjang menuju stand Indonesia, kami disambut dengan hiruk pikuk suasana loading in pameran. Seperti pengalaman sebelumnya, management HKCEC sangat menjaga kerapihan dan kebersihan proses muat barang ini. Semua tampak teratur. Hanya beberapa spot yang mendapatkan ijin pembangunan sementara semua stand yang berada di dalam hall hanya memperoleh fasilitas build-in. Permintaan tambahan perlengkapan pun sangat sigap dilayani. Tim pelayanan selalu siap di setiap hall. Jadi gak perlu waktu lama untuk mendapatkan/menyewa item yang kita inginkan. High rated service.

Salah satu pintu utama HKCEC yang berada di Harbour Road
HKCEC | Harbour Road Entrance

Menggunakan fasilitas transportasi MTR (Mass Transit Railway) yang salah satu stasiunnya berada tidak jauh dari hostel kami di Causeway Bay, pagi itu, di hari pembukaan pameran, rombongan kami berjuang menuju HKCEC dengan ratusan pegawai kantor. Perjalanan pagi itu cukup menguras tenaga karena harus antri membeli kartu transportasi Octopus (harga HKD 150, 100 untuk deposit dan pembelian kartu sementara sisanya 50 adalah dana pemakaian), sempat nyasar, dan belom terbiasa berdesakan dengan lautan manusia. Belum lagi perjuangan melewati tangga dan escalator yang tingginya luar binasa.

Dari hostel menuju titik berdiri terakhir masuk MTR kalau saya ukur kasar kira-kira 2km (pp). Kemudian disambung dengan jalan kaki lagi sampai ke booth (stand kami) dari stasiun Wanchai itu sekitar 4km (pp). Jadi notabene tiap hari sudah olah raga jalan kaki sekitar 6km. Hari pertama saya bener-bener gempor tanpa ampun. Betis kenceng pun masih berasa sampai hari ke-2. Tapi di hari-hari berikutnya, semua terasa biasa dan tubuh pun sudah mampu beradaptasi.

Saya, Yuk Onie (VITE), Mbak Sisca (GMC Collection), dan Malik (Leginayba) di dalam MTR

Untuk kesiapan fisik sebelum pameran dibuka setiap harinya, kami selalu berusaha tiba di venue 30 menit sebelum pkl. 10:00 waktu Hong Kong. Para petugas pameran dari ratusan exhibitor tampak menyemut menuju HKCEC termasuk kami, tim dari Indonesia. Antrian lift dan pemeriksaan harianpun, seperti scanning tag, tak terhindarkan, setidaknya di batas terakhir sebelum masuk hall. Awalnya terasa lambat dan makan waktu, tapi belakangan saya jadi mahfum, mengingat bahwa event sebesar ini tentulah butuh jaminan keamanan yang mumpuni. Apalagi yang dipamerkan adalah perhiasan.

Karena lebih dekat dari dan menuju lantai 5F serta fasilitas MTR, kami selalu datang dan pulang melalui Harbour Road Entrance. Turun di stasiun Wan Chai, menyusuri escalator beberapa kali, melewati jembatan 3 kali, sebuah jalan penghubung akan menggiring kami memasuki HKCEC. Tak ada yang berjalan pelan. Semua tampak terburu-buru hahahaha. Kami pun otomatis mengikuti karena kalau enggak bakal bisa terdorong-dorong lautan manusia. Makanya setiap malam pulang dari pameran, kaki adalah bagian terdahulu yang minta diistirahatkan.

Escalator terjal jalur penghubung dari dan ke MTR
Buyer Registration | Untuk masuk ke seluruh area pameran pengunjung dan atau Buyer wajib mendaftarkan diri dan mengenakan tag khusus Buyer atau Visitor
Pintu Utama lain yang berada menghadap ke laut
Antrian lift setiap paginya

Dari informasi yang saya dapatkan, pameran yang biasanya berakhir di setiap hari Minggu, kali ini diperpanjang sampai Senin. Yang dulu-dulunya diselenggarakan 4 hari ditambah menjadi 5 hari. Entah karena pertimbangan apa, tapi menurut saya tambahan hari ini tidaklah terlalu efektif untuk transaksi penjualan. Bahkan di hari terakhir (Senin), banyak para exhibitor yang loading out mulai tengah hari. Sementara pengunjung biasa, tentunya sudah sibuk dengan kegiatan regular.

Buyer, pembeli dalam partai besar, lebih banyak menikmati waktu-waktu mereka di hari kerja. Sementara untuk weekend (Sabtu dan Minggu) lebih didominasi oleh pembeli retail, termasuk para pembeli yang juga adalah exhibitor. Dengan peserta yang jumlahnya ratusan, pembeli opsi terakhir ini, wajib diperhitungkan. Bayangkan aja kalau dalam 1 stand ada setidaknya 5 petugas jaga. Dikalikan dengan sekian ratus peserta dari seluruh hall, maka jumlah mereka ini bukan main banyaknya. Jadi selain visitor (pengunjung publik), brand saya lebih banyak mendapatkan transaksi dari mereka-mereka ini. Bahkan ada petugas-petugas administrasi dan keamanan HKCEC yang membeli dan bolak-balik mengamati setiap item yang saya tawarkan.

Ada 1 lagi pengalaman baru yang saya dapat di pameran ini adalah ketika mendapatkan informasi dari rekan exhibitor bahwa tak jauh dari stand kami ada satu stand khusus dari China daratan (Mainland China) yang juga menjual wire jewelry. Saya menyempatkan mencuri waktu untuk melihat. Kesan pertama yang saya dapatkan adalah keunikan dalam balutan teknik sederhana. Yang bikin mereka unik adalah produsen ini hanya menggunakan 2 materi dalam karya mereka yaitu kawat gold filled 18karat dan mutiara baroque. Walaupun hanya menggunakan teknik-teknik sederhana (coiling dan weaving), kemewahan materi jewelry yang ditawarkan bisa dikatakan menjadi unggulan.

Saya sempat mengamati dengan memegang langsung salah satu cincin. Terasa di tangan dan terlihat di mata pengerjaannya rapih, kawatnya lembut, plus mutiaranya pun tercoating dengan sempurna. Tak ada gurat-gurat kasar atau sambungan kawat yang melukai tangan. Jadi ketika salah seorang SPG memberikan info soal harga yang cukup bikin kantong jebol, saya bisa maklum. Sayangnya tidak ada ijin untuk memotret, jadi saya tidak bisa membawa “oleh-oleh khusus” untuk teman-teman yang penasaran soal produsen yang satu ini. Pun ketika mencoba mengunjungi website yang tertulis di brosur. Ternyata hasil photography produknya tidak bisa mewakili keindahan jewelry yang mereka tawarkan.

Ketika saya mencoba menggali informasi dengan mengajak sales representative mereka dalam obrolan. Sayangnya keterbatasan bahasa menjadi kendala. Setelah beberapa kali mencoba berbicara dalam bahasa Inggris pelan dan tertata, nyatanya tak terbangun komunikasi yang saya harapkan. Sayang banget ya. Dalam sebuah event berskala internasional, perusahaan tidak menyiapkan personil yang mampu berbahasa internasional dengan baik. Padahal aspek ini jugalah yang akan jauh merangkul network lebih luas.

The whole Indonesian Team | KonJen RI di HK dan exhibitors dari tanah air dalam makan malam bersama di hari ke-1 pameran

Terimakasih saya ucapkan untuk Konsulat Jendral RI di Hong Kong beserta seluruh anggota tim plus Kementrian Perdagangan RI di Jakarta, yang telah memberikan kesempatan kepada FIBI Jewelry untuk menambah satu lagi pengetahuan berharga dalam mempresentasikan produk di dan untuk sebuah kancah pameran perhiasan internasional.

Dari peserta-peserta lain pun saya banyak belajar. Terutama dari rekan-rekan yang memiliki pengalaman tangguh dan jejaring buyer. Puluhan juta transaksi yang mereka dapatkan dari continuity transactions dengan regular buyers melahirkan semangat baru untuk suatu saat kedepannya, FIBI Jewelry kuat dan mampu melakukan hal yang sama.