Dengan Samuel Wattimena

 

Samuel WATTIMENA

Untuk mereka yang mengikuti perkembangan mode, penyuka dunia fashion dan yang sering baca-baca majalah atau apapun yang berhubungan dengan rancang pakaian, tentunya mengenal Bapak yang satu ini.  Dibalik cerita-cerita kelam dis-orientasi seksual yang pernah terjadi dalam hidup beliau, laki-laki yang lahir pada 25 November 1960 ini, adalah salah seorang perancang mode kenamaan Indonesia yang sangat concern kepada kekayaan dalam negri, khususnya kain-kain nusantara dan dunia craft.  Nama besarnya lebih dari pantas untuk disamakan dengan perancang-perancang mode Indonesia lainnya, seperti Poppy Dharsono, Itang Yunaz, Ramli, dll.

Hari itu, Staf Khusus untuk Kementrian Koperasi dan UMKM dan penerima Upakarti pada tahun 1990 ini,  memang dijadwalkan akan memberikan presentasi mengenai TREND FASHION 2016 kepada kami, para UMKM yang berlindung di bawah payung SMESCO.  Beliau dijadwalkan menjadi penyaji pertama,  disamping bimbingan mengenai proses export dari salah satu lembaga penyedia sertifikasi export dan sebuah perusahaan yang menangani in flight magazine untuk Garuda dan Citilink.

Setelah beberapa kali dahulu pernah bersalaman dengan beliau, hari itu saya bersyukur dapat bertemu lebih dekat, menyerap pengetahuan yang disampaikan dan tentu saja berfoto bersama.  Sampai di tempat meeting/ruang presentasi yang sudah disiapkan, saya melihat kehadiran beliau sangat dinantikan oleh semua undangan.  Para peserta terlihat mengerubungi beliau dan antusias bertukar ide serta menantikan masukan-masukan akan produk-produk kain yang dibawa oleh peserta. Obrolan disertai dengan canda tawa dan suasana berisik yang memecah sambutan pagi itu, sampai akhirnya MC meminta para hadirin untuk duduk dan mengikuti rangkaian acara.

Tampil dengan batik marun dengan celana panjang dan sepatu warna senada, Pak Samuel membuka presentasi dengan sejarah beliau yang semenjak 1979 sudah bergelut dengan perkembangan mode dan craft di Indonesia.  Dia yakin bahwa Indonesia memiliki kekayaan craft yang luar biasa, bahkan sampai ke pelosok-pelosok sekalipun.  Bahkan ketika membicarakan mengenai para perajin craft di desa-desa atau di kampung-kampung yang sangat tinggi bakat dan sentuhan seninya, beliau sempat sangat emosional.  Dengan tetesan air mata dan suara yang terbata-bata, beliau menyampaikan bahwa betapa saudara-saudara kita yang sangat potensial tersebut telah terpinggirkan dan hanya memiliki kemungkinan yang kecil untuk bisa “terangkat” pun untuk mempromosikan produk kerajinan mereka.  Saya pun sempat tertegun.  Bukan karena melihat beliau menangis sedemikian rupa, tapi lebih karena menyadari betapa beruntungnya saya berada di kota besar dan menikmati berbagai kesempatan untuk menyajikan hasil karya saya di negara sendiri dan juga di negara lain.

Pagi itu, setelah sempat molor hampir 1 jam, Pak Samuel mengulas mengenai fashion trend 2016 yang juga meliputi textile and accessories trend, seperti yang tertulis pada agenda acara.  Ada 5 negara yang dibahas yaitu London, Milan, New York, Paris dan Tokyo.  Kelima negara yang memberikan pengaruh besar terhadap bisnis fashion yang mewakili 3 benua yaitu Amerika, Eropa dan Asia.

Dari setiap negara yang dibahas, para peserta disajikan beberapa foto fashion show  dengan rancangan-rancangan khas cat-walk  yang memperlihatkan siluet, percampuran warna, motif yang beragam serta berbagai cara pemakaian out fit  yang menarik perhatian.  Sejujurnya saya lebih banyak ngilu melihat para model yang tampil di slide presentasi, karena tubuh yang sangat kerempeng (berukuran 0), wajah tirus dan kulit yang pucat .Tapi ketika menyimak lebih teliti apa yang disungguhkan, saya jadi berdecak kagum berkepanjangan.  Tidak hanya karena rancangan baju yang beragam, tapi juga tampil rancangan-rancangan out-of-the-box  untuk sepatu dan accessories yang dikenakan para model.  Ada sepatu sneaker  yang “lidah” nya justru ditaruh di luar, sandal kulit dengan kaos kaki tebal yang dikenakan seperti kalau kita sedang demam, kalung dengan cutting yang tak beraturan, serta banyak lagi lainnya.

Beliau juga menelaah bahwa untuk 2016, trend di London lebih bersifat kontemporer, Milan lebih mengarah ke maskulin, New York dengan sentuhan sportif dan ready to wear, Paris dengan rancangan yang lebih kreatif baik dari segi design dan percampuran warna, dan yang terakhir Tokyo dengan design yang imajinatif, playful dan cenderung childish.  Kalo boleh saya katakan sih lebih mirip dengan kartun-kartun Jepang yang sering diputar di TV.  Sembari menyampaikan ulasan ini, beliau mengajak para peserta untuk menikmati rangkaian slide show secara keseluruhan.  Jadi bukan hanya melihat dari sudut-sudut keunikan (baca: keanehan) rancangan, tapi juga menikmati siluet yang telah ditata dengan rapih serta imajinasi yang kuat.

Terlepas dari semakin pesatnya perkembangan dunia mode di luar negeri, kita harus yakin bahwa sesungguhnya Indonesiapun, suatu saat, bisa menjadi kiblat fashion, paling tidak untuk skala ASEAN.  Hal ini menjadi keyakinan bersama karena Indonesia memiliki kekayaan nilai seni yang tinggi bahkan ditaraf kampung sekalipun.  Dengan latar belakang budaya yang beragam dan pasar yang sangat luas bahkan di negeri sendiri, karya-karya orisinal anak negri akan memegang peranan penting dan mampu berbicara  di pasar Internasional.  Untuk itu, Pak Samuel, dengan suara lantang, mendorong setiap UKM untuk tidak berhenti berkarya, mengembangkan diri dan bergerak maju agar semua mimpi-mimpi ini bisa terwujudkan.  Tidak ada genuine idea dalam dunia fashion.  Semua saling mempengaruhi.  Belajar dari mencontek tapi munculkan identitas diri sendiri dengan tetap mempertahankan eksklusifitas.

Pada kesempatan ini juga, Pak Samuel menyampaikan beberapa hal yang penting ditanamkan oleh semua yang hadir, terutama para penggiat fashion dan craft:

  1.  Foto Styling. Membiasakan diri menampilkan foto produk dengan model memberikan sentuhan tersendiri bagi “nilai” untuk produk itu sendiri.  Foto “tunggal” produk memang tidaklah kalah cantik.  Tapi dengan menyajikan sebuah karya seni dalam kondisi “sedang digunakan” tentunya akan lebih “berbicara”;
  2. Inovasi Baru.  Secara berkala, contoh setiap 3bulan, harus ada 10% produk baru dari total produk yang kita lemparkan ke pasar.  Dengan cara ini, kita terdorong untuk terus berkembang dan bergerak maju;
  3. Menciptakan produk dengan mengakomodir berbagai warna kulit.  Mode bukan hanya untuk yang berkulit putih saja, sawo matang saja, hitam saja.  Tapi seharusnya bisa mempercantik semua warna yang ada di bumi;
  4. Menelurkan produk dengan konsep dan tujuan yang lebih tajam/spesifik.  Kita dituntut untuk mampu dan berani menentukan pangsa pasar yang kita tuju.  Menciptakan sesuatu untuk kalangan tertentu, usia tertentu dan gender tertentu, justru akan menguatkan dimana dan untuk siapa produk kita diciptakan

Berikut adalah foto-foto materi presentasi yang disajikan oleh Samuel Wattimena

Trend Fashion, Textile and Accessories 2016 – LONDON

Slide2 Slide6 Slide23Slide29

 

Trend Fashion, Textile and Accessories 2016 – MILAN

Slide10 Slide15 Slide25 Slide33

 

Trend Fashion, Textile and Accessories 2016 – NEW YORK

Slide17 Slide8 Slide37 Slide46

 

Trend Fashion, Textile and Accessories 2016 – PARIS

Slide8 Slide27 Slide41 Slide47

 

Trend Fashion, Textile and Accessories 2016 – TOKYO

Slide14 Slide22 Slide33 Slide53

Facebook Comment