Setelah berkali-kali melewati jalur utara menuju Kintamani, Ubud, saya akhirnya menyempatkan waktu untuk mampir ke sini.  Dulu, entah untuk yang keberapa kalinya, ketika mencari ukiran kayu dan display di seputaran Tegallalang plus makan siang di Kintamani, saya sering terjebak kemacetan di Ceking.  Terus terang karena macet dan susah cari parkir inilah, saya jadi segen mau turun dan ngider di sini.

Mengandalkan bahu jalan untuk turun naik penumpang dan parkir kendaraan (mobil dan motor), ukuran lebar jalan yang tidak begitu besar, dan banyaknya pedagang lepasan yang mondar-mandir mengejar customer, melengkapi sumber kemacetan yang terus menerus terjadi.

Tapi itu dulu. Ketika Oktober 2017 yang lalu saat saya lagi-lagi melewati Ceking, terlihat perubahan yang cukup signifikan.  Walaupun pengunjung (tetap) terlihat menyemut, pinggir jalan sudah bersih dari deretan mobil.  Aaahhh ternyata sekarang sudah ada area parkir khusus untuk para pengunjung.  Naahh gitu dong.  Beginikan oke banget.

Jadilah ketika kami (saya, Mbak Yayuk, dan Michael) selesai menikmati dinginnya Kintamani, jadwal berikutnya adalah Ceking Rice Terrace.  Michael yang memang seneng dengan pemandangan sawah terlihat sumringah dan seneng luar biasa.  Wajahnya tampak bahagia, berseri-seri dan berulangkali memuji sawah diantara perbukitan ini.  Walaupun sebelumnya sempat bersama kami ke Jatiluwih dengan area persawahan yang jauh lebih besar, menurut Michael, Ceking memiliki karakter unik tersendiri.  Saya pun mengangguk setuju.

Baca juga: JATILUWIH – UNESCO World Heritage di Tabanan Bali

Terletak di desa Ceking, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar, hamparan sawah terasering dengan pengairan sistem Subak ini, terlihat bak lukisan.  Pengaturan lahan yang berkelok-kelok membentuk gelombang, menambah keindahan yang terpapar di depan mata.  Padi yang sedang tumbuh subur dengan ketinggian yang pas membuat barisan batang padi menjadi sangat indah untuk tertangkap kamera.

Karena posisinya yang diapit oleh perbukitan, di lereng bukit sepanjang jalan, berdiri beberapa cafe atau rumah makan serta beberapa toko kerajinan tangan, oleh-oleh, dan produk-produk seni.  Dan kalau tidak salah ada juga beberapa penginapan yang menghadap petak-petak sawah bertingkat.  Kebayang ya kalau nginap di sini, bangun pagi-pagi, menghirup udara segar khas pegunungan, dan memandangi sawah sambil ngopi.  Ngobrol berjam-jam pun bakal gak terasa.  Suatu saat kudu dijabanin nih keknya.  Catet!!

Cafe yang menjual snack, aneka minuman, dan ice cream yang tampak selalu penuh pengunjung
Galeri lukisan yang cukup besar dengan koleksi lukisan yang sangat banyak

Melangkah menuju bahu bukit melalui beberapa tangga yang cukup terjal, kita akan tiba di sebuah pijakan semen yang cukup luas.  Dari titik ini kita dapat menghamburkan pandangan hampir ke setiap arah.  No wonder, pijakan ini selalu ramai pengunjung.  Waktu-waktu berfoto pun jadi berebutan.  Susah banget untuk mendapatkan waktu kosong untuk berswafoto karena padatnya wisatawan yang berlama-lama berdiri di sini.

Memandang dari kejauhan, kita dapat melihat sebuah cafe kecil dengan dekorasi payung khas Bali dan beberapa tempat duduk.  Sementara di sekelilingnya kita dapat melihat jalur trekking yang sudah dipersiapkan untuk yang berminat melatih kaki menyusur tapak-tapak tanah mengelilingi sawah. Terlihat juga banyak pohon-pohon kelapa yang tumbuh tinggi langsing, nyempil diantara petak sawah.

Pijakan semen, tempat strategis untuk berfoto dan menghamburkan pandangan ke seluruh penjuru arah. Saking ramainya tempat ini, susah banget untuk mengambil foto tanpa gangguan. In frame: Mbak Rahayu Andayani (Yayuk)

Langit mulai gelap dan rintik-rintik hujan sedikit demi sedikit menghujan bumi.  Kami pun bersegera melangkahkan kaki menuju area parkir dan meneruskan perjalanan ke tempat lain.  Buat teman-teman yang ingin kemari, sangat saya anjurkan untuk berwisata di saat-saat padi mulai menguning.  Sawah pun akan terlihat lebih paripurna untuk difoto.

Penjual aneka buah tangan (oleh-oleh) dan produk-produk seni. Toko yang satu ini lengkap banget koleksi. Berada persis di atas Cafe yang menjual snack, minuman, dan ice cream tadi
Liat bale-bale ini rasanya pengen duduk ngelamun berjam-jam. Bawak bantal guling atau ngobrol dengan sahabat sambil ngopi dan menikmati pisang goreng yang hangat. Indahnya dunia
Surfboard lukis yang cantik-cantik. Dengan ukuran panjang sekitar 50cm, buah tangan ini cocok banget untuk hiasan dinding

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here