Setelah lebih dari 6 tahun berselang, akhirnya saya bisa mengunjungi kota Medan kembali. Kota ke-3 terbesar di Indonesia ini menyimpan cerita khusus bagi saya dan keluarga, karena kami sempat tinggal di sini selama hampir 2.5 tahun. Saya masih SMP waktu itu. Masih bocah kinyis-kinyis. Kota Medan pun masih relatif lengang, tidak sepadat sekarang. Ya iyalah. Wong udah puluhan tahun yang lalu.

Selama tinggal di Medan, kami seringkali menerima tamu. Baik itu saudara, rekan kerja Ayah atau teman-teman bermain saya sejak masih kecil. Jadi saat tamu-tamu ini datang, itulah kesempatan saya ngikut ngelencer kesana kemari. Sebagian besar sih jalan-jalannya ke Brastagi atau Parapat. 2 destinasi wisata yang bisa dicapai sekitar 2-3 jam berkendara dari kota Medan. Jika berwisata di dalam kota, biasanya ya makan-makan di beberapa resto, yang pilihannya juga belom sebanyak sekarang.

Medan, saat itu sebenarnya, punya sebuah landmark yaitu Istana Maimun. Istana milik Kesultanan Deli. Tapi entah kenapa saya belum pernah sekalipun ke sana. Atau mungkin sudah pernah tapi saya sudah tidak lagi mengingatnya. Anyhow, membalas rasa penasaran, di perjalanan sekali ini, saya mencantumkan Istana Maimun di peringkat teratas dari daftar place to visit. Kunjungan yang sangat mengesankan karena saya ditemani blogger hits Medan, Mollyta Mochtar. Mari kita melalak kawan!!

Baca juga : Terjebak Rasa di GranDhika Hotel Medan

Sekilas Sejarah Istana Maimun dan Kesultanan Deli

Selasar dipotret dari sayap kiri bangunan istana

Layaknya sebuah tempat tinggal pemimpin masyarakat dengan cita rasa seni yang tinggi, Istana Maimun terlihat tampak megah dan gagah mulai dari kejauhan. Arsitektur ala Melayu dengan nuansa islami dan warna-warna terang (kuning dan hijau) menghiasi tampak luar istana sesaat kami tiba di halaman pintu masuk. Dari pintu ini, di sebelah kiri kami, dalam satu area khusus, ada sederetan warung makan serta kompleks bangunan yang menjual souvenir dan pernak-pernik bagi para pengunjung. Ada juga tempat/rumah khusus yang menampilkan Meriam Puntung/Buntung yang dikait-kaitkan dengan perjuangan Kesultanan Haru/Aru saat melawan Kerajaan Aceh.

Walaupun terlihat sangat menggoda untuk dihampiri, saya dan Molly memutuskan untuk langsung masuk ke dalam istana. Setelah melepas alas kaki dan membayar HTM Rp 10.000,-/orang, saya disambut dengan keramaian para petugas jasa pendamping (seperti tour guide) dan kakak-kakak yang ligat menawarkan jasa penyewaan baju adat untuk kita berfoto-foto. Ruangan setelah tangga ini, kalau boleh saya sebut selasar, beralaskan kayu, diisi dengan beberapa tempat duduk dan counter kecil penjual minuman. Tempat yang nyaman untuk mengobrol sambil mendengarkan sejarah istana berikut kesultanan Deli dari dulu hingga kini.

Saya akhirnya memutuskan untuk menggunakan jasa salah seorang tour guide tadi. Seorang pria yang dengan semangat menceritakan sekilas tentang istana bersejarah milik Kesultanan Deli. Semua cerita dari beliau inilah yang kemudian saya compile dengan beberapa literature dan beberapa laman lain yang saya dapatkan secara on-line.

Istana Maimun yang sering juga diketik dengan kata Maimoon atau Maimoen, berada di atas lahan seluas 2,7 hektar dengan 30 kamar yang menyebar di seluruh bangunan istana. Terbagi atas 3 bagian, sayap kanan, sayap kiri, dan bangunan inti di bagian tengah, istana ini memiliki langit-langit yang tinggi menjulang dengan tiang-tiang melengkung jangkung khas timur tengah di hampir semua bagian. Di bangunan tengah/inti ada ruangan memanjang yang salah satu sisinya diisi dengan sebuah singgasana yang tampak meriah berhiaskan kain, kayu, undak-undakan, dan pernak pernik berwarna kuning dan merah. Warna yang sering banget kita jumpai ketika menghadiri pernikahan adat Sumatera (termasuk diantaranya adalah acara pernikahan saya sendiri).

Di dalam ruangan berbentuk persegi panjang ini, kita juga dapat melihat beberapa foto dari para Sultan, khususnya Sultan terakhir (ke-14), yang memimpin hingga saat ini, yaitu Sultan Mahmud Lamanjiji Perkasa Alamsjah. Menurut cerita si abang tour guide tadi, Sultan Lamanjiji diangkat menjadi Sultan ketika masih berumur 8 tahun. Menggantikan Ayahnya, Sultan ke-13, Sripaduka Tuanku Sultan Otteman Mahmud Paderap Perkasa Alam yang wafat karena kecelakaan pesawat CN-235 di Lhokseumawe. Saat saya menuliskan ini, lagi-lagi menurut info Abang tadi, Sultan Lamanjiji sedang menempuh ilmu di Universitas Diponegoro, Semarang.

“Meskipun masih muda, Sultan Lamanjiji hafidz Qur’an Kak. Dan beliau pun nyatanya sangat pantas menjadikan Sultan menggantikan Ayahnya. Jadi memang pewarisan tahta Kesultanan Deli tetap dijaga “kepantasannya” meskipun kita sudah di jaman modern,” begitu tegas si Abang menjawab rasa penasaran saya.

Sultan Deli ke-14, Sultan Mahmud Lamanjiji Perkasa Alamsjah
Saya dan singgasana Istana Maimun yang megah dengan pernak pernik berwarna merah dan emas

Istana Maimun dibangun di jaman Sultan yang ke-9 yaitu Sultan Mahmud Rasjid Perkasa Alamsja yang dalam catatannya, butuh 3 tahun untuk membangun istana ini. Peletakan batu pertama pada 26 Agustus 1988 dan selesai/diresmikan pada 18 Mei 1891. Rancang bangunnya sendiri dikerjakan oleh Theodoor van Erp, seorang arsitek berkewarganegaraan Belanda. Jadi ketika melihat munculnya sedikit sentuhan design eropa dengan jendela besar dan langit-langit yang tinggi, kita akan langsung memahaminya.

Bangunan megah yang menghadap ke utara ini, terdiri dari 2 lantai, total panjang 75.5m, tinggi 14.4m, halaman seluas 4.5 hektar, dan 40 buah ruangan (20 di atas dan 20 di bawah). Sejak 1946 Sultan dan keturunannya hingga saat ini menempati salah satu sayap bangunan, yang persis berhadap-hadapan dengan Meriam Buntung.

Saat membahas Kesultanan Deli, kita akan kembali ke 1612M, dimana tersurat sejarah tentang Kerajaan Aceh dipimpin oleh Sri Paduka Gocah yang memutuskan untuk menguasai Kerajaan Haru/Aru yang berada di Sumatera Timur. Konon katanya Kerajaan Aceh memiliki pasukan perang yang terkenal sangat kuat di jamannya. Mereka pun mampu dengan mudah mengambil alih Kerajaan Haru. Bergelar Tuanku Panglima Gocah Pahlawan, Sri Paduka Gocah, kemudian mengganti nama Kesultanan Aru menjadi Kesultanan Deli. Dan lokasinya pun berpindah dari Sumatera Timur ke Sumatera Utara, tepatnya di Medan, pada 26 Agustus 1988.

Ingin membaca cerita sejarah lengkap mengenai Kesultanan Deli, sila klik tautan ini berikut ini, Sejarah Kesultanan Deli.

Saya dan Molly di ruangan inti istana | Tampak di belakang singgasana Sultan dan sebuah lampu kristal yang cantik luar biasa

Merawat Sebuah Kemegahan Jejak Sejarah

Membaca beberapa tulisan mengenai kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia, saya menemukan 29 nama yang kemudian menggunakan julukan Kesultanan ketimbang Kerajaan. Mengapa demikian? Karena makna sebutan Raja lebih condong ke ajaran Hindu dan Budha yang memberikan kekuasaan mutlak/absolut bagi sang Raja. Sementara Kesultanan lebih bernuansa Islami yang mana Sultan, pemimpin Kesultanan, memerintah masyarakat biasa dengan berpegang pada ajaran Islam (hukum Allah SWT berlandaskan Alqur’an).

Beberapa nama Kesultanan yang sering kita dengar dan saya tau adalah Kesultanan Cirebon, Kesultanan Surakarta Hadiningrat, Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, Kesultanan Tidore, Kesultanan Ternate, Kesultanan Demak, Kesultanan Banten, dan tentu saja Kesultanan Deli. Dari sederetan nama ini ada beberapa yang pernah saya kunjungi. Bahkan diantaranya Kesultanan Tidore sudah 6 kali saya sambangi. Yang Mulia Sultan Husain Sjah, sultan Tidore ke-38, beserta istri, hingga saat ini menjadi bagian penting dalam ikatan persahabatan dan lingkaran persaudaraan saya.

Di setiap waktu saya menginjakkan kaki ke istana Kesultanan Tidore, saya merasakan aura yang begitu mengesankan karena Jou Lamo (panggilan untuk Sultan Tidore saat ini), sangat menjaga “nilai sejarah” baik untuk bangunan istana maupun tata krama yang wajib ditegakkan saat kita berada di istana. Contoh kecil misalnya, untuk tamu wanita yang tidak mengenakan gamis, wajib menutup bagian pinggang ke bawah dengan kain yang disediakan oleh istana. Sementara untuk pria sangat disarankan menggunakan celana bahan (bukan jeans), baju koko dan peci. Lingkungan istana pun sangat terjaga dengan baik. Meskipun Sultan sangat membuka diri untuk bertemu dengan masyarakat umum, tetap ada aturan baku yang harus diterapkan selama menginjakkan kaki di Kadato Kie (sebutan untuk istana Sultan Tidore).

Hal ini yang tidak saya temukan ketika berada di Istana Maimun. Saya awalnya berfikir akan berada di dalam istana yang penuh dengan jejak-jejak sejarah Kesultanan Deli yang bisa menambah pengetahuan. Terpikirkan akan ada banyak barang, foto-foto, peralatan/perabotan, dan banyak artefak lain yang menggiring para pengunjung mengagumi kejayaan Kesultanan Deli pada masanya. Alih-alih membayangkan itu semua, saya malah dibuat kaget dengan banyaknya outlet atau toko kecil yang menjajakan penyewaan pakaian adat untuk berfoto dan pernak pernak yang tidak ada hubungannya dengan mengangkat nilai sebuah istana. Outlet ini tidak hanya 1 atau 2, tapi banyak banget. Dan mereka berada di ruangan inti. Belum lagi kabel listrik yang melintang di sana sini, yang tentu saja menganggu keindahan istana. Duuhh, terus terang, langsung rontok hati saya.

Beberapa outlet yang berada di ruang inti

Mendadak teringat dengan Keraton Jogya dimana semua tampak sangat teratur dan terjaga. Meskipun tidak mewah namun keagungan dan nilai kesakralan sebuah istana begitu sangat terasa. Datang ke keraton ini, kita diajak menjelajah masa-masa perjuangan dan bagaimana pengaruh Jogyakarta untuk kemerdekaan RI. Banyak juga barang-barang peninggalan sejarah yang ditampilkan sehingga saat kita datang ke Keraton ini kita seakan turut menjelajah labirin waktu dalam beberapa periode pemerintahan beberapa raja Jogya yang penuh makna.

Akankah Istana Maimun “berubah” menjadi lebih baik seperti impian-impian saya? Setidaknya setara dengan istana-istana kesultanan lain yang ada di Indonesia? Semoga demikian. Karena adalah tanggung jawab semua stakeholders yang terlibat, termasuk di dalamnya masyarakat, untuk menjaga, merawat, dan melestarikan semua warisan budaya leluhur. Ini adalah sederetan cara bagaimana kita menjunjung tinggi nilai budaya dan meletakkan penghargaan serta penghormatan setinggi-tingginya untuk sebuah istana.

Istana Maimun | Jl. Brigjen. Katamso No. 1, Sukaraja, Medan Maimun, Medan | Jam operasional : pkl. 08:00 wib – 18:00 wib, khusus Jumat istirahat siang pkl. 12:14 – selesai sholat Jumat | Live Musik Melayu pkl. 13:30 wib – 15:00 wib setiap hari

Galeri Foto

Tampak Bangunan Istana

Salah satu sisi/sayap bangunan istana yang hingga saat ini ditempati oleh anggota keluarga kesultanan

Saya dan Istana Maimun

Saya dan lampu gantung hias yang sudah berumur puluhan tahun di ruang inti istana

#IstanaMaimun #IstanaMaimunMedan #MedanLandmark #WisataSejarahMedan #KesultananDeli #ExploreMedan #ExperienceMedan #VisitMedan #MedanTourism