Bali itu memang surganya wisata. Dalam hitungan bulan aja perkembangannya pesat luar biasa. Sebentar liat ada hotel baru. Kapan datang lagi udah ada tempat wisata di sana sini. Ada restoran baru. Ada tempat nongkrong baru. Nyaris gak pernah berhenti. Jadi kalau ada yang ngomong, bisnis wisata di Bali gak ada matinya, itu bener banget.

Cepatnya pertumbuhan fisik wisata pun kebantu dengan pesatnya teknologi. Apalagi sekarang sarana sosialisasi dan promosi sudah banyak disokong oleh media sosial. Dengan sekali jentik, informasinya langsung tersebar kemana-mana. Dari kemudahan inilah lahir ribuan manfaat yang bukan hanya bisa dirasakan oleh publik tapi juga oleh operator/owner penyedia jasa wisata yang bersangkutan.

Lalu bagaimana kita, masyarakat penikmat hiburan, menyikapi perkembangan yang semakin pesat ini? Jadilah pewisata yang bijak. Bukan hanya bijak dalam keuangan, tapi juga bijak dalam menentukan dan menemukan kegiatan pelesiran atau hiburan yang pas untuk kita dan keluarga. Impiannya sih, setiap menghabiskan dana, berekreasi tidak hanya memberikan kesenangan tapi juga mampu meninggalkan kesan setelah kegiatan tersebut berakhir.

Untuk liburan keluarga, terutama bagi anak-anak yang sedang dalam masa tumbuh kembang, kebutuhan akan jenis wisata yang mampu memberikan edukasi akhirnya menjadi opsi yang patut dipertimbangkan dan banyak disukai oleh khalayak. Wahana wisata edukasi pelan-pelan tapi pasti banyak bermunculan dan eksis dengan berbagai tawaran entertainment, baik bagi keluarga, sekolah, bahkan organisasi/perusahaan yang secara rutin menyelenggarakan family gathering.

Sekilas Tentang Kampung Langit

Kampung Langit yang merupakan bagian dari The Keranjang Bali (Keranjang) sangat peduli akan kebutuhan-kebutuhan di atas. Melengkapi Keranjang yang berada di lantai 1 dan 2 yang mengakomodir one stop shopping bagi para pengunjung, Kampung Langit berada di lantai 3 di gedung yang sama, dengan berbagai fasilitas yang sarat hiburan dan pengetahuan. Menghadirkan kekayaan budaya dan seni yang dimiliki oleh Bali, dan dikelola dengan teknologi modern, Kampung Langit tampak begitu informatif dan menyenangkan ketika saya menjelajah dari satu titik ke titik yang lain.

Baca juga: The Keranjang. Menemukan Bali Dalam Satu Keranjang

Wahana wisata yang mulai beroperasi mulai Juni 2019 ini, setiap harinya melayani pengunjung mulai pkl. 08:30 – 23:00 wita (Senin – Jumat) dan pkl 08:00 – 23:00 wita (Sabtu dan Minggu), dengan harga tiket sebagai berikut:

Warga lokal (WNI) : IDR 75.000,- untuk 2 jam dan IDR 125.000,- untuk 5 jam masa permainan

Bagi warga negara asing (foreigner) : IDR 150.000,- untuk 2 jam dan IDR 175.000,- untuk 5 jam

Sementara untuk anak-anak usia 3-4 tahun dikenakan biaya IDR 35.000,- dan bebas biaya untuk 0-2 tahun.

Pembelian tiket dapat dilakukan secara on-line melalui official website www.thekeranjangbali.com, on the spot di counter khusus atau bisa melewati tautan penjualan tiket wisata on line Traveloka dengan fasilitas terbaru mereka bernama #TravelokaXperience. Klik di sini untuk langsung mendapatkan link nya. Diskonnya lumayan cetar loh. Apalagi kalo perginya rombongan. Berasa banget enteng ngeluarin duitnya.

Menghadirkan Mego dan Megi sebagai Maskot, Kampung Langit menampilkan wajah Awan Putih yang mewakili jargon Sky Park yang sudah disematkan. Mego adalah awan putih yang berbentuk laki-laki dengan pembawaan ceria, agak nakal, penuh semangat, dan selalu bahagia. Mego yang identik dengan warna biru ini terlihat mengenakan hiasan kepala khas Bali bernama Udeng dan kain bermotif Keranjang. Sementara Megi adalah awan putih berbentuk perempuan dengan karakter yang sama, serta tampil mengenakan bunga kamboja di kepala dan gaun warna merah muda dengan logo Keranjang. Keceriaan keduanya dapat dengan mudah kita liat dengan ekspresi senyum sumringah dan gerakan kedua tangan yang mencerminkan kebahagiaan menyapa pengunjung.

MEGO dan MEGI | Maskot Kampung Langit

Di lahan tertutup dengan luas 1.600m2 ini, Kampung Langit membagi area menjadi beberapa wahana fasilitas dengan topik edukasi atau kegiatan yang berbeda-beda. Di masing-masing spot yang kita kunjungi, kita akan didampingi oleh para pemandu yang akan dengan senang hati memberikan penjelasan secara langsung. Tersedia juga beberapa information board untuk kita yang ingin mencatat atau membaca info tentang kegiatan yang kita ikuti tersebut secara mandiri.

Setiap wahana berada saling berdekatan. Jadi memudahkan orang tua untuk melakukan pengawasan atas anak-anak dan juga membagi waktu untuk kunjungan di setiap spot tanpa harus bertumpuk di satu titik saja. Untuk sebuah rombongan besar, biasanya petugas koordinator pemandu akan mengatur alur masa agar semua tamu bisa menikmati berbagai hiburan dan venue entertainment yang disediakan oleh Kampung Langit.

Denah Kampung Langit | Sumber : Marketing Team Kampung Langit

Menjelajah Berbagai Wahana di Dalam Kampung Langit

Lorong Awan

Lorong penyambutan untuk memasuki Kampung Langit

Lorong bernuansa langit yang sarat akan warna biru dan putih selayaknya di awan ini, meninggalkan first impression yang sungguh berkesan menurut saya. Pengunjung, secara psikologis, diajak untuk turut merasakan makna Kampung Langit dan (terasa) sedang dibawa menuju sebuah kampung yang berada di langit.

Di Lorong Awan ini bukan cuma mural biru putih yang akan kita nikmati tapi juga berbagai lukisan kegiatan sehari-hari masyarakat Bali, beberapa karakter yang erat dengan kegiatan keagamaan Hindu, tokoh-tokoh nasional dan internasional, termasuk para public figure yang cukup populer di tanah air.

Di ujung lorong ini kita akan bertemu dengan Kayon (wayang Gunung) yang ditempelkan di lift dan membawa kita untuk memulai pengalaman seru di Kampung Langit.

Lorong Sloka

Labirin perkamen di Lorong Sloka

Dari sekian banyak tempat di dalam Kampung Langit, saya langsung jatuh cinta dengan Lorong Sloka. Berada di dalam satu ruangan tertutup, lorong ajaran kebaikan ini sarat dengan energi positif. Di tempat ini kita akan disuguhkan dengan sebuah perkamen panjang berliku-liku yang bertuliskan sifat-sifat terpuji manusia dalam bahasa Sansekerta dengan gaya tulisan aksara Bali, didukung dengan tulisan dalam bahasa Indonesia dan terjemahan bahasa Inggris.

Gulungan kain tebal ini disusun layaknya sebuah labirin. Dilengkapi dengan pencahayaan temaram, dan mural di salah satu dinding yang mendukung keindahan liukan perkamen dalam warna yang sangat membumi. Saya kagum banget dengan ketrampilan seniman yang sudah dengan teliti menulis, menyusun setiap kata hingga 3 bahasa yang digunakan terlihat rapih bertumpuk dan sangat mudah dibaca. Tentunya perlu keahlian khusus untuk bisa mewujudkan karya seni seperti ini.

Berada di dalam ruang kecil ini saya merasakan suasana hati yang berbeda. Lantunan lembut gamelan, mengiringi saya untuk membaca satu persatu kata yang dituliskan. Mendadak saya diingatkan untuk selalu mencatat berbagai sifat baik yang sesungguhnya selalu ada dalam diri manusia. Jadi meskipun dibuat dalam space yang sangat terbatas, ada sejuta makna yang bisa kita petik.

Bale Karya

Nah kalo yang satu ini kesukaan saya banget nih. Dimanapun kalau sudah liat ada sudut khusus untuk menjajal pembuatan kerajinan tangan, saya musti penasaran. Jenis craft apapun itu selalu tidak membosankan. Meskipun harus duduk berlama-lama, rasanya waktu-waktu yang dihabiskan buat ngecraft gak pernah terasa sia-sia. Ada aja yang selalu menarik perhatian walau hanya membuat sebuah produk kecil dan simpel.

Bale Karya | Bersama mas mas yang mengajarkan pembuatan Gelang

Berada di atas Teater Saba (mezanine area), Bale Karya menampung para pengunjung yang ingin belajar membatik, membuat gelang dari tali, dan juga menenun. Bahkan di satu titik bagian dalam ada sebuah mesin tenun yang berukuran besar dan masih bisa dioperasikan.

Yang menarik perhatian saya adalah membuat gelang dari tali/benang yang disebut Gelang Tridatu dan Gelang Sangadatu. Gelang Tridatu (disebut juga Sri Datu) dibuat dari 3 tali dengan 3 warna yang merupakan lambang dari kekuatan 3 Dewa. Warna merah melambangkan Dewa Brahma. Warna hitam mewakili Dewa Wisnu. Dan warna putih sebagai simbol Dewa Siwa. Pemakaian Gelang Tridatu juga memiliki makna untuk melindungi hidup seseorang. Sementara untuk Gelang Sangadatu adalah simbol dari Ida Batra Dewata yakni 9 Dewa Penguasa penjuru mata angin yang direpresentasikan melalui 9 warna benang. Putih untuk Dewa Iswara. Merah untuk Dewa Brahma. Kuning untuk Dewa Mahadewa. Hitam untuk Dewa Wisnu. Abu-abu untuk Dewa Siwa. Merah muda untuk Dewa Maheswara. Jingga untuk Dewa Ludra. Hijau untuk Dewa Sangkara. Biru untuk Dewa Sambu. Gelang Sangdatu dipercaya memiliki makna keberuntungan dan keselamatan bagi yang menggunakannya. Saya menemukan bahwa kedua gelang ini mempraktekkan teknik macrame dengan simpul-simpul yang cukup sederhana.

Untuk membatik (Alpha Batik), Kampung Langit menyediakan peralatan utama dalam membuat batik seperti canting, kompor dan wajan kecil untuk melarutkan warna, plus tentu saja selembar kain kecil. Untuk menenun saya melihat berbagai benang warna warni dan sebuah alat tenun kecil terbuat dari kayu yang handy luar biasa. Pengen sih mencoba tapi waktu saya saat itu sangat terbatas.

Ada satu pesan khusus yang ingin disampaikan mengenai Tenun adalah bahwa Tenun Bukan Mesin. Pesan singkat penuh makna dan menggiring mindset kita untuk menghargai hasil karya tenun yang totally handmade, bukan produk pabrikan, bernilai seni tinggi dan memiliki harga jual yang juga setara dengan effort dalam proses pembuatannya.

Ingin mengetahui lebih lanjut tentan alat tenun dan membuat catatan yang rapih tentang pencipta kain yang banyak dikagumi oleh publik? Bisa banget. Kampung Langit membuat catatan yang sangat rinci di salah satu dinding yang menjelaskan setiap jengkal bagian alat tenun berikut dengan fungsinya. Lagi-lagi edukasi yang yang bermanfaat untuk mengisi pengetahuan umum kita.

Alat tenun kayu yang kecil dan handy
Mesin Tenun yang ada di Bale Karya

Bale Ceng Ceng

Sekilas membaca makna dari kedua kata ini, kita akan langsung berfikir mengenai seni musik. Yup bener sekali. Kata Ceng Ceng sendiri diadaptasi dari gemerecing bunyi dan nama dari sebuah alat musik. Di spot ini Kampung Langit menghadirkan beragam alat musik yang biasa digunakan untuk gamelan Bali seperti Ceng-ceng, Gong Bali, Rindik, Ricik, Gangsa, Jubleng, Gong Pulu, dan Kendang/Gendang Bali. Alat-alat ini bukan sekedar display tapi bisa dimainkan walaupun ukurannya tidak sebesar biasanya.

Bale Gua Babad Jatma

Bersama beragam topeng di Gua Babad Jatma

Di sini pusatnya pengetahuan khususnya untuk seni lukis khusus topeng dan topeng itu sendiri . Dengan latar belakang bata expose, terpajang beberapa topeng dengan karakter dan wujud yang berbeda-beda. Setiap karakter memiliki makna dan sejarah tersendiri. Dari sekian banyak yang dipajang, saya melihat Topeng Barong lah yang paling sering terlihat selama kita berwisata di Bali, dikenakan untuk tari-tarian, dan dipamerkan di tempat-tempat khusus. Topeng ini yang satu ini ditampilkan garang dengan gigi lancip, mata besar, dan rambut panjang. Tariannya pun ada. Biasanya dibawakan oleh dua orang penari. Dan saya baru ngeh kalau topeng yang satu ini, tentunya dalam wujud yang lebih besar dengan ornamen yang lengkap, dianggap suci dan sakral dalam budaya Bali.

Melengkapi keindahan dari sisi photography, Kampung Langit membuat dahan-dahan pohon dengan ratusan daun yang menimbulkan kesan kita sedang berada di dalam sebuah gua. Jangan lewatkan berfoto di sini ya. Istagenic banget ini spotnya. Oia, saya berharap topeng-topengnya bisa dibuat dalam ukuran yang lebih besar dengan posisi peletakan yang lebih dekat satu sama lain. Agar angle foto dalam sebuah garis lurus bisa dilakukan dalam 2 jarak (dekat dan jauh). Yang ada sekarang persis seukuran muka saja.

Berhadap-hadap dengan dinding yang memajang berbagai topeng ini, ada sebuah teater kecil yang berisikan berbagai wayang. Edisi wayangnya dibuat dalam 2 tipe yaitu, menghadirkan tokoh-tokoh pewayangan tradisional (Gareng, Petruk, Bagong, dkk) dan wayang dengan wajah-wajah modern.

Teater Saba

Tempat duduk besi warna-warni di Teater Saba

Sebelum mencapai Bale Karya yang berada di Mezzanine, kita harus melewati Teater Saba. Tempat dimana pengunjung dapat menyaksikan berbagai pertunjukan seni tari Bali dalam waktu-waktu tertentu. Tampilan teater ini tampak megah dengan tempat duduk besi yang dicat berwarna-warni dan tersusun bertingkat. Meskipun saat saya datang sedang tidak ada pertunjukkan sama sekali, berfoto di salah satu tangga duduk ternyata cakep juga. Kombinasi warnanya apik dilengkapi dengan dekorasi kupu-kupu besar di beberapa sudut.

Yang ingin menjadi saksi rancaknya performance para penari professional di Teater Saba, wahana ini mengadakan 4 pertunjukkan yang dimulai dari pkl. 16:00 wita. Tari-tarian yang ditampilkan ada Godessa (menceritakan tentang perempuan Bali dengan karakter yang kuat, berwajah cantik, sikap tegas, tapi berhati lembut), Melali di Kampung Langit (penampilan dari para warga Kampung Langit yang mengajak para tetamu untuk menari bersama), Asura On Fire (menceritakan tentang sosok raksasa yang bernama Asura), dan Hello Semeton (tarian kotemporer). Untuk menikmati semua ini pengunjung tidak lagi dikenakan biaya masuk.

Beberapa pertunjukan tari di Teater Saba | Sumber : Marketing Team Kampung Langit

Pojok Ayu

Berbagai busana adat Bali yang disewakan dan bisa digunakan untuk berfoto

Pojok Ayu berada berdampingan dengan Teater Saba. Di area ini disediakan pelatihan untuk bercelak ala penari Bali, dan penyewaan baju adat Bali. Setelah selesai merias diri dan mengenakan baju adat atau tari, kita bisa berkeliling Kampung Langit untuk berfoto ria ditemani oleh pemandu yang bertugas.

Tata riasnya juga bukan sembarangan loh. Tata rias ini dibagi dalam 2 bagian yaitu yang sifatnya natural atau teatrikal. Fungsinya adalah untuk memperjelas garis wajah penari untuk mengekspresikan gerak tari, membantu menunjukkan perwatakan atau karakter penari, serta membeli nilai tambah dari keindahan seni tari Bali itu sendiri.

Beriasnya juga ada pakem dan aturannya ternyata. Seperti misalnya garis tebal pada alis, kelopak mata, dan di bawah mata untuk menegaskan bentuk mata penari. Pemberian Gecek yaitu tanda di dahi, di pelipis, dan di tulang alis. Kemudian ada yang namanya Cundang yaitu garis meruncing yang terletak di tengah dahi. Nah hal-hal seperti ini akan disampaikan oleh pengajar saat kita berhias.

Nah sementara untuk pakaian tarinya secara keseluruhan juga ada penataannya. Untuk kepala ada yang namanya Gelungan. Pakaian dasar menggunakan stagen sebelum busana tarinya. Lalu ada Pakaian Tubuh yang dikenakan pada bagian tubuh mulai dari dada sampai pinggul. Kemudian ada Pakaian Kaki seperti sepatu, sandal, dan kaos kaki. Dan terakhir adalah Perlengkapan lain seperti gelang, kalung, ikat pinggang, dan kaos tangan yang dihadirkan sebagai efek dekoratif.

Waktu yang disediakan khusus untuk belajar rias dan mengenakan baju tari ini biasanya sekitar 2 jam. Itu belum termasuk keliling berfoto di banyak spot-spot cantik yang ada di dalam Kampung Langit. Waahh kebayang ya serunya. Kapan kembali ke sini, saya mau cobain ah. Harus diniatkan banget pokoknya. Kapan lagi kan bisa tampil cantik ala penari Bali?

Jembatan Antun Antun

Bersama Ridha di Jembatan Antun Antun

Jembatan bambu di atas sebuah kolam buatan ini menghubungkan kita dengan Teater Saba, Bale Karya, dan Pojok Ayu. Melengkapi keindahan jembatannya, di bagian atas tergantung payung warna warni, bandulan lampu, dan angklung-angklung kecil di sepanjang pagar jembatan. Saya sempat merinding dengan suara derit di setiap pijakan, tapi Mbak Anne yang mendampingi kami saat itu meyakinkan bahwa jembatan ini sangat kuat dan kokoh. Semua terikat dan tersambung dalam simpul-simpul yang sangat erat antara satu dengan yang lainnya. Tapi tentu saja ada pembatasan jumlah pengunjung yang lalu lalang agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Bale Jaen

Replika sate lilit Bali di Bale Jaen

Spot yang satu ini cocok banget nih buat emak-emak yang seneng masak dan mendalami soal perbumbuan. Di sini ada beragam replika alat memasak, bahan makanan, dan tungku api yang biasa digunakan oleh masyarakat Bali, khususnya untuk mereka masih tinggal di pedesaan dan tetap mempertahankan budaya Bali dalam mengolah makanan. Tungku api yang digunakan biasanya dibuat menghadap selatan mengikuti kepercayaan masyarakat Bali/Hindu bahwa Dewa Brahma yang dilambangkan dengan api berada di sisi selatan dari kesemua penjuru mata angin. Termasuk membuat bumbu dengan menggunakan aturan Base Genep dengan unsur utama Isen (Laos), Kunyit (Kunir), Jae (Jahe), dan Cekuh (Kencur).

Masyarakat Bali membuat bumbu Base Genep tanpa menggunakan timbangan tapi dengan memanfaatkan jari jemari. Jari tengah untuk lengkuas. Jadi telunjuk untuk mengukur kunyit. Jari manis sebagai pengukur jahe. Dan jari kelingking untuk mengukur kencur. Base Genep, dalam kuliner Bali adalah bumbu-bumbu inti yang didasari oleh konsep keseimbangan kosmos yang diistilahkan dengan Catus Pata alias Penempatan Agung.

Bale Jaen yang ditata seperti sebuah dapur mengesankan saya dengan adanya replika besar sate lilit khas Bali. Terbuat dari kayu dan ditaruh di dalam sebuah besek bambu terbuka, saya sempat mengira kalo ini adalah pemukul gong karena saking besarnya. Dan akhirnya terbahak-bahak ketika dijelaskan bahwa itu adalah sate lilit dengan batang sereh sebagai pemegangnya.

Di depan Bale Jaen ini, setiap pkl. 13:00 wita, Kampung Langit menghadirkan pertunjukan musik Brang Breng Brong. Kita akan melihat beberapa penari mengenakan kostum koki lengkap dengan alat masak sebagai instrumennya. Di akhir tarian, mereka akan mengajak pengunjung mencicipi sajian Nasi Campur Bali.

Paon Loloh

Kalau di Bale Jaen kita diajak untuk mengenal perbumbuan untuk memasak, di Paon Loloh kita akan kenalan dengan jamu Bali. Ditata di atas sebuah bale-bale besar yang terbuat dari bambu beratapkan rumbia, beberapa pemandu akan dengan senang hati mengajak kita untuk mencoba mengolah pembuatan jamu. Mulai dari memilih bahan, menumbuk, hingga memasak semua materi yang sudah kita kerjakan.

Loloh atau jamu dalam bahasa Bali ternyata beda loh dengan jamu yang berasal dari Jawa. Kalau jamu Jawa berwarna cokelat, Loloh cenderung berwarna hijau, kuning, dan ungu. Bahan utamanya berasal dari dedaunan dengan sentuhan rasa yaitu asam, manis, asin, dan sedikit pahit. Sementara kalau jamu Jawa bahan utamanya adalah umbi-umbian dengan rasa tunggal yang cenderung pahit.

Eeehh ada yang lucu loh di sini. Ada board Panduan Menjadi Mbok Jamu. Tampilan wajib mencerminkan profesi penjual jamu. Rambut digelung, manggul keranjang/tenggok dari anyaman bambu, berbotol-botol jenis jamu yang ditaruh di dalam botol kaca, seragamnya kebaya dengan rok jarik, dan tentu saja ember yang biasanya berisikan gelas-gelas kecil. Kalo dah liat ini kebayang yah kalo si Mbok Jamu itu pekerjaannya berat. Jalan berkilo-kilo sambil bawa backpack ala pedagang jamu yang pastinya berat banget. Teman-teman masih suka ketemu gak sih dengan Mbok Jamu?

Panduan Menjadi Mbok Jamu

Oia, di belakang pondokan Paon Loloh ada mural yang menceritakan tentang kegiatan-kegiatan dan suasana pasar tradisional pada umumnya. Sayang nih 1/2 dari mural ini tertutup pondokan Paon Loloh. Jadi angle fotonya hanya cuma bisa dari jarak dekat saja.

Mural pasar tradisional

Meramaikan kehadiran Paon Loloh, Kampung Langit secara regular, setiap pkl. 13:00 wita menghadirkan pertunjukan tari berjudul Jamu Meong. Performance teatrikal ini menghadirkan 3 penjual jamu yang memperebutkan pelanggan dengan karakter yang berbeda-beda, sekaligus memberikan edukasi mengenai khasiat jamu atau loloh.

Pasar Demen

Balapan Perahu Klotok di Pasar Demen

Tetanggaan dengan Paon Loloh, ada satu space khusus bernama Pasar Demen. Saya mencoba mengurai alasan tepat di balik penamaannya. Tapi kalau dihubungkan dengan mural yang tadi baru dilewati, gak jauh dari spot ini, saya langsung menemukan koneksinya. Yang biasa main ke pasar tradisional, pasti sering menemukan para penjual mainan-mainan jadoel di tengah seliweran jajanan pasar yang pasti enak-enak yang jadi kedemenan kita. Jamannya saya banget itu.

Mainannya beragam dan tak ada yang menggunakan baterai sebagai penggerak. Perahu Klotok contohnya. Perahu mainan ini tersebut dari seng, diwarna semenarik mungkin, dan diberi sumbu yang dibakar dengan cairan tertentu. Sumbu inilah yang memberikan daya gerak untuk perahu Klotok ini. Ada juga celengan ayam, kuda-kudaan kayu, kuda lumping, layangan, hula hoop, dan beberapa mainan anak-anak lainnya. Eh ada juga flying fox kecil (jarak pendek) dengan tangga-tangga/pijakan-pijakan kecil untuk sekedar menghibur anak-anak yang pemberani dan ingin menguji nyali. Keamanannya? Tentu terjaga dong. Seperti wahana yang lain, ada pemandu yang akan menemani anak bermain.

Sawah Gadang Purnama

Sudah familiar kan dengan istilah Subak? Itu loh proses pengairan tradisional Bali yang sudah diakui baik nasional maupun internasional. Biasanya sih digunakan untuk sawah dengan model bertumpuk/bertingkat. Dibuat sedemikian rupa agar air terus mengalir dan sawah tidak mengalami kekeringan. Nah di salah satu sudut Kampung Langit, dibuatlah replika sawah seperti ini.

Dihiasi dengan kincir angin ukuran kecil kaya warna dan beberapa lesung tempat menumbuk padi, seperti halnya Paon Loloh dan Bale Jaen, Sawah Gadang Purnama juga menghadirkan hiburan teatrikal yang berjudul Rice Will Rock You. Menghadirkan beberapa warga Kampung Langit, pewisata diajak menyaksikan gambaran dari wujud syukur akan hasil panen, berpartisipasi dalam mengolah padi plus belajar mengenai sejarah beras. Seru ya. Pernah gak mencoba menumbuk padi di dalam lesung? Harus nyobain deh.

Replika sawah dengan pengairan subak

Sanggar Kenyem

Apa yang terlintas di dalam pikiran Anda ketika mendengar atau membaca kata “Sanggar”? Kalau saya sih mendadak kepikir dengan, lagi-lagi, dunia seni. Ada sanggar tari, sanggar melukis, dan sanggar-sanggar yang lain. Nah kalo di Kampung Langit ada wahana yang diberi nama Sanggar Kenyem. Sanggar yang mengenalkan dan mengajarkan kita untuk membuat gerabah dari tanah liat atau kalau tangan gak mau kotor bisa juga sekedar mewarnai produk gerabah yang sudah jadi.

Yang paling saya suka ketika berada di Sanggar Kenyem ini adalah setting up area yang ciamik luar biasa. Gak cuma karena wall muralnya yang atraktif tapi juga pembagian tempat berlatih yang tampak menyenangkan banget. Kalau dari info pemandu yang bertugas, untuk menghemat waktu, biasanya pengunjung lebih menyukai kegiatan mewarnai ketimbang mengolah tanah liat. Apalagi untuk anak-anak. Karena alasan itulah akhirnya pihak Kampung Langit menyediakan gerabah-gerabah dari karakter kartun agar anak-anak menikmati waktu-waktu mereka di tempat ini.

Taman Jatu Raga

Taman ini didominasi oleh batu-batu koral, bantalan duduk berwarna hijau sebesar tampah beras, bunga-bunga artificial, beberapa berikut dengan informasi mengenai titik-titik kesehatan yang ada di tubuh kita terutama di kedua tangan dan kaki. Layaknya sebuah pengetahuan reflexi dan kepedulian kita akan kesehatan, ke-4 board berwarna yang mewakili 4 anggota tubuh ini layak banget loh kita perhatikan. Banyak ilmu yang bisa kita gali dari membaca rincian informasi yang tertuang di board yang cukup besar itu.

Batu-batu koral yang ditebarkan itu adalah sebuah sarana bagi pengunjung untuk berjalan di atasnya dan merasakan sensasi tekanan-tekanan pada titik saraf yang ada di telapak kaki kita. Buat yang baru mencoba berjalan di atas koral, bakal jerit-jerit deh. Apalagi jika punya penyakit-penyakit tertentu. Nah titik sakit yang kita rasakan saat itu bisa langsung kita ketahui asal muasal permasalahannya. Jadi kalau sudah tau jangan gak terima kenyataannya ya hahahaha.

Taman yang satu ini menurut saya sebenarnya adalah tempat belajar refleksi titik meridien yang mana yg baik di lakukan dalam pemijatan. Baik di tangan kanan, tangan kiri, kaki kanan dan kaki kiri. Kalau kita mau membaca dengan teliti keterangan-keterangan yang tertera di setiap board, kita seperti diajarkan saraf saraf yang langsung berhubungan dengan jantung, hati, ginjal, kepala, dan fungsi organ tubuh lainnya.

Gebogan

Gebogan Bali

Baca ini saya yakin banyak yang baru ngeh kalo susunan buah-buah yang tinggi ini namana Gebogan. Bener kan? Jujur nih, saya juga baru tahu. Selama ini gak pernah terpikirkan kalau hiasan ini punya nama unik dengan makna yang juga tidaklah kecil.

Persembahan berbentuk gunung atau segitiga berisikan aneka buah-buahan ini diartikan sebagai persembahan makanan atau sesaji cerminan wujud syukur dan bhakti ke hadapan Tuhan. Dalam bahasa Bali, Gebogan ini berarti jumlah, yang menjumlahkan hasil panen mereka menjadi sebuah bentuk persembahan.

Kampung Langit membuka kesempatan bagi para pengunjung untuk membuat atau merangkai Gebogan ini. Dibantu dengan bahan-bahan dan alat bantu seperti batang pisang, tusuk sate, dulang kayu, sampiyan dan canang, akan ada pembantu yang dengan sabar mengarahkan kita agar bentuk dan susunan Gebogan sempurna tegak berdiri.

Di saat mengakhiri kunjungan ke Kampung Langit saya menabung pencerahan dan pengalaman lebih banyak tentang Bali dalam berbagai sisi khususnya di bidang budaya. Baik dalam wujud narasi informasi maupun dalam bentuk berbagai aktivitas melalui wahana-wahana atraktif.

Ada satu yang sampai saat ini meninggalkan kesan buat saya adalah deretan lampion tear drop dalam berbagai warna yang digantung di banyak sudut. Suka banget liatnya. Lampion-lampion ini, menurut saya, adalah salah satu daya tarik pemotretan, yang pastinya bakal jadi incaran pengunjung. Mendadak saya merasakan keberuntungan karena telah menjadi tamu istimewa Kampung Langit dan merasakan atmosphere konsep budaya Bali didampingi oleh pemandu professional.

Yang ingin turut merasakan seluruh pengalaman indah saya di atas, Kampung Langit dapat diraih melalui 2 sisi jalan. Sisi depan melalui Jl. Raya Kuta No. 70-72. Sementara sisi belakang bisa diakses melalui Jl. By Pass Ngurah Rai No. 97. Kedua alternatif jalan di atas memungkinkan para pengunjung menghindari kemacetan yang sering terjadi di seputaran area ini.

Mengukir cerita keindahan persahabatan bersama Ridha di Kampung Langit
Lampion tear drop warna warni kesukaan saya

Terimakasih saya ucapkan untuk Mbak Anne dan Mas Vincent dari Kampung Langit yang sudah menemani dan membantu saya mendapatkan info sebanyak-banyaknya agar tulisan ini selesai sesuai rencana. It’s such a great honor to be your VIP guest and part of this outstanding yet valuable first cultural sky park in Bali.

#KampungLangit #TheFirstCulturalParkInBali #WisataEdukasiDiBali #BaliTrip #BaliTourism #Traveloka #TravelokaXperience