Maret 2017

Ini adalah kunjungan saya yang pertama ke Semarang.  Bener-bener masuk ke dalam kota, setelah sebelumnya, beberapa kali hanya sempat melewati pinggiran kota menuju Malang.  Beruntungnya lagi saya bisa menikmati liburan singkat di ibukota Jawa Tengah ini tanpa harus mengeluarkan biaya hotel karena bisa tandem (baca: nebeng) temen yang bertugas di Semarang. Jadi ketika tawaran nemenin pergi itu datang, waaahh langsung capcus ijin suami dan pesan tiket.  Lucky me!!

Berhubung ini adalah pengalaman pertama, riset pun dilakukan jauh-jauh hari sebelum keberangkatan.  Beruntungnya lagi, walaupun jumlahnya tidak banyak, saya memiliki beberapa teman yang memang pejalan dan pejajan.  Jadi untuk mendapatkan referensi tempat wisata atau kuliner di sini, gak susah-susah amat.  Apalagi untuk seorang sahabat yang bekerja di media dengan network yang luas, informasi-informasi wisata tentunya sudah hal biasa.  Plus dengan berkembangnya media sosial, asal rajin dan betah browsing sana sini, informasi apa sih yang gak bisa kita dapat via internet?

Bertemu dengan teman di dunia maya

Teman yang satu ini sebetulnya sudah dikenal hampir 5th belakangan.  Sesama crafter (baca: wire worker), berbagi obrolan soal craft dan bertukar informasi via WA, plus ngamen bareng walaupun hanya produknya yang sampai di Jakarta.  Karena memang masih ngantor di salah satu instansi pemerintah di Semarang, untuk ketemuan dengan Resa, teman saya ini, sepertinya baru bisa terjadi kalau saya ke Semarang.  Dan Alhamdulillah, akhirnya kesempatan itupun sampai juga.

Menghabiskan 1/2 hari mengunjungi Lawang Sewu yang hanya selemparan kertas dari hotel dan berkeliling di dalam kota naik becak sendirian, siang itu saya diajak menghabiskan sebagian hari lainnya dengan pergi bareng Resa.  Dduuhh senengnya. Diskusi singkat pun berlangsung di lobby hotel dan kami pun memutuskan untuk pergi ke salah satu resto seafood yang cukup besar dengan area pemancingan.  Sambil makan bisa foto-foto cantik katanya. Naahh kan pas.

Resto besar mengagumkan

Perlu waktu sekitar 15-20menit dari Hotel Novotel yang berada di Jl. Pemuda untuk mencapai Resto Kampung Laut yang berlokasi di Tawang Mas. Melewati berbagai jalur yang terasa banget feel lautnya, kami berkendara sambil ngobrol seru membayar kangen yang selama ini hanya tersambung lewat dunia maya.

Mencapai tempat yang kami tuju, luasnya resto sudah bisa dirasakan dari depan pintu gerbang.  Terlihat lapangan parkir yang sangat luas (selapangan sepak bola) dan sebuah toko batik yang cukup besar dan menarik di dekat pintu masuk (sayangnya lupa tak foto).

Pintu masuk resto Kampung Laut
Pemandangan di sisi kanan dari jembatan pintu masuk
Pemandangan sisi kiri dari pintu masuk

Disambut dengan pintu masuk dan dinding kayu bertuliskan aneka menu, mata saya terpaku dengan hamparan resto yang menyebar di sebuah danau yang luas.  Tak terlihat bangunan dengan dinding semen.  Semua hanya terbalut kayu lengkap dengan beberapa anjungan, tempat nongkrong yang menghadap ke danau, dan pondokan makan beratapkan rumbia.

Melangkah di jembatan kayu sepanjang sekitar 100m yang terlihat sangat kokoh, rumah makan yang juga menyiapkan diri sebagai tempat pemancingan ini, patut diancungi jempol pemanfaatan maksimal lahannya.  Dengan beberapa rumah pondokan lesehan, open space meja dan kursi baik di bagian dalam maupun di pinggiran kanan dan kiri danau, serta 2 blok area yang menjorok ke danau, Kampung Laut tampak sangat siap untuk menampung tamu dalam jumlah yang sangat banyak.

Fasilitas dan Layanan Resto

Kesiapan mereka untuk menjadi host acara besar, dibuktikan dengan adanya meja customer service dengan 3 orang staff yang siap melayani tamu. Office equipment yang lengkap plus materi-materi promosi yang bertumpuk rapih.

Dari brosur makanan yang mereka berikan, Kampung Laut melayani reservasi grup dengan jumlah minimum 50org dan bisa memesan paket buffet dengan harga khusus.  Mulai dari Rp 55.000,-/orang sampe Rp 110.000,-/orang.  Tentu saja dengan jenis makanan dan jumlah hidangan yang disesuaikan dengan harga.

Paket termurah aja menurut saya cukup loh.  Dari Rp 55.000,- itu hidangan yang disajikan adalah: 1 jenis sup [sup jagung ayam/sup jagung sosis sapi/sup shanghai], 1 jenis hidangan ayam [ayam goreng mentega/ayam asam manis/ayam serundeng/chicken maryland], 1 jenis hidangan ikan/daging [filled ikan rujak jawa/fillet ikan goreng kecap/bistik daging sapi/beef stroganoff], 1 hidangan mie/soun/bihun [mie goreng spesial KL/Soun jagung goreng bakso sapi], 1 jenis sayuran [brokoli saus tiram/pweling salju/buncis ikan asin], nasi putih, krupuk bawang dan air putih [free flow].

Udah cukup banget kan menu di atas.  Menurut si Mbak yang melayani saya di meja informasi, paket Rp 55.000,- ini memang yang terlaris.  Tapi biasanya tamu menambah biaya dengan minuman lain [juice atau soft drink] yang harganya sekitar Rp 10.000m- – Rp 15.000,- /orang.

Tempat favorit yang biasa dibooking oleh grup adalah meja-meja di pinggir danau, lanjut si Mbak.  Karena di tempat-tempat itu duduknya terpisah.  Jadi tidak mengganggu tamu-tamu yang lain.  Posisinya yang menjorok ke danau, acara nongkrong bareng pun terasa lebih private.

“Lebih seringnya sih mereka ini booking untuk malam hari Mbak”, demikian keterangan si Mbak. Aaahh bener juga.  Melihat setting up area terpisah ini, keliatan banget kalo Kampung Laut menyediakan tempat khusus untuk tamu-tamu yang datang sekaligus dalam jumlah banyak dan memberikan layanan keindahan yang setara.

Area yang bisa direserve group di sisi kanan resto

Foto di atas adalah salah satu area duduk yang bisa direserve oleh group. Persis di seberangnya (seberang danau), tampak gedung tertutup yang bisa digunakan untuk meeting, presentasi, atau acara kumpul-kumpul dengan fasilitas AC.  Ruangan ini biasa dipesan oleh perusahaan untuk beberapa kepentingan tadi.

Tampak dari kejauhan area bermain anak dan anjungan beratap rumbia untuk pemancingan

Sementara di samping kiri terdapat fasilitas bermain anak, mushola, dan juga barisan tempat duduk (anjungan beratapkan rumbia) yang biasa digunakan untuk memancing.

Area yang bisa direserve group di sisi kiri resto

Nah kalau yang di atas ini juga bisa untuk pengunjung dalam jumlah yang tidak sedikit.  Sentuhan furniture nya aja yg berbeda.  Kalau yang sisi kanan dengan tempat duduk lebar dan rendah dengan meja panjang, yang di sisi kiri ini dengan meja bulat dan kursi tegak dan beberapa kursi dan meja panjang yang sudah tersambung menjadi satu.  Dari sisi ini juga terlihat sebuah anjungan panjang beratap yang biasanya digunakan untuk memancing.

Baik kanan maupun kiri dilengkapi dengan fasilitas lampu-lampu yang tentunya bakal keliatan cakep banget di malam hari.  Sayang saya tidak punya waktu yang cukup untuk kembali lagi ke sini dan mengambil foto suasana di malam hari.  Tapi melihat bagaimana resto membagi fasilitas, keliatan sekali bahwa mereka sangat menghargai privacy dan mengikuti keinginan konsumen.

 

Melengkapi tempat makan, di bangunan inti resto, selain ruang kerja customer service tadi, di ujung kiri ada toilet yang ber”kamar” dan berwastafel banyak.  Di bagian tengah khusus untuk kasir dan dapur, sementara di kanan ada counter ice cream dan mushola.  Saya juga sempat melihat live performance (pemain keyboard) persis di depan kasir, lengkap dengan sound system.

Pesanan Makanan Kami Siang itu

Waktu sudah menunjukkan jam 1siang setiba kami di sana.  Lapar sangat menyergap karena terus terang sarapan di hotel tidak begitu pas di lidah.  Kami memesan brokoli cah polos, tahu 2 rasa, dan  Kepiting Lemburi Goreng Tepung.  Yang terakhir ini bikin penasaran karena istilah lemburi belum pernah saya kenal sama sekali.  Jadi ketika ketiga menu ini tersaji, kepiting ini yang saya serbu duluan.

Dari penampakan, tampilan, dan atau hidangannya, kepiting ini terlihat sangat biasa. Tapi begitu hinggap di lidah, sensasi renyah begitu terasa.  Tepung berbumbunya pun gurih dengan racikan bumbu yang sangat enak. Gak keras sama sekali. Crunchy nya 10 jempol. Serasa bukan sedang makan kepiting yang terkenal dengan keras cangkangnya.

Tepung bumbu yang lezat juga terasa di tahu dua rasa yang kami pesan. 4 potong tahu dengan ukuran sedang adalah tahu isi berbalut tepung, sementara yang 1 lagi adalah tahu dibuat oval kecil, juga berbalut tepung, tetapi diberi taburan kriuk (seperti kacang dipotong kecil-kecil).

Melengkapi ke-2 lauk ini, keputusan memesan brokoli cah polos, ternyata adalah keputusan yang tepat. Walau terhidang dalam jumlah yang banyak, brokoli ini ludes kami makan.  Yang paling saya sukai dari masakan sayuran adalah ketika kita masih bisa merasakan renyahnya sayuran itu. Mungkin yang dalam istilah permasakan adalah masih dalam kondisi setengah matang.  Naahh begitu deh kira-kira.

Intinya tidak ada satupun pesanan yang gagal. Semua enak, lezat, berkualitas dan mengenyangkan. Sayang saya tidak bisa memberikan info mengenai harga makanan di atas karena Resa menjamu saya tanpa mau diintip bonnya. Makasih ya Resa. Semoga Allah mengganti dengan rejeki yang berlipat ganda. Aamiin YRA.

Siang menjelang sore kami meninggalkan Kampung Laut dengan perut kenyang dan puas luar biasa. Setelah sempat membeli baju tidur batik di toko yang berada di halaman parkir, kami segera meluncur ke kuil Sam Poo Kong untuk menyambung rekreasi saya di kota Semarang.

KAMPUNG LAUT Rumah Makan Apung & Pemancingan | Puri Maerokoco, Jl. Anjasmoro, Tawang Mas, Semarang | Telp.: 024-7617-289, 024-7079-3500 | Jam Buka: 11:30wib – 22:00 wib (Senin-Sabtu) dan 10:00wib – 22:00wib (Minggu)

 

 

Facebook Comment