SEMINAR NASIONAL yang bertajuk TIDORE TERNATE | Titi Temu Perbadaban Timur Barat yang diadakan di Aula Sultan Nuku, Kantor Walikota Tidore Kepulauan, pada Senin, 12 Februari 2018, menyajikan beberapa paparan bernilai akademis tinggi dari beberapa Pembicara.

Difasilitasi oleh Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN), event ini telah sukses terselenggara di bawah koordinasi Mayjend TNI (Purn) Hendardji Soepandji, Ketua Umum KSBN, bersama dengan seluruh jajaran Kantor Walikota Tidore Kepulauan.

Salah seorang Pembicara, Prof. Dr. Susanto Zuhdi, M. Hum, yang juga adalah Guru Besar Sejarah, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, mengajak seluruh peserta seminar mengupas materi yang berjudul Kesultanan Tidore Dalam Dunia Maluku/Moluku Kie-Raha dalam Sebuah Prespektif Historis.  Berikut adalah pemaparan beliau untuk materi ini.

Foto koleksi TROPEN MUSEUM AMSTERDAM

Perspektif sejarah memperlihatkan berlangsungnya interaksi dan konflik serta perang, baik dengan pihak bangsa Eropa—yang juga memiliki dinamikanya sendiri—maupun dinamika internal persaingan antar kekuasaan Maluku khususnya dalam abad ke-16—dan ke-18. Tampak jelas dengan kehadiran bangsa Eropa, telah terjadi perubahan strategis pada lingkup internasional, nasional maupun  regional, setelah dipicu oleh gairah mengejar keuntungan sebesar-besarnya dari komoditas rempah.

Dalam periode yang dibicarakan ini, bersama Ternate, Tidore menjadi episentrum dan menentukan pembentukan geopolitik, karena peran penting sebagai pusat rempah yang telah mengubah peta dunia. Pertanyaannya adalah apakah artinya dengan posisi Tidore yang disebut sebagai “titik temu” timur dan barat (titik nol)  bagi konstelasi antar kekuatan di  Maluku sendiri? Sejauhmana relevansinya dengan wacana poros maritim, jika dikaitkan dengan visi pemerintahan Jokowi sekarang? Apa makna ‘jalur rempah’ jika ingin dibangkitkan kembali bagi keuntungan bangsa Indonesia sekarang dan ke depan? Apa konsekuensi yang harus dikerjakan untuk mewujudkan cita-cita tsb? Dan yang tidak kalah penting adalah apa makna dan manfaat bagi Maluku dan khususnya Tidore sendiri? Bagaimanamenjadikan Tidore “kota masa depan”, atau akan menjadi kota “yang bersejarah” dan hanya jadikan sebagai“museum”?

Foto koleksi TROPEN MUSEUM AMSTERDAM

Portugis adalah bangsa Eropa yang pertama datang di Maluku pada 1512 dan disusul oleh Spanyol dalam dua dekade kemudian. Portugis bukan hanya diterima kehadirannya tetapi juga menjadi sekutu Ternate dalam memperluas kekuasaannya.

Antonio de Serrao, pemimpin armada Portugis sesungguhnya juga hendak dijemput utusan Sultan Almansur ( Tidore), tetapi kalah cepat dari utusan Sultan Bayanulah (Ternate). Persaingan di antara keduanya sudah dimulai memperebutkan simpati Portugis dan Spanyol. Penyerbuan Spanyol ke Ternate atas perintah Gubernur Jenderal Spanyol di Manila, Don Pedro da Cunha. Sebaliknya Sultan Saidi (Ternate) dalam 1588—1605 membuat kontak dengan Belanda untuk menggempur Tidore.

Di penghujung abad ke-16 bangsa Belanda tiba di perairan nusantara kemudian Inggris. Keduanya membentuk perusahaan dagang VOC dan EIC. Kepulauan Maluku  semakin berguncang dengan kedatangan Belanda dan Inggris, yang pada akhirnya menggantikan kedua bangsa Eropa terdahulu. Dalam periode yang dibicarakan ini barangkali tidak ada wilayah di nusantara yang sebegitu kompleks dalam hal kehadiran bangsa barat dan menimbulkan dampak begitu dahsyat. Bagaimana mungkin ingatan kolektif bangsa Indonesia melupakan genosida penduduk Banda dan pelayaran hongie tochten yang membakar pohon cengkih secara besar-besaran.

Jika disederhanakan kerumitan hubungan antar kerajaan di Maluku berkelindan dengan persaingan bangsa Eropa dapat dipolakan dengan konsep, seperti dikemukakan Taufik Abdullah, sebagai perseteruan dan persekutuan menjadi pola hubungan ‘ketidakstabilan yang tetap’ antar kekuatan tersebut. Mencoba untuk memahami pola-pola hubungan itu sebagai kajian memang menarik, tetapi memberikan makna terhadap “apa yang sudah menjadi sejarah” mungkin lebih bermanfaat dan apalagi jika dapat digunakan sebagai bahan untuk merumuskan visi ke depan.

Foto koleksi TROPEN MUSEUM AMSTERDAM

Setidaknya ada dua faktor sejarah dalam konteks ini, ‘sakit hati’ Magellan karena ditolak idenya untuk berlayar ke arah barat oleh rajanya sendiri, dan ‘kecemburuan’ Raja Spanyol, atas sukses Portugis karena lebih dahulu tiba di kepulauan rempah, sehingga mensponsori Magellan melakukan pelayaran itu. Sejarah pada prinsipnya merupakan penggambaran diri mengenai manusia, maka menjadi hal biasa bahwa sejarah digerakkan oleh sifat dasar dari manusia dengan segala perasaan dan gairahnya.

Magellan sendiri adalah orang Portugis yang telah lebih dahulu tiba di Maluku pada 1512 dan telah memperoleh keuntungan besar dari cengkih dan pala. Namun dalam pelayaran berikutnya Raja Portugis tidak memberikannya izin dan dukungan sehingga ia justru disokong penuh oleh Raja Spanyol untuk berlayar kembali ke Maluku.

Ketika 1519 bersama armada kapal berangkat dari Spanyol, Magellan tidak mengikuti jalur yang telah dilakukan Vasco da Gama ke arah timur, melainkan ke arah  barat. Setelah melintasi Samudera Atlantik dan Pasifik, tibalah Magellan di Maluku, Tidore. Dengan demikian Magellan adalah orang pertama yang mengelilingi dunia, sekaligus membuktikan bahwa bentuk bumi itu bulat.

Magellan memperlihatkan perjalanan laut jauh lebih sulit dan berbahaya dan ketidakpastian daripada yang dilakukan Vasco da Gama. Sebagai seorang penjelajah lautan ia tekun dan berani. Magellan meskipun 20 tahun kemudian, ia melewati benua misteri, dengan menggantikan arah yang semula ke timur ia mengambil arah ke barat, melewati selat penuh badai pada titik selatan Amerika yang ekstrim,  mengekalkan dan kemasyhuran namanya. Sepenggal kisah mengenai perjalanan Magellan seperti diungkap di bawah ini.

“Magellan performed a voyage far more difficult, perilous, and uncertain than that Vasco da Gama; and as an explorer of the ocean, he was not less persistent and dauntless. As Vasco found the the waterway to Asia around the Cape of Good Hope, so Magellan, a little more than twenty years after, discovered the route to the same mysterius continent, by sailing westward instead of eastward, and by passing through the stormy straits, at the extreme southern point of the South American Continent, which will perpetuate his name and renown.” (Towle, 1879:2)

 

Sejarah Spanyol di Maluku mungkin hanya sebagai nilai simbolik karena kehadiran Magellan disebut sebagai sosok yang mempertemukan dunia Barat dan timur di Tidore, setelah ia mengelilingi dunia, meskipun mengalami naas ketika ia tewas di Philipina.

Magellan menjadi simbol kegagalan setidaknya dari dua ekspedisi berikutnya untuk merebut keunggulan Portugis yang telah bercokol dan berjaya dalam dekade sebelumnya. Pasang surut Spanyol dalam mencoba bertahan hingga pada 1529 dalam perjanjijan Saragosa, dan harus melepas kembali tuntutannya atas Maluku dengan membayar kepada Portugis sebesar 500.000 cruzado. Senentara itu dalam dinamika internal Spanyol sendiri kerajaan terus diserang karena dianggap tidak konsisten dalam menjaga sistem penaklukkan yang dilakukan Spanyol dengan etika Kristen (Andaya 2015:27).

Foto koleksi TROPEN MUSEUM AMSTERDAM

 

Meskipun terjadi persaingan antar kerajaan terutama yang paling kuat Ternate dan Tidore, gambaran ideal “dunia Maluku” tampaknya diidamkan bersama dua kerajaan lainnya : Jailolo dan Bacan sehingga keempatnya membentuk konsep “Moloku kie-Raha”.

Terdapat beberapa versi atau penjelasan tentang asal-usul nama “Maluku”.  Tradisi menyebut “moloko” artinya “genggaman” mungkin sekali karena sebutan orang-orang Arab negeri ini disebut “Mulk” artinya raja (Bahasa Arab). Soal mana yang benar biarlah para ahli Bahasa mencari etimologi kata “Maluku”.

Adalah jelas bahwa terdapat sekian banyak kerajaan di Maluku yang secara geografi berbentuk kepulauan. Di antara banyaknya kekuasaan di sana, terdapat empat kekuatan yang muncul, namun akhirnya hanya dua yang paling dominan. Pada kedua kekuatan inilah terjadi “dualisme” yan membentuk ‘perseteruan abadi’, diselingi oleh upaya kedua kekuatan itu untuk membentuk “dunia Maluku” yang harmonis. Sesungguhnya  tidak hanya ada dua kekuatan di Maluku tetapi terdapat empat kekuatan, yang secara tradisional  dikenal sebagai “Moluku kie-Raha” , harfiah “Empat Gunung Maluku”. Itu artinya masih ada ‘gunung’ lagi yakni Bacan dan Jailolo. Bahkan jika Loloda dimasukkan maka seharusnya menjadi “Moloku Kie- Romtuha” (‘Lima Gunung Maluku’).  Dalam mitos,  Loloda tidak termasuk karena sewaktu diadakan perjanjian “Perikatan Motir” (Motir verbond) rajanya terlambat datang.

Foto koleksi TROPEN MUSEUM AMSTERDAM

Ternate sebelum kedatangan orang Eropa telah menguasai wilayah bagian timur Indonesia. Ekspansi awal Ternate di bawah kekuasaan keluarga Tomagola, Tomaitu, Marsaoli, dan Limatuhu (fala raha). Pada akhir abad ke-15 keluarga Tomaitu memimpin ekspedisi ke Pula Sula, Tomagola ke Ambon meliputi Buru, Ambelau, Manipa, Kelang, Seram, Seram Laut. Suatu kebetulan sejarah yang disebut sebagai “rezeki politik” oleh Andaya ketika perjanjian Bungaya 1667, Ternate mendapat wilayah kekuasaan dari Sulawesi Utara sampai Mindanao, ke bagian tengah Banggai, Bungku ke selatan Buton dan Selayar.

Dalam perkembangan historisnya, Jailolo dianeksasi Ternate dengan bantuan Portugis. Sejak itu Jailolo merupakan bawahan Ternate. Adalah Bacan yang disebut terakhir justru merupakan kerajaan awal dari keempat kerajaan yang disebut sebelumnya. Mitos Bikusigara berkisah mengenai 4 telur besar yang kemudian menetas menjadi raja Bacan, Jailolo, Buton-Banggai, Raja Papua, dan seorang perempuan diperisteri Raja Loloda. Andaya menyebut negeri-negeri yang diikat dengan nilai mitos ini adalah “Dunia Maluku”. Mitos ini memberi landasan legitimasi bagi Ternate—Tidore sebagai “pusat” yang memperluas daerah kekuasaannya dan menjadikannya sebagai “pinggiran”. Ternate-Tidore sebagai pusat dan wilayah pinggirannya: ternate dari utara Sulawesi—Mindanao ke tengah Banggai, Tobungku, , sampai ke selatan ke Buton dan Selayar. Perjanjinan Bungaya 1667 mengubah peta wilayah kekuasaan dan perubahan hubungan “pusat” dan “pinggiran”.

Bacan berperan mendahului Tidore dalam menghubungkan ke wilayah Timur—Raja Ampat hingga Papua. Pertemuan Bahasa Austronesia dan Bahasa Papua (Melanesia) yang telah berinteraksi lama dalam proses saling berbagai-memberi membentuk pola-pola ‘baru’ dalam kebudayaan Nusantara khususnya di Kawasan timur.

Foto koleksi TROPEN MUSEUM AMSTERDAM

 

 

Meskipun  Moluku Kie-Raha,  sesungguhnya merupakan konsep ideal sehingga tidak pernah benar-benar terwujud, akan tetapi selalu ada upaya untuk mengembalikan kejayaan dan keharmonisan konsep utopis tersebut.

Sultan Khairun, sebagai contoh adalah sosok yang  memiliki idealisme untuk membangun kembali setidaknya hubungan Ternate—Tidore, namun gagal (Amal, 2010: 77). Demikian pula Sultan Tidore Saifudin dan kemudian Pangeran Nuku yang bermaksud menghidupkan kembali Jailolo. Dalam konteks inilah terjadi berbagai peristiwa yang tragis maupun tragedi (Abdullah 1995). Sebagai peristiwa tragis adalah kejadian yang hampir tidak dapat dielakkan seperti terbunuhnya Magellan dan pembunuhan Sultan Khairun. Lalu bagaimana dengan persaingan antara Ternate dan Tidore dalam berlomba mendapatkan simpati dan keuntungan dari kehadirangan bangsa Eropa, tidakkah seharusnya dapat dihindari jika semangat dan nilai Moluku Kie-Raha diamalkan.

Selain karena Nuku yang telah memperlihatkan idealisme untuk mewujudkan kembali sebagian dari keutuhan Ternate-Tidore dengan mengembalikan Kesultanan Jailolo adalah peran kesultanan Tidore sendiri. Nuku bermaksud mengembalikan keseimbangan dunia Maluku dengan melakukan “pemberontakan” terhadap Belanda dengan berhasil melibatkan banyak pengikutnya dari lintas daerah, suku dan agama, meliputi hampir seluruh wilayah Maluku hingga Papua. Dalam arti yang luas Nuku memperjuangkan kebebasan tidak perduli melawan Sultannya sendiri manakala kedaulatannya dikuasai Belanda.   Nuku ingin  mengembalikan keharmonisan Moluku kie -Raha dengan mendudukan kembali kekuasaan Jailolo, berarti berhadapan dengan Ternate. Inilah yang dimaksud tragedi dalam sejarah Maluku dan Indonesia dalam konteks kemudian.

Peran Tidore penting dicatat dalam sejarah nasional karena telah menjadi mata rantai dan jembatan interaksi ke Papua. Melalui penelusuran wilayah kekuasaan Tidore untuk mengidentifikasi  potensi daerah dari masa lalu, Raja Ampat: Salawati, Waegio, Batanta, Misool. Pengembangan wilayah kekuasaan Tidore ke timur mulai dari Gebe, Maba, Weda, Raja Ampat, orang Iak percaya bahwa kekuatan dari barat, sehingga wajar pemimpin dari “barat” (Tidore). Cultural hero dari Biak yang berjasa bagi Tidore adalah Gurabesi, tokoh kuat dan pemberani.

Seperti sudah menjadi keniscayaan sejarah bahwa justru karena rempah, menjadikan negeri-negeri Maluku menjadi rebutan dan pertikaian tak kunjung usai hingga melemahkan kedudukan penguasa dan marwah kehidupan anak bangsa berada dalam cengkeraman kolonialisme asing. Sebutan episentrum dunia bagi Ternate-Tidore memang enak didengar dan menyiratkan kebanggaan juga. Namun dibalik fakta itu terdapat “bekas luka sejarah konflik” anak bangsa yang ternyata tidak mudah untuk dilupakan. Kepulauan Maluku menjadi menjadi “pulau ingatan konflik”. Sejarah Kepulauan Maluku menjadi memori konflik (Basri Amin dalam  Andaya,2015).

Foto koleksi TROPEN MUSEUM AMSTERDAM

 

Sejarah sebagaimana yang dikemukakan secara ikhtisar dalam paparan di atas adalah mengenai apa yang telah terjadi, atau sejarah dalam arti peristiwa (What is history ?). Dengan kata lain mengenai apa itu sejarah. Segi lain yang tak kalah penting  yaitu sejarah untuk apa (What is history for?). Dalam kaitan ini Paul Thompson mengatakan bahwa bagaimana pun sejarah dikerjakan akhir untuk tujuan yang bermakna sosial (History for social purpose).  Di antara ilmu-ilmu sosial, sejarah merupakan pengetahuan yang paling terbuka bagi siapa saja untuk masuk dan berkecimpung di dalamnya.

Pada umumnya banyak orang berkepentingan terhadap sejarah. Apakah orang hanya sekedar ingin tahu tentang masa lampau yang memiliki pesona atau bahkan misteri. Atau ingin mempelajari pengalaman orang lain untuk mendapatkan pelajaran berharga. Kata orang bijak sejarah meruakan guru kehidupan “historia magistra vitae”. Atau ironi seperti dikatakan Voltaire, filsuf Prancis yang mengatakan sejarah adalah tablo kebodohan manusia. Meskipun samar-samar masa lampau dapat dianggap sebagai modal memperkuat rasa kebersamaan (sense of community) dan pembentuk identitas masyarakat-bangsa.

Kemaritiman adalah karakter bangsa Indonesia yang dapat dijadikan modal untuk membangun negara maritim yang kuat. Dalam perspektif internasional sekarang, Tidore dapat menginspirasi  terjalinnya hubungan dan kerjasama antarbangsa dengan mengambil pengalaman sejarah masa lampau.

Sebagai bagian dari kebudayaan suatu masyarakat, sejarah bukan hanya untuk tujuan pembentukan nilai, memperkuat jatidiri tetapi juga untuk kepentingan pariwisata yang akhirnya dapat menghasilkan pendapatan. Kita memiliki banyak benda cagar budaya (BCB) berupa benda yang masih belum diberi makna sejarah sehingga terabaikan. Riset dan pencatatan sumber penting dilakukan untuk memberikan nilai tambah pada BCBkarena terdapat kisah menarik yang dikemas untuk tujuan wisata. Adapun BCB yang tak benda, seperti kisah dalam tradisi lisan dan pertunjukan/festival tradisi pada dasarnya merupakan modal pengembangan ekonomi daerah melalui paket-paket pariwisata.

Warisan kesultanan Tidore baik dilihat dari “pusat” dan wilayah kekuasaan (“pinggirannya”) dahulu pada dasarnya  masih dapat dipetakan, digali dan dikembangkan sehingga bernilai tambah. Kreativitas budaya yang masih dimiliki masyarakat Tidore diyakini sebagai modal membangun daerah untuk turut mewujudkan kesejahteraan bersama.

CATATAN:  Seluruh tulisan/makalah di atas adalah pemaparan dari Prof. Dr. Susanto Zuhdi. Foto-foto yang ditampilkan berasalah dari TROPEN MUSEUM AMSTERDAM yang digali dan dipresentasikan di dalam seminar oleh Kantor Walikota Tidore Kepulauan sebagai penyelenggara Seminar Nasional.

Para Pembicara dan Moderator Sesi ke-1 Seminar Nasional. Kiri ke Kanan: Prof. Dr. Susanto Zuhdi (Guru Besar Sejarah UI), H. Husain Sjah (Sultan Tidore), Mayjend TNI (Purn) Drs. Hendardji Soepandji (Ketum KSBN), dan Prof. Dr. Njaju Jenny Malik Tomi Hardjatno, SS, MA (Guru Besar UI) sebagai Moderator
Sesaat sebelum Seminar Nasional dibuka. Tampak juga hadir Capt. Ali Ibrahim, Walikota Tidore Kepulauan dan Jou Boki (Permaisuri) Kesultanan Tidore

Komite Seni Budaya Nusantara | Jl. Pejaten Raya No. 33D | Jakarta Selatan | Email: ksbnindonesia@gmail.com | Telepon +62.812.9236.345 | Website: www.ksbnindonesia.org

 

 

Tulisan-tulisan lain mengenai Seminar Nasional ini dapat dibaca di tautan berikut ini:

KSN Bakti Untuk Negri | Seminar Nasional | Tidore Ternate | Titik Temu Perbadaban Timur Barat

Jalur Rempah di Maluku Utara Masa Lalu dan Pengaruh Kebudayaan Dunia

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here