Waktu beranjak melewati pagi hari ketika saya dan Ratu bersiap-siap untuk menjelajah Macao. Setelah 4 hari berjibaku ngamen di acara Guangdong Macao Branded Product Fair di The Venetian Hotel, rasa lelah nyatanya tak mampu mengalahkan semangat kami untuk berkeliling Macao hari itu. Waktu kami memang terbatas. Hanya 1/2 hari untuk ngubek-ngubek beberapa destinasi wisata Macao yang paling populer, sebelum akhirnya nyebrang ke Hong Kong untuk melanjutkan perjalanan.

Hari itu saya mengajak Ratu untuk lebih dulu berkunjung ke Lord Stow’s Bakery. Setelah ngobrol dan berdiskusi lebih lanjut dengan receptionist hotel, saya memutuskan untuk ke mother store mereka yang berada di daerah Coloane Village. Lumayan jauh infonya karena Coloane berada di sisi yang berbeda dari hotel tempat kami menginap (Regency Art Hotel di Taipa). Tapi untuk tujuan menjelajah negara yang baru pertama ini saya datangi, apalah salahnya.

Petugas yang bersangkutan mengusulkan beberapa moda transportasi yang bisa kami pilih. Salah satunya adalah bis merah besar yang lewat persis di depan hotel. Murah tapi ya sangat terbatas. Pilihan berikutnya adalah taxi dengan biaya yang berlipat-lipat dibandingkan naik bis. Tapi tentu saja bisa menghemat waktu dan tenaga. Masalah efisiensi dan efektivitas waktulah yang akhirnya membuat saya dan Ratu memutuskan untuk naik taxi aja. Jadilah sebuah Alphard cantik, yang dipesankan hotel, siap mengantarkan kami ke Coloane. Wes udah kek nyonya-nyonya kelebihan duit (ngekek). Etapi bener loh, taxi di Macau ini mobilnya keren-keren (seperti Camry, BMW, dan beberapa lainnya dari brand ternama). Rata-rata mobilnya bagus, lebih dari nyaman, bersih, dan tentu saja sangat terurus. Bumi dan langit lah dengan taxi di Hong Kong.

Baca juga: Regency Art Hotel | Lawas, Berbintang 5, di Pusat Kota Macao

Toko dengan tampilan yang sangat sederhana

Menikmati nyamannya duduk di bangku penumpang mobil berkelas selama hampir 1 jam ke depan, saya sudah membayangkan akan ketemu kue fenomenal yang jadi omongan semua teman-teman yang sudah pernah ke Macao. Pergi tanpa sarapan dengan bayangan akan makan enak di tempat yang berkelas menyertai obrolan kami saat itu. Berkelas? Yoa. Secara ya, Lord Stow’s Bakery milik Andrew Stow ini sudah eksis sejak 15 September 1989. Jadi saat kami ke sana, mereka sedang menyambut 30 tahun keberadaan mereka di dunia bisnis bakery.

Tapi ternyata dugaan kami meleset. Diturunkan persis di seberang toko, tepatnya di sebuah putaran dengan taman kecil, kedatangan kami disambut oleh bunyi keras bor yang menghantam tanah. Sedang ada penggalian rupanya. Melongok ke arah para pekerja ini, saya pun ngeh kalau toko nya berada di arah penglihatan saya saat itu. Lupakan bangunan megah. Lupakan resto atau cafe yang ukuran luas yang penuh dengan dekorasi mewah. Plang toko yang dipasang di sisi kanan, menegaskan bahwa kami sudah sampai di tempat tujuan.

Bangunan tokonya berbentuk kotak yang luasnya mungkin tak lebih dari 100m2. Dengan pintu geser besi di bagian depan, tak terlihat sedikitpun kemewahan layaknya “warung induk” dari sebuah jaringan usaha yang sukses. Wangi khas roti yang semriwing sudah tercium dari pertama kali kami melangkah masuk dan lebih menggoda lagi saat bener-benar berada di dalam toko. Rak-rak penuh aneka roti ada di sebelah kanan. Jalur antrian pembeli dan pemesanan ada di bagian kiri. Sementara di ujung bangunan terlihat bertumpuk-tumpuk loyang besar berisi egg tart dan kotak pemanggang yang tingginya hampir mencapai langit-langit toko.

Sepagian itu kesibukan sangat terasa di dalam toko. Pengunjung datang silih berganti tapi tidak sempat menyebabkan antrian yang panjang. Seorang encik berbodi tegap dan berseragam tampak cekatan melayani tetamu. Kadang-kadang rada tereak-tereak ke rekan kerjanya (khas banget kebiasaan orang Cina) sambil terus berbicara dengan tamu. Pengalaman mengalami kesulitan berbahasa Inggris dengan warga Cina, saya sempat ngeper mau ngomong sama si encik. But, finally, again, never judge something by it’s cover. Alih-alih mikir dan nyusun kalimat sesederhana mungkin biar gampang dimengerti, eeehh saya malah disambut dengan kemampuan bicara bahasa Inggris yang grammatical dan sopan banget. Saya dan Ratu tersenyum sumringah. Saking semangat mendapatkan jalur komunikasi yang gampang dimengerti, kami akhirnya malah mesen salad dengan topping ikan tuna. Karena kelaparan juga sih hahahaha.

The Egg Tart yang fenomenal itu
Semangkok besar fresh salad dengan topping ikan tuna

Mencium wewangian yang nembus sampe ke angan-angan ((berlebihan)), perut saya yang belum terisi mendadak bergolak mau meletus ((berlebihan lagi)). Ngeliat ukuran tart nya cuma 2/3 telapak tangan, saya pun emosi memesan 2 buah. Ratu yang tidak terbiasa dengan heavy breakfast membeli 1. Dan salad yang gedang itu kami makan berdua. Harga egg tartnya MOP 10/bh (sekitar Rp 18.000,-/bh). Ini karena beli di mother store. Kalau di luaran (terutama di hotel) harganya jadi MOP 12/bh. Sementara untuk saladnya, aslik saya lupa. Kalau gak keliru sih sekitar MOP 20 – 30an (polosan belum termasuk topping). Harganya jadi lebih mahal sesuai dengan jumlah topping yang kita pilih.

Di “emaknya warung” ini gak ada tempat duduk. Jadi memang dirancang untuk take-away only. Tapi persis di seberang toko ada beberapa meja dan kursi semen permanen yang sepertinya memang disediakan untuk tamu-tamu seperti kami. Cukup nyaman kok nongkrong sambil ngunyah di situ. Walaupun berada persis di pinggir jalan dengan berkali-kali mobil dan bis mondar mandir, gak terasa ada debu ataupun mata terasa perih. Jadilah kami khusyuk makan dengan nyamannya sambil melihat keluar masuknya para pembeli tanpa henti.

Rasanya? Wow. All the best lah pokoknya. Gak salah kalau Lord Stow’s Bakery menempatkan moto Fresh, Healthy, Natural, and Highest Quality sebagai jargon jenama mereka. Semua poin yang dikedepankan terbukti dari setiap gigitan makanan yang kami nikmati. Egg tartnya itu ya, pinggiran puff pastry nya renyah banget. Kriuk-kriuk saat digigit. Sementara isi tengahnya yang mencampurkan telur, krim, gula, tepung, dan lemon zest, dan tentu saja bumbu rahasia khas Lord Stow, begitu terasa “berisi”. Manisnya pas dengan tingkat kegurihan yang juga klop di lidah. Saladnya juga terasa banget segernya. Bener-bener menu sehat tapi tidak terasa biasa karena disertai dengan ikan tuna yang juga fresh tanpa olahan atau bumbu-bumbu berat lainnya.

Sempat meremehkan akan tidak kenyang makan hanya 1bh, saya malah kewalahan ngabisin 2 egg tartnya. Untung saladnya dimakan keroyokan. Kalo masing-masing pesen 1 mangkok, ya wasalam. Bisa-bisa kami kejongkrok duduk gak mampu bergerak. Segitu aja kami sudah beberapa kali sendawa karena kekenyangan ((ngakak dari Sabang sampai Merauke)). Makanyaaaa jangan rakus gitu dong Mak hahahaha.

Ratu dan Lord Stow’s | Tampak ya padatnya segala peralatan di dalam toko

Sempat terduduk karena kekenyangan, akhirnya kami pun beranjak untuk membakar kalori yang sudah bejibun masuk ke dalam lambung. Berada di Coloane Village yang sarat dengan bangunan peninggalan (penjajahan) Portugis, sayang rasanya kalau tidak disempatkan keliling dan memotret.

Dari tempat kami duduk aja, Rua Dou Tassara, Colloane Town Square, berseberangan dengan bangunan milik Lord Stow’s Bakery, ada sebuah gedung besar yang ternyata, setelah mencari keterangan di sana sini, adalah rumah sakit. Beberapa langkah setelahnya, dekat sebuah tikungan jalan (pertigaan), ternyata ada cafe milik Lord Stow (Lord Stow’s Cafe) yang walaupun tidak lebih besar dari toko penjualan tadi, mulai dipenuhi oleh pengunjung. Waaahh tau gitu tadi nongkrong di sini yak hahahaha.

Rumah sakit yang berada persis di seberang Lord Stow’s Bakery
Lord Stow’s Cafe, Coloane Town Square (www.lordstow.com)

In walking distance, ada warung minuman (Sobremesa) sejenis bubble tea yang gak kalah ramenya. Warung ini berdampingan dengan sebuah rumah kecil, berdinding dan beratap seng berwarna kuning menyala. Ada beberapa stiker atau tempelan merah dengan aksara Cina di hampir setiap dindingnya. Atraktif banget. Hanya sayang lingkungan yang cantik ini masih dikelilingi oleh kabel-kabel listrik yang menjuntai kesana kemari. Jadi agak sulit difoto dalam angle yang pas.

Selain rumah kuning tadi, saya begitu terkesan dengan jalan yang terbuat dari paving blok yang tersusun sempurna sehingga keseluruhan lingkungan terlihat rapih. Jalan setapak yang diperuntukkan bagi pejalan kaki dan kendaraan bermotor ini juga sangat nyaman untuk dilalui. Sebuah pohon besar dan sepertinya sudah berumur puluhan tahun terlihat tegak berdiri, rindang, dan bisa jadi tempat berlindung dari sinar matahari yang mulai hangat menerpa. Dari sini saya melihat sebuah klenteng kecil dan taman (Largo Do Matadouro) yang dikelilingi oleh beberapa bangunan bergaya eropa. Lingkungannya bersih dan hening. Tak terdengar atau terlihat kesibukan-kesibukan yang berarti. Oia satu lagi. Walaupun terletak persis di pinggir sebuah pantai yang cekung ke dalam, desa ini sepertinya jauh dari kesibukan pekerja-pekerja yang berhubungan dengan bahari.

Cafe Sobremesa
Rumah kuning
Klenteng kecil di lingkungan Coloane Town Square
Largo Do Matadouro | Taman kecil di belakang Lord Stow’s Bakery
Jalur setapak dan jalanan paving untuk kendaraan yang bersih dan rapih | Pohon-pohon besar melengkapi kenyamanan dan keteduhan para pejalan kaki

Sinar matahari mulai garang dan menyengat ketika kami mengakhiri acara ngider-ngider seputaran Coloane Town Square. Lagi-lagi karena alasan keterbatasan waktu, kami menunggu datangnya Taxi yang kali ini akan membawa kami menuju Senado Square.

Sayangnya saya tidak bisa membawa egg tart khas Portugis ini sebagai buah tangan karena saya masih harus berada di Hong Kong dalam 3 hari ke depan. Sementara kue ini lebih baik bertahan dengan maksimal waktu 2 hari di tempat terbuka atau maksimum 4 hari jika ditaruh di dalam kulkas. Tapi setidaknya mendapatkan kesempatan berkunjung langsung ke Lord Stow’s Bakery di Coloane telah meninggalkan kesan dan pengalaman yang sangat mendalam buat saya.

Semoga usaha yang didirikan oleh Andrew Stow, pria berkebangsaan Inggris, dapat terus bertahan bahkan semakin berkembang di tangan ke-2 putri-putrinya Audrey Stow dan Eileen Stow. Mudah-mudahan mereka berkenan menancapkan tiang-tiang bisnis atau ada pengusaha kuliner yang bersedia membuka cabangnya di Indonesia (di Jakarta atau Bali mungkin). Memperluas jejak keberhasilan dan kesuksesan di beberapa outlet yang sudah mereka buka di negara-negara Asia lainnya, khususnya Macao dan Hong Kong.

Untuk membaca cerita lebih lengkap mengenai Lord Stow’s Bakery, sila berseluncur di tautan berikut ini www.lordstow.com

Lingkungan yang menyenangkan
Salah satu sudut foto dari seberang Lord Stow’s Bakery
Tampak cekungan pantai di ujung foto