FOTO THESIS

 

Magister Kawat? Emang ada gitu? Apa sih maksudnya?

Hihihihihi jangan apriori dulu yak. Kali ini saya ingin bercerita mengenai perjuangan selama hampir 4 tahun untuk menjadi seorang Magister Ilmu Komunikasi dengan bermodalkan keahlian nguwer (kawat) atau dalam bahasa kerennya dari profesi sebagai seorang wire jewelry designer.

Namun sebelum memulai menulis ini dan Anda membaca cerita di bawah, saya ingin sampaikan bahwa semua yang diceritakan bukanlah dengan maksud bersombong ria, sok-sokan apalagi “mengecilkan” makna dari hal-hal yang tersirat ataupun orang-orang yang terlibat di dalamnya.  Tulisan ini dibuat dengan tujuan memberikan semangat kepada semua rekan-rekan saya yang berprofesi dan atau yang menjalankan usaha wire jewelry agar bisa memaknai bahwa dengan menjadi seorang wire worker  kita mampu meraih impian-impian kita.

************

Merangkak dari 2007, setelah tidak lagi menjadi buruh upahan sebuah PMA di Jababeka – Cikarang, saya melewati serangkaian perjuangan yang bukanlah mudah.  Memutuskan untuk menjadi seorang crafter tidaklah gampang. Memilih jenis usaha kerajinan yang menjadi soul kita pun tidak semudah membalik telapak tangan, karena tujuan utama adalah berbisnis rumahan dari hobby.  Kok gitu? Yup. Membaca beberapa buku mengenai bisnis rumahan, tertanam di benak saya bahwa dengan menjalankan usaha yang bercikalbakal dari hobby, hati kita biasanya lebih ringan untuk menghadapi naik turunnya usaha tersebut. Mengerjakannya pun dengan lebih sukacita karena memang hal itu adalah kesukaan kita.

Singkat cerita, setelah melewati proses uji coba usaha berkali-kali mulai dari buka toko baju dan accessories stringing, sulam benang, sulam pita, akhirnya saya benar-benar jatuh cinta dengan perhiasan kawat.  Belajar tekniknya satu persatu, kutak katik inovasinya berjam-jam, sampai akhirnya berani untuk mengikuti pameran.  Pameran pertama pun gak main-main.  Langsung sekelas Inacraft di JCC.  Nekat? Yak betul.  Karena saat itu yang lewat dipikiran adalah bagaimana caranya agar brand saya (Fiona’s Corner) bisa lebih dikenal orang, memperluas network yang ujung-ujungnya tentu saja dapat berjualan dengan pangsa yang lebih luas.  Itupun juga belum berani jualan sendiri dengan 1 stand.  Saat itu saya berbagi dengan 3orang teman lain yang juga adalah wire worker.  Gak takut bersaing? Alhamdulilah tidak.  Karena saya percaya, walaupun karya saya tidak seindah dan sehebat 3 teman yang lain, insyaaAllah ada rejeki yang sudah Allah aturkan untuk saya.

Dari pengalaman ini, ngamen demi ngamen saya jalani. Terkadang dapat untung, terkadang sedikit profitnya, malah pernah tidak ada penjualan sama sekali alias merugi.  Berulang kali terus terjadi seperti bola berputar.  Ada di satu titik, terutama ketika modal pameran tidak kembali, emosi rasanya terbanting.  Tapi lagi-lagi karena ini adalah bisnis dari hobby, hempasan demi hempasan yang terjadi justru menjadikan mental saya terasah dengan baik.Tentu saja dengan episode mewek sedih dan duka.

Kalo ditanya, pernah gak merasa terpuruk?? Oooh jangan ditanya.  Tidak hanya terpuruk soal finansial tapi juga ambruk semangat.  Karena pada tahap-tahap awal, dengan modal terbatas yang saya dapatkan dari uang “pisah” kantor terakhir, dan dengan masih belum banyaknya kemampuan untuk mengolah pengeluaran dan pendapatan dari usaha sendiri, akhirnya saya sampai di satu saat dimana saya benar-benar tidak berpenghasilan sama sekali.

Akankah terus begitu?? NO NO NO. Saya harus melakukan sesuatu. Lagi-lagi kembali membaca dan menggali ilmu secara teori dan praktek.  Usaha sendiri itu bagaikan bumi dan langit dengan menjadi pegawai. Dengan usaha sendiri, berarti kita meletakkan segala resiko di pundak kita, dan  semua harus mulai dari DIRI SENDIRI.  Karena apapun yang terjadi, baik itu keputusan maupun strategi, dalam bisnis pribadi, hanya kita yang melakukan dan hanya kita yang bertanggungjawab.

Kok nggoyo banget toh Mbak? Emang dari suami gak cukup?  Aha!! ketika pertanyaan ini dilontarkan kepada saya, reaksi pertama adalah tersenyum.  Alhamdulillah, lagi-lagi bukan dengan maksud menyombongkan, semua kebutuhan saya tercukupkan dengan baik.  Tidak berlebih tapi cukup untuk ukuran saya.  Tapi biar bagaimanapun, dengan pendidikan yang saya miliki, dengan akal dan bakat yang sudah Allah kasih, kenapa tidak kita menjadikan diri bermanfaat bagi orang lain.  Setidaknya melakukan sesuatu yang toh akhirnya hasilnya dapat kita nikmati.

Bermodalkan muka tambeng, cari kenalan sana sini.  Jalin silaturahim dengan sekian banyak orang.  Berteman dengan berbagai kalangan.  Sampe akhirnya menemukan MENTOR.  Kenapa harus punya Mentor? HARUS!!! Karena tanpa mentor, tanpa pembimbing, tanpa guidance, langkah kaki kita tidak akan terarah.  Mentor seperti apa yang kita butuhkan dan berapa banyak? Yang pasti dia adalah orang yang kita segani dan sudah lebih dulu berkecimpung di dunia usaha yang kita jalani dan mempunyai track-record yang baik.  Akan lebih mantab jika orang tersebut juga bisa membimbing kita untuk menyeimbangkan antara bisnis duniawi dan urusan ibadah.  Yang seperti ini nantinya akan selalu mengingatkan kita untuk selalu mengingat Allah SWT, menyelaraskan morality kita, pun tetap mendukung kita untuk menjadi manusia yang lebih baik sebagai usahawan dan sebagai pribadi.  Seperti kata pepatah, tidak ada manusia yang sempurna.  Betul. Tidak mungkin hanya 1 orang memenuhi seluruh kriteria.  Akhirnya dengan segala pertimbangan, saya memutuskan untuk 3 mentor yang mendampingi saya.  1 mentor untuk bisnis secara utuh (termasuk mengatur finansial). 1 mentor untuk “menjejakkan” kaki saya di lingkungan bisnis, seperti membuka jalan berkenalan dengan orang-orang/institusi-institusi yang potensial.  Dan yang terakhir adalah mentor kejiwaan, yang menjadi teman berbagi, teman yang mendengarkan keluh kesah saya.

Alhamdulillah seiring dengan berjalannya waktu, di tahun ke-3, dengan melewati dan bermodalkan  semua hal-hal tersebut di atas, pintu keberkahan bagi saya terbuka lebar tanpa halangan berarti

***********

Menginjak tahun ke-4, tepatnya 2011, disaat masa-masa sulit awal-awal berbisnis sudah terlewatkan, terbetik di hati untuk mewujudkan apa yang sudah saya dapatkan dari bisnis ini menjadi SESUATU yang berbeda.  Diversifikasi produk? Sepertinya belum.  Masih banyak ilmu perkawatan yang belum saya kuasai.  Karya-karya wire jewelry sayapun belum berskala designer sejati. Lalu apa?

Terpikir untuk mengambil alih toko saya yang saat itu (bahkan sampai saat ini) sedang disewakan.  Tapi setelah berhitung dengan cermat dan menelaah bahwa lingkungan toko bukanlah pangsa yang tepat untuk perhiasan saya, niat itu akhirnya gugur.

Saya kembali ke gemeran yang lain yaitu membaca buku.  Kali ini jenis buku yang berbeda.  Setelah sebelumnya kenyang dengan buku Manajemen, saya beralih ke buku-buku Komunikasi yang juga awalnya masuk ke dalam salah satu mata kuliah di Manajemen. Kebetulan di saat yang sama saya memang butuh ilmu berkomunikasi yang baik agar mampu menggawangi komunitas yang saya dirikan di 2011.  Tuntutan sebagai guru bahasa untuk expatriate pun, mendorong saya belajar ilmu komunikasi agar lebih bisa memahami konsep-konsep dan keahlian dalam menyampaikan ilmu yang saya kuasai

Buku Org Comm

Buku inilah yang lembar demi lembarnya saya nikmati berbulan-bulan.  Penuh dengan goresan-goresan dan catatan-catatan yang selalu ingin dibaca kembali.  Semakin dalam saya nikmati, semakin penasaran untuk dipelajari.  Kemudian tiba-tiba muncul keinginan untuk sekolah kembali.  Bukankah akan lebih pas jika saya benar-benar mendalami? Seminggu rencana ini berseliweran di otak tanpa solusi.  Bisa gak ya dengan usia segini saya mampu sekolah? Terus biayanya darimana dong?

Semua pertanyaan tersebut pelan-pelan tanpa saya sadari terjawab dengan sendirinya.  Kok ya ndilalah dimudahkan Allah SWT. Browsing sana sini cari Universitas yang tepat.  Tepat lokasi dan terjangkau biayanya. Ngelirik persyaratan-persyaratan administrasinya.  Sampe akhirnya penjelajahan saya berakhir di Universitas Mercubuana.  Weeess urusan pemilihan tempat belajar sudah. Nah yang paling menentukan berikutnya adalah bagaimana saya membayar biaya kuliah untuk hampir 4tahun ke depan?

Kembali ke Mentor.  Kami berdiskusi alot tentang keinginan dan niat saya untuk sekolah dengan uang yang sudah dan akan saya dapatkan dari nguwer.  Sebagai langkah awal, saya diminta untuk menelaah sendiri pembukuan usaha.  Bagaimana arus uang keluar dan masuknya selama beberapa tahun terakhir. Debit Creditnya. Bisa gak selama belajar, nilai credit ditingkatkan dan nilai debit diturunkan (kalau bisa hanya 10% dari regular expenses).  Perbanyak pemasukan dan mengurangi pengeluaran. Mampukah saya tetap berproduksi di tengah-tengah tuntutan kuliah? Kemudian menilik juga kemungkinan terburuk ketika tidak bisa berproduksi sama sekali? Wow …bener juga.  Poin-poin ini yang harus saya pikirkan masak-masak.  Hingga suatu hari akhirnya dengan langkah tegap dan pasti, diiringi dengan bismillah, saya mendaftarkan diri menjadi mahasiswa magister komunikasi.

Dengan bermodalkan tabungan penjualan, saya membayar uang pangkal.  Ada kesempatan membayar menyicil? Langsung saya manfaatkan. Pokoknya angka tabungan tidak boleh kosong.  Harus ada balance setidaknya Rp 1.000.000,- untuk jaga-jaga seandainya ada customer yang memesan sesuatu tapi saya tidak memiliki bahan mentahnya.

Sebelum memulai kuliah secara efektif, semua loyal customer saya hubungi satu persatu secara pribadi tanpa terkecuali.  Mereka adalah nafas dan nadi dalam usaha saya.  Bahkan dalam hal ini, mereka pasti akan terlibat di dalam proses kelancaran sekolah, tentunya untuk aspek finansial.  Dengan komunikasi yang erat dan akrab, tidak ada satu ceritapun yang disembunyikan.  Hasilnya sungguh diluar dugaan. Semua memberikan support  yang luar biasa.  Bahkan banyak dari mereka yang konsisten secara rutin memesan perhiasan agar saya mampu membayar uang kuliah tepat pada waktunya.  Subhanallah.  Di titik ini hati saya tersentuh dan tersadar.  Percayalah, dimana ada niat/nawaitu yang baik, insyaaAllah selalu ada jalan keluar yang Allah sediakan untuk kita.

Bagaimana cerita selama kuliah berlangsung? Alhamdulillah tidak ada kendala-kendala yang berarti.  Kalaupun proses produksi melambat karena harus mengerjakan tugas-tugas kuliah, mengajar dan mengendalikan organisasi, time management tetap tertata dengan baik.  Yang terasa hilang dari siklus kegiatan saya adalah waktu untuk bereksplorasi dan berinovasi setiap weekend.  Karena setiap Sabtu sudah saya habiskan dari pagi sampai sore untuk menimba ilmu.  Jadi nyaris tidak ada tenaga dan waktu ekstra untuk melakukan hal ini lagi.

Di tahun-tahun ini, selama sekolah, banyak sekali suara-suara sumbang yang dilemparkan.  Sudah senior di perhiasan kawat, kok setiap produksi “hanya” produk yang biasa-biasa saja? Sudah kalah jauh tuh kemampuannya dengan anak-anak muridnya?  Apalagi ketika pameran berlangsung, tak sedikit teman-teman yang berkomentar “harusnya sebagai pemimpin organisasi, bisa dong jadi contoh, paling tidak contoh sebagai wire workers dengan karya yang cetar membahana”.  Semua saya tanggapi dalam diam.  Jujur, hal-hal ini tidak terpikirkan oleh saya sebelumnya karena memang tidak banyak dari mereka yang tahu bahwa saya sedang memiliki “pekerjaan lain” yang juga butuh keseriusan dan perhatian lebih.  Bicara kepada mereka? Saya putuskan untuk tidak melakukan itu.  Buat apa? Karena toh saya sudah berniat kuat untuk menikmati semua keputusan dengan segala resiko setelahnya.  Menikmati ujian dalam diam adalah jauh lebih baik, daripada membuang tenaga yang ujung-ujungnya belum tentu akan diterima dengan baik oleh orang lain.

1.5 tahun menjelang berakhirnya masa belajar cobaan-cobaan lain menghampiri.  Produksi menjadi begitu melambat karena banyak menghabiskan waktu untuk membaca dalam rangka penyusunan Thesis.  Mencoba menyelingi kegiatan tersebut dengan nguwer, hasilnya sungguh tidak maksimal. Apalagi karena banyak berkonsentrasi menyiapkan materi, saya sempat tertinggal begitu jauh dengan teman-teman yang telah terlebih dahulu menyelesaikan tugas akhirnya.  Tekanan itu menjadi semakin terasa ketika saya menjadi tidak fokus mengurus organisasi.  Akhirnya keputusan sulit pun harus diambil.  Seiring dengan jeritan hati yang semakin mendalam, saya pun harus memilih.  Dan pilihan untuk lebih fokus menulis Thesis akhirnya jadi yang terpenting pada saat itu.  Alhamdulilah berkat dorongan mental yang luar biasa dari mentor dan sahabat-sahabat terdekat, saya pun melewati sidang Thesis pada awal Maret 2015 dan lulus dengan hasil yang sangat memuaskan.

Ada beberapa fase yang akhirnya memberikan pelajaran yang luar biasa dalam hidup saya.  Ketika kita mengalami cobaan-cobaan yang beruntun, sahabat-sahabat sejati muncul ke permukaan.  Sekuat apapun kita, pada akhirnya konsistensi akan nawaitu/niat awal yang baik harus berjalan beriring dengan kepasrahan kita kepada Allah SWT.

******

Tulisan ini saya persembahkan untuk suami saya tercinta, Ir. R. Hary Nugraha, MT.; Mentor dan Ibu ke-2 saya dr. Hertati Natasuminta, adikku sahabatku Gadis Meutiar Sunarko, kakakku sahabatku Ir. Rahayu Andayani dan adikku sahabatku Vivin Fyndika, SE, MBA.

 

Facebook Comment