Saya membaca tentang Nook Umalas dari beberapa referensi on line.  Sebagian besar ngasih jempol gede.  Banyak yang mentioned agar datang diantara waktu makan pagi dan makan siang karena menu brunch di sana menyenangkan.  Dominasi nuansa rustique nya keren apalagi ditambah dengan hamparan sawah membentang di depan resto.  Buat saya yang penggemar nuansa hijau dari alam, tempat seperti ini yang selalu saya incar.

Naik taxi dari Denpasar ke Nook yang berada di seputaran Kerobokan – Kuta, butuh biaya 80 sampe 90 ribuan.  Pak supir taxi juga sepertinya sudah biasa ke sana.  Jadi kami tidak menemukan kendala berarti untuk tiba di Nook.

Berada di tempat yang bukan jalan utama, sedikit ke pelosok yang masih mempertahankan sawah sebagai tawaran keindahan, bikin saya penasaran pengen cepet sampe dan foto-foto.  Apalagi ditambah informasi bahwa Nook juga mengoleksi sekian banyak handicraft unik dan barang-barang oldiest di beberapa sudut cantik mereka.

Menatap pagar semen yang tinggi dengan tampak luar yang hanya tersedia untuk parkir, Nook menyimpan keindahan di bagian dalam.  Jadi kita baru bisa merasakan cantiknya Nook begitu kita melangkah ke dalam.  Dengan setting space melebar dengan sayap kanan dan kiri untuk dine-in yang sama indahnya, Nook sarat akan keistimewaan.

Saya memilih untuk duduk di sayap kiri pintu masuk karena di sisi satunya lagi semua tempat sudah dibooking oleh tamu yang lain.  Sayangnya, saat saya berkunjung, harapan untuk duduk-duduk memandang sawah tidak terkabul.  Ternyata barusan melewati masa panen.  Di salah satu titik, tampak beberapa buruh bangunan yang sedang bekerja membangun sesuatu.  Suara bor nyaring menjerit-jerit bikin gak kondusif untuk ngobrol-ngobrol.  Duuhhh sayang banget nih.  Ke sini tidak di waktu yang tidak tepat.

Tidak ingin terbenam dengan kekecewaan, saya pun keliling memotret sambil menunggu pesanan makanan.  Gak dapat sawahnya setidaknya bisa mengulik aneka kerajinan tangan dan benda benda antik yang dipajang.  Dan bener aja, gak bosen ketemu sekian banyak printilan unik handmade.  Mulai dari gantungan kunci, asbak, frame foto, bantalan kursi, dompet, tas, dan lain-lain.  Duuhhh pengen diborong semua.

Display barang-barang antik juga gak kalah kerennya walaupun tidak sebanyak handicraft. Gak berkedip mengagumi sekian banyak produk yang tercipta dari tangan yang terlatih. Serasa tercebur di tempat yang tepat hahahaha.  Begitulah yah orang-orang kreatif.  Gak jenuh liat sekian banyak ide bertebaran di depan mata.  Semoga suatu saat saya bisa punya gallery seperti ini di Bali.

 

 

Puas mengamati lautan keindahan kerajinan tangan, mari kita melirik makanan ringan di tempat ini.  Sesuai dengan nawaitu awal, cukup mengisi jadwal ngunyah dengan sesuatu yang tidak terlalu berat.  Dan sayapun nekat mencoba menu ala-ala diet ketat (((ngakak))) dan sepiring gado-gado bergaya minim yang dipesan oleh Mbak Yayuk.  Yok, mari kita liat penampakannya.

Pesanan saya adalah semangkuk yoghurt dengan topping aneka biji-bijian plus serutan kelapa yang cukup rumit selama dikunyah.  Mangkuk kayu dan kombinasi warna yang tercipta membuat healthy food yang ada di hadapan saya ini sangat photogenic untuk dipotret.  Beberapa saat saya terkagum-kagum dengan penampilannya.  Selama mengunyah pun saya tetap kagum.  Kagum dengan beberapa orang teman yang rajin mengkonsumsi makanan sejenis demi mencapai berat badan ideal.  Beauty is pain kawan!!

Yang pasti, setelah melihat menu yang didominasi oleh makanan non-halal, kami memutuskan untuk memesan makanan yang tidak tersentuh/terlibat dengan penggorengan.  Mudah-mudahan ini juga jadi pengingat untuk saudara-saudara muslim yang ingin makan di sini ya.

 

Facebook Comment