Dermaga ini letaknya tidak jauh dari kilang LNG dan tentu saja masih di dalam lingkungan kompleks besar PT. BADAK NGL.  Melipir sepanjang palungan atau teluk yang dibentuk, ditata, dan dirawat sedemikian rupa, sebelum masuk ke Marina, kita akan bertemu hutan pinus, berukuran kecil tapi cantik banget untuk dijadikan spot foto.

Levitasi yang bolak balik gagal. Mau dibuang kok sayang ya. Background hutan yang cantik dan jalan yang bersih mubazir untuk tidak disimpan

Hanya beberapa langkah dari hutan ini, kita akan melewati Junk Yard (tempat pembuangan barang-barang bekas) sangat luas yang diawasi dan dijaga oleh Satpam.  Menurut info yang saya dapat, untuk membuang dan atau mengambil sedikit atau banyak dari barang-barang ini, siapapun dari PT. BADAK, harus mendapatkan ijin dari Kementrian Keuangan karena apapun yang dimiliki oleh perusahaan ini adalah milik negara.

Setelah Junk Yard, jalan lurus diapit 2 palungan laut akan menyegarkan mata kita. Di sisi kanan akan terlihat beberapa kapal besar yang terseret ke daratan.  Salah satu kapal malah berada benar-benar di atas tanah dan diletakkan di dalam hutan kecil tadi.  Sementara di sisi kiri kita juga dapat melihat laut lepas dengan beberapa titik pembudidayaan ikan dan rumput laut.  Berbelok kanan beberapa detik kemudian, sebuah dermaga cukup luas akan menyambut kita.

Parkir yang cukup luas dan bersih tampak menyambut kita ketika tiba di Marina.  Turun di area parkir terlihat sebuah rumah semen tanpa dinding yang disediakan untuk para pengunjung.  Sementara beberapa langkah dari situ tampak deretan kapal layar berukuran sedang berjejer rapih.  Konon katanya, ketika BADAK NGL masih mempekerjakan orang-orang asing, belasan tahun yang lalu, perusahaan sengaja menyediakan kapal layar ini sebagai salah satu prasarana olah raga air.

Bertemu bunga Anggrek yang tampak sehat di tepi dermaga

Tanaman hijau mengepung pinggir pantai dermaga.  Tapi gagahnya sinar matahari dan kerasnya angin laut sangat terasa setiap kami menginjakkan kaki di sini.  Persis di depan gedung pengelola, jembatan kayu dengan pegangan besi putih yang kokoh, mengubungkan kita dengan beberapa speed boat yang terpakir rapih di pinggir jembatan.  Sementara di sisi kiri ada sebuah resto terapung yang bisa digunakan oleh pegawai PT. BADAK untuk acara-acara tertentu.

Resto terapung yang tampak di ujung jembatan dermaga
2 kapal berukuran sedang tampak terparkir di daratan

Jembatan kayu yang panjang di dermaga. Foto diambil dari speed boat yang membawa kami berlayar di seputaran PT. BADAK

Berulangkali kami mengunjungi dermaga ini selama tinggal di Bontang.  Dari tempat ini kami menyeberang ke beberapa pulau/desa terapung (Selangan dan Tihik-tihik), Pulau Beras Basah, Pulau Segajah (berupa pulau pasir timbul), dan menikmati luasnya area budidaya rumput laut.

Kami beruntung.  Karena tanpa undangan dari PWP Badak, kami tidak akan mungkin bisa menikmati fasilitas yang ada dan merekam keindahan laut yang mengepung salah satu ujung laut Bontang.

 

 

Facebook Comment