Sisa hujan kemarin sepertinya enggan berhenti hingga keesokan hari. Pagi itu, usai menuntaskan sarapan dengan suami di Hotel Santika Premiere, tempat kami menginap, rencana jalan ke beberapa tempat terpaksa harus ditunda hingga menjelang tengah hari. Itupun saya harus mengalahkan rasa segan menghadapi udara sumuk yang biasa terjadi saat hujan datang dan pergi sesuka hati.

Baca juga : SANTIKA Premiere Gubeng Surabaya. Satu Catatan Menginap di Timur Jawa

Sebelum berangkat saya mengontak Zulfa, seorang sahabat blogger, untuk memastikan waktu janji di hari yang sama. Confirm bahwa kami akan bertemu jam 3 sore, saya pun bersegera melangkah keluar, merenda kesibukan pribadi hingga waktu pertemuan. Memesan taxi on-line, saya menikmati waktu menuju Masjid dan Makam Sunan Ampel. Tempat yang sejujurnya baru pagi ini saya baca sebagai salah satu tujuan wisata yang begitu diminati banyak orang. Sebagian besar datang dari luar daerah dan ada juga dari luar negri. Dari berbagai tautan yang saya baca, tempat ini tak pernah putus oleh peziarah, kapanpun itu waktunya. Utama lagi ketika Ramadhan dan Hari Raya (Idul Fitri dan Idul Adha). Menurut kabar berita, di 2 jenis perayaan ini, dalam sehari pengunjung bisa mencapai ribuan jumlahnya.

Apa sejatinya alasan kuat yang membawa saya ke sana? Entahlah. Hingga usia menginjak 1/2 abad, baru kali ini saya menghadiahi diri dengan berwisata religi. Satu dari sekian banyak wisata yang sejujurnya masuk di pilihan terakhir saat saya berada dimanapun dan kapanpun. Kegiatan yang relatif sulit saya nikmati karena sesuatu dan lain hal. Apalagi jika tempat itu berusia ratusan tahun. Tapi entah kenapa, persis sehari setelah saya (kembali) ke Surabaya, saya justru tergerak untuk pergi ke sini tanpa rasa ragu dan tanpa ditemani siapapun.

Gerbang di salah satu akses menuju Masjid dan Makam Sunan Ampel

Ketibaan yang Penuh Kesan

“Nanti, Mbak’e mau turun di sebelah mana?” tanya si Mas supir beberapa menit setelah kami meninggalkan hotel.

“Persis seperti yang di aplikasi aja Mas,” jawab saya sekenanya karena gak ngerti mau menjawab apa.

“Kalo yang di aplikasi itu agak jauh jalannya Mbak. Mending tak turunkan di sisi utara ya. Lebih dekat ke Masjid” lanjut si Mas tanpa menoleh.

Sejenak saya berfikir sampai akhirnya mengiyakan usulannya. Sisi manapun itu bagi saya gak masalah karena toh secara pemetaan saya tidak tau persis. Apalagi kalo sudah ngomongin arah angin yang biasa digunakan orang-orang Jawa. Tambah gak ngerti. Sempat terlintas ingin bertanya lebih lanjut, tapi niat itu saya batalkan. Lebih baik menikmati setiap jengkal perjalanan untuk saya rekam di kepala dan ingatan.

30 menit berlalu dan saya pun diturunkan persis di depan sebuah gerbang hijau dengan papan bertuliskan Masjid Agung & Makam Raden Rahmat Sunan Ampel. Tampak sederetan pengayuh becak bersenda gurau dan seorang pedagang mainan anak berdiri persis di depan plang hijau tadi. Untuk beberapa menit saya menebarkan pandangan ke sekeliling sambil memotret. Tempat dimana puluhan becak parkir ini ada berbagai ragam toko juga penginapan skala melati persis di seberang jalan. Di depan saya ada sebuah jalan selebar 3 meter dengan paving blok berukuran kecil. Jalan yang juga dipadati oleh beragam toko di sisi kanan dan kiri.

Hanya dalam hitungan menit kemudian, ratusan orang dalam berbagai usia, mendadak datang dari arah belakang saya. Wanita dewasa tampak bercelak, mengenakan gamis dengan motif meriah. Para lelaki bersarung, mengenakan baju koko dan peci. Sementara anak-anak berpakaian menyerupai orang tuanya, berlari-lari kesana kemari bagai burung yang baru lepas dari sangkarnya. Jejeritan? Dah pasti.

Ramai berceloteh seraya turun dari hampir 3-4 bis besar, saya tekun mendengar beberapa percakapan. Aahh tamu-tamu dari Madura rupanya. Tak ingin terbawa arus deras kedatangan mereka, saya melipir ke salah satu toko yang persis bersebelahan dengan gerbang hijau. Mendadak langit kembali gelap dan rintik hujan menyentuh bumi. Cuaca lagi-lagi tidak bersahabat. Tapi meskipun hujan mulai menderas, rombongan tadi tak sedikitpun bergeming. Mereka malah sibuk mendekati penjajan panganan khususnya jajan pasar, buah-buahan, minuman tradisional, roti cane, ayam goreng, dan masih banyak lagi. Semuanya terlihat begitu menggoda memang. Aaah, seandainya masih ada ruang lowong di lambung saya. Pasti saya akan ikut meramaikan acara rebutan jajan saat itu.

Baca juga : Ceria Penuh Warna di Swiss-Belinn Manyar, Surabaya

Ibu-ibu penjual berbagai panganan
Deretan toko dan jalan yang masih basah terkena air hujan

Sekilas Uraian Sejarah dari Pakde Widodo

Seraya memperhatikan rombongan yang tampak riuh rendah menikmati panganan, saya menguping pembicaraan beberapa lelaki yang asyik menyeruput kopi dan menghembuskan sekian batang rokok. Mereka berkumpul hanya beberapa jengkal dari tempat saya berdiri. Salah seorang dari mereka, berpakaian seperti lelaki Arab, tampaknya cukup sering mengantarkan rombongan kemari. Bahkan bisa beberapa kali dalam sehari. Jadi bolehlah ya kalau saya sebut pria ini sebagai tour guide khusus wisata religi Sunan Ampel.

Tak ingin terlihat tidak sopan karena menguping, saya memutuskan untuk bergabung dan ikut mendengarkan penjelasan beliau. Setelah sedikit berbasa-basi, saya baru paham bahwa Pakde Widodo, pria tour guide ini, yang memang keturunan Arab kelahiran Surabaya, sedang membimbing sekitar 100an tamu dari Madura untuk berziarah ke sini.

“Mbaknya darimana nih?” tanya beliau sambil menoleh ke arah saya.

Dihujani sekian banyak mata yang memandang ke arah saya, jawaban singkat pun saya berikan. Begitupun saat beliau menanyakan tentang tujuan saya ke tempat ini. “Gak ada tujuan tertentu Pakde. Hanya penasaran setelah membaca artikelnya tadi pagi.” Sepertinya cuma itu dan memang itu yang bisa saya jawab. Jawaban pas karena tidak ada pertanyaan-pertanyaan lain yang menjurus ke arah pribadi setelahnya. Sesuatu yang selalu saya hindari saat bertemu orang-orang baru saya kenal.

Dari obrolan selanjutnya, menurut penyampaian Pakde, asal usul Sunan Ampel, dengan nama lengkap Raden Rahmat/Rahmatullah, guru atau bapaknya dari Wali Songo, muncul dalam berbagai versi. Tapi ada 2 catatan yang sering disampaikan kepada masyarakat umum.

Pertama adalah Sunan Ampel berdarah Cina dari suku Hui asal Yunnan. Beliau datang ke tanah Jawa tahun 1443 dan disambut dengan baik oleh Raja Majapahit saat itu, Prabu Hayam Wuruk. Raja Hayam Wuruk pun kemudian memberikan sekian luas tanah untuk membangun masjid dan pesantren. Seiring dengan berjalannya waktu dan bertambahnya pengikut dari berbagai daerah dan negara, lingkungan tempat tinggal Sunan Ampel, dipenuhi oleh masyarakat keturunan Cina dan Arab. Jadi di Kecamatan Semampir dimana Masjid berada, kita akan dengan mudah melihat berbagai “sentuhan” ala kedua garis keturunan ini.

“Mbak’e coba telusuri aja sekitaran sini. InshaAllah nanti ketemu beberapa bangunan atau hal-hal yang ada hubungannya dengan budaya Arab dan Cina.” demikian penjelasan Pakde Widodo ketika saya tanya “wujud” dari peninggalan Arab dan Cina yang masih ada hingga saat ini.

Kedua adalah ada yang menyampaikan bahwa Raden Rahmat adalah putra dari Sunan Gresik dari istrinya yang bernama Dewi Chandrawulan, putri dari Raja Champa. Jadi beliau lahir dan besar di timur Jawa.

Karena adanya 2 versi yang berbeda ini, menurut Pakde, akhirnya muncul pula 2 versi lukisan wajah Sunan Ampel. Tapi yang pasti “pengaburan” asal usul ini sangat terkait dengan kepentingan penjajah Belanda yang saat itu sangat gentar dengan pergerakan kaum muslim yang menentang penguasaan mereka di tanah Jawa. Bahkan sebagian besar perlawanan yang ada berasal dari para santri Sunan Ampel yang mampu bergerak secara simultan.

Hujan berhenti dan Pakde pun bergegas mengumpulkan rombongan untuk melanjutkan ziarah. Aaahh sayang banget. Padahal banyak yang pengen saya tanyakan. Pakde sempat mengajak saya bergabung dengan rombongan, tapi terpaksa saya tolak secara halus karena keterbatasan waktu. Lagian dari awal nawaitunya “sekedar berkunjung”. Jadi saya pun akhirnya (hanya) menyusur pelan jalan kecil di hadapan saya dan memotret beberapa titik yang tampak menyita perhatian.

Baca juga : BONCAFE Steak & Ice Cream. Living A Good Life

Petunjuk menuju Makam Sunan Ampel

Menelusuri Lingkungan Masjid dan Makam Sunan Ampel

Seperti yang saya tulis di atas, sepanjang sisi jalan banyak sekali para pedagang. Baik itu emperan maupun yang memiliki ruangan khusus untuk berjualan. Dari yang ngemper ini sebagian besar adalah pedagang makanan, sementara yang berada di ruangan (seperti ruko kecil) adalah mereka yang menawarkan peralatan ibadah dan fashion, seperti baju gamis, sarung, baju koko, peci, hingga kitab suci (Qur’an), dll. Mendekat ke arah masjid saya menemukan sederetan penjual kurma dan beberapa manisan yang bisa didapat di beberapa lokasi yang tidak jauh dari Masjidil Haram (Makkah).

Dari pedagang kurma yang saat itu diserbu pengunjung, saya langsung bertemu dinding bagian utara dari Masjid Ampel. Mengikuti petunjuk jalan yang sudah disediakan, saya berbelok ke kiri. Di sini ada beberapa warung dan gedung serbaguna yang besar banget. Mulai dari sini dipasang tali pemisah jalan antara yang masuk dan keluar. Persis di sampingnya ada sebuah pondokan kecil yang dikelilingi oleh belasan keran untuk mengambil air wudhu. Di tengahnya tampak bolongan besar yang saya perkirakan adalah tempat penampungan air. Sementara di sisi yang berlawanan ada sebuah gerbang putih dengan ornamen khas Jawa. Awalnya saya kira itu adalah pintu keluar. Tapi ternyata justru pintu masuk menuju pertokoan yang menjual segala pernak pernik ala Arab. Saya hanya sempat mengintip sekilas. Penuh berjejal orang di dalam. Jadi saya putuskan untuk tidak masuk.

Pondokan khusus untuk berwudhu (kiri)
Gerbang menuju pertokoan yang menjual pernak pernik ala Arab

Melanjutkan penyusuran, saya menemukan 2 gerbang putih yang sama persis seperti yang saya lewati barusan. Ornamennya pun persis sama. Yang 2 terakhir ini berdiri sangat berdampingan dengan banyak makam. Bahkan salah satunya tak jauh dari makam Sunan Ampel dan mewajibkan para peziarah membuka alas kaki.

Seraya mengucapkan salam di dalam hati sesaat berada di tengah lautan para peziarah dari Madura tadi. Saya merasakan kehadiran “beberapa lelaki berbaju putih” dengan tampilan yang sangat bersahaja. Tak jauh dari tempat dimana saya berdiri, terhampar puluhan makam yang sudah dipaving rapih. Dari beberapa tautan yang saya baca, ini adalah makam dari para santri Sunan Ampel. Menyatu dengan makam terbuka ini ada beberapa gentong semen beratap kecil. Sedikit mendekat saya dapati tulisan bahwa air yang ada di gentong ini dapat digunakan untuk berwudhu.

Sementara di area yang lain, masih dalam 1 kompleks, tersebar juga puluhan makam, sebuah masjid, dan tentu saja makam Sunan Ampel sendiri. Lingkungan khusus ini berpagar khusus. Para peziarah tampak duduk dalam sebuah barisan panjang, terpekur bersholawat, membaca ayat suci Qur’an dan bermunajad kepada Allah SWT.

Mendekat ke sisi terdekat masjid, saya melihat sebuah pusara yang diselimuti oleh kain putih. Semen yang mengelilingi kelihatan lebih tinggi dibandingkan dengan makam-makam lain yang berada di sekitarnya. Dari sebuah papan kecil saya menemukan tulisan bahwa makam yang sedang saya lihat itu adalah pusara Mbah Bolong atau Sonhaji. Beliau ini memiliki keistimewaan khusus yang mampu menentukan arah kiblat masjid dengan melihat melalui lubang yang dibuatnya. Konon katanya lewat lubang ini, Mbah Bolong bisa melihat Ka’bah. Wallahualam.

Gentong-gentong untuk berwudhu diantara makam para santri

Cerita yang Akan Selalu Diingat

Langit kembali menghitam saat saya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dan kembali menelusuri rute kedatangan saya tadi. Pelan melipir saya mendapati seorang bapak membuka pintu-pintu masjid menjelang Shalat Lohor (Dhuhur) yang akan datang dalam beberapa menit kedepan. Dari kejauhan saya melihat banyak tiang kokoh berdiri di dalam masjid. Tiang-tiang kayu yang saya yakin terbuat dari kayu Jepara yang terkenal sangat kokoh.

Dalam perjalanan pulang saya mendapati diri asyik menyusur beberapa tautan on line yang membahas Masjid dan Makam Sunan Ampel. Beberapa catatan umum yang bisa saya sampaikan adalah bahwa makam dan lingkungannya berada di atas tanah seluas 1.320m2. Di dalam tadi sebenarnya ada 5 gapura putih. Tapi saya hanya melihat 3 diantaranya. Gapura-gapura ini dibangun melambangkan 5 Rukun Islam yaitu Paneksen (Syahadat), Madep (Shalat), Ngamal (Zakat), Popo (Puasa Ramadhan), dan Munggah (Ibadah Haji). Area wisata religi ini dikelilingi oleh 3 pasar tradisional (Perguruan, Pabeang, dan Kambing) dengan total luas lahan sekitar 84 hektar.

Untuk pengalaman pertama berwisata religi/qolbu, cerita tentang kunjungan ke Masjid dan Makam Sunan Ampel sudah menorehkan pengalaman yang tak terlupakan. Sebuah cerita yang akan selalu saya ingat. Merasakan aura yang berbeda adalah salah satunya. Mungkin dalam satu waktu tertentu, ngobrol lebih jauh dengan mereka yang lebih memahami jenis wisata ini, akan menorehkan warna khusus bagi tulisan saya. Entah kapan keinginan ini bisa terwujud. But who knows, someday and somehow, bisa saja semua terjadi tanpa saya duga.

Baca juga : MONKASEL Surabaya. Jejak Kejayaan Maritim Indonesia

Galeri Foto

Pintu-pintu masjid yang mulai tampak menua
Pusara dengan atap kecil itu adalah makam Mbah Bolong/Sonhaji
Barisan peziarah yang bersholawat di dekat Makam Sunan Ampel
Makam para santri
Gerbang putih ke-3 menuju makam khusus | Dari sini peziarah wajib melepas alas kaki

#makamsunanampel #masjidsunanampel #wisatareligisurabaya #wisataqolbu #wisatasurabaya #exploresurabaya