Istana dan Lingkungan Sekitar

Berada hanya sekitar 300meter dari rumah, Istana Presiden ini akhirnya saya kunjungi, setelah bertahun-tahun hanya melewati bagian depannya saja.  Dulu, sebelum kunjungan saya yang pertama ini, persis di depan istana, ada lapangan besar yang bisa digunakan oleh masyarakat luas untuk berbagai kepentingan atau acara.  Dari lapangan inilah, saya sering menikmati keindahan halaman depan istana.

Setiap weekend, terutama di musim liburan, tanah seluas lapangan bola ini, penuh tumplek dengan manusia dari segala usia.  Ada yg berolah raga, sekedar jalan-jalan, berjualan, atau cuci mata disambung dengan sarapan seperti kami.  Di tempat ini pernah ada penjual bubur ayam khas Cianjur yang menjadi favorit para pelancong yang menginap di Puncak.  Berjualan dengan bangunan semi-permanen, antrian pelanggan mengekor sejak pagi-pagi sekali.  Salah satu bubur enak sejagad NKRI menurut saya.  Apalagi dinikmati pas dengan cuaca adem pagi hari.

Selain penjual bubur, biasanya juga ada abang-abang penjual sate Maranggi.  Beratap terpal dengan beberapa dudukan kayu menghidangkan sate lemak yang lezat dan teh khas Cianjur yang harum dan wangi.  Kemudian ada penjual bandros, mainan anak-anak, dan berbagai pedagang lain yang sering bikin kita gak berhenti ngunyah dan belanja sana-sini.

Selain untuk kegiatan-kegiatan tersebut di atas, ada satu waktu, lapangan ini digunakan untuk konser musik menyambut tahun baru.  Dan gak main-main, band sekelas Padi dan Godbless tampil saat itu.  Sempat menengok sejengkal dari pagar lapangan, nyalipun ciut.  Para penonton yang tampak tinggi besar, bertato, dan lengkap dengan kostum rock, membuat mental saya mendadak keok.  Jumlah manusianyapun gak kira-kira.  Secara ya, konser gratis.  Yoweslah mending nonton konsernya dari atap rumah dan menimati jedar jedor hantaman drum dan lengkingan melodi gitar dengan sound system yang cetar membahana.

Tapi saya bersyukur sempat menikmati semua itu hingga kira-kira 2 tahun yang lalu lapangan ini akhirnya diambil alih oleh istana dan menjadi tempat pemeliharaan tanaman yang dikelola oleh istana.

Tak jauh dari istana, ada pasar Cipanas.  Layaknya pasar, berbagai barang dagangan bisa kita beli di sini.  Lantai bawah digunakan untuk menjual produk basah (ikan, daging, dll), sementara di lantai atas banyak digunakan untuk penjualan produk kering (baju, peralatan sekolah, perlengkapan rumah tangga, dll).  Di seberang pasar juga ada ruko yang diisi oleh pedagang kelontong serta elektronik.  Jalan di depan pasar pun terbagi dua oleh pagar besi tinggi.  Sisi kanan (jika kita datang dari arah Jakarta) digunakan untuk transportasi umum.  Angkot-angkot sering ngetem di sini dan mengangkut penumpang dari segala penjuru di seputaran Cipanas – Cianjur.  Sementara di sisi kiri digunakan untuk lalulintas kendaraan non-umum.  Jalan di sini nyaris tidak pernah sepi karena memang jalur ini adalah jalan menuju Bandung melalui jalur Puncak.

Bangunan atau Gedung Utama dengan kolam besar berisi ikan, air mancur, bunga teratai dan tiang bendera di bagian depan

 

 

Tentang Istana Cipanas

Berjarak sekitar 103km dari Jakarta, Istana Cipanas sendiri berada di Desa Cipanas, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat. Dengan posisinya yang berada di bawah/kaki Gunung Gede, sekitar 1.100mdpl, kita dapat merasakan udara sejuk, embun pagi hari, dan air tanah yang masih bening dan dingin setiap harinya.

Istana ini adalah salah satu dari enam Istana Kepresidenan Republik Indonesia.  Kelima istana yang lainnya adalah Istana Merdeka di Jakarta, Istana Bogor di Bogor, Istana Gedung Agung di Jogyakarta, Istana Tampaksiring di Bali, dan Istana Negara yang juga berada di Jakarta.  Selain Istana Tampaksiring yang dibangun pada jaman pemerintahan Presiden ke-1, Soekarno, ke-5 istana lainnya dibangun pada jaman penjajahan Hindia Belanda.

Berada di tanah seluas 26 hektar, Istana Cipanas pada awalnya dimiliki oleh tuan tanah Belanda bernama Van Heots di tahun 1740.  Kemudian dijadikan tempat peristirahatan oleh Gubernur Jendral Gustaaf Willem van Inhof dan terus berfungsi sebagai destinasi istirahat oleh para Gubernur Jendral Hindia Belanda.

Menilik dari kata CIPANAS yang berarti Ci = Air dan Panas = panas, sejatinya memang istana ini memiliki sumber mata air panas di salah satu sudut bagian belakang taman istana.  Untuk melestarikan keberadaan sumber air ini, dibangunlah satu bangungan reservoir air panas dan satu tempat/gedung khusus yang memang digunakan untuk pemandian air panas, berbentuk kolam renang kecil, dan beberapa ruangan-ruangan tertutup yang disekat privately.  Bangunan ini berada persis di depan reservoir dan menyisir sebuah sungai kecil yang mengalir menuju belakang masjid.

Kolam air panas yang berada di dalam salah satu gedung yang ada di Istana Cipanas

 

Dengan luas bangunan sekitar 7.760m2, selain gedung utama yang digunakan sebagai tempat penerimaan tamu negara di bagian depan, ada 6 paviliun lain yang diberi nama mengikuti epic Mahabaratha yaitu Paviliun Yudhistira, Paviliun Nakula, Paviliun Sadewa, Paviliun Bima, Paviliun Arjuna, dan Paviliun Abimanyu.  Penamaan ini diberikan oleh Presiden Soekarno.   Gedung Utama, Paviliun Yudhistira, Nakula, Bima, dan Sadewa, dibangun pada 1916 (jaman Hindia Belanda), sementara yang lain dibangun pada jaman Presiden Soeharto (1983).   Kemudian ada Paviliun Tumaritis I dan Paviliun Tumaritis II yang berada di sisi kiri pintu masuk tamu dan berdekatan dengan museum dan rumah souvenir.

Seiring dengan beberapa kali pergantian kepemimpinan negara,  Ibu Ani Yudhoyono (istri dari Presiden ke-6) membangun rumah Tanaman Hias & Herbalia yang berisikan tanaman-tanaman cantik dan langka, juga berguna untuk pengobatan alami, sebagai kenang-kenangan kepemerintahan Bpk. Susilo Bambang Yudhoyono selama 2 periode (10 tahun).  Kemudian ada Rumah Kaktus yang dibangun atas permintaan Ibu Herawati, istri dari Bpk. Boediono, Wakil Presiden RI ke-11.

Semasa Bpk. Soekarno (Bung Karno) menjadi Presiden ke-1 RI, beliau juga pernah meminta Bpk. R.M. Soedarsono dan Bpk. F. Silaban, dua arsitek terkenal pada masa itu, untuk membangun satu rumah kecil yang diberi nama Rumah Bentol.  Dibangun pada 1954, rumah ini sering menjadi tempat Bung Karno menikmati indahnya Gunung Gede dan alam sekitarnya.  Diberi nama Rumah Bentol karena di seluruh dinding rumah, ditaruh batu-batu coral expose tanpa balutan semen, sehingga tampak seperti bentol yang menempel.

Rumah Bentol yang berada di sebuah bukit kecil. Dari rumah ini, kita dapat menikmati indahnya Gunung Gede dan taman luas yang ada di dalam kompleks Istana Cipanas

 

Keliling Istana Cipanas

Ditemani seorang Staff Pengurus Istana Cipanas, saya, putri saya (Fiona), dan seorang keponakan (Amel), menjelajah Istana ini dari Paviliun Bima yang letaknya memang berdekatan dengan area parkir tamu.  Dibangun pada 1916, saya dibuat terkesima dengan cantiknya teras depan yang dilengkapi dengan lampu gantung dan 1set meja bulat 4 kursi kayu bernuansa kolonial.  Pintu dan jendelapun tampak jelas meninggalkan jejak rancangan khas bangunan Belanda

 

Taman indah persis di depan Gedung Utama

Dari Paviliun Bima, kami melanjutkan kunjungan ke Gedung Utama.  Gedung ini adalah inti dari keseluruhan kompleks Istana, dimana terdapat teras depan yang cukup luas, dan ruang persegi panjang untuk menerima tamu resmi dari negara lain di bagian depan.  Kemudian ada ruangan bermeja panjang tempat Presiden mengadakan pertemuan, kamar pribadi Presiden, ruang kerja Presiden, kemudian 2 kamar untuk keluarga Presiden.

 

Teras Depan Bangunan Utama

Di teras depan ini, kita dapat melihat kokohnya tiang-tiang kayu berukir yang sangat indah.  Dari keterangan pendamping kami, beberapa deretan kaca-kaca yang berada di sini, masih berupa kaca asli buatan Belanda yang tampak bergelombang laksana air yang terperangkap di dalamnya.  Kaca jenis ini juga yang saya lihat ketika berkunjung ke Lawang Sewu yang berada di Semarang.

Masuk ke dalam Gedung Utama, di setiap dinding ruangan, terutama ruangan besar depan dan tempat pertemuan, terdapat lukisan-lukisan yang dibuat oleh beberapa maestro pelukis seperti Basuki Abdullah, Dullah Sujoyono, dan Lee Man Fong.  Barang-barang antik pun ada di sini.  Tapi ada 1 lukisan yang cukup fenomenal hasil karya Soedjono D.S, dibuat pada 1958, dan diberi judul Jalan Seribu Pandang.  Kita akan mendapatkan pemandangan yang berbeda dari ke-3 sudut kita melihat lukisan ini.  Jika melihat dari arah depan, lukisan ini membawa mata kita terhanyut pada sebuah jalan panjang dengan pohon di sisi kanan dan kiri jalan, serta beberapa petak sawah disampingnya.  Tapi jika kita melihat dari sisi kanan, ujung jalan akan terlihat berbelok ke kiri.  Demikian sebaliknya jika kita berdiri dan menikmati lukisan dari sisi kiri.  Sayang, pengunjung tidak diperkenankan untuk memotret.

Melalui sebuah lorong kecil melewati kamar-kamar untuk keluarga Presiden, kita akan sampai di teras belakang bangunan utama.  Dilengkapi dengan 1set sofa cantik, meja kayu, beberapa lukisan, lampu gantung, dan karpet pemberian Presiden RI ke-5, Ibu Megawati Soekarnoputri.  Berada di teras ini, kita dapat melihat keindahan taman yang sangat terawat, dan beberapa paviliun yang melengkapi keseluruhan Istana.  Saya merasakan energi positif yang luar biasa ketika berada di sini.

Rasa damai, tentram, dan sejuk di hati, membuat teras belakang ini jadi tempat yang istimewa.  Pendamping kami pun mengiyakan, karena pada nyatanya semua orang no. 1 di Indonesia, ketika berada di Istana Cipanas, sering menikmati lebih banyak waktu di teras ini.  Bahkan menerima tamupun acapkali diadakan di area ini.

 

Kekaguman saya pun tidak berhenti, ketika saya diberikan belasan menit waktu kunjungan untuk menatap luasnya taman Istana.  Ada sebuah kolam berukuran besar berairmancur kecil, dihiasi dengan aneka tanaman dan pohon-pohon menjulang, yang dapat dilihat dari titik ini.  Seperti layaknya sebuah istana, taman ini benar-benar menyuguhkan kekayaan alam flora yang dimiliki oleh negara kita.  Tak jemu rasanya melepaskan pandangan ke seluruh penjuru.  Yok, simak foto-foto berikut, yang pastinya memberikan penyegaran untuk hati dan mata kita.

 

 

Berkeliling taman, terlihat ratusan jenis bunga, dan jalan-jalan kecil beraspal yang memang disediakan untuk jogging, bersepeda, atau berkeliling menggunakan mobil kecil golf.  Amel dan Fiona sangat menikmati waktu-waktu yang tersedia untuk memotret taman yang luas ini, dan terkagum-kagum dengan sebuah air terjun kecil yang tampak melengkapi kesempurnaan kehidupan taman cantik, bersih dan terawat di sini.  Aneka tanaman pun, terutama yang langka dan jarang ada di Indonesia, diberikan plang nama sebagai tambahan pengetahuan bagi para pengunjung.

Beranjak dari Gedung Utama dan taman, kami diajak untuk menikmati keindahan beberapa tempat yang menjadi spot berfoto favorit keluarga Presiden dan Wakil Presiden.

 

Menurut keterangan Pemandu kami, jembatan dan spot foto ini adalah area kegemaran Ibu Ani Yudhoyono. Tapi kali ini yang berfoto adalah Annie Nugraha. Dan nyatanya saya juga suka sekali dengan foto dan tempat ini

Sebelum mencapai Rumah Bentol, kami diajak untuk melihat sebuah pohon besar yang sudah berumur puluhan tahun, bahkan mungkin ratusan tahun.  Pohon ini tampak sangat atraktif dan indah dengan dahan yang melebar ke segala penjuru arah.  Akarnya pun tampak kuat tersebar.  Karena sudah berusia lanjut, pihak Istana kemudian membangun penyanggah besi di setiap dahan yang mulai terlihat ringkih.

 

Di akhir kunjungan kami hari itu, saya berkesempatan berbincang banyak dengan Pak H. Jajat Sudrajat, Kepala Sub Bagian Rumah Tangga dan Protokol Istana Kepresidenan Cipanas, dan mendapatkan berbagai informasi menarik mengenai istana.  Beliau yang hampir 30tahun mengabdi di Istana ini, tampak semangat menceritakan pengalaman-pengalaman indah yang beliau rasakan selama bertugas dengan berganti-ganti pemimpin negara.

Seperti misalnya bagaimana dulu, di tahun 1965, Istana Cipanas pernah menjadi saksi sejarah redenominasi nilai rupiah dari Rp 1.000,- menjadi Rp 1,-.  Kunjungan Ratu Juliana dari Belanda pada 1971.  Perundingan pemerintah Filipina dan MNLF (Moro National Liberation Front) di 1993 yang diprakarsai oleh Presiden Soeharto.  Hingga pernikahan putra ke-2 dari Bpk. Susilo Bambang Yudhoyono, dan berbagai acara kenegaraan yang beberapa kali diadakan di istana ini.

Tercetus pula dari uraian beliau, akan harapan besar agar istana ini bisa menunaikan fungsinya sebagai wisata edukasi dan wisata sejarah bagi seluruh rakyat Indonesia.  Untuk itulah Pak Jajat (biasa dipanggil Pak Haji) dan tim yang berada di bawah koordinasinya selalu menjaga agar istana ini tetap indah, terawat, dan terlihat ramah serta hangat bagi siapapun yang berkenan untuk berkunjung.  Tak lupa beliau sampaikan kepada saya untuk menulis artikel khusus mengenai tempat ini dan membuka pintu untuk bekerjasama dengan masyarakat luas dalam menyelenggarakan event-event berkualitas, yang tentu saja dimulai dengan pengajuan proposal dan diskusi-diskusi hangat.

 

Untuk yang ingin berkunjung kemari, jangan lupa ya, diwajibkan berpakaian sopan, tidak mengenakan kaos, tidak bercelana pendek, mengenakan sepatu tertutup, dan tentu saja wajib ikut menjaga kebersihan dan keindahan kompleks selama berkunjung.

Pak Haji Jajat berpose dengan keponakan saya, Amel

Facebook Comment