MAGELANG.  Kota kecil yang berada tidak jauh dari Jogyakarta ini mendadak jadi tujuan wisata saya dan Mbak Yayuk saat itu.  Kok gitu? Tanpa bermaksud membongkar kepandiran diri sendiri, kami bisa mampir di sini karena kesalahan booking dan pengetahuan geografi saya yang memang dalam taraf menyedihkan (((parah))).  Tapi jangan salah.  Di balik penderitaan ternyata ada kesenangan tersembunyi.  Semua kekeliruan malah akhirnya jadi pengalaman menyenangkan loh buat kami berdua.

 

Nyasar di Wonosobo | Mbambung Gak Kenal Arah

Ekstrem banget ya sub-titlenya.  Tapi ini beneran terjadi pada kami saat itu.

Nawaitu awal, sesuai kesepakatan bersama, kami terbang menuju Jogya.  Klonang klinong dulu di kota gudeg terus lanjut ke Dieng, Wonosobo, untuk ngeliat Dieng Festival. Event yang bener-bener bikin penasaran.  Terutama pengen nonton anak kecil rambut gimbal, yang katanya hanya ada di Dieng.  Menurut info yang sampai ke telinga akan ada upacara pemotongan rambut gimbal itu dan kemudian dilanjutkan dengan upacara sarat tradisi.  Pokoknya menggelitik rasa penasaran  (((penasaran)))

Setelah suitan via WA, maka diputuskan bahwa sayalah yang bertanggung jawab untuk segala urusan akomodasi bersama.  OK lah sipirili.  Cetek itu mah.  Apa sih susahnya nyari hotel dan sewaan mobil?  (((sombong kumat)))

Dengan semangat yakin bener dan pasti gak salah, saya pun bolak balik browsing segala jenis tautan wisata berhari-hari.  Pencarian via internet dimulai dari keyword Wonosobo.  Kenapa Wonosobo? Karena Dataran Tinggi Dieng berada di kabupaten ini.  Mencoba mencari guest house yang berlokasi di Dieng, ternyata sudah penuh.  Ada sih yang available, tapi ternyata kamar mandi nya rame-rame dan bercampur lanang karo wedhok.  Wah, enggak dah, secara saya rada slordegh kalo urusan masuk keluar toilet.  Yang pernah nginep bareng saya pasti ngerti banget hahahahaha.

Yah sutralah, kalo gitu cari yang mendekat ke TKP.  Melihat hasil pencarian, rentetan tempat menginap pun muncul tapi gak banyak.  Waduh, semua nampaknya fully booked.  Ada sih hotel yang lumayan besar tapi harganya mengalahkan hotel bintang 4 di Jakarta.  Makjang.  Mentang-mentang ada event gede ya.  Kesempatan banget menaikkan rate.  OK. Mari kita nggali lagi  (((sumur keles)))

Hari-hari berikutnya, dengan semakin sempitnya area pencarian, saya pun semakin gelisah (((gelisah))) dan semakin tidak teliti.  Setelah gedabrukan berhari-hari, akhirnya nemu guest house baru launching dengan harga miring dari keyword Wonosobo.  Langsung confirm reservation dan gak nengok-nengok lagi.

Singkat cerita, sehari setelah di Jogya, kami pun bersiap-siap berangkat ke Wonosobo naik mobil travel dari pusat kota.  Perjalanan berlangsung lancar dan kami tiba di Wonosobo tanpa hambatan.  30menit sebelum sampai, saya sempat menelepon mobil sewaan bahwa kami akan segera tiba.  Supir pun mengiyakan dan akan menjemput di alamat yang sudah saya sebutkan.

Kejadian aneh tapi nyata terjadi setelah beberapa menit menunggu di titik penjemputan.  Supir yang katanya sudah sampai di tempat kami menunggu, kok gak keliatan batang hidungnya.  Saya pun meyakinkan lagi alamatnya, tapi supir bersikukuh bener dia di alamat yang saya sebutkan dengan menyebutkan merk, warna dan nopol mobil. Laaahh kok gak ada ya  (((garuk-garuk tanah))).  Waduuhh.  Saya dan Mbak Yayuk mulai kebingungan.

Apa yang salah ya?  Di tengah kebingungan yang belum terjawabkan, supir pun kembali menelepon kami

“Bu, Ibu nunggu di Jl. Jend. Sudirman kan?”

“Iya Pak.  Seperti yang saya infokan dari awal”, setakat itu saya mulai geregetan karena berulangkali menyebutkan alamat sampe ndower dan hafal di luar kepala.

“Di Wonosobo atau di Magelang?”, deeeggg, saya langsung nganga dan njawab terbata-bata karena feeling langsung gak enak, “Wonosobo, Pak”, mendadak terdengar suara ngakak di ujung telepon.  Dengan tone nafas yang masih terengah-engah karena mengendalikan tawa yang lepas, supir pun konyol menjawab, “Ealaahh Bu Bu…lah saya ini loh di Magelang.  Alamate yo podo Bu.  Travel ini ada di Wonosobo dan di Magelang dengan alamat yang sama”

Kami pun mendadak putus urat malu.  Mau ditunggu sampe satu dasawarsa juga gak bakalan ketemu.  Wong beda kota.

“Ibu tunggu aja di situ ya.  Saya butuh sekitar yah 1.5jam untuk sampe Wonosobo”

Geblek.  Yoweslah.  Antara ketawa dan pasrah akhirnya sudah tidak bisa dibedakan lagi.  Usut punya usut ternyata guest house yang saya sewa itu letaknya di Magelang bukan di Wonosobo.  Penasaran ngoprek-ngoprek catatan booking, saya baru ngeh ngeliat keterangan tempat yang menyebutkan jarak 30km antara guest house dan Dieng.  Astaganaga.  Pinteeerrr banget yak.  Begitulah kalo gak teliti.  Jadilah (akhirnya) 2 jam berikutnya kami berdua mbambung gak karuan.  Mondar mandir seputaran tempat nunggu.  Keluar masuk toko.  Mulai dari toko bahan bangunan, show room motor, sampe ke toko jilbab.  Untung gak nekat jalan kaki balik menuju Jogya atau depresi kayang di tengah jalan menanggung malu  (((yaa samaaann))).  Cuma 1 keberuntungan kami saat itu adalah jajan nasi campur sama mamas tukang nasi gerobakan yang nangkring manis di depan kantor Bank.  Endes dan gak pake mahal.  Lumayan, penghibur hati yang pengen muntah karena kebodohan.

 

Menuju Magelang | Kota Tentram, Aman, dan Nyaman

Menanti berjam-jam seperti emak-emak dagang buah gak laku-laku, akhirnya mobil yang menjemput kami tiba juga.  Mudah ditebak.  Topik hangat soal salah alamat jadi pembicaraan sepanjang perjalanan.  Tolong, jangan kasih tau si Ayu Ting Ting ya.  Takut dikira mencontek hasil karya (((halah))).  Dan saya pun pasrah jadi bulan-bulanan dan bahan ketawaan pak supir sepanjang jalan kenangan…eh..salah…sepanjang jalan menuju ke penginapan di Magelang.

Karena dendam dengan waktu yang terbuang, sambil menahan kantuk, saya menikmati perjalanan mundur menuju Magelang.  Penasaran.  Dan semakin dendam kesumat, setelah sadar bahwa ternyata kami melewati 1/2 jalan sendiri.  Seandainya dari awal tau kalau guest house nya ada di Magelang, kami hanya perlu membayar 50% dari tiket travel ke Wonosobo.  Belum lagi jarak tempuh yang sudah dihabiskan plus luntang lantung di tengah kota.  Dengan alokasi waktu yang hilang tadi, seharusnya udah bisa keliling seputaran Borobudur, naik sepeda, dan mampir-mampir ke beberapa hotel, resort, atau villa yang keceh badai.

Mendengar penjelasan ini dari pak supir, hati saya langsung tambah ambles.  Serasa berjalan di lahan gambut yang penuh jebakan betmen  (((jedotin kepala ke tembok))).  Mengetahui saya mendadak jadi pendiam, pak supir menghibur kami dengan menghujani percakapan dengan berbagai informasi mengenai Festival Dieng dan beberapa penginapan populer di sekitar tempat kami akan tinggal.  Bahkan ada 1 tempat, Rumah Boedi, dengan konsep private residence, yang biasanya dibooking oleh orang-orang terkenal.  Kunjungan ke Rumah Boedi akan saya tuliskan terpisah.

Khusus untuk Festival Dieng sepertinya tidak akan saya tuliskan karena kami gagal menghadiri puncak acara seperti rencana karena kemacetan luar biasa di tengah jalan.  Walaupun sehari sebelumnya kami sempat menyaksikan persiapan-persiapan yang diadakan di sana dan bertahan hingga malam hari untuk berbaur dengan masyarakat yang tampak gembira menikmati pasar malam.

Setelah 2 jam perjalanan, kami pun memasuki Desa Wanurejo yang tampak asri, rapih, dan bersahaja.  Sebelum didrop ke Tingal Laras Art House tempat kami menginap, pak supir sempat sedikit memutar agar kami dapat melihat Candi Borobudur, yang ternyata tidak jauh dari desa ini.  Beliau malah mengusulkan kami agar bersepeda mengelilingi desa, mengunjungi tempat-tempat inap yang lain, dan ber sun rise ria di puncak salah satu candi terbesar di Asia ini.  Kecuali untuk usulan terakhir, ide-ide yang lain akhirnya benar-benar kami laksanakan sepulang dari Dataran Tinggi Dieng.  Dari bersepeda keliling desa inilah, kami akhirnya bertemu dengan OMAH GARENGPOENG.  Salah satu guest house yang meninggalkan kesan istimewa di hati saya.

 

Terpesona dengan Keramahan dan Keasrian Omah Garengpoeng

Bersepeda dan Mengelilingi Desa Wanurejo, ditengah keringat yang moncer meluncur, kami sampai di Omah Gareng Poeng dengan nafas ngos-ngosan.  Acara bersepeda pagi menjelang siang kali itu sukses memompa jantung saya untuk bekerja ekstra.  Jangan ditanya masalah betis ya? Segen nyeritainnya.  Tapi semua kelelahan terbayarkan begitu melihat rumah joglo dengan topeng besar si Gareng di halaman depan tempat ini.  Waaahh baru segini aja saya sudah kesambet sama keunikannya.

Bermodalkan SKSD tingkat dewa dan kecerewetan yang sudah berakar sejak lahir, saya memberanikan diri bertemu dengan pemiliknya dan minta ijin untuk motret berkeliling.  Usut punya usut, eeehhh ndilalah, si Bapak aslinya dari  OKU (Ogan Komering Ulu), salah satu Kabupaten yang cukup besar di Provinsi Sumatera Selatan. Klooooppppp sudah.  Nongkrong sambi ngobrol pun mengalir dengan bahasa Plembang.  Kebayang dong asiknya bertemu orang sedaerah di tempat nun jauh di sana dan tanpa diduga-duga.  Keramahan tanpa batas pun langsung hinggap dalam hati kami.

Karena bapak pemilik sudah punya janji di tempat lain, kami pun mendapatkan exit permit untuk sepuas-puasnya memotret.  Sayangnya saat itu tempat ini penuh terisi.  Jadi gak bisa melihat seperti apa situasi dalam kamar yang mereka sewakan.  Tapi tak apa.  Merekam setiap inci dari luar pun sudah lebih dari cukup buat saya untuk menggambarkan keistimewaan tempat ini.  Yok, mari kita mulai penjelajahan.

Melewati rumah joglo kembar berukuran sedang di sisi kiri pintu masuk yang digunakan sebagai kantor, kita mengikuti jalan setapak yang langsung mengarah ke beberapa kamar standard di barisan kiri dan sebuah taman besar yang berada di tengah-tengah.  Didominasi dengan tanaman bonsai dan tumbuhan berdaun besar yang ditanam di dalam pot, taman ini juga menyediakan beberapa tempat duduk dan meja kayu jati yang biasa digunakan para tamu untuk menikmati matahari pagi.  Saat kami kesana, ada seorang tamu (bule) yang asik membaca sambil nggotong bantal.

Taman yang berada di tengah-tengah. Bangunan yang di ujung itu adalah service area (dapur dan ruang cuci serta tempat menyimpan seluruh peralatan operasional)

Jalan setapak beratap rumbia yang menghubungkan service area dengan ruangan utama tanpa dinding yang digunakan sebagai restoran dan tempat menerima tamu

Mengangkat konsep rumah tradisional Jawa untuk setiap unit hunian dan keseluruhan kompleks tempat tinggal, Omah Garengpoeng mempertahankan nuansa alam kaya tumbuhan di setiap sisi bangunan.  Materi kayu yang dipakai pun terlihat begitu mendominasi.  Suasana adem yang muncul dari rimbunnya tanaman dan krei kayu yang tampak digelar untuk menutup sinar matahari, menambah keasrian rumah inap seluas hampir 1.000m2 ini.

Dengan menawarkan 3 tipe kamar yaitu Single Bed Room, Deluxe Bed Room, dan Bungalow, kita dapat melakukan  reservasi melalui situs-situs perjalanan yang sudah populer seperti www.traveloka.com atau www.booking.com.  Dari setiap tipe kamar tersedia patio dengan dudukan dan meja kayu ukir yang tampak cantik dan unik.

Selesai memanjakan mata dan menyegarkan jiwa dengan berkeliling memotret, kami mengunjungi area utama yang berada di bagian depan.  Rumah tanpa dinding yang biasanya digunakan untuk tamu bersantap dan menerima tamu ini, membuat kami berdecak kagum.  Ada sebuah lukisan kapal yang besar dan tampak dikerjakan dengan efek 3D, meja kayu yang sudah berumur ratusan tahun, dan counter kayu yang digunakan untuk menaruh minuman yang bisa dinikmati sepanjang waktu.  Tepat disampingnya, terdapat 2 bungalow yang cukup besar yang dikepung taman-taman indah dengan berbagai jenis tumbuhan.

Walaupun dibuat semi terbuka dan tanpa sekat, kami lama bertahan di sini sambil menikmati kopi dan mengobrol sambil terkantuk-kantuk menikmati semilir angin yang mengusap-usap muka.  Dari tempat ini juga saya melihat berbagai brosur paket-paket wisata yang diorganisir oleh Omah Garengpoeng.  Seperti berwisata sepada berkeliling Desa Wanurejo, menikmati sunrise di Borobudur yang memang jaraknya tidak begitu jauh, berkunjung ke Desa Candirejo, wisata ke Prambanan, dan berbagai info jalan-jalan lain yang bisa dicapai dalam jarak tempuh yang tidak memakan waktu transportasi yang lama.

Tak lama setelah menghabiskan minuman dan camilan yang disediakan, kami pun kembali mengayuh sepeda menuju beberapa villa dan guest house yang berada masih di dalam Desa Wanurejo. Terngiang-ngiang di telinga pesan yang disampaikan oleh supir yang menjemput kami keesokan harinya, bahwa pemilik Garengpoeng seringkali mengajak para tamu untuk menjelajah kuliner tradisional di seputaran kampung.  Keramahan beliau inilah yang membawa Guest House ini menjadi salah satu yang terbaik dan tidak pernah sepi dari tamu-tamu dalam dan luar negeri.

Omah Garengpoeng | Tingal Wetan RT006 RW002 No. 197 | Desa Wanurejo | Borobudur | MAGELANG | T. +62-293-789860, +62-812-3126-5353 | omahgarengpoeng@gmail.com | www.omahgarengpoeng.com 

 

 

 

Facebook Comment