Jam menunjukkan pkl. 11:00 wib, ketika saya, suami, dan anak-anak meninggalkan rumah di Cipanas.  Hari ini kami putuskan untuk kembali ke Cikarang melalui Cianjur, Cisarua, Cariu, kemudian Jonggol, dan Cibarusah. Waktu sudah terlalu siang untuk pulang lewat jalur Puncak, Tol Jagorawi, dan mencapai Tol Cikampek.  Bahkan ketika ngecek lewat Google Map, garis merah membara tampak rata disepanjang jalan tersebut.

Jalur yang kami pilih memang belakangan menjadi alternatif terbaik menuju dan dari Cipanas.  Walaupun jalannya tidak semulus alternatif ke-1 dengan pemandangan yang tidaklah secantik kalau pulang lewat Puncak, setidaknya kami tidak terjebak macet yang bisa berjam-jam membunuh waktu.

Tidak ada kendala yang berarti sepanjang perjalanan hingga akhirnya kami menyentuh area Cibarusah dalam 3 jam kemudian.  Siang itu memang sudah saya niatkan untuk makan siang (yang sudah kesiangan banget) di PADI IJO Resto.  Tempat yang jauh-jauh hari sudah direferensikan oleh beberapa orang teman dan tetangga.  

“Tempatnya keren, banyak sudut cantik buat foto, dan makanannya enak loh Mbak”   Dduhh komplit banget kedengarannya ya.  Pas dengan misi saya yang barusan mendapat tugas oleh sebuah tautan wisata untuk memposting review tempat-tempat nongkrong yang istagramable dan anti-mainstream di seputaran tempat saya tinggal (Cikarang).

Taman cantik di bagian depan resto | Restonya sendiri ada di bagian dalam dari sebuah lahan luas yang disediakan oleh pemilik

Mencapai Cibarusah dan melewati kompleks Mega Regency, lalu Pasir Raya, plang besar milik Padi Ijo sudah terlihat dari kejauhan.  Resto tampak sepi karena memang bukan jam-jam makan.  Seorang satpam mengarahkan kami untuk masuk dan memarkirkan kendaraan di belakang.  Dari sini mata sudah tersapu dengan keindahan taman dan langit cerah, biru terlihat.  Sempat mampir sebentar untuk makan duren di daerah Jonggol dan mengisi lambung dengan roti Spatula jualan tetangga selama dalam perjalanan, turun dari mobil dengan semangat makan besar, membuat saya sejenak melupakan waktu untuk memotret.

Langit cerah menyambut kedatangan kami di Padi Ijo Resto

Ruang Makan Lantai 1

Dari arah parkiran kami melewati taman sebelum memasuki sebuah ruangan besar.  Ruangan yang adalah area makan utama ini beratap tinggi, dengan dinding luar penuh kaca bersekat.  Kaya ornamen dan beberapa karya seni, resto semakin terlihat cozy dengan penataan dan pewarnaan dinding yang begitu hommy.  Pemilihan keramiknya pun langsung bikin saya jatuh hati.

Selesai menentukan pesanan makanan dan minuman, saya menghamburkan pandangan ke sekeliling ruang makan utama ini.  Luasnya sekitar 150m2 tapi efek kaca di ke-3 sisi luar tampaknya (telah) memberikan kesan lebih luas.  Di sisi paling ujung, tempat kami duduk, kita dapat melihat sebuah empang 2 petak yang cukup besar.  Di bagian tengah ada meja catur, congklak, dekorasi bunga, cermin dengan hiasan jendela, beberapa wayang golek berukuran kecil, dan Patung Loro Blonyo.  Patung sepasang pengantin Jawa yang sedang duduk dan memegang teguh falsafah Jawa tentang kesuburan dan kemakmuran.

Patung Loro Blonyo | Simbol kesuburan dan kemakmuran dalam falsafah Jawa
Meja catur di bagian tengah ruangan makan utama (lantai bawah) | Bisa jadi hiburan sambil menunggu pesanan kita datang
Dekorasi kayu yang mempercantik lantai bawah
Lampu gantung unik yang mempercantik sentuhan cahaya dalam ruang

Kalau biasanya kita melihat lambang atau logo merek di pintu, gerbang utama atau ruangan, Padi Ijo melakukan hal itu hampir di setiap barang yang ada.  Mulai hari hiasan/dekorasi, kotak tissue, pembungkus garpu sendok, sampai tempat duduk kayu yang kita pakai.  Bikin properti kita terkesan eksklusif dan menjauhkan pengunjung dari keisengan klepto (ngekek).

Ruang Makan Lantai 2

Tangga menuju lantai 2

Penjelajahanpun berlanjut ke lantai 2.  Untuk mencapai area makan kedua di resto ini, kita bisa menaiki tangga landai dengan keindahan ornamen yang gak kalah cakepnya.  Sentuhan warnanya seragam dengan lantai bawah.  Hanya saja di bagian ini, ruangannya tidak berdinding, bahkan ada spot khusus yang memang dibuat open air.  Alokasi ruang untuk mereka yang merokok atau lebih nyaman menikmati udara luar tanpa AC.

Area makan di lantai 2 | Dekorasi senada yang juga istagenic

Dibuat dengan konsep agar dapat menampung tamu dalam jumlah yang banyak, seperti pesta kantor, emak-emak arisan, atau acara besar keluarga, lantai atas ini rasanya pas banget untuk direservasi pengunjung sebatalion, se-RW, atau bahkan sekampung sekalipun (lebay).  Flows tempatnya lebih luas dan lega.  Buat ngobrol jejeritan dan ketawa berjamaah juga lebih leluasa ketimbang kudu ribut dalam ruang tertutup di lantai bawah.

Dengan pagar besi setinggi pinggang, empang yang berada persis di belakang resto, bisa kita lihat dengan lebih jelas di lantai 2 ini.  Pemilik sengaja menaruh sepeda ontel dengan hiasan bunga di pinggir pagar agar pengunjung tidak berdiri terlalu ujung.  Selain tentu saja sepeda ini dijadikan obyek foto yang ciamik.  Berdiri di lahan open air juga mengajak kita untuk dapat menikmati taman yang berada persis di depan ruang makan lantai 1.

Empang 2 petak yang lebih jelas terlihat dari lantai 2 resto
Area open air di lantai 2

Tempat Yang Cocok Untuk Garden Party

Acara bertemakan alam dengan udara terbuka atau yang lebih dikenal dengan sebutan Garden Party, belakangan banyak diadakan oleh berbagai venue.  Bukan hanya untuk pernikahan tapi juga untuk acara-acara pribadi seperti ulang tahun.  Nah, Padi Ijo memiliki taman dan sepetak lokasi yang beratapkan area open air di lantai 2, yang cocok untuk konsep acara seperti ini.  Walaupun daya tampung di bagian out door tidak terlalu besar, taman yang langsung tersambung dengan tempat makan di lantai bawah ini akan terlihat grande jika pintu sekat ruang makan dalam dibuka.

Taman pun dilengkapi dengan berbagai dekorasi untuk berfoto, sebuah kolam ikan kecil dengan air yang terus mengalir, dinding tinggi dengan tanaman rambat, sepeda ontel dengan hiasan bunga, dan sebuah ayunan kayu untuk sekedar duduk sambil bersenda gurau.  Tempat ini dijamin bakal apik jika ditambah dengan materi-materi dekoratif lainnya yang bernuansa alam.

Dekorasi sepeda dengan tumpukan mawar artificial yang diletakkan di taman
My precious personals | Kami makan di lantai bawah | Tampak taman dan spot open air yang bisa digunakan untuk garden party

Sajian Enak dengan Tampilan Cantik

Gak klop rasanya kalo membahas resto hanya tempatnya saja.  Makanannya ya kudu juga harus ditelaah kualitas dan tampilannya.  Bagi saya yang senang berwisata mata dan rasa, menemukan resto yang melengkapi keduanya bagai mendapatkan 2 paket dalam sekali jalan.

Mengejar waktu makan siang yang sudah terlewatkan 2 jam dan naga-naga di perut yang sudah tereak-tereak, kami memutuskan untuk makan berat dan memesan setidaknya 3 menu berbeda.  Tujuannya selain demi foto-foto juga dengan alasan tersebut di atas.  Jadilah akhirnya kami memesan 2 nasi goreng, 2 iga bakar, dan seperti biasa teh tawar untuk minuman.

Nasi goreng yang dipesan suami (Nasi Goreng SE) tampak sangat berisi.  Dihidangkan dengan telor dadar berukuran besar lalu ditambah dengan serutan keju yang lumayan banyak di bagian atas.  Tak lupa disajikan juga salad berikut dengan semangkuk kecil acar.  Fiona memilih ikut memesan nasi goreng tapi dengan tipe yang berbeda.  Gadis cantikku yang doyan banget dengan namanya ayam crispy kriuk-kriuk memilih menu ini tanpa ragu.  Lagi-lagi, porsinya banyak bener.  Saya dan Fauzi (anak sulung saya) kompak memilih Iga Bakar dengan french fries dan coleslaw.  Belakangan kami akhirnya memesan tambahan sepiring kentang goreng mengimbangi daging iga yang ternyata lumayan banyak juga.  

No complain untuk kedua nasi goreng seharga Rp 30.000,-/porsi ini.  Bumbunya pas dan nasinya pulen, tidak lembek tapi juga tidak keras.  Porsinya lumayan banyak menurut saya.  Awalnya suami dan Fiona tidak yakin bakal habis.  Tapi nyatanya ludes bles sampe ke butiran terakhir.  Untuk Iga Bakarnya, dagingnya empuk dan mudah dikunyah.  Tapi untuk yang gak begitu suka manis, bumbunya menurut saya rada kemanisan dan kurang gurih.  Kentangnya terlalu sedikit.  Sekedar masukan, kalau bisa untuk urusan kentang, diberikan pilihan yang lain seperti mash-potatoes.  Pilihan yang lebih aman untuk menghindari gorengan dan mengimbangi “berat”nya hitungan lemak yang ada dari daging.  Coleslaw nya juga diperbanyak dengan mengurangi kadar mayonaise.  Jadi secara keseluruhan Iga Bakarnya jadi lebih light dan healthy.  Harga sebesar Rp 46.000,-/porsi untuk Iga menurut saya reasonable.  Secara harga bahan-bahan pokok beranjak naik pelan-pelan tapi pasti.

Cara menghidangkan cukup menarik.  Alas/piring putih akan membangkitkan “warna asli” dari makanan.  Sendok dan garpu yang dibungkus/ditutup logo resto juga menarik.  Saya jadi gak repot memasang identifikasi tempat.  Dengan menaruh sendok dan garpunya aja, sudah membantu sentuhan khusus di setiap foto.

Makanan pesanan kami | Cantik tampilannya dan enak rasanya

Ulasan Umum

Untuk seorang Blogger yang gemar berkunjung ke resto atau cafe kemudian menuliskannya untuk khalayak umum, pembaca blog, ataupun beberapa tautan wisata on-line yang menjadi rekanan, saya selalu berusaha meraup sekian banyak masukan dari berbagai kalangan sebelum akhirnya memutuskan untuk datang.  Berbagai masukan ini biasanya saya cari melalui mereka yang memang seneng nongkrong, punya selera akan “keindahan” yang sama, plus yang paling penting adalah punya taste visual dan rasa yang bisa dipercaya.

Misi mendapatkan kombinasi tempat yang istagenic dan makanan berkualitas, saya dapatkan dari Padi Ijo Resto.  Recommended untuk para penyuka jajan sambil menikmati keindahan tata ruang dan bangunan.

All seems right kecuali toilet.  Tempat begini besar dengan toilet yang cuma beberapa pintu rasanya kurang pas.  Kebayang ketika ada acara dengan tamu yang lumayan banyak.  Tentunya tidak convenient jika tamu harus mengantri mengular sekedar untuk buang hajat.  Kebersihan toiletnya juga harus banyak diperbaiki.  Akan jauh lebih baik lagi, jika toilet memiliki sisi tembus cahaya matahari atau dengan jendela yang menjamin sirkulasi udara.  Ketika saya berkunjung, semprotan airnya bocor sampai membasahi celana.  Dudukan toilet juga tampak mulai menjamur dan tissue diletakkan terlalu jauh dari jangkauan.  Itupun menggunakan tissue makan bukan tissue gulung khusus toilet.  Lampunya juga remang-remang yang bikin berada di dalam ruang kecil ini berasa sesak nafas.

Photo spot di bagian depan bangunan

Oia, sebelum mobil digiring ke halaman parkir belakang, kita akan melewati satu area khusus untuk berfoto.  Di tempat ini disediakan beberapa properti foto yang ciamik seperti mobil VW kodok berwarna orange, motor engkol jadul (motor jaman saya SMP), menara eiffel dari besi bekas dan pernak pernik kecil yang turut menghiasi dinding berbata expose.  Buat yang bisa menemukan angle foto yang pas, bakalan seneng nih motret di sini.  Kesan street photography yang pernah saya temukan di Museum Angkut, Batu, Jawa Timur bisa didapatkan di tempat ini.

Padi Ijo Resto | Jl. Raya Serang Cibarusah | T. (021) 221.80083/84 | IG @padiijoresto | www.padiijo.com

2 COMMENTS

    • Banget Mbak. Apalagi buat ngobrol bareng emak2 rempong hahahaha.

      Iya nih. Walaupun lokasinya di pinggir jalan yang rame lalul lintas, keknya lebih pas kalo lebih ketengah kota posisinya.. Setidaknya di Lippo Cikarang biar tambah mentereng