Saat anak-anak mulai beranjak dewasa, kita, orang tua, akhirnya kembali lagi berduet seperti masa-masa awal pernikahan. Most of the times dihabiskan berdua karena anak-anak sudah sibuk dengan jadwal masing-masing, termasuk jika diantaranya ada yang menempuh ilmu jauh dari rumah.

Mengantar anak sulung kami kembali ke kontrakannya di daerah Buah Batu, Bandung, siang itu saya dan suami melanjutkan perjalanan menuju Dago. Salah satu bagian dari kota Bandung yang banyak disukai oleh wisatawan domestik. Memesan 1 Deluxe Twin Room di The 101 Dago Hotel (The 101), kami berkendara santai, menembus kemacetan yang tak terhindarkan di beberapa titik dan selalu terjadi selama weekend. Tak apa. Toh tidak ada yang diburu.

Berada di salah satu jalan tersibuk di Dago bawah (Jl. Ir. H. Juanda), kalau saya tidak salah ingat, bangunan yang sekarang digunakan The 101 dulu adalah bangunan dengan rangka besi yang sudah lama terbengkalai. Besi baja yang saya maksud ternyata memang masih terpasang di dalam kamar, dekat jendela, dan diwarnai senada dengan dinding kamar.

Memarkirkan mobil di basement yang luasnya sangat terbatas, kami memasuki inside lobby untuk mengantri check-in. Lumayan juga ngantrinya. Tamunya banyak bererot. Jeritan anak-anak kecil yang berlarian tampak meramaikan suasana dan bolak balik ditenangkan oleh ibunya. Waahh, saya mulai merasa rindu masa-masa itu ya. Hotel ternyata penuh untuk akhir minggu ini karena ada bapak-bapak yang mencoba walking booking tapi receptionist menginformasikan bahwa kamar sudah fully booked. Sambil menunggu suami mengurus administrasi, saya berkeliling seputaran ground floor ini dan mencoba merekam beberapa sudut istagenic yang tumpah ruah di sana sini.

Yang pertama menarik perhatian adalah tegel dengan sentuhan warna indigo yang begitu sempurna menemani deretan sofa sandaran tinggi terbalut shocking color. Sebagian besar ornamen dekorasi beraliran rustik dan disapu dengan warna alam yang mampu mengimbangi cerahnya warna furniture lain. Sorotan cahaya yang cukup ikut menyempurnakan rasa adem yang menyergap. Waktu-waktu menunggu pun jadi tidak terasa dan berlalu dengan decak kagum betapa pintarnya The 101 menata dan meramu setiap unsur yang ada di area ini.

Suami tercinta | My better-half ever

Kekaguman saya langsung tersambung ketika menaiki lift. Ada 2 lift tersedia dengan hiasan tematik yang lucu banget. Ada yang bernuansa bawah laut, sementara 1 lagi bergambar 3D. Di saat hotel-hotel lain banyak memasang foto restoran dan menu-menu andalan di dalam lift, hotel bintang 4 yang satu ini berfikir out of the box, menyajikan gambar yang menyenangkan hati, lucu, dan fun.

Keluar dari lift langkah pertama kami disambut oleh tegel yang sama yang kami temui di lobby. Untuk menunggu disediakan sebuah sofa kayu rustik dengan bantalan dudukan yang senada dengan warna tegel. Space untuk menunggu di depan lift ini luas banget. Bisa jadi tempat mengobrol yang asyik di luar kamar atau mengajak anak-anak bermain sebentar jika bosan di dalam kamar.

Mengikuti arahan menuju kamar kami, pemandangan interior design yang indah saya temukan di sepanjang alley. Potongan-potongan tipis kayu berbentuk persegi panjang tampak memenuhi dinding di sepanjang lorong. Disusun acak tapi tetap apik dan dicat seragam dengan pintu. Rasanya rugi kalo tidak mengaktifkan kamera dan berfoto di tempat yang ciamik seperti ini. Saya juga dong ya.

Fasilitas Kamar yang Fungsional dan Lega

Walaupun menempati kamar dengan kualifikasi terbawah, ternyata The 101 tidak membiarkan kami mendapatkan fasilitas yang rendahan. Kamar yang lega, tidak padat dengan perabot, tapi tetap lengkap dengan layanan, bener-bener tidak mengecewakan. Semua terasa cukup dan sangat fungsional. 1 meja dan 1 kursi kayu ukuran sedang menempel di salah satu sudut dan menghadap jendela. 2 kasur ukuran single disusun berdampingan dilengkapi dengan 2 bantal besar dan 1 bantal sender di setiap kasur. Ada juga gantungan baju nyempil di ujung lain yang di bawahnya sudah ditelakkan safe deposit box. Sebuah kursi lipat untuk menaruh koper. Sepasang slipper. Plus sebuah kamar mandi dengan ukuran yang pas komposisinya.

Di atas meja disediakan compliment (teh, kopi, dan gula) dalam jumlah yang tidak pelit tapi tidak berlebihan. 1 box penuh tissue. Teko pemanas air. 2 botol air mineral. Dan tentu saja beberapa colokan listrik untuk peralatan elektronik. Di samping salah satu tempat tidur, The 101 menyediakan in-house phone dan beberapa lembar artikel mengenai konsep Save The Earth.

Melongok ke kamar mandi. Toiletries disediakan lengkap seperti hotel bintang 5. Shower dengan air hangat dan dingin tersedia berikut dengan shampoo dan liquid soap/shower gel dalam 2 buah botol plastik yang cukup besar. Semua tampak rapih tertata. Tapi satu yang meninggalkan kesan adalah tulisan atraktif yang membungkus shampoo dan liquid shower gel tadi. Tulisan atau lebih tepatnya disebut himbauan yang mengajak kita untuk lebih mencintai bumi dengan menggunakan ke-2 perlengkapan mandi ini se-efisien dan se-efektif mungkin. Jika di hotel lain, ajakan yang sama biasanya dibuat dalam kertas yang dilipat dan ditaruh di dekat wastafel dan kebanyakan ditujukan untuk pergantian handuk, The 101 membuatnya lebih permanen dan lebih bisa terbaca oleh pengunjung. I definitely love it!!

Let’s (more) give our love to the earth
Door signages dengan pesan-pesan yang atraktif

Oia, ada 2 hal lagi yang menarik tentang fasilitas hotel.

Sambil berjalan pelan menelusuri lorong antar kamar di lantai tempat kami menginap, saya menemukan beberapa signage yang diletakkan di dekat pintu masuk. Tulisannya beragam dengan pesan yang berbeda-beda, dan tentu saja dengan print out yang sangat menarik. Jika di hotel lain tulisannya berkisar antara Do Not Disturb atau Make Up The Room, di The 101 kita dapat menemukan pesan atau reminder yang berbeda. Seru ya.

Hal menarik berikutnya adalah kepedulian The 101 untuk perokok dan area merokok. Secara gamblang, saat check in berlangsung, resepsionis mewakili pihak hotel mengingatkan pengunjung mengenai hal ini. Jika terjadi pelanggaran, manajemen hotel tidak akan segan untuk menerapkan denda yang cukup besar. Hal ini pun kembali lagi diingatkan dan dapat kita baca dalam sebuah lembaran kecil yang sudah dilaminating, yang diletakkan/ditempelkan persis di atas colokan listrik. Bukan main awareness nya. Tapi mungkin ada baiknya juga ya. Terkadang pendisiplinan harus dimulai dari aturan ketat demi kepentingan dan kenyamanan umum.

Menghabiskan Malam di Seputaran Hotel

Jalur pejalan kaki dan bangku besi yang memperindah outlook The 101

Setelah sempat mengistirahatkan fisik beberapa jam di sore hari, kami melangkah ke luar hotel setelah menunaikan sholat maghrib. Hanya beberapa ratus meter dari hotel, tersedia beberapa fasum, yang sangat membantu kebutuhan-kebutuhan kita selama menikmati liburan. Ada Gramedia book store buat yang gemar membaca dan ingin menghabiskan waktu dengan membedah buku. Ada Mall BIP (Bandung Indah Plaza) buat belanja atau berwisata kuliner.

Selama menjelajah Bandung, baru kali ini loh saya masuk BIP. Ternyata lumayan lengkap juga ya. Yang bawak anak-anak kecil dan harus mengikuti selera makan mereka, ada McDonalds. Beberapa jenama restoran terkemuka pun siap melayani di mall ini, seperti Pizza Hut. Sementara saya dan suami akhirnya memilih untuk makan malam di D’Cost Seafood yang berada di lantai bawah. Kami bahkan sempat menjelajah beberapa lantai mall setelah dinner. Banyak outlet-outlet bagus untuk outfit/fashion. Tapi akhirnya, tanpa direncanakan, saya malah menemukan koper ukuran 24 dengan model dan warna yang sudah lama saya cari.

Dalam beberapa waktu sebelum menjelajah seputaran hotel dan tak ingin melewatkan keindahan puluhan lampu yang terpasang di sisi depan The 101, saya menyempatkan diri berpose di beberapa sudut yang menarik hati. For some reasons, keindahan malam dan udara sejuk yang kami rasakan saat itu, mengajak kami untuk duduk-duduk sebentar menikmati jalur pejalan kaki yang sudah indah tertata. Bangku besi panjang yang ditelakkan di beberapa titik pun makin melengkapi cantiknya tata luar ruang yang difasilitasi oleh pemerintah kota Bandung.

Sarapan yang Riuh Rendah, Enak, dan Menyenangkan

Sarapan kami pagi itu

Nyenyak tidur di kamar yang nyaman, pagi itu kami bergegas menuju SODA Resto and Bar yang berada di ground floor. Resto yang berada tidak jauh dari area receptionist, dengan 2 area makan di dalam (ber AC tanpa asap rokok) dan di luar/teras (udara bebas, semi terbuka dan bisa merokok). Disinilah kami akan menikmati sarapan di tengah keriuhan penginap yang lain dan kecipak kecipuk anak-anak yang asyik berenang atau lebih tepatnya bermain air. Yup. Sebuah kolam renang kecil dibuat menempel persis berdampingan dengan sisi dalam restoran. Dibatasi dengan sebuah kaca tebal, kesibukan anak-anak di kolam ini menambah ramainya suasana makan pagi hari itu.

Saya sempat keliling berulang kali sebelum akhirnya memutuskan untuk makan apa. Mencari sesuatu yang jarang dihidangkan atau menu yang pastinya menggugah selera. Saya akhirnya mencoba bakso cuanki, bakso versi Sunda, yang dibuat dalam ukuran kecil. Selain bakso juga ada tahu, bakwan goreng, kemudian dilengkapi dengan potongan sayur, daun bawang dan bawang goreng. Persis seperti apa yang ditawarkan oleh abang bakso dorongan. Kekuatan rasa untuk makanan khas berkuah ini sebenarnya ada di kuah beningnya plus kombinasi percampuran yang pas antara garam, saus, sambal, dan kecapnya. Terus terang untuk ini saya tidak pernah berhasil meramunya dengan baik. Karena memang sejatinya tidak (begitu) ahli memasak. Bahkan mungkin bisa dibilang buta soal mencampur bumbu dan sejenisnya. Jadi untuk menu yang satu ini rasanya biasa aja.

Beranjak dari semangkok kecil cuanki, saya melirik ke counter jagung bakar. Nah, ini nih yang jarang banget dihidangkan di sarapan pagi hotel. Saya memesan satu sebelum akhirnya mengambil omelette, kemudian fish and chips. Ikannya cukup garing tapi yang mantul enaknya itu lebih kepada chips nya. Potongan kentangnya tipis-tipis dan digoreng sangat garing plus renyah ketika digigit. Saya sampai berulangkali mengambil chips ini, saking enaknya, sebagai pengganti kerupuk yang berikutnya saya nikmati bersama dengan bubur. Nah bicara soal bubur, The 101 saya akui sudah menghidangkan bubur dengan rasa yang endul surendul maksimal. Buburnya sendiri tidak terlalu kental juga tidak terlalu encer tapi tetap tasty. Topping nya pun sangat beragam. Ada daging ayam suwir, potongan ati ampela, potongan usus goreng, kacang kedele, telor rebus, cakwe, emping, kerupuk merah, dan tentu saja kuah kuning (seperti bubur Sukabumi), sambal, dan kecap (manis atau asin). Sarapan pagi itu saya tutup dengan sepotong kecil kue dan beberapa gelas air putih. Sementara suami menikmati teh tawar yang katanya terasa sangat berbeda.

Fish and Chips | Kentang goreng tipisnya eunak pake banget

Sebenarnya banyak sekali pilihan menu sarapan yang ada. Tapi apa daya lambung tua saya (sudah) terlalu ciut untuk menampung sekian banyak makanan. Untuk menu buffet nya saja, selain fish and chips tadi, ada nasi goreng, mie goreng, olahan ayam, dan sayur. Ada juga sederetan bakery. Biasanya ini yang jadi incaran saya. Tapi karena pilihannya kurang banyak, akhirnya saya berpaling ke cuanki tadi. Ada juga sereal dalam beberapa pilihan disajikan lengkap dengan susu. Aneka juice juga sederetan panjang kue-kue tradisional.

Tak ingin menguasai meja terlalu lama sementara antrian tamu yang ingin sarapan tidak juga berkurang, saya mengajak suami untuk memotret berbagai sudut keindahan di seputaran resto. Berada di lokasi yang sama, pihak hotel menyediakan fasilitas khusus yang memanjakan anak-anak. Selain space khusus untuk mewarnai dan bermain, The 101 menyajikan berbagai hidangan istimewa bagi anak-anak. Ada mini burger, chicken wing dengan kriuk yang menggoda, serta pizza kecil yang tumpah ruah dengan potongan keju. Haddeehh. Pengen banget tak comot satu persatu. Tapi apa daya. Jelas-jelas di situ tertulis Kids Corner (ngetiknya sambil ngelap liur hahahaha).

Mini burger yang menyelerakan di Kids Corner

Surga Dekorasi Rustik

Gapura rustik dan unik yang ditaruh di dalam resto
Sisi depan resto | Sarat dengan dekorasi rustik
Buku menu resto yang unik dan kreatif

Menjelajah lebih jauh, saya menemukan sebuah bangunan kayu atau lebih tepatnya gerbang kayu, yang lagi-lagi hadir dengan sentuhan rustik. Cukup tinggi untuk sekedar ditaruh di dalam ruangan. Menyatu dengan tempat bermain anak, The 101 menyediakan sebuah sofa besar dengan warna dan motif yang saling bertabrakan. Lalu terlihat sebuah booth telephone antik berwarna merah. Dan tak ketinggalan adalah setumpuk Buku Menu yang terbuat dari talenan yang disekrup menyatu dengan kertas daftar menu. Sudut ruangan ini kemudian dikelilingi oleh berbagai furniture yang semuanya, tentu saja, hadir dengan konsep rustik. Sungguh satu pemandangan dan keindahan yang tak akan terlupakan.

Puas mengisi relung hati dan mata dengan keindahan dekorasi dalam ruang, kami melangkah ke sisi luar restoran. Tersedia sekian banyak meja dan kursi untuk melayani tamu yang ingin bersantap seraya menikmati cahaya matahari. Dibuat semi terbuka, teras resto yang bersebelahan dengan pintu utama hotel ini, menghadirkan beberapa titik istagramable lain yang bisa dinikmati oleh tamu. Pintu gerbang kayu ini contohnya. Diletakkan bersisian dengan beberapa kayu besar sepanjang langkah setapak bagi pejalan kaki, pintu ini mengingatkan saya akan gebyok Jawa yang sering dipasang sebagai pintu depan rumah. Walaupun tidak penuh ukiran atau megah layaknya gebyok, pintu rustik yang satu ini, cakep maksimal untuk dijadikan spot foto.

Pintu Gerbang Kayu | Di halaman depan hotel

Entah berapa lama kami berkeliling memotret fasilitas hotel, berjalan kaki (kembali) ke seputaran hotel, hingga akhirnya menyerah kepanasan karena sinar matahari yang mulai moncer bersinar. Pagi menjelang siang hari itu ternyata kami harus kembali ke kontrakan si sulung karena ada beberapa barang yang masih ketinggalan di dalam mobil. Jadilah kami melalui jalur yang sama yang kami lalui kemarin, mampir sebentar ke sebuah super store untuk membeli berbagai perlengkapan permintaan sulung, kembali bertemu si sulung, untuk kemudian berkendara di sepanjang Tol Cipularang menuju Cikarang. Tidak begitu jauh sebenarnya. Karena hanya sekitar 3 jam waktu tempuh. Tapi menjadi jauh karena si bungsu sudah panjang leher, berkali-kali mengirimkan WA menanyakan kepulangan kami, orang tuanya.

Oia, ada pesan khusus dari suami, yang minta agar info ini saya tulis di blog. The 101 menyediakan wifi/internet gratis untuk setiap kamar dengan password tertentu yang diberikan saat kita check in. Fasilitas ini, menurut suami, moncer sambungannya. Lancar digunakan tanpa gangguan sedikitpun. Patut diapreasiasi karena layanan seperti ini sangat berguna untuk (hampir) semua tamu.

Sofa nyaman di depan function rooms di ground floor | Hiasan dindingnya kece ya
Area tunggu di depan lift | Tegel dan dudukan sofa dengan warna senada outfit yang saya kenakan | Kek janjian banget